Home » , » Ketika Cinta Kandas di Mahar

Ketika Cinta Kandas di Mahar

Jelamei
Tadi pagi bertemu dengan seorang kawan yang telah lama menghilang. Kawan yang sangat ahli dalam merayu perempuan bahkan kami menjadikan dia sebagai tim ahli dalam dunia percintaan. Kawan ini mempunyai kisah cinta sangat menarik dan mengharukan kadang-kadang juga mengerikan. Sikawan telah membangun cinta dengan perempuan pujaannya sejak sama-sama kuliah di semester IV dan Alhamdulillah sampai sekarang, totalnya 7 tahun mereka memadu cinta dari dua hati yang berbeda. Cinta mereka sangat luar biasa, aku sempat mengeluarkan statement “Cinta mereka akan berakhir di pelaminan”. Tau apa yang terjadi? Mari aku ceritakan.

Tidak ada angin dan hujan juga petir, sikawan menelponku pagi-pagi sekali ”Broe, bagun. Solat subuh, abis itu aku jemput kita sarapan pagi bareng. Ada proyek besar nih”. Tumben dia bagun pagi, apa udah taubat. Gumamku. Ahh, aku tidak mau berpikir negatif, bergegas Solat Subuh dan mandi. Ini adalah rezeki, telat bangun pagi rezeki dipatok ayam. Itu yang ada dalam pikiranku.

Sikawan sudah di depan rumah, dan kami menuju ke sebuah warung kopi. Sembari menanyakan kabar, secangkir kopi dan nasi pagi dengan penuh semangat sikawan menceritakan kisahnya. Lebih tepatnya dia curhat. Kau lebih layak mendengar cerita ini, biarpun minim pengalaman namun kau punya teori bijak dalam kasus ini. Cetus sikawan. Waeow. Aku semakin penasaran.

Baik, silahkan cerita, Insya Allah aku bisa bantu. Lalu sikawan menceritakan kisahnya dari A sampai Z. Aku mendengar dengan saksama dan mulai paham apa yang terjadi. Jujur, aku gak bisa kasi solusi. Kasusnya rumit, resikonya besar, jika salah memberikan solusi maka tambah runyam. 

Kira-kira begini potongan dari cerita sikawan dan potongan ini merupakan inti dari permasalahannya. Mari baca: 

Sikawan mencerya calon mak tuan dengan gagah berani “Jika anakmu sudah berumur 26 tahun, masikah kau bersikeras mempertahankan mahar 20 manyam? Ini semua demi siapa? Demi adat? Demi harga diri? Atau demi anakmu? Ibu. Kalau memang menolak, katakana saja!. Dan aku pun akan mengatakan demikian pada anak perempuanmu. “Dek, sepertinya cinta kita tidak bisa dilanjutkan lagi? Lho, kenapa bang?” Ibumu telah menjual kamu seharga 20 manyam tanpa kurang. Emangnya kamu barang dek?” Propokasi.

Aku pun mikir, banyak kali alasan kawan ini. Laki-laki sekarang mulai pandai beretorika dalam hal jelamei, banyak hal dijadikan alibi pembenaran sang lelaki. Ini lah, itu lah, begini lah dan begitu lah. Yang penting mahar perempuan harus murah. Sampai-sampai sikawan berasumsi ada adegan jual-beli dalam detik-detik menuju pernikahan. 

Mahar yang besar seharusnya dibarengi dengan kualitas seorang perempuan itu sendiri, seperti “barang mahal”, kualitasnya pasti bagus, berarti dia menutup auratnya, akhlaknya baik, enak dipandang dan pastinya bisa menjaga diri. Namun jangan sampai mahal tapi kualitas palsu atau murahan, seperti perempuan yang tidak menutup auratnya, tidak menjaga akhlaknya, bebas pacaran, dan banyak sidik jari laki-laki di tubuh (Sering disentuh). Ini adalah perempuan mahal yang palsu, aslinya murah, bungkusnya pun murah, kualitas jelek sehingga gampang dibuka dan dicoba. 

Bukan bermaksud menganggap perempuan sebagai barang. Cuma perumpamaan. Tapi, kalau dipikir-pikir udah kayak barang juga sih. Mematok 20 manyam, setelah tawar-menawar gak boleh kurang. Apakah itu bukan seperti barang yang diperjualbelikan? Jika ada yang menjawab: bukan, ini ajaran Islam, menikah harus menggunakan mahar. Iyaa, betul. Tapi mahar dalam Islam kan tidak harus memberatkan. 

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi Shallallaahu‘alaihi Wasallam bersabda: “Diantara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.” (HR. Ahmad).

Kalau pun jumlah mahar besar adalah adat. Apakah adat tidak bisa dirubah? Tentu bisa dong demi kemaslahatan. Peninjauan Kembali (PK) dalam bahasa Hukumnya. Semua bisa dirubah keculai Al-Quran dan Hadis. 

Kalau mau jujur. Ketahuan, lelaki yang selalu protes prihal mahar adalah lelaki yang belum mapan tetapi kebelet mau nikah. Lelaki mapan akan selalu siap berapun mahar yang ditentukan. Apapun akan dilakukan untuk mendapatkan sang pujaan hati belahan jiwa tercinta. Jangankan 20 manyam, 1000 manyam pun akan disiapkan. Ini baru lelaki hebat.:D
*****
Hmmmem. Kembali lagi ke cerita sikwan. 

Selidik demi selidik rupanya semua ini adalah modus sikawan aja yang menjadikan mahar sebagai alasan, padahal dia berkecukupan dengan pekerjaan sebagai pengusaha muda, 20 manyam bukanlah perkara sulit. Lalu, apa motifnya?, Sikawan sudah mendapatkan perempuan baru yang lebih bahenol dari perempuan sebelumnya. Menjadikan mahar sebagai alasan untuk bisa meninggalkan perempuan yang telah dia pacari selama 7 tahun lamanya. Bajingan bukan?.

#Darbe. Jambo Tape, 30 April 2015.

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment