Merah Bulan di Langit Merah Arai

Gerhana BUlan Total
Detik-detik Gerhana Bulan
Fenomena alam yang langka ini aku nikmati dari pedalaman Borneo, suasana gelap gulita membuat pemandangan langit sangat menawan. Pemandangan Bulan, ditemani beberapa bintang dan diiringi sedikit gerimis. Gerhana Bulan 31 Januari 2018 adalah fenomena alam yang langka, bagaimana tidak, dua peristiwa terjadi secara bersamaan saat itu; pertama, terjadi saat supermoon yaitu posisi Bulan pada saat gerhana Bulan total bertepatan pada momen ia mencapai jarak terdekat dengan Bumi. Hal ini jelas akan membuat Bulan tampak lebih besar dan lebih terang di langit. Kedua, terjadi saat bluemoon yaitu sebuah istilah untuk menyebut Bulan purnama kedua yang terjadi pada satu Bulan kalender masehi, bukan bermakna Bulan berwarna biru. Alih-alih berwarna biru, pada puncak gerhana Bulan total terjadi justru ia muncul dalam rona kemerahan, yang disebut merah darah.

Aku mendapatkan posisi yang pas untuk memandangnya saat itu. Dulu, aku melihat gerhana Bulan di kota dengan kerlap-kerlip lampu, suasana demikian membuat pemandangan gerhana menjadi tidak nikmat, ditambah lagi ramainya orang namun hanya sedikit yang memiliki rasa ingin tahu terhadap fenomena alam tersebut sehingga nuansa sains tidak terlalu tampak. 

Fenomena super blue blood moon bisa kami lihat dengan sempurna di atas langit desa Merah Arai. Gerhana Bulan tepat pada saat peristiwa supermoon dan bluemoon. Anak-anak sekolah sudah kami kondisikan untuk mengamati fenomena langka ini. Saat jam sekolah, para guru sudah memberikan pengetahuan awal tentang gerhana Bulan dan kami akan melakukan observasi langsung di malam harinya. Besoknya, saat pelajaran IPA anak-anak harus melaporkan apa yang telah mereka amati. 

Membunyikan sesuatu untuk mengusir Ular Gompa
Menariknya, ini bukan hanya fenomena sains namun juga fenomena leluhur bagi masyarakat di desa ini, yaitu suku Dayak. Ada prosesi adat yang tak kalah menarik malam itu, hampir-hampir pemahaman sains hilang. Menurut suku Dayak, gerhana ada dua jenis yaitu gerhana Bulan merah atau darah dan gerhana putih atau embun, setiap jenis ini memiliki makna tersendiri. 

Bagi masyarakat Dayak, gerhana Bulan adalah peristiwa yang menakutkan. Saat Bulan berwarna merah artinya darah dan akan terjadi musibah, banyak orang akan sakit, gagal panen, banjir dan musibah lainya. Jika Bulan berwarna putih artinya akan baik-baik saja bahkan akan banyak kemujuran. Menurut mereka, di langit sana ada ular besar yang akan memangsa Bulan saat gerhana tiba, ular tersebut diberi nama Gompa. Jika Gompa berhasil memangsa Bulan, maka kiamat akan segera tiba. Proses ular memangsa Bulan ditandai dengan tampaknya gelap di sebagian lingkaran Bulan. Kita melihat "gigitan" gelap pada wajah Bulan yaitu keluarnya Bulan dari bayangan umbra Bumi (secara sains). Disamping itu, Bulan terus bergerak berlari menghindar dari kejaran Gompa.

Semangat menjelang ular Gompa melepaskan Bulan
Menjelang dimulai dan berakhirnya gerhana, itu adalah saat-saat krusial bagi masyarakat Dayak. Masyarakat sudah berkumpul di lapangan terbuka atau tempat yang telah disiapkan oleh pihak Desa dan ada juga yang memilih berkumpul di depan rumah masing-masing. Mereka membunyikan gong, mesin sinso, mesin speed, senapan rakitan, kuali masak, ember, dan segala sesuatu yang dapat mengeluarkan suara dengan tujuan supaya Bulan terlepas dari belenggu ular Gompa. Bunyi-bunyian yang berasal dari Bumi membuat ular raksasa selalu gagal memangsa Bulan. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan teriakan-teriakan dan juga menari-nari. Setelah gerhana selesai, semua aktivitas tadi dihentikan dan semua masyarakat bersorak senang gembira sebagai tanda telah berhasil menyelamatkan Bulan dari cengkraman ular raksasa yang berada di luar angkasa tersebut. 

Jujur saja, proses pengamatan secara sains tidak bisa dilakukan dengan sempurna. Tidak ada diskusi, apalagi pertanyaan mengapa dan bagaimana gerhana Bulan bisa terjadi? Anak-anak ikut serta bahkan menjadi ujung tombak memukul benda-benda yang bisa berbunyi. Ini adalah penampakan ritual adat yang langka dan hampir punah. Beruntung aku bisa menyaksikannya. 

Saat pelajaran IPA, anak-anak mampu menjelaskan tentang gerhana Bulan secara sains bahkan juga menjelaskannya secara adat atau budaya. Pengetahuan awal proses terjadi gerhana, ditambah pengamatan langsung membuat pengetahuan anak-anak tentang gerhana Bulan sangat sempurna dan kami gurupun senang merona seperti purnama. 

Menarik sekali mengamati gerhana Bulan secara sains dan ritual adat. Sesekali cobalah datang ke tempat kami, desa yang permai, Merah Arai.

Merah Arai, 01 Februari 2018

Ini Desaku, Mana Desamu

Desa Merah Arai adalah sebuah desa kecil nan sejuk yang berada di Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Penduduknya tidak terlalu ramai cuma sekitar 220 KK. Jaraknya dari pusat kecamatan hanya 47 Km dan untuk menjangkau Desa ini harus menggunakan perahu motor. Baca Jauhnya Desa Merah Arai.

Penduduk di desa ini manyoritas bekerja sebagi petani. Karet adalah komoditi utama mereka. Di samping itu, penduduk desa juga berladang, seperti menanam padi, cabai, tomat, sawi dan sayur-mayur lainnya. Di sini buah-buahan banyak sekali, beraneka ragam sampai buah yang tidak pernah dimakan oleh orang kota, di desa ini ada barangnya. Jika musim buah, guru akan mendapatkan porsi spesial. Ada saja yang mengantar buah-buahan ke rumah. Terkadang, jika sudah terlalu banyak, kita harus menolak sedekah orang dan menghambat mereka untuk mendapatkan pahala. Saya pikir, menolak lebih baik daripada terbuang mubazir.

Penduduk desa kami tidak hafal nama-nama ikan laut, jangankan makan, lihat saja kadang mereka tidak pernah. Sehingga mereka tidak pernah bermimpi mendapatkan sepeda dari presiden Jokowi. Soal ikan, ikan sungai adalah favorit penduduk desa, ikan baung masyarakat menyebutnya. Memancing atau menembak ikan adalah aktivitas penduduk di waktu luang. Ketika mereka mulai menginginkan makan ikan, maka langsung terjun ke sungai. Dapat dua tiga ekor langsung pulang untuk dimasak. Jangan harap ada orang yang jual ikan keliling di sana. Jika akrab dengan anak-anak kecil, kita akan dibagi ikan hasil tangkapan mereka. Anak-anak di sini, hobinya menembak ikan.

Agama manyoritas penduduk adalah Kristen. Hidup dalam keberagaman sudah terbiasa sehingga tidak menjadi kendala bagi saya. Toleransinya sangat tinggi di sini. Agamaku aku urus sendiri dan agamamu kamu urus sendiri. Kita tidak saling ikut campur soal agama. Dan salutnya, penduduk desa sangat memahami apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam Islam dan mereka memperlakukan saya dengan sangat terhormat, begitu pula saya memperlakukan mereka.

Sinyal di Desa Merah Arai
Tower HP Mini
Desa kami tidak ada sinyal telekomunikasi, apalagi akses internet. Hanya ada satu dua tempat di desa yang terkadang mampu menangkap sinyal satu batang itupun tergantung tiupan angin. Jika angin bertiup ke arah kita maka beruntunglah. Kalau teman-teman menghubungi handphone saya tidak terhubung, mohon dimaklumi perusahaan telekomunikasi belum mau bersahabat dengan orang desa seperti kami. 

Radio adalah sumber berita utama di desa kami, banyak rumah sudah memilikinya. Untuk mendapatkan jaringan harus hati-hati penuh kesabaran, sedikit goyang atau bergeser maka siarannya akan hilang. Setiap rumah ada posisi-posisi tersendiri untuk meletakkan radio atau antenanya supaya mendapatkan suara yang jernih. Kami akan percaya sepenuhnya apa yang disampaikan oleh penyiar radio tersebut, berita apa saja, temasuk pengumuman atau berita duka, karena satu-satunya sumber berita hanyalah dari radio tersebut. Semoga beritanya tetap berimbang.

Soal listrik, Alhamdulillah sudah teratasi. Kami tidak menggunakan jasa PLN. Kami menggunakan lampu panel surya, semua rumah memilikinya. Kabarnya, itu bantuan dari dana desa. Sayapun kebagian satu.

Desa kami memiliki air bersih yang cukup, sumbernya dari mata air di atas Bukit Alat. Bukit Alat adalah bukit yang membentang dari Desa Lintang Tambuk sampai Nanga Masau. Airnya mengalir deras ke setiap rumah melalui pipa-pipa tanpa harus menggunakan mesin pompa. Menariknya, air ini tidak perlu dimasak dan bisa langsung diminum. Kata penduduk desa, airnya sudah bersih dari bakteri dan terjamin, namun saya belum mendengar apa pendapat BPOM soal ini. Namun, sampai saat ini saya masih mendengarkan pendapat masyarakat tentang air tersebut. Tidak pelu dimasak dan langsung diminum.

Jika ada yang bertanya, apa kabar hewan ternak seperti babi, kambing dan sapi di desa Merah Arai? Jawabannya adalah aman dan terkendali. Budaya hidup bersih sudah lama diterapkan oleh warga desa. Binatang ternak harus tetap berada di kandang, tidak boleh berkeliaran di perkampungan. Bayangkan saja jika binatang tersebut berkeliaran di perkampungan, maka kotorannya akan sangat mengganggu dan tanaman-tanaman warga akan abis dimakan dan dirusaknya. 

Budaya hidup bersih ini dulunya dikampanyekan oleh salah satu guru SDN 15 Merah Arai, beliau adalah guru pertama dan satu-satunya saat itu. Namanya adalah Sukadir, beliaulah yang merintisnya saat itu. Tidak hanya budaya hidup bersih, ada banyak program kemasyarakatan dan sosial yang beliau rintis dan sampai saat ini diumurnya yang hampir pensiun, ada program yang sudah berhasil dan ada juga yang belum berhasil. Di kesempatan lain, saya akan ceritakan khusus tentang pak Sukadir, guru perintis yang melegenda.

Sintang, 3 November 2017

Menikmati Wisata dan Sejarah Tanjung Atadei

Kabupaten Lembata

Tanjung Atadei menawarkan panorama alam yang menantang untuk orang-orang yang baru. Anda percaya?.

Atadei sebagai salah satu kecamatan di Pulau Lembata yang berada di atas gunung tidak banyak dijumpai tempat wisata seperti daerah pesisir lainya. Siapa bilang? Ada objek wisata tersembunyi yang sangat menakjubkan yaitu tanjung Atadei. Karena akses untuk menuju ke tempat ini sangat sulit sehingga tidak banyak orang yang mengetahuinya bahkan orang asli Lembata sendiri banyak yang hanya mendengar namanya saja. Padahal tempat ini menyimpan panorama alam yang sangat indah. Tidak hanya menawarkan panorama indah namun juga wisata sejarah yang sangat luar biasa.

Biarpun kecamatan Atadei berada di atas gunung tapi ujung dari kecamatan ini berbatasan dengan laut. Membentuk sebuah tanjung yang masuk ke dalam sehingga masyarakat menyebutnya tanjung Atadei. Bahkan sejarah nama kecamatan Atadei sendiri diambil dari tempat ini. Mau tahu ceritanya?

Kami pernah bertugas di desa Lerek Atadei sebagai guru selama 1 tahun. Rugi sekali rasanya sudah berada di Atadei tapi belum menikmati keindahan tempat yang aduhai dan bersejarah tersebut. Di akhir semester kami mengajak keluarga besar sekolah untuk melaksanakan tour edukasi di desa Dulir yaitu desa tempat tanjung Atadei berada.

wisata NTT
[Batu Tengkorak]
Di tanjung Atadei ada banyak sekali yang bisa kita nikmati, mulai dari pantainya yang indah dan bersih, pantai dengan bukit terjal dan hutan pegunungan dan sangat cocok untuk area berkemah dan hiking. Di tempat ini kita bisa menikmati aneka batu-batu unik tapi bukan batu akik namun batu-batu besar yang menyerupai suatu bentuk. Misalnya ada batu yang menyerupi tengkorak, menyerupai meja, kursi dan batu Atadei sendiri menyerupai manusia. Batu-batu besar dengan tebing yang tinggi sepanjang pantai membuat tantangan tersendiri bagi para pengunjung.

Tidak hanya itu, sepanjang perjalanan menuju tempat ini kita disuguhi oleh keindahan alam pengunungan, bisa menikmati gunung Ile Warung dan Hobal. Menarik bukan?  
*****
lembata NTT
[Batu Atadei]

Kecamatan Atadei asal usulnya adalah dari batu Atadei. Ata artinya orang, Dei artinya berdiri. Jadi Atadei artinya orang berdiri. Sempat melakukan wawancara dengan tokoh adat merangkap kepala Desa Dulir tentang sejarah dan apa yang membuat tempat ini menjadi unik. Kira-kira begini ceritanya. 

Nenek moyang mereka dulu pernah mengalami bencana air bah (tsunami), semua penduduk berlari menyelamatkan diri. Kepercayaan masyarakat pada masa itu adalah tidak boleh menoleh ke belakang karena akan beresiko sangat fatal. Jadi ada seorang wanita yang pada saat kejadian air bah memaksakan diri menoleh ke belakang untuk melihat sanak saudaranya dan akhirnya kutukan itu terjadi pada wanita tersebut yaitu menjadi bantu, sehingga sekarang disebut batu Atadei.

Batu ini adalah satu-satunya batu yang tetap berdiri kokoh ketika batu-batu lain jatuh dan terkisis oleh hempasan air laut. Batu Atadei menghadap ke laut dan menyerupai seorang perempuan yang berdiri. Batu Atadei dijadikan sebagai “petunjuk alam” bagi masyarakat setempat. Kepercayaan masyarakat, jika batu itu mengeluarkan air dan basah maka menandakan musim bagus atau musim hujan yang lama dan sangat baik untuk bercocok tanam di ladang, dan jika batu tidak mengeluarkan air dan batu tidak basah maka pertanda akan terjadi musim kemarau yang berkepanjangan. Sebuah kepercayaan turun temurun. Sebagai pendatang, kami menyebutnya BMKG ala desa Dulir karena batu ini yang memperkirakan cuaca dan musim.

Jika ingin berfoto, pengunjung jangan sekali-kali naik ke atas batu Atadei tersebut karena bagi masyarakat setempat tindakan tersebut adalah pantangan. Namun cukup berfoto di samping batu itu saja.

Provinsi NTT
[Gua Atadei]
Tidak hanya batu atadei, ada juga gua Atadei yang memiliki sejarah unik. Menurut cerita, dulu begitu air bah datang masyarakat melarikan diri melalui gua batu di pinggir pantai, berlari sepanjang gua dan akhirnya sampai ke atas bukit. Ada yang selamat dan banyak juga yang meninggal selama di dalam gua. Sampai sekarang, untuk masuk ke dalam gua tidak boleh sembarang orang, hanya orang tertentu dan harus dipandu oleh penjaga gua. Katanya di dalam gua itu ada sebuah kolam, airnya sangat bersih dan jernih. Pada saat itu kami tidak membawa senter jadi hanya melihat-lihat sampai di tempat yang terang oleh cahaya matahari saja. 

Transportasi di NTT
Untuk menuju ke tanjung Atadei aksesnya sangat sulit. Tanjung Atadei terletak di deda Dulir, desa paling ujung dari Kecamatan Atadei namun letaknya di pesisir. Dari Lewoleba kita harus naik oto selama kurang lebih 4 jam perjalanan menuju desa Lerek, lebih kurang 45 KM. Ongkosnya lumanyan muruh yaitu Rp. 40.000,-/ orang. Oto adalah mobil truk yang disulap menjadi angkutan penumpang. Waktu tempuh sangat lama dengan jarak yang tidak terlalu jauh ini disebabkan oleh jalan pegunungan yang kecil dan rusak parah. Oto inilah angkutan untuk menghubungkan seluruh jalan di Kabupaten Lembata. Di lembata ada 2 terminal yaitu terminal untuk jalur timur menuju Kedang kecamatan Buyasuri dan terminal Barat untuk jalur tengah yaitu menuju Atadei dan juga jalaur barat menuju Lamalera. 

Setelah sampai di Desa Lerek, turun dari oto dan melanjutkan perjalanan ke desa Dulir. Untuk menuju desa Dulir tidak bisa menggunakan oto karena tidak tersedia jalan di sana. Namun kita bisa menyewa ojek, dan harus mengelurkan kocek sekitar Rp. 70.000,- sekali jalan. Tidak ada ojek khusus seperti di kota besar, siapa saja yang dilihat naik motor bisa langsung distop dan minta tolong untuk mengantar ke desa Dulir. Selama naik ojek harus banyak bersabar karena jalan setapak, perkebunan, hancur-hacuran yang akan kita lalui. Ojek di tempat ini sudah sangat mahir terlatih, tidak ada sertifikat tapi alam yang melatih mereka. Luar biasa. Dengan ojek kita cuma membutuhkan waktu selama kurang lebih 40 menit untuk mencapai tempat tujuan.

Saat itu, kami menuju Desa Dulir tidak dengan ojek karena jumlah siswa yang kami bawa sangat banyak. Kami memilih jalan kaki selama 4 jam perjalanan. Sangat melelahkan tapi dengan berjalan kaki kami dapat menikmati keidahan alam secara langsung. Sekalian melatih kekuatan berjalan kami. 

Kecamatan Atadei

Ini yang paling penting, begitu sampai di desa Dulir jangan lupa melapor kepada kepala  desa. Di sana tidak ada hotel atau sejenisnya yang ada cuma rumah warga. Untuk akomodasi selama di tanjung Atadei kita bisa numpang bersama warga setempat. Mereka sangat senang menerima tamu juga sangat ramah. 

Disarankan sebelum mengunjungi tempat ini kita harus terlebih dahulu mencari pemandu, ada orang yang memfasilitasi dari pertama kali berangkat sampai ke tempat tujuan. Selama berada di tanjung Atadei kita sebagai pengunjung tidak akan dibiarkan untuk menikmati kehindahan alam tanpa dipandu oleh masyarakat setempat karena tempat ini sangat bahaya bagi orang baru yang tidak mengetahui adat-istiadat di sana. Biasanya yang menjadi pemandu adalah langsung kepala desa Dulir dan ditemani oleh tokoh-tokoh adat. Tidak hanya itu, anak-anak sekolah di sana juga akan meramaikan wisata yang kita lakukan. Mereka sangat senang dengan para pendatang.

Mengenai biaya selama di sana, tidak ada aturan khusus. Karena kita nginap dan makan di rumah warga setempat maka tinggal dikondisikan dengan pihak desa saja.

Pokoknya tempat ini sangat asik. Indah dan  sangat menantang.

#Darbe. 5 Juli 2015.

Kopelma, Simpang Mesra, dan Tugu Pena



"Tekad bulat melahirkan perbuatan yang nyata, 
Darussalam menuju kepada pelaksanaan cita-cita"

Sebuah tulisan tangan yang kemudian dipercantik dengan tinta emas terpampang indah di sebuah tugu yang berada di kota pelajar mahasiswa (Kopelma) yang terletak di Darussalam Kota Banda Aceh. Merupakan sebuah komplek yang dijuluki dengan Jantong hate rakyat Aceh, memiliki dua perguruan tinggi besar yaitu Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry. Lahirnya Kopelma Darussalam merupakan wujud nyata bagi perkembangan pendidikan di Aceh, sebagaimana tulisan tangan Soekarno yang terpampang sampai sekarang di tugu Darussalam tersebut. 

Kopelma memiliki sejarah panjang sebelum dan sesudah tempat ini ada, banyak duka dan suka didalamnya. Aceh hari ini adalah hadiah dari Kopelma, tanpa adanya kopelma kita tidak bisa menebak bagaimana Aceh sekarang terutama pendidikannya. Dari kopelma inilah banyak melahirkan orang-orang hebat sekelas nasional maupun Internasional. Kita patut berterimasih kepada Soekarno, kepada para pendahulu dan pejuang yang telah melahirkan Kopelma dengan dua kampus megahnya.

Kopelma memiliki aktivitas sangat sibuk setiap harinya, ribuah mahasiswa dan pelajar juga sejuta aktivitas didalamnya. Mahasiswa di kopelma ini berasal dari berbagai daerah di Aceh, luar Aceh bahkan banyak juga berasal dari luar negri. Mereka tinggal diberbagai tempat di Banda Aceh tidak hanya di seputaran Darussalam saja sehingga jalanan menuju Darussalam akan sangat padat pada pagi dan sore hari.

Untuk menuju Kopelma harus melewati Simpang Mesra, tidak ada referensi pasti asal mula penamaan Simpang Mesra tersebut. Simpang Mesra ini merupakan pertigaan yang membagi jalan Tengku Nyak Arief menjadi dua, kalau kita lihat dari pusat kota yang ke kiri menuju arah Krueng Raya, dan yang ke kanan menuju Kopelma Darussalam. Awal mula kuliah dulu pernah bertanya kepada seorang senior di kampus perihal kenapa dinamakan Simpang Mesra? Apakah banyak orang bermesraan ditempat itu? Senior ini bercerita, para mahasiswa tempo dulu sangat sedikit yang memilki sepeda motor sehingga semua aktivitas terutama berangkat ke kampus harus menggunakan robur. Robur pada saat itu merupakan alat transportasi yang sangat dicintai oleh para mahasiswa, disamping harganya murah banyak kesan dan keasikan sendiri didalamnya.

bahance.net
Robur sangat disiplin terhadap waktu sehingga dia selalu melaju dengan kecepatan tinggi. Dan robur tidak pernah sepi dari penumpang, penumpang yang tidak mendapatkan tempat duduk harus rela berdiri berdesak-desakan. Setiap kali robur tiba di persimpangan tugu pena dengan tikungan 95 derajat, abang sopir tidak pernah mengurangi kecepatan, sehingga badan robur menjadi goyong miring ke kanan, dan para penumpang tiba-tiba terhimpit akibat terkena gaya sentripetal dari perubahan arah robur, kira-kira konsep fisikanya begitu. Momen seperti inilah yang selalu ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, karena saat robur membelok dengan kencang para penumpang akan berteriak "Mess.rraaa...mesra....mesra..!". Dan dari kebiasaan itulah nama "Simpang Mesra" tercipta. Menurut cerita lain, orang pertama yang meneriakan “mesra” adalah para kernet robur untuk menghibur para penumpang yang kepanasan dan berdesak-desakan sehingga lambat laun diikuti oleh para penumpang lain. Tapi informasi ini hanyalah cerita dari mulut ke mulut belum ditemukan informasi resmi asal mula penamaan Simpang Mesra tersebut.

Tugu pena terletak di Simpang Mesra, pas di lintasan masuk menuju ke Kopelma Darusaalam. Bentuknya memiliki keunikan tersendiri, mulai dari bagian dasar hingga pada bagian puncak yang menyerupai sebuah ujung pena, oleh karena itulah tugu ini disebut dengan nama Tugu Pena, namun nama aslinya adalah tugu “Tentara Pelajar”. Tugu ini dibangun untuk mengingatkan generasi muda akan sepak terjang para pelajar Aceh pada masa perjuangan melawan penjajah dulunya. Kalau diperhatikan, tugu ini berbentuk pena dengan matanya mengarah ke langit dan dibawahnya penuh dengan efek api yang menggambarkan semangat belajar yang tinggi. Sesuai dengan tulisan pesan dibawahnya "Belajar Sambil Berjuang dan Berjuang Sambil Belajar". Tugu ini sarat akan makna perjuangan dan belajar sepanjang hayat, kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun. Semangat luar biasa pesan di tugu ini sehingga sangat cocok sebagai pemompa semangat kepada para mahasiswa dan pelajar yang akan menuju ke Kopelma Darussalam. Bukankah belajar juga bagian dari sebuah perjuangan? Perjuangan untuk sukses, untuk membanggakan orang tua. Perjuangan untuk orang banyak, perjuangan untuk agama dan perjuangan untuk bangsa tercinta.

Belum sempurna gelar sarjana kalau tidak foto di depan robur, tugu kopelma dan tugu pena. Tiga hal ini tidak bisa terlepas dari perjuangan para mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjana. Transportasi ke tempat belajar, penyemangat untuk terus belajar dan tempat belajar.

#Darbe. Banda Aceh, 3 April 2015.

Permainan Masa Kecil, Masih Ingat?

Permainan tradisional
Permainan Masa Kecil 
Usia anak-anak adalah usia bermain dimanapun tempatnya. Bermain adalah hal yang sangat dinikmati oleh anak-anak. Tingkat usia anak juga mempengaruhi jenis permainan yang dimainkan. Bermain merupakan kebutuhan utama anak. Selain belajar, bermain adalah hal yang diperlukan anak sebagai bentuk media sosialisasi anak kepada teman-temannya.

Setiap orang pasti pernah merasakan betapa bahagianya kehidupan masa kecil, kehidupan tanpa dosa dan apa adanya. Pada umumnya masa kecil anak-anak yang berada di perdesan lebih menyenangkan dibandingkan anak di perkotaan karena anak di desa mempunyai lingkungan bermain yang sangat luas dan tidak terikat berbeda halnya dengan anak di kota yang sidikit terikat dan lingkungan bermainnya pun sempit. Hal ini menyebabkan anak desa lebih cepat berinteraksi dengan lingkungan barunya ketimbang anak kota. Kenapa? Karena masa kecil anak desa sudah dilatih oleh alam dimana itu semua akan berefek ketika mereka dewasa nanti. Masa kecil anak yang kurang menggembirakan cenderung akan berefek pada masa ketika anak tersebut dewasa kelak. Sehingga keluarlah istilah yang biasa kita dengar “masa kecilnya suram..!!”.

Nah, mari mengingat masa kecil kita dulu. Permaianan apa yang pernah kita lakukan? Pernah gak kita terapkan kembali atau mengajarkannya kepada adik-adik kita atau anak-anak disekitar kita? Kadang-kadang kita sendiri sudah lupa apa dan bagaimana bentuk permainanya.

Kalau kita mau jujur, masa kecil orang yang lahir dibawah tahun 90-an lebih bahagia, meriah, mengesankan, menyenangkan, dan pastinya masa kecil mereka tidak suram seperti anak-anak jaman sekarang. Kadang-kadang, saya miris melihat anak-anak jaman sekarang yang keasikan main game online dan Playstation. Teknologi sudah merampas masa anak-anak mereka dan sifat individual lebih dimunculkan. Padahal hakikat masa kecil adalah masa dimana seorang anak mencurahkan semua imajinasinya dalam bentuk apapun termasuk fisik dalam hal bermain karena bermain adalah belajar. Di jaman modern seperti ini kita pun harus realistis, tidak bolah juga memaksa anak untuk mengikuti dan melakukan permainan yang pernah kita lakukan dulu karena mereka hidup dijaman yang berbeda namun tidak salah juga mengajak anak untuk melakukan permainan tradisional yang memang bermanfaat dan bisa melatih kecerdasan anak dari permainan tersebut.

Di Indonesia ada banyak sekali permainan tradisional yang masi dilakukan atau yang sudah ditinggalkan dan semuanya itu hanya bisa kita temukan di desa-desa. Kalau di kota sudah jarang sekali kita temukan permainan tradisional tersebut. Setiap orang pasti punya permainan tersendiri di masa kecil, beda orangnya beda pula permainan yang pernah dimaiankannya dulu, itu pun tergantung daerahnya masing-masing.

Ada banyak sekali permainan-permainan tradisional yang pernah saya mainkan dulu, dari sekian banyak itu saya coba menuliskan beberapa saja yang memang sangat berkesan dimasa kecil saya dulu:

1. Layang-layang
Permainan Tradisional
Pada zaman kecil saya, permainan layang-layang kami lakukan sebagai pengisi waktu setelah masyarakat dikampung kami panen padi. Permainan ini kami lakukan ketika pulang sekolah dan kami lebih banyak memainkannya ketika siang atau sore karena anginnya masi sangat bersahabat. Momen main layang-layang yang paling saya sukai yaitu ketika ingin menerbangkan layang-layang dimana satu orang teman memegang layang-layang jauh di seberang sawah dan satu lagi menarik benangnya sambil berlari melawan arah angin. Ketika ada layang-layang yang putus dipastikan kami semua mengejarnya kemana pun dia akan jatuh. Biasanya ketika kami mendapatkan kembali layang tersebut sudah rusak dan robek paling hanya beberapa meter benang dan kerangka layang-layang saja yang bisa kami bawa pulang untuk diperbaiki. Momen ini seru sekali pokoknya.

2. Mobil Rumbia
Mobil Rumbia
penaalfath.wordpress.com
Main mobil-mobilan sangat digemari oleh anak-anak. Anak jaman sekarang, mereka sudah mulai main mobil remote control, mobil canggih yang sudah dibuat oleh orang lain, anak sekarang tinggal membeli dan memainkannya saja. Di masa kecil saya dulu, kami membuat mobil mainan sendiri, mobilnya keren-keren mulai dari mobil sedan, peck-up sampai truck fuso. Dikampung kami bahan untuk membuat mobil itu mudah sekali kami dapatkan yaitu dengan menggunakan  batang daun Rumbia yang tebal dan sudah kering lalu dipotong-potong seperti papan kecil dan baru diolah dirakit menjadi sebuah mobil yang diinginkan lalu kami mainkan bersama-sama dengan cara didorong menggunakan kayu. Dengan cara seperti ini, secara tidak langsung alam telah mengajarkan kami dimasa kecil dulu untuk menjadi anak yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan.

3. Petak Umpet
Permainan Masa Kecil
google Gambar
Permaian ini dimulai dengan hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi kucing yang berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi.  Si kucing nantinya akan menutup mata dan berhitung sampai waktu yang telah disepakati. Biasanya kami dulu sampai hitungan ke-10 sambil menghadap tembok, pohon atau apa saja untuk supaya dia tidak melihat teman-temannya yang sedang bersembunyi. Setelah hitungan selesai, mulailah sikucing beraksi untuk menemukan teman-temannya. Untuk meminimalisir kecurangan biasanya kami menutup mata sikucing dengan kain supaya dia tidak bisa mengintip. Area persembunyian pun kami batasi sesuai dengan kesepakatan. Rupanya. Lobi, negoisasi, kerja sama dan musyawarah sudah diajarkan oleh alam sejak kita kecil dulu namun kita sendiri tidak menyadarinya.

4. Taplak
Taplak
www.indonesiadalamtulisan.com
Dalam permaianan ini dapat digunakan berbagai media untuk menggambar arena yang akan digunakan untuk bermain, apa saja, yang penting pola arenanya bisa terbentuk. Biasanya kami menggunakan kapur atau pecahan batu-bata untuk menggambar arena tersebut. Arena berbentuk kotak-kotak, ada satu kotak dan kotak yang terbagi dua dengan gambar setengah lingkaran pada bagian atas yang menyerupai gunung. Biasanya permaianan taplak ini lebih sering dimainkan oleh anak perempuan namun anak laki-laki juga bayak yang memainkannya. 

5. Kelereng 
smzshoppe.blogspot.com
Kelereng merupakan permaian yang sedikit mahal dimasa kecil saya dulu karena biji kelereng harus diperoleh dengan membeli. Terkadang kami membawa kelereng tersebut ke sekolah, dan main ketika jam istirahat atau setelah pulang sekolah. Siapa yang paling hebat dalam bermain maka dia akan mendapatkan hadiah beberapa kelereng dari peserta yang main tadi. Seperti bermain taruhan, namun hanya sebagai penyemangat atau hadiah. 

6. Sorong Ban
Permainan masa kecil
www.berbagaireviews.com
Ban bekas sepeda atau motor yang tidak terpakai lagi kami gunakan untuk bermain sorong ban ini. Cara permainannya adalah dengan menggelindingkan ban tersebut, kemudian memukulnya dengan kayu untuk menjaga agar tetap berjalan menggelinding. Anak sebagai jokinya berlari mengendalikan di belakangnya. Permainan ini biasa kami perlombakan dan pemenangnya akan mendapatkan hadiah kecil yang ada disekitar kami sesuai dengan kesepakatan. Permainan ini tergolong seru. 

Pokoknya banyak sekali permaianan masa kecil dulu, sulit untuk disebutkan satu persatu. Bermain di alam terbuka mengasah kepekaan anak akan pentingnya kerjasama dengan temannya. Ajang sosialisasi mengenal arti pertemanan. Pastinya permainan masa kecil dulu sangat menyenangkan. 

Sudah sepatutnya permainan tradisional ini mulai kita kenalkan kembali kepada anak-anak, karena selain untuk melestarikan permainan tradisional juga anak-anak lebih sehat dalam bermain. Permainan tradisional akan membuat anak lebih banyak bergerak dan banyak berinteraksi yang akan membuat anak lebih sehat dan mudah bergaul. Meskipun anak harus mengikuti perkembangan jaman namun cobalah untuk mengenalkan permaian tradisional tersebut. 

Permainan tradisional merupakan suatu budaya yang harus turun-temurun kita wariskan kepada penerus kita. Jangan sampai budaya tersebut hilang tergerus arus teknologi. Permainan Tradisional merupakan warisan budaya yang dapat dengan mudah kita pertahankan asal ada kemauan untuk mengembangkan juga memperkenalkannya ke anak-anak sejak dini, agar mereka tahu permainan apa saja yang dalam kenyataan dahulu permainan tersebut menjadi permainan favorit, namun kini telah hilang bahkan untuk mengetahui cara bermainnya saja tidak ada sarana yang dapat memperkenalkannya.

[M. Darmansyah Hasi]

Wisata Hati Sendirian

Kita sering melihat orang Barat kalau jalan-jalan mengunjungi tempat wisata sering sendiri, berbeda dengan orang Asia kebanyakan khususnya orang Indonesia. Tahu kenapa? aku juga tidak tahu. Karena ketidak tahuan inilah membuat aku termotivasi untuk  mencari tahu: apa sih enaknya jalan sendirian tanpa ada yang menemani?. Aku mencoba untuk melakukan penelitian dengan mengunjugi beberapa objek wisata dan tempat-tempat keramaian yang ada di Banda Aceh. 

Langkah itu dimulai pada jam 08.30 WIB. Tempat pertama yang aku kunjungi adalah Perpustakaan Wilayah Aceh di Lamyong. Ya. Seperti layaknya sebuah pustaka memang selalu disesaki oleh pengunjung dan pengunjung paling banyak adalah mahasiswa. Kesibukannya pun macam-macam: ada yang baca buku, cari-cari buku, bahkan ada juga yang pacaran. Pustaka memang tempat pacaran paling keren, pacaran ala intelek katanya. Sebenarnya tujuan ke pustaka ini untuk membuat kartu anggota pustaka yang baru berhubung kartu lamaku tidak berlaku lagi karena faktor X. Antrian panjang di bagian andministrasi membuat aku enggan untuk berpartisipasi bersama para orang sabar itu. Mengantri merupakan pekerjaan yang kurang aku sukai kecuali kalau itu sangat penting dan mendesak. Disini aku lebih memilih memantau ala anak kampung yang baru tiba di kota, sangak-sangak. Ehh.. rupanya ketemu sama adek leting. Yah, biasalah lama tidak ketemu: nanyain kabar, cerita-cerita, ehh ujung-ujungnya; Bang mintak judul skripsi dong?. Memang dilema mahasiswa tingkat akhir kalau ketemu siapa aja apa lagi seniornya, basa-basi dikit, tetap ujung-ujungnya mintak judul skripsi. Untung aku masih banyak stok, masing-masing mereka dapat satu judul. Diterima-tidaknya judul itu bekan urusanku itu adalah derita mereka.


Perjalanan dilanjutkan menuju Mesium Tsunami. Mau tahu bagai mana dahsyatnya air bah di Aceh delapan tahun silam?. Inilah tempatnya. Barang-barang peninggalan tsunami lengkap disini. Aku cuma lihat-lihat aja dan tidak mau berlama-lama karena aku sudah pernah mengunjungi tempat ini. tempat yang paling aku suku adalah lorong tsunami. Gelap, riuh, apa lagi ada setikit percikan air; wah..rasanya romantis banget kalau perginya sama cewek tapi sayang, aku perginya sendiri. Semua kamar dan lorong aku jelajahi sampai tidak ada yang tersisa, samapai ke kamar mandinya sekalian kecuali kamar mandi perempuan. Setiba di ruangan simulasi, pengen banget nyobain alat simulasi gempa sekalian tanya-tanya tapi penjanganya tidak ada. Aku berpikir positif aja mungkin penjangnya lagi ke kamar mandi, ehh tapi kok ngak ketemu tadi yaa. Nah, parkiran. Ini yang menjadi sorotanku di Mesium ini; papan pemberitahuan harga parkir untuk kendaraan roda dua dan empat pada bagian angkanya dihapus (bukan terhapus). Setahuku harga parkiran untuk roda dua di Banda Aceh Rp. 1000,- dan Rp. 2000;- untuk roda empat tapi kenapa abang  parkir itu mintaknya Rp. 2000,- ?. Sebernarnya tidak masalah bagiku tapi ini sudah keterlaluan bertentangan dengan qanun yang dibuat dengan susah payah. Kadang-kadang sampai lempar bangku mereka di DPR berdebat tentang harga parkir ini.

Di seberang jalan, mataku tertuju pada tanah luas yang pernah dipersengketakan oleh Pemerintah Aceh dan Kodam Iskandar Muda tempo hari. Tanah luas tempat bermain, olah raga, berwisata dan tempat keramaian. Tanah itu bernama Blang padang. Ada pemandangngan lain di sebelah baratnya. Sebuah pesawat yang menjulang tinggi, gagahnya minta ampun. Pesawat yang tinggal kerangka itu adalah pesawat pertama  Bangsa Indonesia. Ya, sumbangan dari masyarakat Aceh dulu. Aku sempatkan untuk masuk dan melihat bangkai pesawat dari dekat. Keren juga pesawat ini rupanya. Ata awak kamoee sedekah jameun.



Selanjutnya menuju Mesium Kapal Apung, saksi bisu tsunami. Satu tahun aku tidak mengunjunginya. Waoee, rupanya sudah berubah 180 derajad. Kapal ini sekarang sudah terlihat keren, tempatnya sudah ditata dengan rapi nan indah apa lagi ditambah dengan jembatan yang terhubung ke seluruh area taman. Sampai ditempat ini sudah mulai siang. Teriknya matahari membuat wisatuku disini tidak terlalu lama: keliling-keliling, lihat kiri kanan, bayar parkir dan langsung kabur.

Saatnya ke Mesjid Baiturrahman. Jak barang kaho jeut, pubuet barang kapue jeut, nyang penteng sembahiang bek tinggai. Menjelang Sholat Zuhur Mesjid kebanggaan masyarakat Aceh ini di padati oleh pengunjung. Aku tidak tahu apakah semua orang yang berada di perkarangan Mesjid ini akan melaksanakan Sholat disini atau tidak, mudah-mudahan mereka juga Sholat. Setelah Sholat, aku sempatkan untuk foto-foto sejenak supaya ada bukti kalau aku sudah pernah ke Mesjid raya Baiturrahman. Jangan ngaku sudah ke Banda Aceh kalau belum foto dimesjid ini.

Tidak jauh dari Mesjid, toko buku Zikra adalah sasaran berikutnya. Awalnya tidak ada niat sedikitpun untuk mampir ke toko ini. Penasaran dengan tampilan baru dan megahnya bangunannya membuatku untuk mampir. Dalam hati aku berucap: sudah ada toko buku sekelas Gramedia di Banda Aceh, ini bakalan asik pasti banyak buku-buku updatean terbaru. Keliling-keling dan sangak-sangak langtai satu, dua dan tiga, rupaya banyak buku-buku yang bagus. Ada sekolah rimba, buku yang digarap oleh Buten Manurung, buku ini menjadi perhatianku. Biarpun terbitnya sudah lama tapi aku belum baca. Ingin sekali mengambil dan menyerahkannya ke kasir, tapi apa hendak dikata Gusti Ngurah Ray cuma satu lembar di dompetku. Kapan-kapan aja ya. Heheh

Sepertinya lagu di laptop sudah setahun tidak pernah update dan juga sudah lama tidak nonton film terbaru. Masuk ke toko Insert. Wiihhh, sejuknya. Udara dalam toko ini membuat aku pengen ngak keluar-keluar. Sejuknya bukan main gak seperti diluar, panasnya mintak ampun. Aku lumanyan lama berada dalam toko ini. Pura-puranya asik milih kaset yang bagus, gayanya mau beli padahal keasikan ngobrol sama cewek-cwek disana, sama anak remaja yang masi unyu-unyu. Alay banget pokoknya. Aku digodain lho. hehe [Darbe]