Home » , » Malam Minggu Milik Siapa?

Malam Minggu Milik Siapa?

[Gambar Memadu Cinta]
Apa boleh buat, beginilah nasib para jomblo dimalam Minggu yang selalu bersenang ria dirumah tanpa ada yang menemani. Paling, kalau bosan dirumah nongkrong diwarung kopi sambil facebookan sekalian nonton bola. Sementara yang punya pacar malam minggu gini udah pada keluar dengan sang pujaan hati belahan jiwa. 

Selesai mandi mengenakan pakaian semprot parfum banyak-banyak duduk manis didepan Metro TV. Tiba-tiba datang seorang teman dengan semangat berkata: “mau kemana udah wangi?” aku hanya senyum-senyum manis aja mendengarnya, pura-pura cuek. Lama memandang, dia bertanya lagi “heii, mau kemana udah ganteng, mau kencan yaaa..?”. Kasian ini temen ngomong sendiri kayak orang gila, akhirnya aku jawab juga “gak kemana-mana, cuma mau nonton berita aja”.  “Busshettt.. Nonton berita pun harus rapi-rapi kali, pakek parfum pulak” celetuk si teman.

Haahh. Kurang ajar ini teman. Emangnya jumpa sama pacar aja harus rapi, jumpa pujaan hati aja harus pakek parfum.?. Kemunduran cara berfikir yang sangat disayangkan. Menurut aku, mau dimana pun dan kapan pun, kita harus tetap bersih, rapi dan wangi sehingga keberadaan kita tidak membuat orang lain terganggu.

Kelar nonton Metro TV, aku ambil motor.  Seperti biasa, anak rantau yang harus memanjakan perut dengan masakan warung, anak kesayangan ayah ibu nan jauh diseberang Seulawah sana. Sambil memanasin motor karena memang udah dari tadi pagi belum dikeluarin, aku mendengar percakapan sikawan dan siteman diparkiran. Kira-kira begini percakapannya:

“Brooee, mau kemana, mau jemput pacar ya? Gaya bertanya siteman seakan-akan Nikita Wili itu pacarnya dia.

“Gaakk kemana-mana kok, mau beli rokok aja, kenapa.?” sikawan menjawab lantang, seakan Taj Mahal itu milik bapaknya.

“Ohh, aku pikir mau jemput cewek, belum ada pacar yaa.?" Sambung siteman.

“Iyaaaaa, belum mau pacaran sebelum mendapatkan yang halal, masalah buat lhoooo..????”

Muka siteman udah mulai kayak jeruk purut. Hening sejenak, lalu siteman mulai berkomentar lagi: 

“Hari gini gak pacaran, kasian banget sih lhoo..!!" Sambil tancap gas siteman menjauh dari sikawan.

“Hahahha..hahah.ha.hahah...” ketawa aku lantang sambil memandang sikawan.

Tipikal orang seperti siteman ini banyak ditemukan disekitar kita, tipikal angkuh dan sombong. Memilih tidak pacaran, tidak mau menyakiti hati perempuan, malam minggu sibuk dengan aktifitas sosial, seolah salah semua dimata dia sekalipun secara hukum negara, adat dan agama benar. Celakanya, aktifitas yang mereka lakukan di anggap benar dan sebuah kebanggaan sekaligus prestasi yang luar biasa karena berhasil membuat anak gadis orang ngangkang dibelakang motornya.

Tidak punya pacar bukan berarti tidak laku, barang kali mereka memilih tidak pacaran sebelum nikah, memilih untuk mendapatkan yang halal dan kita harus menghargai itu. Setiap orang punya cara berpikir yang berbeda, punya prinsip hidup berbeda pula. Banyak juga yang menganggap kalau tidak pacaran akan sulit untuk mendapatkan jodoh. Menurutku, itu pernyataan ngaur bin sesat, seolah jodoh itu didapat karena pacaran, nyatanya banyak kok cinta yang dimulai dari proses pacaran tidak membubuhkan hasil ke pernikahan dan banyak juga cinta tanpa pacaran bisa berakhir dipelaminan. 

Jomblo itu status terkeren sebelum nikah. Kesucian diri, tulusnya cinta, besarnya pengorbanan, hanya untuk orang yang sudah dihalalkan dengan kita. Jadi sebelum nikah, jomblo aja. Padatkan waktu untuk berprestasi. Jangan galau soal jodoh. Kalau diri sudah berkualitas, jodoh yang berkualitas bakal datang sendiri.

Ingat Janji Allah dalam Al-Quran: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (Q.S: An-Nuur: 26).

Jodoh itu ditangan  Allah, kita manusia hanya diperintahkan untuk berusaha dan usaha itu tidak mesti dengan pacaran lho.

Selamat Malam Minggu. Malam minggu milik kita semua.

[Sentosa IV. 25 Januari 2014, 
M. Darmansyah Hasbi]

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment