Bertualanglah Sebelum Istrimu Melarangnya

Pertualanagan
Di Perjalanan Mneuju Puncak Gungung Ile Ape, Lembata, NTT
Masa muda adalah masa yang paling menggebu-gebu, kata Bung Roma Irama. Bagaimana tidak, masa muda dengan kondisi yang masih labil akan memungkinkan untuk melakukan banyak hal. Jika tidak dikontrol dengan baik maka masa muda akan dibuang begitu saja, banyak yang terjerumus dalam dunia hitam narkoba, tidak sedikit yang menghabiskan masa muda dalam jeruji besi. Dan banyak juga yang memanfaatkan masa muda kepada hal-hal yang positif, seperti bergabung dengan komunitas-komunitas sosial, mengikuti berbagai even nasional maupun internasional, mengunjungi berbagai tempat, menikmati kekayaan alam Indonesia raya dan banyak lagi cara orang-orang memanfaatkan masa mudanya.

Jika masa muda hanya disibukkan dengan aktivitas di rumah, kampus dan pustaka. Rutinitas hanya belajar saja tanpa mau bersosialisasi dengan banyak orang, sayang sekali. Masa muda seperti itu sepertinya sangat memprihatinkan. Albert Einstein saja tidak begitu belajarnya. Waktu untuk berpergian selalu dia sisihkan.

Ilmu yang kita dapat dari buku hanya beberapa persen saja, itupun kebanyakan teori doang dan kadang fakta sebenarnya tidak seperti itu. Lalu dimana ilmu yang sebenarnya? Di alam bebas, di lingkungan sosial, dan di berbagai tempat. Jika tidak mau menyesal di hari tua maka carilah ilmu di alam bebas. Tidak hanya itu, kitapun bisa langsung mempraktekkannya. Caranya gimana? Berpergian dan bertualang.

Bertualanglah. Nikamati indahnya alam semesta. Tak perlu jauh. Yang penting bergerak dari tempat semula. Pergilah ke tempat-tempat yang jarang di kunjungi oleh orang lain dan dokumentasikan. Lalu ceritakan. Mumpung masih muda, belum ada yang melarangnya. Jika sudah punya istri apalagi anak maka peluang untuk bertualang semakin kecil. Sudah pada sibuk ngurusin istri, kalau sudah punya anak udah sibuk antar-jemput anak ke sekolah. Maka bertualanglah mumpung masih ada waktu luang.

Tidak semua orang suka, banyak yang tidak berani apalagi mau untuk bertualang. Alasannya bayak sekali,mulai tidak ada waktu, uang, gak ada teman dan sampai tidak diberi ijin oleh orang tua. Padahal dengan bertualang kita bisa mendapatkan ilmu baru, teman baru dan suasana baru. Bisa menghilangkan stres dan jenuh akibat rutinitas kuliah atau pekerjaan yang itu-itu aja, bahkan justeru sangat membosankan. 

Banyak hal-hal yang kita anggap tabu dulunya setelah bertualang akan menjadi hal yang biasa dan lumrah. Karena saraf otak sudah mulai terbuka dan dipaksa untuk berpikir. Dunia ini luas sekali. Alamnya bagaikan surga. Tidak mau main-main di tanah surga?.

Okelah. Gak perlu keliling Indonesia yang terlampau luas. Daerah kita sendiri aja belum habis dikunjungi. Apalagi nusantara yang luas ini, belum lagi keliling dunia. Menjadi katak dalam tempurung sangat tidak mengenakkan. Terasa dunia ini kecil sekali. Padahal kalau mau bertualang akan terasa sangat luas alam ini. 

Tidak mesti sekarang, nanti jika sudah mulai cukup uang, punya kesempatan. Bertualanglah. Kampung itu tidak akan lari, tidak perlu pulang kampung seminggu sekali, belajarlah dari luasnya alam ini, belajarlah dari masyarakat yang berbeda dari kita, belajar banyak hal yang belum dan bahkan tidak pernah kita lihat sebelumnya. 

Dan, mari bertualang sebelum istri kita melarangnya. :D

#Banda Aceh, 20 Agustus 2015.

Menikmati Wisata dan Sejarah Tanjung Atadei

Kabupaten Lembata

Tanjung Atadei menawarkan panorama alam yang menantang untuk orang-orang yang baru. Anda percaya?.

Atadei sebagai salah satu kecamatan di Pulau Lembata yang berada di atas gunung tidak banyak dijumpai tempat wisata seperti daerah pesisir lainya. Siapa bilang? Ada objek wisata tersembunyi yang sangat menakjubkan yaitu tanjung Atadei. Karena akses untuk menuju ke tempat ini sangat sulit sehingga tidak banyak orang yang mengetahuinya bahkan orang asli Lembata sendiri banyak yang hanya mendengar namanya saja. Padahal tempat ini menyimpan panorama alam yang sangat indah. Tidak hanya menawarkan panorama indah namun juga wisata sejarah yang sangat luar biasa.

Biarpun kecamatan Atadei berada di atas gunung tapi ujung dari kecamatan ini berbatasan dengan laut. Membentuk sebuah tanjung yang masuk ke dalam sehingga masyarakat menyebutnya tanjung Atadei. Bahkan sejarah nama kecamatan Atadei sendiri diambil dari tempat ini. Mau tahu ceritanya?

Kami pernah bertugas di desa Lerek Atadei sebagai guru selama 1 tahun. Rugi sekali rasanya sudah berada di Atadei tapi belum menikmati keindahan tempat yang aduhai dan bersejarah tersebut. Di akhir semester kami mengajak keluarga besar sekolah untuk melaksanakan tour edukasi di desa Dulir yaitu desa tempat tanjung Atadei berada.

wisata NTT
[Batu Tengkorak]
Di tanjung Atadei ada banyak sekali yang bisa kita nikmati, mulai dari pantainya yang indah dan bersih, pantai dengan bukit terjal dan hutan pegunungan dan sangat cocok untuk area berkemah dan hiking. Di tempat ini kita bisa menikmati aneka batu-batu unik tapi bukan batu akik namun batu-batu besar yang menyerupai suatu bentuk. Misalnya ada batu yang menyerupi tengkorak, menyerupai meja, kursi dan batu Atadei sendiri menyerupai manusia. Batu-batu besar dengan tebing yang tinggi sepanjang pantai membuat tantangan tersendiri bagi para pengunjung.

Tidak hanya itu, sepanjang perjalanan menuju tempat ini kita disuguhi oleh keindahan alam pengunungan, bisa menikmati gunung Ile Warung dan Hobal. Menarik bukan?  
*****
lembata NTT
[Batu Atadei]

Kecamatan Atadei asal usulnya adalah dari batu Atadei. Ata artinya orang, Dei artinya berdiri. Jadi Atadei artinya orang berdiri. Sempat melakukan wawancara dengan tokoh adat merangkap kepala Desa Dulir tentang sejarah dan apa yang membuat tempat ini menjadi unik. Kira-kira begini ceritanya. 

Nenek moyang mereka dulu pernah mengalami bencana air bah (tsunami), semua penduduk berlari menyelamatkan diri. Kepercayaan masyarakat pada masa itu adalah tidak boleh menoleh ke belakang karena akan beresiko sangat fatal. Jadi ada seorang wanita yang pada saat kejadian air bah memaksakan diri menoleh ke belakang untuk melihat sanak saudaranya dan akhirnya kutukan itu terjadi pada wanita tersebut yaitu menjadi bantu, sehingga sekarang disebut batu Atadei.

Batu ini adalah satu-satunya batu yang tetap berdiri kokoh ketika batu-batu lain jatuh dan terkisis oleh hempasan air laut. Batu Atadei menghadap ke laut dan menyerupai seorang perempuan yang berdiri. Batu Atadei dijadikan sebagai “petunjuk alam” bagi masyarakat setempat. Kepercayaan masyarakat, jika batu itu mengeluarkan air dan basah maka menandakan musim bagus atau musim hujan yang lama dan sangat baik untuk bercocok tanam di ladang, dan jika batu tidak mengeluarkan air dan batu tidak basah maka pertanda akan terjadi musim kemarau yang berkepanjangan. Sebuah kepercayaan turun temurun. Sebagai pendatang, kami menyebutnya BMKG ala desa Dulir karena batu ini yang memperkirakan cuaca dan musim.

Jika ingin berfoto, pengunjung jangan sekali-kali naik ke atas batu Atadei tersebut karena bagi masyarakat setempat tindakan tersebut adalah pantangan. Namun cukup berfoto di samping batu itu saja.

Provinsi NTT
[Gua Atadei]
Tidak hanya batu atadei, ada juga gua Atadei yang memiliki sejarah unik. Menurut cerita, dulu begitu air bah datang masyarakat melarikan diri melalui gua batu di pinggir pantai, berlari sepanjang gua dan akhirnya sampai ke atas bukit. Ada yang selamat dan banyak juga yang meninggal selama di dalam gua. Sampai sekarang, untuk masuk ke dalam gua tidak boleh sembarang orang, hanya orang tertentu dan harus dipandu oleh penjaga gua. Katanya di dalam gua itu ada sebuah kolam, airnya sangat bersih dan jernih. Pada saat itu kami tidak membawa senter jadi hanya melihat-lihat sampai di tempat yang terang oleh cahaya matahari saja. 

Transportasi di NTT
Untuk menuju ke tanjung Atadei aksesnya sangat sulit. Tanjung Atadei terletak di deda Dulir, desa paling ujung dari Kecamatan Atadei namun letaknya di pesisir. Dari Lewoleba kita harus naik oto selama kurang lebih 4 jam perjalanan menuju desa Lerek, lebih kurang 45 KM. Ongkosnya lumanyan muruh yaitu Rp. 40.000,-/ orang. Oto adalah mobil truk yang disulap menjadi angkutan penumpang. Waktu tempuh sangat lama dengan jarak yang tidak terlalu jauh ini disebabkan oleh jalan pegunungan yang kecil dan rusak parah. Oto inilah angkutan untuk menghubungkan seluruh jalan di Kabupaten Lembata. Di lembata ada 2 terminal yaitu terminal untuk jalur timur menuju Kedang kecamatan Buyasuri dan terminal Barat untuk jalur tengah yaitu menuju Atadei dan juga jalaur barat menuju Lamalera. 

Setelah sampai di Desa Lerek, turun dari oto dan melanjutkan perjalanan ke desa Dulir. Untuk menuju desa Dulir tidak bisa menggunakan oto karena tidak tersedia jalan di sana. Namun kita bisa menyewa ojek, dan harus mengelurkan kocek sekitar Rp. 70.000,- sekali jalan. Tidak ada ojek khusus seperti di kota besar, siapa saja yang dilihat naik motor bisa langsung distop dan minta tolong untuk mengantar ke desa Dulir. Selama naik ojek harus banyak bersabar karena jalan setapak, perkebunan, hancur-hacuran yang akan kita lalui. Ojek di tempat ini sudah sangat mahir terlatih, tidak ada sertifikat tapi alam yang melatih mereka. Luar biasa. Dengan ojek kita cuma membutuhkan waktu selama kurang lebih 40 menit untuk mencapai tempat tujuan.

Saat itu, kami menuju Desa Dulir tidak dengan ojek karena jumlah siswa yang kami bawa sangat banyak. Kami memilih jalan kaki selama 4 jam perjalanan. Sangat melelahkan tapi dengan berjalan kaki kami dapat menikmati keidahan alam secara langsung. Sekalian melatih kekuatan berjalan kami. 

Kecamatan Atadei

Ini yang paling penting, begitu sampai di desa Dulir jangan lupa melapor kepada kepala  desa. Di sana tidak ada hotel atau sejenisnya yang ada cuma rumah warga. Untuk akomodasi selama di tanjung Atadei kita bisa numpang bersama warga setempat. Mereka sangat senang menerima tamu juga sangat ramah. 

Disarankan sebelum mengunjungi tempat ini kita harus terlebih dahulu mencari pemandu, ada orang yang memfasilitasi dari pertama kali berangkat sampai ke tempat tujuan. Selama berada di tanjung Atadei kita sebagai pengunjung tidak akan dibiarkan untuk menikmati kehindahan alam tanpa dipandu oleh masyarakat setempat karena tempat ini sangat bahaya bagi orang baru yang tidak mengetahui adat-istiadat di sana. Biasanya yang menjadi pemandu adalah langsung kepala desa Dulir dan ditemani oleh tokoh-tokoh adat. Tidak hanya itu, anak-anak sekolah di sana juga akan meramaikan wisata yang kita lakukan. Mereka sangat senang dengan para pendatang.

Mengenai biaya selama di sana, tidak ada aturan khusus. Karena kita nginap dan makan di rumah warga setempat maka tinggal dikondisikan dengan pihak desa saja.

Pokoknya tempat ini sangat asik. Indah dan  sangat menantang.

#Darbe. 5 Juli 2015.

Boh Rom-Rom, Si Mungil yang Tak Ketinggalan Jaman

Kue Tradisional Aceh
[Boh rom-rom]
Selama Ramadhan, di Aceh banyak dijumpai kuliner-kuliner unik, kebanyakan kuliner itu jarang dijumpai ketika bukan bulan Ramadhan. Salah satu kuliner yang unik tersebut yakni boh rom-rom. Meski tampak unik, cara membuat kue ini tak seribet yang dibayangkan. Bentuknya yang kecil dipadu dengan warna yang menarik, menghasilkan kue dengan sensasi rasa berbeda. Sebagian masyarakat Aceh menjadikan boh rom-rom sebagai sajian utama untuk berbuka puasa, hambar rasanya tanpa ada boh rom-rom di atas meja. Bentuk dan rasa yang berbeda dari sekian banyak menu khas, menandakan Aceh kaya akan makanan tradisional.

Pilihan menyajikan kue mungil ini saat berbuka, selain karena rasa manis, bahan membuatnya juga mudah diperoleh. Hanya tepung ketan, gula merah, kelapa kukur, dan pewarna alami (hijau:daun pandan). Tepung ketan diadon dengan air sampai kalis. Usai itu dibulatkan sebesar telur puyuh lalu diisi dengan gula merah. Seterusnya, masukkan adonan yang telah jadi ke air yang mendidih. Masak hingga mengambang. Jika sudah matang, lalu angkat dan guling-gulingkan di atas parutan kelapa. Mudah bukan?.

Sekarang boh rom-rom semakin modern dengan beberapa warna, tidak kaku hanya dengan warna dari daun pandan saja tetapi orang-orang mulai mencoba memberikan warna lain seperti merah atau kuning. Tujuannya tidak lain supaya kelihatan indah bervariasi. 

Tidak hanya warna saja, tempat menaruhnyapun sudah semakin menarik dengan meletakkannya di kertas tatakan sehingga kue ini setiap butirnya punya tempat sendiri. Tunggu apa lagi, silahkan bikin atau beli di tempat terdekat, mumpung masih bulan Ramadhan. 

#Darbe

Pesona Pantai Waijarang yang Tak Pernah Mati

Kabupaten Lembata
[Ceria di Pantai Waijarang, Lembata, NTT]
Pertama kali tiba di pulau Lembata, badan lelah, pikiran tidak karuan setelah seharian berada di dalam kapal Bukit Siguntang. Besoknya kami diajak untuk berekreasi ke pantai Waijarang. Pantai ini adalah tempat wisata paling dekat dengan kota Lewoleba. Kata masyarakat setempat, rekreasi ke pantai Waijarang merupakan perkenalan awal kami selama satu tahun ke depan di pulau Lembata.

Pantai Waijarang terletak di Desa Waijarang, Kecamatan Nubatukan, merupakan pantai dengan panorama yang indah. Pasir putih yang terbentang luas dihiasi riakan ombak yang agak keras memecah bibir pantai menjadi obyek tersendiri. Di pantai Waijarang para pengunjung dapat menikmati wisata pantai seperti ski air, berenang, berjemur, camping, volly pantai, bola kaki dan hiking. Penduduk Waijarang juga sering mengadakan atraksi-atraksi budaya untuk menghibur para pengunjung.

Lembata NTT
[Menatap Senja di Bukit Waijarang]
Tidak hanya itu, keindahan panorama pantai didukung dengan pemandangan bukit-bukit yang indah dan selat Boleng yang membatasi dua pulau yaitu Lembata dan Adonara. Hutan bakau juga menyajikan pesona hijau yang serasi dengan laut biru. Letaknya yang strategis menjadikan pantai Waijarang menjadi salah satu unggulan di Pulau ini.

Pantai Waijarang berhadapan langsung dengan Pulau Adonara, dibatasi lautan dengan pemandangan indah, merupakan salah satu alternatif wisata pantai terbaik di Lembata. Jaraknya relatif dekat dari Kota Lewoleba ke arah barat sekitar sepuluh kilometer dengan kondisi jalan aspal. Meskipun sebagiannya sudah berlubang, tetapi bisa ditempuh sekitar 25-30 menit menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Keindahan pantai Pasir Putih, laut yang bersih dan ombak pantai relatif keras menjadikan tempat ini diminati pengunjung.

Tidak hanya bisa menikmati keindahan pantai, dengan berjalan satu kilometer dari pantai Waijarang kita bisa menikmati gugusan pulau-pulau dari atas bukit Waijarang, keindahan pulau Adonara dengan gunung Bolengnya, Alor dan gunung Ile Ape, dari atas bukit ini kita juga bisa menikmati hamparan perahu-perahu nelayan, semua panorama ini menjadi daya tarik luar biasa untuk kenikmatan mata memandang. 

#Darbe. 2 Juli 2015

Pantai Bean, Duplikat Keindahan Phuket

Wisata Lembata
[Pantai Bean, Lembata, NTT]
Jangan ngaku sudah pernah pergi ke Lembata kalau belum berenang di pantai Bean. Begitu ungkapan masyarakat sekitar untuk memprovokasi orang yang baru mendatangi Pulau Lembata. Siapa sangka di ujung tandusnya Lembata, pulau seribu pesona ini menyimpan sejuta panorama indah, rasa penasaran mengantarkan saya untuk mengunjungi pantai yang disebut-sebut mengalahkan pantai Phuket Thailand sekalipun.

Keindahan panorama pantai dengan hamparan pasir putih serta hempasan ombak yang cukup besar, serta tebing dan gua alam. Pantai Bean merupakan pantai pasir putih yang unik dengan pasir putih dalam bentuk kristal-kristal halus yang membentang dari barat ke timur sejauh kurang lebih 5 KM dengan ombak laut yang bergulung terus menerus dan pecah secara teratur. Indah sekali.

Pulau Lembata
[Berenang di Pantai Bean]
Pantai dengan kondisi seperti ini sangat cocok untuk berselancar dan surfing. Pantainya cukup landai dan aman bagi pengunjung yang ingin berekreasi di pantai. Di pantai ini juga memiliki tebing yang cukup menarik untuk kegiatan wisata panjat tebing.

Pantai Bean terletak di ujung Pulau Lembata yang berhadapan langsung dengan Pulau Alor. Terletak di Desa Bean Kecamatan Buyasuri dengan jarak tempuh 82 KM dari pusat Kota Lewoleba, untuk menuju ke lokasi tersebut dapat ditempuh dengan angkutan darat.

Kabupaten Lembata
[Menatap Pantai Bean dari Ketinggian]

Jangan berpikir di seputaran pantai ini ada pasar ataupun hotel. Untuk sinyal dan listrik saja masi sangat minim. Biarpun tidak ada penginapan khusus, pihak desa setempat akan mengusahakan homestay untuk para pengunjung. Boleh juga membawa perlengkapan kemah sendiri dan bekal seadanya, mengenai makanan ringan kita bisa membelinya di kios-kios warga sekitar atau bisa juga membelinya di pusat kecamatan tapi kalau di pusat kecamatan lumanyan jauh dan menguras banyak tenaga. 

Untuk masyarakat sekitar jangan khawatir, mereka sangat welcome dengan tamu apalagi tamu yang berasal dari luar pulau Lembata. Bagi mereka, dengan semakin banyak tamu yang datang maka secara tidak langsung pariwisata di desa mereka mulai dikenal orang luar dan kedepannya sangat bagus untuk prospek ekonomi masyarakat.

Wisata di NTT
[Berpose bersama di Pantai Bean]
Akses menuju pantai Bean memang harus menguji adrenalin, dari pusat kota Lewoleba menuju Kedang selanjutnya melewati beberapa desa menuju pantai Bean. Setelah sampai di desa Panama, membutuhkan waktu lebih kurang 40 menit untuk menuju ke Desa Bean dengan jalan yang lumayan buruk, berlobang, berbatu dan dengan kecuraman yang lumayan menggoda. Jika menggunakan sepeda motor dan berhasil melewati semua tantangan selama di jalan maka selamat anda adalah pengendara yang hebat. 
Berapa biaya masuk ke pantai Bean? Gratis. Pariwisata pantai Bean belum dikelola dengan baik oleh pemerintah sehingga banyak wisatawan yang tidak mengetahui keberadaanya. Biarpun demikian, bagi para wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai Bean tidak akan menjadi masalah. Biarpun gratis, tidak salah juga bagi pengunjung untuk menyumbang alakadarnya kepada pihak desa setempat supaya mereka bisa menggunakan dana dari pengunjung untuk pengelolaan pantai yang lebih baik kedepannya. [DR]

Ingat, pantai Bean itu indah sekali.

#Darbe, 30 Juni 2015

Tentang Kisah Amalan yang Membukakan Pintu Rezeki

Pintu Rezeki
Akhirnya Teman Saya Menikah Juga
Rezeki yang banyak, siapa sih yang tidak mendambakannya? Semua orang pasti mendambakan. Uang yang banyak, rumah yang besar, mobil yang mewah dan jabatan yang tinggi. Rezeki tidak hanya dalam bentuk materi, segala sesuatu kenikmatan yang Allah berikan kepada kita juga merupakan rezeki seperti sehat badan, mendapatkan jodoh, dikaruniai anak, lulus ujian, terbebas dari musibah dan banyak contoh lainnya. Pertanyaannya, apakah kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan selama ini?.

Dalam hari-hari belakangan ini saya banyak mendapatkan momen istimewa, dari momen ini saya belajar banyak, dan terus introspeksi diri. Dari setiap momen yang saya dapatkan, ada tiga momen hidup yang sangat luar biasa, yang merupakan pengalaman orang-orang di sekitar saya, orang-orang yang menjadi teman diskusi, teman seperjuangan dan sebagai inspirasi bagi saya untuk menjalani kehidupan dengan penuh keberkahan.
*****
Pertama. Teman seperjuangan saya sejak SMA sampai sekarang bahkan juga tinggal satu kost. Kemarin adalah hari bahagia baginya dan juga kami sebagai teman. Prosesi ijab kabul berhasil dilaksanakan penuh dengan haru dan kegembiraan. Sah teman ini menghalalkan seorang gadis di Banda Aceh. Perlu saya kabarkan, teman saya ini dulunya adalah orang biasa-biasa saja. Sama dengan laki-laki lain di luar sana. Namun, beberapa bulan terakhir ini dia telah berubah drastis, berubah ke arah yang lebih baik, sekarang kalau boleh saya bilang telah menjadi seorang ustad. 

Pernah suatu ketika saya bertanya, apasih rahasia bisa menikah secepat ini? Teman ini menjawab: 
"Tidak ada rahasia, tidak ada yang luar biasa, saya cuma mengamalkan beberapa amalan saja seperti Shalat wajib selalu tepat waktu dan berjamaah, sering-sering Shalat Tahajud, dibiasakan Shalat Dhuha, perbanyak Tilawah Al-Quran dan usahakan selalu bersedekah, itu saja. 
Amalan-amalan yang mudah dan jarang orang lakukan. Padahal ketika kita sudah dekat dengan pemilik alam semesta maka apapun yang kita minta pasti akan Allah kabulkan.

Kedua. Ini juga tentang jodoh. Seorang kakak senior yang sudah berumur 36 tahun, cantik, tajir dan cerdas. Sayang sekali di umur yang hampir setengah abad dia tak kunjung mendapatkan pendamping hidup. Apasih yang kurang? Cantik, kaya dan pintar sudah melekat pada dirinya. Umur 36 tahun sangat riskan bagi wanita, dan sudah masuk dalam kategori bahaya. 

Kakak ini mulai khawatir, mulai berpikir keras dan mengintrospeksi diri: apa gerangan saya belum mendapatkan jodoh. Apa yang salah pada diri saya? Tidak lama setelah menginstropeksi diri akhirnya dia mendapatkan celah dan petunjuk. Rupaya selama ini dia jarang sekali bersedekah padahal Allah telah menitipkan harta berlimpah kepadanya berupa kecantikan, pintar, rumah besar, mobil mewah dan kedudukan. 

Tidak lama setelah dia mengetahui sebab muhabab belum mendapatkan jodoh, maka sejak itulah dia mulai menjual harta yang sangat dia cintai sepeti emas, mobil, dan menyedekahkan sebagian hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan. Hal ini dilakukannya terus-menerus. 

Tidak lama dari itu, hanya berselang satu Minggu, kakak ini mendapatkan jodoh dan selang satu Minggu setelahnya melangsungkan pernikahan. Sekarang dia telah hidup bahagia dengan keluarga besarnya. Hidup dengan penuh cinta, kebersamaan dan tidak pernah lupa bersyukur dengan cara selalu mendekatkan diri kepada Allah.

Ketiga. Kalau ini tentang rezeki harta. Kawan karib saya. Sahabat yang menurut saya paling keren. Saya banyak belajar dalam menghargai hidup dari dia. Tadi malam sambil minum kopi dia bercerita, ceritanya lucu tapi luar biasa hikmahnya. Begini ceritanya:

Siang itu, setelah paginya sibuk dengan aktivitas bersih-bersih kamar, nyuci baju dan nyetrika. Perut terasa sangat lapar, bergegas untuk mandi dan bersemangat ingin pergi membeli nasi Padang di warung tidak jauh dari rumah kostnya. Begitu melihat dompet, isinya cuma Rp.3000,- sedangkan harga nasi Padang Rp.8000,- maka diurungkan niat untuk membeli nasi dan rela menahan lapar. Hari itu tidak ada teman yang bisa diminta untuk membantu karena semua sedang pada krisis. Apa boleh buat, pasrah adalah pilihan paling ampuh.

Sambil berbaring menahan rasa lapar, si kawan merenung: dulu Ustad saya di pesantren pernah bilang: ”jika ingin kaya maka bacalah Al-Quran Surat Al-Waqiah”. Maka tidak menunggu lagi si kawan langsung berwuduk dan membaca surat Al-Waqiah. Selang 10 menit sambil duduk di depan rumah tetiba lewat seorang pengemis. Si kawan menyedekahkan uang Rp.3000,- tadi kepada pengemis. 

Begitu si kawan masuk ke dalam rumah niat hati ingin tidur untuk menghilangkan rasa lapar, ada yang mengetuk pintu, rupanya ibu tetangga sebelah rumah membawakan makanan kari kambing. Selang beberapa menit sambil menyantap makan siang dari tetangga, telepon berdering, rupanya kabar dari sebuah instansi pemerintah untuk mengambil honor sebanyak Rp.2000.000,- sebagai instruktur dalam pelatihan yang si kawan sendiri sudah lupa tentang itu. Karena kegiatannya sudah sangat lama dan tidak pernah terbayang honor sebanyak itu.

Kami mendengar ceritanya dengan penuh antusias. Dan bagi kami pengalaman hidup si kawan adalah ilmu yang luar biasa. Tidak salah untuk diamalkan. Hal-hal mudah dan sederhana namun enggan kita lakukan.
*****
Banyak orang bingung dengan masalah rezeki yang dihadapinya, padahal Islam telah memberikan berbagai amalan mulia yang mudah dilakukan dan sudah dijanjikan Allah mampu membuka pintu rezeki. Barang siapa yang menginginkan rezekinya lancar, maka solusinya hanya satu, yakni mendekatkan diri kepada Allah.

Ada beberapa amalan mulia yang bisa di laksanakan untuk membuka pintu-pintu rezeki yaitu: Shalat tahajud, Shalat dhuha,Tilawah Al-Quran dan bersedekah. Allah mencintai hamba-hambanya yang senantiasa istiqamah menjalankan amalan-amalan mulia tersebut.

Bagi yang mimpi dan cita-citanya belum dikabulkan oleh Allah, mari kita coba amalan-amalan itu. Insya Allah akan dikabulkan. :)

#Darbe. Banda Aceh, 14 Oktober 2015.

Naufal Raziq Siswa Kelas VIII MTs Menjadi Bintang di Arena TTG Nasional 2015 di Banda Aceh

TTG Nasional 2015
Naufal Raziq saat menjelaskan cara kerja alat yang dibuatnya
Pergelaran Pekan Inovatif Nasional (PIN) Desa ke-1 dan Teknologi Tepat Guna (TTG) Nasional XVII Tahun 2015 di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya, Banda Aceh sudah berlangsung sejak tanggal 8 Oktober kemarin. Aneka produk teknologi, makanan dan kerajinan tangan dari berbagai daerah seluruh Indonesia dipamerkan di arena ini. Melihat arena pagelaran yang dihelat selama enam hari ini tak ubahnya memasuki miniatur Indonesia Raya. Jika ingin melihat Indonesia datanglah ke tempat ini dan akan berlangsung sampai tanggal 12 Oktober 2015. Pastikan untuk membawa keluarga dan ajak orang se kampung.

Sejak berlangsungnya acara, saya setiap hari mengunjungi arena TTG, Alhamdulillah betah karena banyak sekali ilmu yang bisa dipelajari dari tempat ini, bagaimana tidak, produk-produk teknologi tepat guna yang serba sederhana banyak sekali saya jumpai. Bentuknya unik-unik, kreativitasnnya canggih, tidak ketinggalan jaman dan manfaatnyapun nyata. Bagi orang yang berkecimpung di dunia pendidikan rugi sekali kalau tidak berkunjung dan jika datang, pastikan menyiapkan berbagai pertanyaan untuk ditanyakan pada pembuat produk itu.

Ada yang menarik perhatian saya dan juga perhatian semua pengunjung pada pargelaran TTG kali ini. Ini versi saya bukan versinya pemerintah, yaitu Alat Energi Listrik dari Pohon Kedondong. Alat ini bukanlah hal baru bagi orang yang berkecimpung di dunia sains, bahkan di kampus konsepnya sering dipelajari, banyak makalah yang sudah membahasnya, namun yang menariknya adalah orang yang menemukan dan membuat produk ini adalah anak kecil yang masih duduk di kelas VIII MTs Negeri Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh. 

Naufal Raziq di TTG Nasional 2015
Naufal Raziq Siswa Kelas VIII MTs
Namanya Naufal Raziq, saya sangat tertarik dan bangga melihat kepiawaian anak ini dalam menjelaskan cara kerja alat yang dia buat bahkan dia dengan mudah menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh pengunjung. Sangat menguasai konsep IPA dan tahu betul terhadap alat yang diciptakannya itu. Cara Naufal menjelaskan tidak hanya membuat para pengunjung mengerti konsep, cara kerja kerja dan latar belakang alat ini diciptakan tetapi juga membuat para pengunjung termotivasi ingin membuat alat serupa di rumah mereka masing-masing. Kevokalan dan olah bahasanya sudah seperti mahasiswa presentasi saat seminar proposal di kampus, untuk anak seumuran dia bagi saya sangat luar biasa. 

Saya sempat bertanya bagaimana cerita awal mula Naufal membuat alat ini, menurut Naufal, ide untuk membuat Alat energi Listrik dari Pohon Kedondong bermula saat dia duduk di bangku kelas VI SD saat mempelajari materi IPA tentang energi listrik di sekolah. Karena orang tuanya bekerja sebagai teknisi elektronik membuat Naufal tidak kesulitan untuk mendapatkan berbagai alat pendukung elektronik di rumahnya dan segera melakukan berbagai percobaan terhadap ilmu yang dia dapat di sekolah. Pada akhirnya Naufal memahami konsep dan dengan sedikit motivasi dari orang tuanya sehingga bisa membuat alat yang sekarang terpampang di arena TTG di stand Aceh. Menurut Naufal: dukungan, semangat dari ayah dan kecintaan seorang ibu sangat mempengaruhinya. Hebat bukan.

Banyak sekali yang mengunjungi stand Aceh hanya untuk melihat kehebatan Naufal Raziq ini, mulai dari anak sekolah, guru, mahasiswa, dosen dan para orang tua. Bukan apa-apa, mereka hanya bangga dan kagum. Sempat seorang ibu pejabat dari Sumatera Barat bilang, “Nak, pintar banget. Kamu makan apa sih?”. Saya yang sedang berada disampingnya bilang “makan nasi seperti kita juga lah bu”. Disampingnya ada seorang kepala sekolah salah satu SMP favorit di Banda Aceh berucap, “Naufal, kamu mau pindah ke Sekolah di Banda Aceh?, Jika mau, saya urus, saya beri beasiswa”. Menarik sekali. Berlian memang selalu diperebutkan.

Kemarin, saya menghabiskan 3 jam 28 menit berada di stand Naufal, hanya untuk melihat kepiawaian anak hebat ini. Begitu beranjak pulang, saya mulai berpikir dan khawatir. Tetiba timbul beberapa pertanyaan: apakah sekolah tempat Naufal menimba ilmu memberi apresiasi? Bagaimana dengan pemerintah Kota Langsa? Apa kabar pemerintah Aceh?. Ini aset, bukan soal karyanya tetapi soal bakat, semangat dan motivasi. Anak ini adalah aset daerah yang harus di dukung, anak ini adalah generasi emas yang akan menjadi ilmuan di masa mendatang. Anak seperti ini tidak bisa berkembang sendiri tanpa ada dukungan dari semua pihak. 

Kalau boleh jujur, stand Aceh ramai dikunjungi pengunjung karena anak ini, karna Naufal Raziq dengan Alat Energi Listrik dari Pohon Kedondong. Semoga Naufal semakin bersinar dan semoga pemerintah mendukung perkembangannya.

Bagi yang ingin menyaksikan kepiawaian dan karnya Naufal Riziq silahkan berkunjung ke arena TTG mulai 7–12 Oktober 2015. 

#Darbe. Banda Aceh, 10 Oktober 2015

Tidak Ada Perayaan. Selamat Ulang Tahun SM3T

SM3TRI
Selamat Ulang Tahun SM3T
Saya hampir lupa dan sayapun berkeyakinan tidak banyak yang tahu hari lahir SM3T. Sebuah program yang digagas oleh Kemendikbud dalam hal ini Dikti yang bertema besar “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia”. Empat tahun yang lalu tepatnya 6 September 2011 lahir sebuah program pemerintah yang menyejukkan hati banyak orang, membuat dunia pendidikan kegirangan karena akan ada secercah harapan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang pada saat itu mulai terpuruk, mulai ada harapan untuk melahirkan generasi emas terbaik bangsa dari pelosok sana.

6 September 2011. Resmi program Sarjana Mendidik di Derah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) diluncurkan dan berhasil mengirimkan ribuan guru ke pedalaman Indonesia. Pada masa itu tidak banyak yang tahu tentang SM3T, publikasinyapun sangat minim. Kalah tenar dengan program Indonesia Mengajar yang saat itu sangat masif dalam publikasi. Dan program SM3T pada saat itu juga masih banyak sekali kekurangan sana dan sini. Maklum, program baru yang harus merangkak, belajar dan berbenah.

Alhamdulillah, sekarang SM3T sudah berumur 4 tahun. Sudah melahirkan lima generasi. Sudah mengirimkan belasan ribu guru ke pelosok negri. Mereka mengabdi dan mencerdaskan anak-anak Indonesia. Program ini semakin dikenal bahkan mulai menjadi ekslusif dengan seleksi yang sangat ketat untuk bisa bergabung. Hanya memilih para guru terbaik saja dari setiap LPTK seluruh Indonesia. Program ini semakin anggun dengan output Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan selanjutnya PNS khusus dengan istilah Guru Garis Depan (GGD). SM3T akan selalu menjadi wanita cantik yang selalu dilirik oleh banyak orang. 

SM3T telah melahirkan insan-insan yang luar biasa. Melahirkan guru-guru hebat yang telah ditempa oleh alam pedalaman selama setahun. SM3T telah melahirkan orang-orang serba bisa yang tahan banting dalam kondisi apapun. SM3T telah menempa pemuda-pemuda manja dan apatis menjadi pemuda yang luar biasa. SM3T telah mengajarkan banyak orang untuk menghargai sebuah pertualangan dengan sejuta ilmu dan pengalaman. SM3T telah mengajarkan kepada seluruh Keluarga besarnya arti sebuah rasa syukur, hikmah dan pengorbanan. Mengajarkan arti sebuah ketulusan dari lubuk hati yang paling dalam. 
******
Tidak seperti program-program pemerintah lainnya. Setiap hari jadi,hari lahir atau ulang tahun selalu dirayakan dengan penuh suka cita, kemeriahan dan kemegahan. Publikasi pesta menyebar ke seantero Indonesia, pembaca berita sibuk memuji puja di setiap televisi pemerintah dan swasta. Meriah sekali. 

Namun, tidak dengan program SM3T. Tahun ini lesu sekali, tidak ada gegap gempita perayaan. Tidak ada pesta kemegahan. Tidak ada pertemuan untuk merayakan. Tahun ini pemerintah dalam hal ini Kemenristekdikti tidak ambil bagian dalam perayaan. Kita semua maklum, bangsa kita sedang krisis. Rupiah melemah hingga sentuh 14.192 per dolar AS. Tidak ada kesempatan untuk berpesta dan bermegah-megahan. Semua orang harus berhemat dan fokus membantu membagun perekonomian bangsa.

Biarpun pemerintah tidak membuat perayaan. Bukan berarti SM3T itu hilang dari hati para alumninya, dan tidak akan pernah hilang dalam hati teman-teman yang sedang mengabdi di pelosok sana, begitu juga dengan anak-anak didik mereka. Karena SM3T telah membuat semua orang menjadi berarti, gegap gempita perayaan dengan cara dan gaya setiap orang akan selalu dikampanyekan dengan penuh kehangatan. 

Teman-teman yang sedang berada di pelosok sana pasti sudah mempersiapkan perayaan khusus bersama anak-anak terbaiknya, bersama masyarakat merayakan ulang tahun sebuah program besar yang bernama SM3T. Begitu juga dengan para alumninya, pasti ada agenda khusus yang sudah mereka persiapakan dengan cara mereka sendiri. Tidak perlu perayaan mahal yang dilaksanakan oleh pemerintah, justeru membuat orang marah karena akan menghabiskan banyak uang negara. Biarlah kami atas nama keluarga besar SM3T merayakannya dengan perayaan kami sendiri. Dan kami tahu bagaimana caranya.
******
Terimakasih SM3T telah mempertemukan kami dengan orang-orang hebat, terimakasih telah memberi kesempatan kepada kami untuk menikmati lukisan Indonesia raya dari Sabang sampai Merauke, Miangas sampai Pulau Rote. Terimakasih telah mempertemukan kami dengan keluarga baru, teman baru dan pengalaman baru. Terimaksih telah melahirkan para pendidik hebat dan berdedikasi tinggi. 

Terimakasih SM3T telah memberikan waktu setahun untuk kami dalam memperjuangkan cita-cita, mimpi, idealisme dan harapan. Hanya setahun menjadi guru di pedalaman, kami telah menjadikan ini sebagai sesuatu yang berarti dan penuh arti. Kami semua yakin bahwa pengalaman setahun di pedalaman merupakan nilai terbaik dengan predikat cumloude yang diberikan oleh Universitas kehidupan yang tidak akan pernah kami lupakan. 

Pengalaman setahun ini akan menjadi bagian dari sejarah hidup yang tidak mungkin bisa kami lupakan: desa terpencil, alam pedalaman, masyarakat dan anak-anak didik itu akan selalu menjadi bagian dari hidup kami. [darbe]
Selamat Hari Jadi ke-4 SM3T.Semoga selalu ada untuk anak-anak Indonesia. Kami bangga.
[Banda Aceh, 6 September 2015]


Hari Jadi SM3T ke-4
hari Jadi SM3T
Foto dari Facebook Fitriani Anwar

Hari Jadi SM3T
Foto dari Facebook Fitriani Anwar

Papua
Foto dari Facebook Fitriani Anwar

SM3T Papua
Foto dari Facebook Fitriani Anwar


Untuk Temanku Murhaban yang Berhasil Menghidupkan Sekolah Mati

Aku titipkan sebuah puisi untuk temanku Murhaban, puisi dari Dani Ronny, dia menulisnya di kebun jeruk, Februari 2006.

UNTAIAN HATI

Teruntuk sahabatku, guru,
Dimanapun engkau berada saat ini,
di hutan,
di gunung,
di pantai,
di lembah,
di desa-desa tandus,
di gubuk-gubuk reot,
di kolong-kolong jembatan,
di gedung-gedung mewah.

Mari,
Kita bulatkan hati untuk menghadirkan
keindahan pada setiap karya kita.
Setiap hari kita membuat masterpiece di jiwa-jiwa
unik pembelajar kita.
Sejak langkah pertama kita masuk ke ruang-ruang belajar,
dan diakhiri dengan langkah kaki kita yang lain,
tatkala pelajaran usai.
Ah. Betapa mulianya pekerjaanmu!

Saudaraku,
Kutitip anakku untuk kau didik,
dan akan kudidik anakmu dengan segala totalitas
dan kemampuan yang kumiliki.
Kucintai anakmu seperti engkau mencintainya,
dan cintai anakku seperti aku mencintainya.
Jangan kecilkan hatinya pada saat dia salah.
Bukankan siapa diantara kita yang tak pernah salah?

Saudaraku,
Sungguh, ini sebuah kemuliaan,
mari berjabat tangan,
eratkan rasa dan satukan hati
untuk selalu memberi yang terbaik
bagi anak negri!

Saudaraku,
hidup ini tidak lama.
Apa yang sudah kita berikan kepada sesama?
Kita, jasad ini, boleh musnah, boleh hilang,
kita boleh tiada lagi,
namun mari berharap agar
kebaikan yang kita tabur
akan terus bertumbuh kembang,
menyebar dan berbuah
kemuliaan.

Saudaraku,
dimanapun engkau berada saat ini,
di hutan,
di gunung,
di pantai,
di lembah,
di desa-desa tandus,
di gubuk-gubuk reot,
di kolong-kolong jembatan,
di gedung-gedung mewah.
Mari, biarkan cinta kita
bertebaran,
mengharumkan bumi
persada tercinta ini.
Mari, besarkan hati
untuk membesarkan bangsa ini, saudaraku!.

