Home » , , » Untuk Temanku Murhaban yang Berhasil Menghidupkan Sekolah Mati

Untuk Temanku Murhaban yang Berhasil Menghidupkan Sekolah Mati

Aku titipkan sebuah puisi untuk temanku Murhaban, puisi dari Dani Ronny, dia menulisnya di kebun jeruk, Februari 2006.

UNTAIAN HATI

Teruntuk sahabatku, guru,
Dimanapun engkau berada saat ini,
di hutan,
di gunung,
di pantai,
di lembah,
di desa-desa tandus,
di gubuk-gubuk reot,
di kolong-kolong jembatan,
di gedung-gedung mewah.

Mari,
Kita bulatkan hati untuk menghadirkan
keindahan pada setiap karya kita.
Setiap hari kita membuat masterpiece di jiwa-jiwa
unik pembelajar kita.
Sejak langkah pertama kita masuk ke ruang-ruang belajar,
dan diakhiri dengan langkah kaki kita yang lain,
tatkala pelajaran usai.
Ah. Betapa mulianya pekerjaanmu!

Saudaraku,
Kutitip anakku untuk kau didik,
dan akan kudidik anakmu dengan segala totalitas
dan kemampuan yang kumiliki.
Kucintai anakmu seperti engkau mencintainya,
dan cintai anakku seperti aku mencintainya.
Jangan kecilkan hatinya pada saat dia salah.
Bukankan siapa diantara kita yang tak pernah salah?

Saudaraku,
Sungguh, ini sebuah kemuliaan,
mari berjabat tangan,
eratkan rasa dan satukan hati
untuk selalu memberi yang terbaik
bagi anak negri!

Saudaraku,
hidup ini tidak lama.
Apa yang sudah kita berikan kepada sesama?
Kita, jasad ini, boleh musnah, boleh hilang,
kita boleh tiada lagi,
namun mari berharap agar
kebaikan yang kita tabur
akan terus bertumbuh kembang,
menyebar dan berbuah
kemuliaan.

Saudaraku,
dimanapun engkau berada saat ini,
di hutan,
di gunung,
di pantai,
di lembah,
di desa-desa tandus,
di gubuk-gubuk reot,
di kolong-kolong jembatan,
di gedung-gedung mewah.
Mari, biarkan cinta kita
bertebaran,
mengharumkan bumi
persada tercinta ini.
Mari, besarkan hati
untuk membesarkan bangsa ini, saudaraku!.

                                                     *****

Pengabdian Guru SM3T
[Kepala Sekolah MIS Paya Ateuk sedang memberi pengarahan]
Izinkan aku mengangkat topi seraya mengucapkan salut berbalut bangga, buat temanku Murhaban. Sekarang sudah menjadi kepala sekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di pedalaman Aceh selatan. Sekolah yang sejak 2013 mati total ditinggal murid-muridnya. Sekolah yang dicap tak layak beroprasi oleh penduduk setempat, sekolah yang akan ditutup untuk selamanya oleh Kementerian Agama. Ini bukan cerita dalam film Laskar Pelangi. Ini nyata, benar adanya, terjadinya sekarang, tahun 2015. Tahun gemilang dengan anggaran pendidikan berlimbah ruah. Tahun dimana semua orang sibuk membangun sekolah, tahun yang katanya sedang memupuk generasi emas.

Sekalipun kisah ini pernah terjadi di tempat lain, namun aku tidak mendengarkan kabarnya. Aku tuliskan kabar ini supaya orang-orang tahu masih ada orang yang benar-benar mau mengabdi. Benar-benar tulus semata-mata mengharapkan ridha Allah. Aku tahu, dan tidak diragukan lagi, produk dari SM3T yang pernah merasakan pahitnya kehidupan di pedalaman, kekuatan hati dengan rasa pengabdian sudah mendarah danging. Dan sekarang aku semakin percaya kalau SM3T telah berhasil melahirkan insan-insan luar biasa biarpun tidak semua. Setidaknya ada. Salah satunya temanku Murhaban.
*****
Aku dapat kabar, tapi tidak dari surat kabar. Konon katanya sekolah itu akan ditutup kalau tahun ini tidak bisa mendatangkan murid. Murhaban, seorang alumni PPG SM3T Unsyiah yang pernah menjadi guru di Pedalaman Sanggau, Kalimantan Barat memilih untuk berjuang menghidupkan kembali sekolah yang sudah mati itu. Modalnya cuma kemauan dan keikhlasan. Itu saja.

Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Paya Ateuk Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan. Sekolah yang berada ditengah kampung ini sudah mati total karena ditinggal murid-muridnya. Entah kenapa. Tapi faktanya tidak ada lagi orang tua yang mau menitipkan anaknya untuk belajar di sana dan lebih memilih mengirim anaknya untuk belajar di sekolah yang jauh dari kampung. Jangan kau tanya kenapa. Aku pun tidak tahu.
*****
Rapat dengan tokoh masyarakat
[Rapat menghidupkan kembali sekolah dengan tokoh masyarakat]
Aku dapat kabar, pendekatan ala politisi kamu lakukan terus-menerus kepada orang sekampung, ketua pemuda, Tuha Lapan, Tuha peut, Geuchik, Imum Mukim dan tokoh masyarakat lainnya. Kamu berhasil meluluhkan hati mereka, mengajak mereka semua untuk duduk bermusyawarah mengambil keputusan “MIS Paya Ateuk, diaktifkan kembali atau tutup selamanya”. Pada akhirnya, seluruh masyarakat mau gotong royong membersihkan dan merehap sekolah, bahkan mereka mau iyuran untuk membeli inventaris wajib sekolah seperti bangku, meja dan papan tulis. Kamu berhasil menggerakkannya Murhaban. Menggerakkan jiwa-jiwa yang keras.

Bukan hal mudah untuk meyakinkan orang sekampung supaya mau mengirim anak-anaknya di sekolahmu. Bukan hal mudah meyakinkan pemerintah kalau sekolah itu akan kamu hidupkan kembali, dan kabarnya kamu menjamin dengan penuh resiko sekolah itu akan hidup. Ilmu dari mana kamu dapatkan?. Bukan hal mudah menghadirkan guru-guru untuk mengajar di sekolahmu itu. Tidak banyak yang mau mengabdi sepertimu. Dan aku sangat yakin kamu mampu. 

Kamu mulai takut, jika sekolah itu aktif tidak ada guru yang mau mengajar. Jangan lupa, banyak guru-guru muda yang hebat sepertimu. Aku yakin mereka juga bertaburan di sana. Dulu saat kuliah kita pernah bersepakat bagaimana menjadi guru yang hebat. Kamu masih ingat?
Mengajar tidak hanya masuk kelas, bertemu para pembelajar, menyuruh ini itu, lalu keluar kelas, dan pulang.
Apakah ini yang dianggap proses belajar mengajar? Kalau cuma seperti itu, kita tidak perlu mengikuti pendidikan yang tinggi-tinggi, tidak perlu kuliah Pendidikan Profesi Guru (PPG), atau ikut training yang hebat-hebat. Semua orang bisa melakukannya. 

[Guru sedang membimbing siswa di kelas]
Coba kita sedikit merenungkan proses belajar mengajar, mencoba memandangnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar transfer informasi dan “penjejalan” pengetahun, namun ada unsur kasih sayang, kepedulian, komitmen, kerendahan hati, kreativitas, keiklasan, dan karakter-karakter unggul lain di dalamnya. Ada passion yang tak terbatas apapun. Sebuah hasrat yang menggelora untuk melihat para pembelajar  bertumbuh, dan ada kerinduan agar mereka bermetaformosa dan menyempurna menjadi insan-insan yang luar biasa. Itulah sesungguhnya hal yang dimiliki oleh guru-guru yang akan dan mungkin telah melegenda.

Aku pernah dimarahi oleh seorang penulis buku The power of Emotional end Adversity Quotient For Teacher namanya Dani Ronny. Suatu malam menjelang tidur aku membaca bukunya, lalu dia marah. Kamu tahu apa katanya? 
Untuk menjadi guru-guru yang melegenda dan dikenang oleh banyak jiwa-jiwa pembelajar sepanjang masa, kita harus memiliki: kasih sayang, kepedulian, kesabaran, kreativitas, kerendahan hati, kebijaksanaan, komitmen dan kejujuran. Komponen itulah yang akan membuat kita menjadi guru yang hebat. 
Komponen-komponen yang akan membuat kita bukanlah just ordinary teacher, melainkan a great teacher, bahkan menjadi a legend. Apakah kamu tidak merindukan hal seperti itu. Ah. Jangan bohong. Kamu pasti merindukannya.

[Anak-anak ikut membersihkan kelas yang akan digunakan]
Aku malu tidak bisa sepertimu. Ditengah gelombang pengeluhan, belum mendapatkan pekerjaan, masih pilah-pilih sekolah, memaki pemilik kebijakan, sibuk menunggu hal-hal yang tidak pasti. Dan kamu di sana tidak peduli dengan gelombang-gelombang itu dan memilih membangkitkan gelombang-gelombong kecerdasan anak-anak didikmu. Aku khawatir, kamu nanti dapat gaji dari mana? Operasional sekolahmu bagaimna? Apa kamu tidak takut di-PHP-in oleh pemerintah?. Aku sangat tergugah malam itu, ketika aku bertanya melalui pesawat telpon kamu menjawab:
Aku ikuti proses saja, rezeki sudah Allah yang atur. Aku cuma ingin membuat sesuatu untuk kampungku. Aku ingin anak-anak di kampungku pintar, aku ingin kampungku maju. Serahkan semuanya kepada Allah, aku hanya bisa berusaha. 
Aku sedang membayangkan, bagaimana kalau semua anak muda seumuran kita memiliki pikiran sepertimu. Wah, akan sangat luar biasa. Setidaknya produk dari “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia” itu mau mengikuti jejakmu. Tapih sayang, hidup di dunia ini keras kawan, bahkan kejam sekali. Orang sepertimu langka. Akupun tidak bisa menjangkau sampai seperti dirimu. 

Apa yang bisa ku bantu? Banyak. Tapi aku tidak mampu. Biarkan aku mengabarkan saja. Biar teman-teman yang dekat dengan kampungmu tahu. Siapa tahu mereka mau membantumu menjadi guru di MIS Paya Ateuk. Menjadi guru hebat, mengajar dengan totalitas dengan gaji dari Allah. Ada yang mau silahkan mendaftar.

Sekarang kamu adalah konsultan pendidikan. Karena kamu yang menggerakkan, kamu kepala sekolahnya, dan kamu pula yang bertanggung jawab. Kasusmu sama persis seperti kisah Munif Chatif. Kamu ingat? Orang itu pernah mengerakakan hati kita saat berada dalam Auditorium FKIP satu tahun yang lalu. Maka, bacalah bukunya: Sekolahnya Manusia. Buatlah sekolahmu menjadi satu-satunya sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Aceh Selatan. Ciptakanlah anak-anak hebat dari bakatnya masing-masing. Aku yakin kamu mampu karena sekolah itu milikmu. Kamu yang memimpin di sana. 

#Darbe. Banda Aceh, 13 Agustus 2015.

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment