Home » , , , , » Gadis yang Aku Rindukan

Gadis yang Aku Rindukan

Gadis yang kurindukan
Coba lihat ke langit, ada miliaran bintang. Apa lagi jika melihatnya disaat bulan terang, cantik sekali. Gugusan yang luar biasa, bimasakti membentang indah. Aku melihatnya dari atas pulau Borneo, tepat di langit Khatulistiwa pemandangan langit nampak lebih indah.

Malam ini dingin sekali, udaranya masuk sampai ke relung tulang. Malam kian mengajakku untuk tidur tapi langkah tak mau beranjak dari kursi kayu yang aku letakkan di halaman rumah. Nyanyian jangkrik dan semut hutan begitu syahdu. Suara riakan sungai yang hanya berjarak 50 meter terdengar jelas di telingaku, iramanya merdu. Ada banyak suara-suara mahkluk Tuhan yang malam ini sedang beraktivitas, mungkin saja salah satunya adalah makhluk halus. Suara-suara itu membentuk nada-nada indah untuk relaksasi di tengah malam yang sunyi. 

Biarpun sedang sendiri, jauh dari pusat keramaian. Malam ini aku tidak terlihat takut. Duduk sambil menengadah ke langit, memandang keindahan alam semesta. Seraya bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan untukku bernafas. Beginilah caraku merindukannya. Gadis yang namanya selalu kusebut dalam doaku. Saat gelap seperti ini, gadis itu hadir memberi seberkas cahaya, malam yang gelap menjadi malam yang indah. Aku tersenyum memandanginya. Betapa indah gadis itu, berlama-lama menatapnya hatiku kian sejuk. Melihat ke langit seolah aku dapat melihat aktivitasnya malam ini, saat ini mungkin dia sedang tidur. Selamat istirahat, sayang. 

Langit, hutan, sungai dan bintang di tempat ini selalu bercerita hal sama. Tentang rinduku yang terus mengalir, tentang kata-kata yang tak mau berhenti, tentangmu. Di tempat yang sunyi ini, aku mewakilkan rinduku pada bintang-bintang di langit sana. Supaya rindu itu sampai padanya. Rindu ini terlampau berat untuk bisa kupikul sendirian, terlampau besar untuk bisa kulempar ke arah bintang di langit sana, dan rindu ini tidak akan aku biarkan hilang begitu saja, percayalah.

Rindu itu sebuah kebatinan rasa yang harus tersampaikan kepada pemiliknya bagaimanapun caranya. Aku punya cara dan tahu metodenya. Diapun Begitu. Rindu tak diciptakan oleh jarak, tapi perasaan. Aku merindukannya bukan karena ia jauh, namun karena ia telah ada di dalam jiwa dan ragaku.

Rindu seperti ini tidak akan lama lagi, akan segera berakhir. Akan diobati dengan pertemuan yang teduh. Allah sudah merencanakan aku dan kamu bertemu dalam satu waktu. Saat ini, biarlah kita bertemu dalam rindu yang bertumpuk-tumpuk di atas sajadah, menggulung-gulung hingga besar di langit sana dan bercahya mengalahkan bintang kejora.

Cinta, bersabarlah dalam menanti seperti ketidakinginan kita agar terompet Sangkakala tak segera berbunyi sebelum amal kita terasa cukup. Sesuatu akan datang pada waktunya masing-masing sebab sudah Allah takdirkan demikian. Bukankah sekuat apapun kita mengusahakan datangnya senja ketika fajar baru saja terbit, itu tidak akan terjadi begitu saja bukan? Kita tetap harus menunggu waktunya tiba, melewati siang. Jadi, bersabarlah.

Aku masih takut dengan sunyi. Apalagi kalau gelap pekat. Di sini, kuntilanak tidak takut dengan manusia. Coba saja jika kamu ada di sampingku. Sunyi dan gelap akan membuat kuntilanak menjauh ketakutan. Cahaya cinta akan membuat siapa saja yang mendekat akan menjauh. 

Cinta, mari saling mendoakan, biar rindu ini saling bertaut dan proposal halal yang telah kita sampaikan segera dikabulkan. Ingat, kamu harus sombong pada laki-laki lain untuk menjaga perasaan lelakimu, akupun begitu.

Nanti, bintang-bintang indah yang aku lihat di atas langit desa ini, akan kita lihat bersama. Di sini, di Desa Merah Arai, pedalaman Kalimantan. Akan kupastikan kau terhibur dan tidak minta pulang jika bersamaku di tempat ini. Tahun depan, ikut yaa. 

Jaga hati, jaga diri dan jaga Iman. 

Merah Arai, 01 Desember 2017

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment