Home » , » Buah Rumbia Buah Yang Semakin Langka

Buah Rumbia Buah Yang Semakin Langka

Kuliner
[Sumber Gambar: Almaiyani  Yusna]
Tunjuk tangan yang belum pernah makan boh meuria?. Yaa. Saya percaya, pasti semua sudah mencicipinya. Orang Aceh kebanyakan pasti pernah menikmati kelezatan dari buah yang kaya khasiat ini. Khususnya mereka yang hidup sebelum tahun 2004. Boh Meuria sekarang semakin langka, sudah jarang kita dapati di tempat penjualan buah bahkan tidak ada lagi, paling bisa kita jumpai di perkampungan saja itupun kalau masih ada.

Boh meuria, bahasa latinnya Metroxylon sagu. Kalau bahasa nasionalnya buah rumbia. Rumbia atau disebut juga pohon sagu adalah nama sejenis palma penghasil tepung sagu. Rumbia biasanya tumbuh di rawa-rawa air tawar, aliran sungai dan tanah bencah lainnya. Pada wilayah-wilayah yang sesuai, rumbia dapat membentuk kebun atau hutan sagu yang luas. Pada masyarakat kampung biasanya daun rumbia dijadikan sebagai atap rumah, atap pondok di kebun atau sawah. 

Kalau di Aceh, buah rumbia banyak terdapat di Meulaboh, Aceh Barat. Dulu, dimasa kejayaan buah rumbia, jika orang pergi ke Meulaboh pasti membeli buah rumbia sebagai oleh-oleh. Buah rumbia agak mirip dengan buah salak, kalau buah rumbia sisik buahnya agak besar, rasanya kelat, tapi kalau sudah tua rasa kelatnya sedikit hilang dan mulai timbul sedikit rasa manis, bila ingin memakannya diasinkan dulu, baru sedap untuk dimakan. Kalau belum diasinkan paling mantap dimakan dengan patarana atau pliek `u.

Di kampong kami, dulunya banyak sekali buah rumbia ini namun entah apa penyebabnya buah rumbia sudah jarang sekali didapatkan bahkan tidak ada lagi. Satu-dua pohonnya masi dapat kita jumpai di kampung-kampung namun tidak berbuah lagi.

Selain diasinkan, boh meria biasanya dimakan bersama dengan rujak, digunakan sebagai salah satu campuran rusak bersama dengan buah-buahan lainnya. Karena buah rumbia sulit didapatkan maka para penjual rujak menggantinya dengan buah pisang muda. Padahal rujak dengan boh meuria sangat nikmat.

Dijaman saya kecil dulu, dahan rumbia atau peulepah meuria sering kami gunakan untuk bahan baku pembuatan mobil-mobilan. Butuh perjuangan untuk mendapatkan dahan rumbia terbaik, kadang kami harus masuk ke semak-semak untuk mencari pelepah rumbia yang besar, tebal dan kering. 

Untuk jaman yang serba modern sekarang, buah rumbia mulai tidak disenangi lagi untuk dimakan apalagi di kalangan anak-anak kemeren sore yang doyannya makan buah melon, apel, anggur dan lain sebagainya. Paling yang masih mau menikmati buah rumbia adalah orang-orang tua yang menyukai makanan tradisional. Mobil-mobilan dari peulepah meria pun tidak pernah dijumpai lagi di kampung-kampung semenjak lahirnya mainan-mainan modern yang instan sehingga kreativitas anak-anak sekarang sangat terbatas. Mikiiir. [DR]

[Darbe. Banda Aceh, 20 April 2015]

Previous
« Prev Post

3 komentar:

Post a Comment