                                                     *****

Pengabdian Guru SM3T
[Kepala Sekolah MIS Paya Ateuk sedang memberi pengarahan]
Izinkan aku mengangkat topi seraya mengucapkan salut berbalut bangga, buat temanku Murhaban. Sekarang sudah menjadi kepala sekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di pedalaman Aceh selatan. Sekolah yang sejak 2013 mati total ditinggal murid-muridnya. Sekolah yang dicap tak layak beroprasi oleh penduduk setempat, sekolah yang akan ditutup untuk selamanya oleh Kementerian Agama. Ini bukan cerita dalam film Laskar Pelangi. Ini nyata, benar adanya, terjadinya sekarang, tahun 2015. Tahun gemilang dengan anggaran pendidikan berlimbah ruah. Tahun dimana semua orang sibuk membangun sekolah, tahun yang katanya sedang memupuk generasi emas.

Sekalipun kisah ini pernah terjadi di tempat lain, namun aku tidak mendengarkan kabarnya. Aku tuliskan kabar ini supaya orang-orang tahu masih ada orang yang benar-benar mau mengabdi. Benar-benar tulus semata-mata mengharapkan ridha Allah. Aku tahu, dan tidak diragukan lagi, produk dari SM3T yang pernah merasakan pahitnya kehidupan di pedalaman, kekuatan hati dengan rasa pengabdian sudah mendarah danging. Dan sekarang aku semakin percaya kalau SM3T telah berhasil melahirkan insan-insan luar biasa biarpun tidak semua. Setidaknya ada. Salah satunya temanku Murhaban.
*****
Aku dapat kabar, tapi tidak dari surat kabar. Konon katanya sekolah itu akan ditutup kalau tahun ini tidak bisa mendatangkan murid. Murhaban, seorang alumni PPG SM3T Unsyiah yang pernah menjadi guru di Pedalaman Sanggau, Kalimantan Barat memilih untuk berjuang menghidupkan kembali sekolah yang sudah mati itu. Modalnya cuma kemauan dan keikhlasan. Itu saja.

Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Paya Ateuk Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan. Sekolah yang berada ditengah kampung ini sudah mati total karena ditinggal murid-muridnya. Entah kenapa. Tapi faktanya tidak ada lagi orang tua yang mau menitipkan anaknya untuk belajar di sana dan lebih memilih mengirim anaknya untuk belajar di sekolah yang jauh dari kampung. Jangan kau tanya kenapa. Aku pun tidak tahu.
*****
Rapat dengan tokoh masyarakat
[Rapat menghidupkan kembali sekolah dengan tokoh masyarakat]
Aku dapat kabar, pendekatan ala politisi kamu lakukan terus-menerus kepada orang sekampung, ketua pemuda, Tuha Lapan, Tuha peut, Geuchik, Imum Mukim dan tokoh masyarakat lainnya. Kamu berhasil meluluhkan hati mereka, mengajak mereka semua untuk duduk bermusyawarah mengambil keputusan “MIS Paya Ateuk, diaktifkan kembali atau tutup selamanya”. Pada akhirnya, seluruh masyarakat mau gotong royong membersihkan dan merehap sekolah, bahkan mereka mau iyuran untuk membeli inventaris wajib sekolah seperti bangku, meja dan papan tulis. Kamu berhasil menggerakkannya Murhaban. Menggerakkan jiwa-jiwa yang keras.

Bukan hal mudah untuk meyakinkan orang sekampung supaya mau mengirim anak-anaknya di sekolahmu. Bukan hal mudah meyakinkan pemerintah kalau sekolah itu akan kamu hidupkan kembali, dan kabarnya kamu menjamin dengan penuh resiko sekolah itu akan hidup. Ilmu dari mana kamu dapatkan?. Bukan hal mudah menghadirkan guru-guru untuk mengajar di sekolahmu itu. Tidak banyak yang mau mengabdi sepertimu. Dan aku sangat yakin kamu mampu. 

Kamu mulai takut, jika sekolah itu aktif tidak ada guru yang mau mengajar. Jangan lupa, banyak guru-guru muda yang hebat sepertimu. Aku yakin mereka juga bertaburan di sana. Dulu saat kuliah kita pernah bersepakat bagaimana menjadi guru yang hebat. Kamu masih ingat?
Mengajar tidak hanya masuk kelas, bertemu para pembelajar, menyuruh ini itu, lalu keluar kelas, dan pulang.
Apakah ini yang dianggap proses belajar mengajar? Kalau cuma seperti itu, kita tidak perlu mengikuti pendidikan yang tinggi-tinggi, tidak perlu kuliah Pendidikan Profesi Guru (PPG), atau ikut training yang hebat-hebat. Semua orang bisa melakukannya. 

[Guru sedang membimbing siswa di kelas]
Coba kita sedikit merenungkan proses belajar mengajar, mencoba memandangnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar transfer informasi dan “penjejalan” pengetahun, namun ada unsur kasih sayang, kepedulian, komitmen, kerendahan hati, kreativitas, keiklasan, dan karakter-karakter unggul lain di dalamnya. Ada passion yang tak terbatas apapun. Sebuah hasrat yang menggelora untuk melihat para pembelajar  bertumbuh, dan ada kerinduan agar mereka bermetaformosa dan menyempurna menjadi insan-insan yang luar biasa. Itulah sesungguhnya hal yang dimiliki oleh guru-guru yang akan dan mungkin telah melegenda.

Aku pernah dimarahi oleh seorang penulis buku The power of Emotional end Adversity Quotient For Teacher namanya Dani Ronny. Suatu malam menjelang tidur aku membaca bukunya, lalu dia marah. Kamu tahu apa katanya? 
Untuk menjadi guru-guru yang melegenda dan dikenang oleh banyak jiwa-jiwa pembelajar sepanjang masa, kita harus memiliki: kasih sayang, kepedulian, kesabaran, kreativitas, kerendahan hati, kebijaksanaan, komitmen dan kejujuran. Komponen itulah yang akan membuat kita menjadi guru yang hebat. 
Komponen-komponen yang akan membuat kita bukanlah just ordinary teacher, melainkan a great teacher, bahkan menjadi a legend. Apakah kamu tidak merindukan hal seperti itu. Ah. Jangan bohong. Kamu pasti merindukannya.

[Anak-anak ikut membersihkan kelas yang akan digunakan]
Aku malu tidak bisa sepertimu. Ditengah gelombang pengeluhan, belum mendapatkan pekerjaan, masih pilah-pilih sekolah, memaki pemilik kebijakan, sibuk menunggu hal-hal yang tidak pasti. Dan kamu di sana tidak peduli dengan gelombang-gelombang itu dan memilih membangkitkan gelombang-gelombong kecerdasan anak-anak didikmu. Aku khawatir, kamu nanti dapat gaji dari mana? Operasional sekolahmu bagaimna? Apa kamu tidak takut di-PHP-in oleh pemerintah?. Aku sangat tergugah malam itu, ketika aku bertanya melalui pesawat telpon kamu menjawab:
Aku ikuti proses saja, rezeki sudah Allah yang atur. Aku cuma ingin membuat sesuatu untuk kampungku. Aku ingin anak-anak di kampungku pintar, aku ingin kampungku maju. Serahkan semuanya kepada Allah, aku hanya bisa berusaha. 
Aku sedang membayangkan, bagaimana kalau semua anak muda seumuran kita memiliki pikiran sepertimu. Wah, akan sangat luar biasa. Setidaknya produk dari “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia” itu mau mengikuti jejakmu. Tapih sayang, hidup di dunia ini keras kawan, bahkan kejam sekali. Orang sepertimu langka. Akupun tidak bisa menjangkau sampai seperti dirimu. 

Apa yang bisa ku bantu? Banyak. Tapi aku tidak mampu. Biarkan aku mengabarkan saja. Biar teman-teman yang dekat dengan kampungmu tahu. Siapa tahu mereka mau membantumu menjadi guru di MIS Paya Ateuk. Menjadi guru hebat, mengajar dengan totalitas dengan gaji dari Allah. Ada yang mau silahkan mendaftar.

Sekarang kamu adalah konsultan pendidikan. Karena kamu yang menggerakkan, kamu kepala sekolahnya, dan kamu pula yang bertanggung jawab. Kasusmu sama persis seperti kisah Munif Chatif. Kamu ingat? Orang itu pernah mengerakakan hati kita saat berada dalam Auditorium FKIP satu tahun yang lalu. Maka, bacalah bukunya: Sekolahnya Manusia. Buatlah sekolahmu menjadi satu-satunya sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Aceh Selatan. Ciptakanlah anak-anak hebat dari bakatnya masing-masing. Aku yakin kamu mampu karena sekolah itu milikmu. Kamu yang memimpin di sana. 

#Darbe. Banda Aceh, 13 Agustus 2015.

10 Tips Berada di Pedalaman Bagi Orang Baru

Tips Berada Di Pedalaman
Berpose Bersama warga setempat
Mengunjungi tempat baru akan menjadi tantangan tersendiri bagi setiap orang, apalagi tempat yang akan dikunjungi adalah pedalaman yang jauh dari perkotaan. Pedalaman tidak boleh dianggap remeh karena sangat jauh berbeda dengan kota yang masyarakatnya yang lebih heterogen dan sudah terbilang maju. Namun tidak dengan pedalaman, disamping masyarakat yang masih terbilang tertinggal, medan yang menantang dan adat istiadat di sana membuat kita harus ekstra hati-hati. Salah-salah dalam bertindak maka akan mengalami akibat yang fatal. 

Nah. Agar terhindar dari hal-hal yang tidak dinginkan, ikuti tips berada di pedalaman berikut:

1. Pelajari adat istiadat setempat
Sebelum berangkat ke pedalaman, cari tahu tentang adat istiadat yang berlaku di sana. Hal apa saja yang dilarang dan diperbolehkan. Cari tahu juga hukuman apa yang diberikan kalau pendatang melanggar peraturan tersebut. Banyak sumber informasi yang bisa digunakan, mencari berbagai literatur di internet atau boleh langsung bertanya kepada orang-orang yang sudah ke sana. Bertanya kepada orang yang sudah pernah pergi lebih bagus karena informasi yang diberikan lebih valid dan akurat.

2.Kuasai wilayah tujuan
Setiap wilayah pasti memiliki karakteristik yang berbeda. Kita harus pastikan untuk menguasai wilayah yang akan dituju mulai dari iklim, medan, jalan, transportasi, makanan pokok, air, sinyal, jumlah penduduk, dan semua yang berhubungan dengan wilayah tersebut. Jika sudah menguasaainya Insya Allah kita akan merasa nyaman selama di sana.

3. Jangan Panik dan heboh
Begitu tiba di pedalaman, hal pertama yang harus diingat adalah jangan panik apalagi heboh. Jangan menunjukkan ekspresi terkejut yang berlebihan begitu melihat kondisi lingkungan suku adat setempat yang terkadang hal baru dan aneh bagi kita. Jangan pula terlalu heboh, membuat keributan, selfi-selfian, tindakan itu dapat mengganggu masyarakat setempat karena bisa dianggap tidak menghargai. Jika tidak mengindahkan bisa-bisa kita akan diusir.

4.Jaga sopan santun
Salam, senyum dan sapa (S3) merupakan trilogi dari sopan santun. Menjaga sopan santun adalah hal wajib yang harus dilakukan. Perhatikan setiap tingkah laku selama berada di pedalaman. Jangan bersikap sombong dan angkuh, menganggap kita lebih pintar dari mereka. Tunjukkan sikap ramah dengan memberi senyum, sapa dan salamlah setiap orang yang kita jumpai. Jaga juga setiap kata yang keluar dari mulut kita, jangan sampai menyakiti perasaan penduduk setempat. 

5. Segerakan adaptasi dan sosialisasi
Begitu tiba di pedalaman, usahakan untuk bisa beradaptasi secepat mungkin. Semua hal mulai dari makan, mandi, berpakaian, dan kebiasaan kita selama di kota. Semua itu harus disesuaikan dengan daerah baru kita. Disamping itu, sosialisai dengan penduduk setempat harus dilakukan dengan segera, mengunjungi para tentangga, kepala desa dan stockholder setempat. Buat sedemikian rupa supaya semua penduduk mengenal dan menyayangi kita.

6. Jangan sok tahu apalagi menggurui
Prinsipnya sederhana “jangan lakukan apa yang mereka larang dan jagan larang apa yang mereka akukan”. Jangan pernah berpikir kita lebih pintar dari orang-orang di pedalaman. Kadang, banyak hal yang kita pikir mereka tidak mengetahuinya padahal mereka lebih ahli dari kita, mungkin cuma cara mereka melakukannya yang berbeda. Bersikaplah rendah hati dengan menghargai penduduk setempat.

7. Jangan membawa Perhiasan
Tujuan ke pedalaman untuk apa? Pastinya bukan untuk jual emas!. Usahakan tidak membawa perhiasan selama di pedalaman, jika memang harus membawa, maka bawalah perhiasan yang kecil saja seperti cicin. Biarpun di pedalaman, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi pencurian dan perampokan. Medan yang cukup sulit juga membuat periasan yang kita bawa akan terjatuh ataupun hilang. 

8. Jangan tebar pesona
Gara-gara terlalu sering terbar pesona banyak orang yang datang ke pedalaman tidak pulang lagi. Mereka harus terpaksa menikah dengan penduduk lokal. Penyebabnya bayak, mulai dari diguna-guna sampai “kecelakaan”. Bersikap ramah perlu, namun bukan berarti kita harus menebar pesona. Tersenyumlah sewajar mungkin kepada setiap orang, terutama lawan jenis. Senyum atau ramah yang berlebihan bisa menarik hati penduduk lokal. Ingat, biasanya di pedalaman kita akan menjadi pusat perhatian, kita akan menjadi orang paling ganteng dan paling cantik. Semua orang akan melirik. Maka berhati-hatilah.

9. Kedepankan Komunikasi/musyawarah
Setiap orang pasti punya masalah, kecil ataupun besar. Masalah yang kita hadapi di kota akan jauh berbeda dengan di pedalaman. Pada dasarnya setiap masalah muncul karena komunikasi. Jika terjadi suatu masalah yang tidak diinginkan segeralah berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait. Musyawarahkan duduk permasalahannya. Komunikasi dan musyawarah adalah jalan terbaik dalam menyelesaikan setiap masalah.

10. Berdoa
Ini yang paling penting. Berdoa adalah kunci satu-satunya untuk keselamatan. Alam semesta beserta isinya adalah milik Allah. Jadi tidak ada tempat lain untuk meminta bantuan kecuali kepada pemilik alam. Berdoalah sesering mungkin dan jangan lupa minta kepada orang tua untuk terus mendoakan kita selama berada di pedalaman. Ingat, doa ibu-bapak tanpa hijab lho.

Semoga bermanfaat.:)

#Darbe. 24 Juli 2015.