Home » , , , , , » Jaunya Desa Merah Arai

Jaunya Desa Merah Arai

Bus Kayan Hulu
Bus Kebanggaan Masyarakat Kayan Hulu
Bus bernama Jurukito hanya ada dua di Kabupaten Sintang, Bus yang kecil treknya hanya sampai Desa Nanga Mau ibu kota Kacamatan Kayan Hilir dan yang besar sampai ke Nanga Tebidah, ibu kota Kecamatan Kayan Hulu.  Bus ini keluaran tahun 90-an. Kalau di provinsi lain Bus seperti ini sudah masuk gudang rongsokan.

Kekuatannya sangat bandel, jangan pernah meragukannya. Jalan mendaki, berbatu, tidak membuat mesinnya meraung kelelahan, kalau jalan becek berlobang sampai 1 meter masih bisa diterobos oleh bus ini. Muatan kursinya sampai 26 orang, namun biasanya tidak semua terisi karena selalu dipenuhi oleh barang-barang bawaan ataupun kiriman masyarakat. Dari Kota Sintang ke Nanga Tebidah, Ibukota Kecamatan Kayan Hulu ongkosnya cuma Rp.100.000. Itu sedikit perkenalan dengan Bus Jurukito.

Kehidupan baru saya berada di Desa Merah Arai Kecamatan Kayan Hulu, untuk menuju desa Merah Arai butuh nyali dan fisik yang prima dan harus pandai berenang. Jarak Kota Sintang ke Ibukota Kecamatan Kayan Hulu, Nanga Teubidah cuma 138 Km, jalannya kecil, berbatu, tanah kuning, banyak lobang, sehingga butuh waktu 6 jam perjalanan menggunakan Bus Jurukito. Bisa juga dilalui menggunakan sepeda motor dan banyak juga orang menggunakan mobil Starda atau double cabin, masyarakat disini menyebutnya taxi.

GGD Sintang
Perahu menuju Desa Merah Arai
Untuk menuju desa-desa di Kecamatan Kayan Hulu, hampir semua jalan rayanya adalah sungai. Ada tiga cabang sungai yaitu Jalur Kayan, Jalur Teubidah dan Jalur Payak. Dari ketiga jalur tersebut hanya jalur Kayan yang lumanya tidak ekstrim karena airnya selalu banyak atau dalam. Kalau jalur Teubidah dan jalur Payak airnya sering sedikit, dangkal dan banyak batu-batu besar yang membuat perahu motor tidak bisa melaju dengan maksimal.

Transportasi antar desa dan menuju ke pusat kecamatan adalah menggunakan perahu motor. Perahu ini modelnya beragam, ada yang besar, ada pula yang kecil, termasuk mesin yang digunakan. Karena perahu adalah alat transportasi utama sehingga hampir setiap keluarga memilikinya, sekurang-kurangnya adalah perahu dayung.

Nah, tempat saya belajar dan mengajar ada di Desa Merah Arai, tepatnya di SD No 15 Merah Arai. 47 km dari kota kecamatan. Untuk menuju ke sana harus menggunakan perahu motor dari Teubidah yaitu Kota kecamatan, lebih kurang 3 jam perjalanan, itupun kalau air sungainya sedang banyak, pasang kalau istilah masyarakat disini namun kalau airnya sedang sedikit atau surut maka membutuhkan waktu sampai 5 jam perjalanan perahu motor. Perlu diketahui, disini tidak ada perahu angkutan penumpang, yang ada hanyalah perahu masyarakat yang hilir-mudik membawa hasil kebun untuk di jual ke Kota kecamatan. Jadi jangan membayangkan seperti di kota yang angkutan umumnya selalu ada dimana-mana bahkan bisa pesan online dan dijemput sampai di depan rumah. Disini NO. 

Kalau mau menuju desa-desa sepanjang jalur sungai kayan, kita harus menumpang perahu masyarakat yang lewat. Cukup berdiri dipinggir sungai sambil menyapa dan bertanya mau kemana? Jika tujuannya sesuai dengan keiinginan kita maka mereka akan meminggirkan perahu dan kita naik, selamat sampai tujuan. Kalau tidak ada perahu masyarakat yang lewat, ya selamat bermalam lagi di Teubidah.

Guru dan tenaga kesehatan adalah manusia paling di sayangi oleh masyarakat di daerah pedalaman. Maka jangan lupa memperkenalkan diri dan memakai salah satu atribut yang menunjukkan kita adalah Guru atau tenaga kesehatan. Setidaknya adalah topi.

Teubidah, 01 November 2017


Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment