Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Anak dilahirkan sebagai manusia yang istimewa dengan segudang bakat dan minatnya. Bakat dan minat anak tidak selalu harus sama, dimana anak memiliki latar belakang yang berbeda, budaya, agama, suku, dimana semua itu mempengaruhi bakat dan minatnya. Dengan perbedaan-perbedaan tersebut maka anak harus dididik dengan cara yang sesuai dengan  tuntutan  alam, budaya, adat istiadat  dan zamannya  sendiri. Zaman abad 21 dengan teknologi seperti sekarang, pembelajaran berbasis IT sangat di depankan. Pendidikan kasih-sayang sangat diutamakan, tidak boleh ada lagi pendidikan dengan kekerasan.

Ki Hadjar Dewantara memilih metode among dalam mendidik anak. Metode among dikenal dengan metode pengajaran dan pendidikan berdasarkan Asih, Asah, dan Asuh. Among memiliki pengertian menjaga, membina, dan mendidik anak dengan kasih sayang, membimbing anak dengan ikhlas sesuai bakat dan minatnya, memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. 

Ki Hadjar Dewantara mengatakan: Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. keselamatan dan kebahagiaan tidak terlepas dari karakter atau budi pekerti yang baik.

Di sisi lain, Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. Dimana keluarga dijadikan sebagai komunitas terkecil yang menjadi dasar, modal untuk beranjak ke komunitas yang lebih besar yaitu masyarakat. Pendidikan dalam keluarga adalah kunci. Oleh karenanya peran keluarga tidak boleh dilepaskan dalam pembentukan budi pekerti anak, lebih-lebih sekolah dalam hal ini guru hanya mengambil peran sangat sedikit di sekolah dengan waktu yang sangat terbatas. Orang tua dan masyarakatlah yang paling banyak mengambil waktu dalam hal membentuk karakter atau budi pekerti anak.

Penting bagi Guru untuk memandang anak sebagai manusia yang istimewa, yang memiliki segudang bakat dan minat yang luar biasa dan juga berbeda-beda. Tugas Guru hanyalah menuntun mereka untuk mencapai kesuksesnya, mengeluarkan kekuatan yang ada pada diri mereka sendiri. Seperti anak yang berbakat di bidang musik, maka guru harus menuntun mereka untuk mencintai musik. Anak yang berbakat di bidang politik, guru menuntun mereka untuk menguasai ilmu politik dan mengaplikasikannya dalam mansyarakat.

Apa yang di sampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara masih sangat relevan dengan kondisi pendidikan di zaman sekarang bahkan pendapat-pendapatnya kerap dijadikan penuntun untuk membantu kesuksesan pendidikan yang lebih baik kedepannya. Seperti kemerdekaan dalam mengajar, belajar dan berbudaya, jauh sebelum Indonesia merdeka KI Hadjar sudah berulang-ulang menjelasknaya bahwasanya negara kita memiliki semua kekuatan itu. Silahkan mengadopsi sestem pendidikan barat, budaya barat, tetapi ingat, kita juga punya sistem yang bagus dan budaya yang kuat yang harus ditanamkan pada setiap jiwa anak-anak Indonesia karena adat istiadat itu adalah penuntun untuk keselamat dan kebahagiaan.

___

Saya percaya bahwa anak dilahirkan sebagai makhluk yang istimewa dengan bakat dan minatnya yang luar biasa, dengan kemampuan kecerdasan yang berbeda. Namun dalam pembelajaran di kelas saya masih berpacu dengan waktu dan fokus mengejar target materi dan terabaikan dalam menuntun budi pekerti anak untuk menjadi lebih baik.

Setelah mempelajari modul tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara, perubahan pemikiran dan perilaku saya  adalah dalam proses membelajarkan di kelas, sebagai guru harus mengutamakan keteladanan, karena melalui keteladanan yang baik lebih berpengaruh dari pada seribu ucapan yang kita ucapkan, dan dalam proses pembelajaran guru harus mengembangkan seluruh potensi siswa baik Cipta (kognitif) dan Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor) sehingga melahirkan anak yang cerdas,kreatif dan berbudi pekerti baik. Selain itu, proses pembelajaran hendaknya menyesuaikan dengan gaya belajar, gaya berfikir, minat dan bakat anak.

Yang segera bisa saya terapkan di kelas dari pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah melaksanakan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, efekif dan menyenangkan yang berfokus pada anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

___

Muhamad Darmansyah, S.Pd.
SDN 15 Merah Arai
CGP- 6 - Sintang, Kalbar

Buku Pertama

Catatan yang Tercecer
Tahun 2012 sewaktu mengajar anak-anak di pedalaman NTT, ada banyak sekali pengalaman yang saya dapat. Saya mulai mencintai dunia pendidikan berawal dari pulau Lembata. Biarpun kuliah di FKIP, waktu itu saya tidak ingin menjadi guru. Bagi saya kuliah adalah proses untuk dewasa dan merubah pola pikir saja. Program SM3T membuat saya mencintai profesi sebagai guru. Berdiri di hadapan anak-anak adalah sebuah kegembiraan.

Setelah satu tahun dilatih survival di Pulau Lembata, hidup tanpa listrik, air, dan sinyal. Selanjutnya ditarik kembali ke kampus untuk dilatih dalam program Pendidikan Profesi Guru (PPG) berasrama selama satu tahun pula. Tidak kalah serunya dengan belajar di pedalaman. Saat PPG, belajar dari pagi sampai sore ditambah program karakter di malam hari selama satu tahun hampir saja membuat kami stress, untung saja alam pedalaman telah melatih kami supaya lebih kuat dan tahan banting dalam keadaan apapun. Optimis dan tidak mengeluh adalah kunci untuk bertahan.

Proses yang panjang, mendapatkan pengalaman yang luar biasa, akhirnya kami kembali lagi ke pedalaman menjadi guru, namanya adalah Guru Garis Depan (GGD). Sejak akhir 2017 saya mulai bertugas di pedalaman Kalimantan Barat, hidup dengan masyarakat Melayu dan Dayak pedalaman. Masih sama seperti di Pulau Lembata, tanpa listrik, sinyal dan kali ini jalan TOL-nya adalah sungai. Jangan tanya soal nasionalisme, karena itu sudah mendarah daging. Pancasila dan Toleransi adalah makanan sehari-hari bahkan sudah khatam berkali-kali.

***
Dr. Sulaiman Tripa adalah Guru saya dalam menulis, meskipun tidak pernah belajar langsung dari beliau namun keteguhan, konsisten, semangat, kerendahan hati, dan lewat tulisan-tulisannyalah saya belajar dan terinspirasi. Momen peluncuran 44 buku karya beliau, waktu itu saya hadir. Saat itu semangat saya untuk menulis dan membuat buku ikut tumbuh dan mengalir dengan deras. Saya percaya bahwa semangat itu menular.

Buku ini merangkum pengalaman selama berada di Pulau Lembata, Borneo dan PPG di Banda Aceh. Menjadi pendidik itu sangat menyenangkan, apalagi menjadi pendidik di pedalaman, penghargaan setinggi-tingginya untuk para guru diberikan oleh masyarakat.

Sebagai orang yang sedang belajar menulis, saya tidak terlalu peduli, apakah buku ini bagus atau jelek. Layak atau tidak untuk dibaca. Bagi saya, yang terpenting teruslah menulis karena menulis adalah obat untuk menenangkan pikiran dan melepaskan beban.

Soal kemampuan menulis, seiring waktu akan berkembang menjadi lebih baik dengan sendirinya. Hanya soal waktu saja. Asalkan terus belajar dan berlatih.

Buku ini tidak dijual, jika ada yang ingin memilikinya cukup dengan mengganti biaya cetak saja. Berapa biaya dan bagaimana cara mendapatkan buku ini akan saya informasikan lebih lanjut.

Libur telah usai, pertanda sekolah telah tiba saatnya kembali bermain dengan anak-anak di pedalaman Kalimantan Barat sana. Nanti jika telah kembali ke kota kabupaten maka akan saya infokan. Tunggu ya.

Salam Literasi.

Mau jadi apa kau, Nak?

Dari kecil anak harus didekatkan dengan buku, dengan Al-Quran. Supaya waktu besar akrab dengan benda-benda tersebut. 

Buku membuat otaknya bergizi, pikirannya menjadi jernih. Al-Quran membuat hatinya menjadi bersih. Hidup dengan nilai-nilai Quran membuat jiwanya terbentengi dari roh jahat yang ada dalam buku. Saya tidak akan membatasi Firash dalam hal membaca buku, sila baca buku apa saja sekalipun buku yang dilarang pemerintah. Bagaimana kita bisa tahu kalau buku itu baik atau tidak jika tidak pernah membacanya? Otak boleh sama tapi cara kerjanya pasti berbeda apalagi dalam menyerap informasi.

Kata bundanya, gadget tidak baik bagi anak. Sehingga kami sepakat untuk menjauhkan Firash dari gadget sampai batasan umur tertentu. Saya khawatir jika Firash nantinya minta gadget untuk main game online. Matanya akan cepat rusak, tulang jempolnya akan rapuh dan pikiranya akan pendek. Lalu, dari mulutnya akan sering keluar nama-nama binatang ditambah kosa kata kotor dari planet Merkerius. Saya tidak mau itu terjadi. Maka sejak dini harus diantisipasi.

Dia lahir ditahun politik, dalam perseteruan memperoleh kekuasaan, sampai sekarang belum pun selesai. Barangkali ini pertanda kalau dia harus paham politik nantinya. Siapa tahu dia bisa jadi Presiden. 

Saya berharap dia menjadi Ulama yang Saintifik nantinya. Menyukai Sains, sastra, sejarah, filsafat, hukum dan mencintai Al-Quran. Namun terserah dia mau jadi apa, asalkan masuk surga.

Taman Baca dan POS Indonesia

Di sekolah, buku bacaan terbatas, hanya ada buku paket pelajaran. Buku paket pun tidak boleh dibawa pulang karena jumlahnya memang tidak cukup untuk dibagikan pada semua siswa. Lalu bagaimana anak-anak bisa membaca dirumah? Akses untuk buku sangat memprihatinkan, jika pun ingin membeli, tidak ada orang menjualnya. Jarak Desa dengan pusat kota membuat anak-anak tidak bisa membaca. 

Gerakan literasi nasional, dengungnya belum sampai ke Desa kami, hanya getaran-getaran saja, itupun baru sampai pada guru. Bagaimana caranya kehebohan literasi ini harus sampai pada anak-anak dan seluruh masyarakat desa, maka solusinya adalah taman baca harus berdiri di desa ini.

Tidak mudah menyakinkan masyakarat untuk bisa terbentuknya taman baca, hal yang asing dan pesimis bagi masyarakat akan adanya fasilitas bacaan hampir saja semangat gerakan literasi ini hancur lebur. Sebagai anak muda yang hidup di dunia yang keras, saya tidak boleh sedikitpun ciut, aku adalah petarung, gumamku.

Ilmu lobi dan negoisasi yang pernah saya dapatkan di organisasi dulu, saatnya harus dikeluarkan. Mempersiapkan konsep dan arah taman baca kedepannya secara maksimal. Menginvetarisir tokoh yang harus dijumpai dan beberapa strategi lainnya. Alhamdulillah, tidak butuh waktu lama, akhirnya Kepala Desa menyetujui dan mengijinkan mendirikan taman baca di desa. Kami beri nama Taman Baca Masyarakat Merah Arai.

Taman baca adalah kebutuhan yang sangat mendesak di desa kami, dengan adanya taman baca, anak-anak akan memahami banyak hal tentang ilmu pengetahuan yang selama ini tidak mereka dapatkan, kami tidak pernah melihat internet apalagi teknologi lainnya. Dengan hadirnya taman baca, anak-anak bisa menjelajahi dunia seperti orang kota pada umumnya.
Tempat untuk beraktivitas dan menyimpan buku sudah ada. Bukunya mana? Itu hal selanjutnya yang saya pikirkan. Free Cargo Literasi, sebuah program yang dicanangkan oleh para pegiat literasi yang bekerja sama dengan PT POS membuat mimpi anak-anak pedalaman untuk mengakses buku semakin mudah. Bayangkan saja jika mengirim buku tidak gratis, siapa yang mau mendonasikan buku? Program ini adalah anugrah yang luar biasa bagi pegiat literasi seluruh Indonesia.

Semenjak PT Pos Indonesia menggratiskan pengiriman buku setiap tanggal 17 setiap bulannya maka POS Indonesia menjadi BUMN yang paling dicintai dan diingat oleh para pegiat literasi juga anak-anak seluruh Indonesia terutama mereka yang berada di daerah-daerah pedalaman.

Sesuai dengan mottonya "menghubungkan yang tidak terhubung" PT Pos Indonesia telah menghubungkan anak-anak di pedalaman dengan anak-anak kota. Di Desa Merah Arai, desa yang berada di pedalaman Kalimantan Barat, sulit bagi anak-anak di desa ini untuk melihat dunia luar, dunia perkotaan, seperti melihat laut, mobil, jalan aspal, dan pasar. Kehidupan seperti di kota tidak pernah mereka lihat apalagi mereka rasakan.

PT Pos Indonesia telah mewujudkan mimpi para pegiat literasi dan anak-anak di pedalaman untuk bisa melihat dunia yang lebih luas sekalipun dunia yang mereka lihat dari buku. Semenjak taman baca masyarakat berdiri di desa Merah Arai, membaca buku adalah hobi bagi seluruh masyarakat desa ini. Tidak berkunjung sehari saja ke taman baca, ada rasa yang tidak enak. Candu buku mulai merebek pada para warga di desa ini, tidak hanya anak-anak, remaja,  bahkan orang tua. 

Biarpun buku yang mereka baca adalah hasil donasi teman-teman di seluruh Indonesia, baik perorangan maupun lembaga, namun yang paling mereka ingat adalah Pos Indonesia. Sekarang sudah lebih dua tahun Taman baca kami, telah memiliki 1500 buku dan majalah yang bersumber dari sumbangan para donator yaitu para pegiat literasi yang tak kenal lelah menyebarkan virus lietarsi sampai ke pelosok Indonesia khususnya Merah Arai. 


Hari Kemerdekaan yang Berbeda

Bimbingan edukasi dari Tim Mari Melihat 
Malam semakin gelap, suhu udara di desa Merah Arai mulai dingin. Seperti biasanya, meskipun siang panas, namun malam tetap dingin. Suara orang-orang terdengar jelas di arah seteher sungai. Suaranya seperti suara orang kelelahan. Ya. Jam 22.30 rombongan Komunitas Mari Melihat sudah tiba setelah menempuh perjalanan 10 jam menggunakan perahu menelusuri sungai kayan di musim kemarau.

Kali ini Desa kami kembali beruntung, nampaknya semakin terkenal. Banyak yang mengunjungi. Tahun 2018 yang mengunjungi adalah Komunitas Mari Melihat. Akhir 2017 lalu, desa Merah Arai dikunjungi oleh Tim Trans7, mereka meliput aktivitas masyarakat dan sekolah, wajah-wajah lugu masyarakat desa terlihat di TV dalam program, “Indonesiaku”. Mereka senang dan gembira melihat wajahnya nampak di TV. Tidak hanya itu, menyaksikan aktivitas peliputan pun sebuah hiburan yang tak terlupakan, maklum masyarakat kami adalah masyarakat pedalaman yang kurang hiburan, melihat alat-alat teknologi seperti drone, itu adalah hal baru dan aneh. Tapi tidak mengapa, yang penting masyarakat terhibur.

Komunitas Mari Melihat adalah komunitas sosial yang bergerak dalam bidang pendidikan, lingkungan dan kesehatan. Komunitas yang beranggotakan anak-anak muda yang berasal dari berbagai profesi ini rela meninggalkan kemeriahan hari Kemerdekaan RI di kota demi menikmati serunya merayakan hari kemerdekaan RI ke-73 bersama masyarakat pedalaman. Kata mereka, sensasi di pedalaman beda dan unik. Saat mengunjungi desa kami, mereka memberi judul “Backpacker to Share 2 Spesial Hari Kemeredekaan”. Di hari kemerdekaan kali ini, desa kami menjadi spesial.  Tidak tanggung-tanggung, Komunitas Mari Melihat memboyong pasukan sebanyak 26 orang, yang siap berbagi donasi, pengalaman dan ilmu untuk masyarakat dan pelajar di SDN 15 Merah Arai.

*****
Kata kepala Desa, 17 Agustus 2018, adalah hari sangat bersejarah bagi masyarakat Merah Arai, karena hari ini, perangkat desa, warga sekolah dan seluruh masyarakat melaksanakan upacara bersama dalam memperingati hari Kemerdekaan RI ke-73. Upacara bersama seperti ini sebelumnya belum pernah dilaksanakan. Momentumnya sangat indah, diinisiasi oleh Komunitas Mari Melihat sehingga bisa dilaksanakan upacara bersama. Kabarnya, upacara bersama dan dilanjutkan dengan berbagai perlombaan rakyat akan dijadikan kegiatan wajib di desa Merah Arai pada tahun-tahun berikutnya.

Setelah upacara, Komunitas Mari Melihat melakukan berbagai kegiatan edukasi kepada para pelajar, di akhir kegiatan juga dilakukan pembagian 100 paket pendidikan (tas sekolah dan alat tulis) untuk seluruh siswa SDN 15 Merah Arai. Disamping itu, mereka juga memberikan donasi berbagai alat bangunan untuk merehab bangunan sekolah yang rusak.

Masyarakat gotong royonh merehap sekolah
Sesuai instrusksi kepala Desa, seluruh masyarakat bergotong royong merehab tiga ruang kelas yang rusak, rapuh, kumuh dan hampir roboh, boleh di bilang tidak layak guna lagi. Kelas yang dulunya dijuluki kandang ayam, sekarang mulai menampakan keelokannya, meskipun keelokan ini tidak akan bertahan lama namun setidaknya telah mengobati sedikit kerinduan anak sekolah terhadap ruang kelas yang nyaman dan permanen. Semoga terbuka hati para pemangku kebijakan untuk membangun ruang kelas baru yang nantinya akan menjadi tempat belajar para generasi emas Merah Arai.  

Aktivitas Belajar di Taman Baca
Mendengar sedang gencarnya membudayakan membaca di desa Merah Arai, Komunitas Mari Melihat memberikan donasi 100 paket buku bacaan, alat permainan edukasi dan plang nama untuk TBM Merah Arai. Setahunan ini, desa Merah Arai, sedang gencar-gencarnya menyukseskan program Gerakan Literasi, gerakan ini dimulai dari Taman Baca Masyarakat (TBM) Merah Arai, sebuah taman baca yang digagas dan dikembangkan oleh seorang Guru Garis Depan (GGD) yang bertugas di desa Merah Arai. Belum setahun, gerakan ini berkembang dengan cepat. TBM Merah Arai telah memiliki 1000 lebih buku bacaan. Selain sebagai pusat membaca, TBM Merah Arai juga menjadi pusat edukasi masyarakat diluar sekolah, karena banyak melaksanakan berbagai program edukasi setiap harinya di Taman Baca.

*****
Desa Merah Arai sangat terkenal dengan keramahan penduduknya, desa yang indah dan permai. Tamu yang  datang akan dilayani bak raja. Tapi ingat, sopan santun dan tata krama sangat dijunjung tinggi di desa Merah Arai. Jika tidak percaya, tanyakanlah pada Komunitas Mari Melihat yang sudah berada 3 hari di Desa Merah Arai.

Terimakasih untuk donasi yang telah diberikan, semoga bermanfaat bagi masyarakat desa Merah Arai dan semoga menjadi amal ibadah bagi para donator. Jangan bosan-bosan berbagi, karena melangkah adalah membagi pijakan kepada tanah. Mari melihat, dan melangkahlah ke seluruh pelosok Sintang, di sana banyak hal yang perlu kita bagikan.

Merah Arai, 19 Agustus 2018

Anak dengan Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan Kinestetik
Sebelah Kiri:Okta Manasie
Namanya Ise, lengkapnya Okta Manasie,  anak yang lahir pada tanggal 16 Juni 2005, sekarang sudah berumur 12 tahun. Dia tercatat sebagai siswa kelas IV, dan dua kali tidak naik kelas. Ise dulunya lahir prematur,  usia kandungan ibunya tujuh bulan dan lahir dengan bobot 1 kg, kecil sekali saat itu, kata ayahnya. 

Di sekolah, Ise sedikit usil namun dia tidak begitu nakal. Ise tidak membuat kegaduhan hanya saja gerak geriknya sedikit mengganggu mata yang melihat, dia tidak bisa duduk diam dan selalu ingin bergerak. Cuek dan tidak sedikitpun peduli dengan pelajaran yang diberikan guru di kelas, jangankan mencatat atau menjawab pertanyaan guru, memperhatikanpun tidak. Dia asyik memperhatikan pekerjaan teman-temannya di kelas. Saking kesalnya dengan tingkah Ise, mau rasanya melempar dia dari luar jendela. Saat jam istirahat dia lebih banyak bermain bahkan semua permainan mau diikutinya, sangat aktif dan selalu menjadi pemimpin pada setiap permainan. 

Banyak orang pesimis dengan masa depan anak ini, termasuk orang tuanya sendiri, bagaimana tidak, sudah 12 tahun belum bisa membaca dan akan terancam tidak naik ke kelas V. Saya beranggapan sebaliknya, anak ini adalah mutiara, suatu saat nanti Ise akan menjadi orang hebat, hebat pada bakatnya sendiri. Bukankah Isaac Newton juga mengalami kondisi seperti Ise?. 

Ise adalah anak yang masuk dalam kategori kebutuhan khusus, dia harus dididik secara khusus pula. Di kelas, dia boleh tidak dijadikan pusat perhatian dan seyogyanya guru fokus pada siswa yang lain. Biarlah Ise menjadi pelengkap dan penghibur, namun di luar kelas dia harus menjadi pusat perhatian.

Setelah mengamati aktivitas Ise di sekolah dan di luar sekolah, saya mulai menemukan pintu kecerdasan dia, rupanya kecerdasannya adalah kinestetik (gerak). Setiap sore saya mengajak Ise bermain di rumah, sekedar santai-santai, memancing di sungai dan berkeliling Desa. Aktivitas-aktivitas psikomotorik ini saya selipkan dengan membaca dan berhitung. Kemanapun kami pergi, buku bacaan selalu dibawanya. Saya melihat perkembangan luar biasa, meskipun belum bisa membaca dan berhitung setidaknya Ise sudah punya modal besar yaitu kemauan untuk belajar. Catatan yang perlu diperhatikan dalam menangani Ise yaitu jangan pernah dipaksa, jangan biarkan dia jenuh dan beri kesempatan tubuhnya tetap bergerak. 

Kasus seperti Ise hanya ada satu-satunya di sekolah kami, saya mengambil peran untuk menanganinya. Biarpun saya belum cukup ilmu untuk menangani kasus seperti ini namun akan saya upayakan berbagai cara dan terus mempelajari berbagai metode dan ilmu yang menyangkut penanganan anak-anak yang berkebutuhan khusus,terutama anak seperi Ise. 

Target saya, semester depan Ise harus bisa membaca dan berhitung dan naik ke kelas V. Insya Allah berhasil. Amin.

Merah Arai, 3 Desember 2017

Gadis yang Aku Rindukan

Gadis yang kurindukan
Coba lihat ke langit, ada miliaran bintang. Apa lagi jika melihatnya disaat bulan terang, cantik sekali. Gugusan yang luar biasa, bimasakti membentang indah. Aku melihatnya dari atas pulau Borneo, tepat di langit Khatulistiwa pemandangan langit nampak lebih indah.

Malam ini dingin sekali, udaranya masuk sampai ke relung tulang. Malam kian mengajakku untuk tidur tapi langkah tak mau beranjak dari kursi kayu yang aku letakkan di halaman rumah. Nyanyian jangkrik dan semut hutan begitu syahdu. Suara riakan sungai yang hanya berjarak 50 meter terdengar jelas di telingaku, iramanya merdu. Ada banyak suara-suara mahkluk Tuhan yang malam ini sedang beraktivitas, mungkin saja salah satunya adalah makhluk halus. Suara-suara itu membentuk nada-nada indah untuk relaksasi di tengah malam yang sunyi. 

Biarpun sedang sendiri, jauh dari pusat keramaian. Malam ini aku tidak terlihat takut. Duduk sambil menengadah ke langit, memandang keindahan alam semesta. Seraya bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan untukku bernafas. Beginilah caraku merindukannya. Gadis yang namanya selalu kusebut dalam doaku. Saat gelap seperti ini, gadis itu hadir memberi seberkas cahaya, malam yang gelap menjadi malam yang indah. Aku tersenyum memandanginya. Betapa indah gadis itu, berlama-lama menatapnya hatiku kian sejuk. Melihat ke langit seolah aku dapat melihat aktivitasnya malam ini, saat ini mungkin dia sedang tidur. Selamat istirahat, sayang. 

Langit, hutan, sungai dan bintang di tempat ini selalu bercerita hal sama. Tentang rinduku yang terus mengalir, tentang kata-kata yang tak mau berhenti, tentangmu. Di tempat yang sunyi ini, aku mewakilkan rinduku pada bintang-bintang di langit sana. Supaya rindu itu sampai padanya. Rindu ini terlampau berat untuk bisa kupikul sendirian, terlampau besar untuk bisa kulempar ke arah bintang di langit sana, dan rindu ini tidak akan aku biarkan hilang begitu saja, percayalah.

Rindu itu sebuah kebatinan rasa yang harus tersampaikan kepada pemiliknya bagaimanapun caranya. Aku punya cara dan tahu metodenya. Diapun Begitu. Rindu tak diciptakan oleh jarak, tapi perasaan. Aku merindukannya bukan karena ia jauh, namun karena ia telah ada di dalam jiwa dan ragaku.

Rindu seperti ini tidak akan lama lagi, akan segera berakhir. Akan diobati dengan pertemuan yang teduh. Allah sudah merencanakan aku dan kamu bertemu dalam satu waktu. Saat ini, biarlah kita bertemu dalam rindu yang bertumpuk-tumpuk di atas sajadah, menggulung-gulung hingga besar di langit sana dan bercahya mengalahkan bintang kejora.

Cinta, bersabarlah dalam menanti seperti ketidakinginan kita agar terompet Sangkakala tak segera berbunyi sebelum amal kita terasa cukup. Sesuatu akan datang pada waktunya masing-masing sebab sudah Allah takdirkan demikian. Bukankah sekuat apapun kita mengusahakan datangnya senja ketika fajar baru saja terbit, itu tidak akan terjadi begitu saja bukan? Kita tetap harus menunggu waktunya tiba, melewati siang. Jadi, bersabarlah.

Aku masih takut dengan sunyi. Apalagi kalau gelap pekat. Di sini, kuntilanak tidak takut dengan manusia. Coba saja jika kamu ada di sampingku. Sunyi dan gelap akan membuat kuntilanak menjauh ketakutan. Cahaya cinta akan membuat siapa saja yang mendekat akan menjauh. 

Cinta, mari saling mendoakan, biar rindu ini saling bertaut dan proposal halal yang telah kita sampaikan segera dikabulkan. Ingat, kamu harus sombong pada laki-laki lain untuk menjaga perasaan lelakimu, akupun begitu.

Nanti, bintang-bintang indah yang aku lihat di atas langit desa ini, akan kita lihat bersama. Di sini, di Desa Merah Arai, pedalaman Kalimantan. Akan kupastikan kau terhibur dan tidak minta pulang jika bersamaku di tempat ini. Tahun depan, ikut yaa. 

Jaga hati, jaga diri dan jaga Iman. 

Merah Arai, 01 Desember 2017

Jaunya Desa Merah Arai

Bus Kayan Hulu
Bus Kebanggaan Masyarakat Kayan Hulu
Bus bernama Jurukito hanya ada dua di Kabupaten Sintang, Bus yang kecil treknya hanya sampai Desa Nanga Mau ibu kota Kacamatan Kayan Hilir dan yang besar sampai ke Nanga Tebidah, ibu kota Kecamatan Kayan Hulu.  Bus ini keluaran tahun 90-an. Kalau di provinsi lain Bus seperti ini sudah masuk gudang rongsokan.

Kekuatannya sangat bandel, jangan pernah meragukannya. Jalan mendaki, berbatu, tidak membuat mesinnya meraung kelelahan, kalau jalan becek berlobang sampai 1 meter masih bisa diterobos oleh bus ini. Muatan kursinya sampai 26 orang, namun biasanya tidak semua terisi karena selalu dipenuhi oleh barang-barang bawaan ataupun kiriman masyarakat. Dari Kota Sintang ke Nanga Tebidah, Ibukota Kecamatan Kayan Hulu ongkosnya cuma Rp.100.000. Itu sedikit perkenalan dengan Bus Jurukito.

Kehidupan baru saya berada di Desa Merah Arai Kecamatan Kayan Hulu, untuk menuju desa Merah Arai butuh nyali dan fisik yang prima dan harus pandai berenang. Jarak Kota Sintang ke Ibukota Kecamatan Kayan Hulu, Nanga Teubidah cuma 138 Km, jalannya kecil, berbatu, tanah kuning, banyak lobang, sehingga butuh waktu 6 jam perjalanan menggunakan Bus Jurukito. Bisa juga dilalui menggunakan sepeda motor dan banyak juga orang menggunakan mobil Starda atau double cabin, masyarakat disini menyebutnya taxi.

GGD Sintang
Perahu menuju Desa Merah Arai
Untuk menuju desa-desa di Kecamatan Kayan Hulu, hampir semua jalan rayanya adalah sungai. Ada tiga cabang sungai yaitu Jalur Kayan, Jalur Teubidah dan Jalur Payak. Dari ketiga jalur tersebut hanya jalur Kayan yang lumanya tidak ekstrim karena airnya selalu banyak atau dalam. Kalau jalur Teubidah dan jalur Payak airnya sering sedikit, dangkal dan banyak batu-batu besar yang membuat perahu motor tidak bisa melaju dengan maksimal.

Transportasi antar desa dan menuju ke pusat kecamatan adalah menggunakan perahu motor. Perahu ini modelnya beragam, ada yang besar, ada pula yang kecil, termasuk mesin yang digunakan. Karena perahu adalah alat transportasi utama sehingga hampir setiap keluarga memilikinya, sekurang-kurangnya adalah perahu dayung.

Nah, tempat saya belajar dan mengajar ada di Desa Merah Arai, tepatnya di SD No 15 Merah Arai. 47 km dari kota kecamatan. Untuk menuju ke sana harus menggunakan perahu motor dari Teubidah yaitu Kota kecamatan, lebih kurang 3 jam perjalanan, itupun kalau air sungainya sedang banyak, pasang kalau istilah masyarakat disini namun kalau airnya sedang sedikit atau surut maka membutuhkan waktu sampai 5 jam perjalanan perahu motor. Perlu diketahui, disini tidak ada perahu angkutan penumpang, yang ada hanyalah perahu masyarakat yang hilir-mudik membawa hasil kebun untuk di jual ke Kota kecamatan. Jadi jangan membayangkan seperti di kota yang angkutan umumnya selalu ada dimana-mana bahkan bisa pesan online dan dijemput sampai di depan rumah. Disini NO. 

Kalau mau menuju desa-desa sepanjang jalur sungai kayan, kita harus menumpang perahu masyarakat yang lewat. Cukup berdiri dipinggir sungai sambil menyapa dan bertanya mau kemana? Jika tujuannya sesuai dengan keiinginan kita maka mereka akan meminggirkan perahu dan kita naik, selamat sampai tujuan. Kalau tidak ada perahu masyarakat yang lewat, ya selamat bermalam lagi di Teubidah.

Guru dan tenaga kesehatan adalah manusia paling di sayangi oleh masyarakat di daerah pedalaman. Maka jangan lupa memperkenalkan diri dan memakai salah satu atribut yang menunjukkan kita adalah Guru atau tenaga kesehatan. Setidaknya adalah topi.

Teubidah, 01 November 2017


Sendiri, Kita Punya Kesenangan yang Berbeda

Meninggalkan keramaian
Jika ada yang bertanya: dimana kenikmatan sering menyendiri? Maka saya akan menjawab: kamu akan tahu jika kamu memahami arti menyendiri.

Cukup lama saya mencoba memahami arti menyendiri, menyendiri dalam artian positif. Hidup jauh dari keramaian, jauh dari suara-suara sumbang tukang kritik yang tak pernah memberikan solusi, jauh dari berita-berita miring, jauh dari berita kriminal yang tak bermoral dan jauh dari gosip-gosip murahan. Menyendiri adalah kesenangan. Menyendiri adalah kebahagiaan.

Menyendiri bukan berarti tidak peduli dengan lingkungan sosial, menyendiri bukan berarti putus asa, dan menyendiri bukan berarti kalah terhadap kerasnya hidup. Menyendiri adalah mengumpulkan energi, meracik ide, menjernihkan pekiran dan mempersiapkan strategi untuk meraih sesuatu yang lebih besar. Karena menyendiri adalah kesenangan.

Dulunya saya pernah berpikir negatif terhadap orang yang suka menyendiri, apasih yang mereka lakukan saat sendiri?, Jarang keluar rumah, jarang ngumpul dengan teman-teman, jarang ke tempat hiburan, pastinya jauh dari keramain. 

Ada salah satu teman saya yang sangat sering menyendiri. Setelah diselidiki, teman saya ini sedang fokus belajar bahasa Inggris, dia ingin mengikuti seleksi beasiswa magister di Australia. Alhamdulillah sekarang studinya hampir selesai. Bayangkan jika teman saya ini masih sering melakukan aktivitas yang tidak terlalu prioritas dengan teman-temannya di luar sana, maka dipastikan dia akan gagal ke Australia. 

Ada juga teman yang cukup lama hilang dari peredaran media sosial, bahkan sangat sulit untuk dihubungi. Setelah dicari tahu, rupanya si teman ini sedang rutin mengikuti majelis taklim dan mulai aktif di majelis Zikir. Bagi saya itu adalah kesenangan dan prestasi luar biasa baginya. Menyendiri meninggalkan aktivitas bersama teman-teman yang tidak produktif dalam hal kebermanfaatan dan mencari sesuatu yang lebih bermanfaat untuk kepentingan masa depan yang lebih cerah.

Ada bayak kasus orang-orang yang menyendiri, meninggalkan aktivitas yang hanya buang-buang waktu, meninggalkan teman-teman yang tidak menguatkan hati, menuju aktivitas yang memperkaya pikiran dan membesarkan hati.

Mulai saat itu saya mulai paham, kalau menyendiri adalah kesenangan yang di dalamnya ada kebahagian. Menyendiri adalah meditasi untuk memperbaiki diri. 

Menyendri adalah keharusan ketika kita mulai jenuh dengan keadaan, saatnya melakukan intropeksi diri, merenungi hidup, meminta petunjuk kepada pemilik semesta.

Satu hal yang perlu diingat, dilarang keras menyendiri terlalu lama, nanti kita akan hilang dari peredaran dan akan dicoret dari daftar teman.

#Kuta Lawah, 06 Oktober 2016.

Kebersamaan dalam Silaturahmi

GGD II
Belajarlah dari nenek moyangmu bagaimana caranya menghubungkan rahim-rahim itu, karena silaturahmi menimbulkan kecintaan dalam keluarga, meluaskan rezeki, dan menunda kematian.” (HR Imam Tirmidzi)

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirtmidzi sangat relevan dengan apa yang kami rasakan kemerin. Kami meluapkan kegembiraan yang sangat luar biasa dan itu didasari karena kami saling mencintai, karena kami adalah keluarga dibawah payung program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI).

Awalnya hanya candaan untuk menghadirkan para alumni SM3T di Banda Aceh, karena kami sadar hal itu tidak mudah dengan berbagai kesibukan teman-teman selama Ramadhan, belum lagi jarak yang memisahkan tidak dekat. Sehingga disepakati mengumpulkan alumni dalam kegiatan buka puasa bersama hanya yang berdomisili di Banda Aceh dan Aceh Besar saja, namun tetap mengundang alumni SM3T se-Aceh, siapa tahu ada yang sedang berada di ibu kota ataupun ada yang mau meringankan langkah untuk ikut menghadiri acara tersebut.

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Maka dibuatlah acara Rapat Koordinasi koordinator kabupaten dan koordinator program studi se-Aceh dan Buka Puasa Bersama, sekaligus merayakan ulang tahun ke-1 Masyarakat SM3T Institute (MSI) secara bersamaan juga sedang dirayakan di seluruh Indonesia. MSI adalah sebuah lembaga  yang dibentuk oleh para alumni SM3T untuk menghimpun dan menghubungkan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia. Lembaga yang memiliki markas pusat di Makasar ini sudah terbentuk hampir di setiap provinsi, salah satunya di Aceh.

Pemetaan GGD II
Suasana Rapat Koordinasi
Tidak perlu membentuk panitia besar, hanya panitia kecil tanpa SK yang penting semua mau membantu secara suka rela, tanpa membedakan setiap angkatan, berbaur menjadi satu keluarga. Akhirnya rapat koordinasi resmi kami buka di Auditorium lama dan buka puasa bersama di Mushala Insan Kamil FKIP Unsyiah.

Riuh keramaian pada saat Rakor cukup membuat aliran darah mengalir deras, bagaimana tidak, kegembiran saat itu mebuat jantung bekerja lebih cepat. Kegembiraan muncul saat melihat teman-teman yang hadir tidak hanya dari Banda Aceh dan Aceh Besar saja namun juga dari luar kota yang jaraknya merupakan salah satu syarat diperbolehkan untuk Menjamak atau Qasar Sholat. Dan, ini merupakan sebuah penghargaan yang sangat luar biasa bagi teman-teman panitia, karena kami sangat percaya atas komitmen dan dedikasi semua alumni. Kami tidak pernah meragukannya.

Puncak kegembiraan dan silaturahmi yaitu pada saat acara buka puasa bersama. Panitia penyelenggara sengaja mensetting suasana sedramatisir mungkin, mulai dari tempat acara yang sengaja tidak dibersihkan lebih awal, spanduk dan atribut lainnya yang masih berantakan, kue berbuka yang sengaja tidak dikemas terlebih dahulu, bahan munuman yang belum dibikin, dan nasi yang belum dibungkus. Hal ini diciptakan dengan satu tujuan yaitu supaya kami semua yang hadir ikut bekerja sama bahu-membahu dalam menyiapkan makanan berbuka puasa yang akan kami santap nantinya.

Buka puasa bersama Alumni SM3T Aceh
Suasana Buka Puasa Bersama
Memperhatikan gotong royong teman-teman membuat kami terharu, bagaimana ibu-ibu bersama-sama mengemas kue tadi ke platik dan tempat lainnya, mempersiapkan aneka minuman, dan bapak-bapak ikut menuangkan air minum ke gelas-gelas, lalu menghidangkannya di tempat yang telah ditentukan. Suasana gotong royong sambil bercanda, bercerita ria, terus-menerus terlihat sambil tertawa kecil di berbagai sudut. Bukankah itu sangat luar biasa? Tidak ada yang menyia-nyiakan momen ini. Karena suasana berkumpul seperti ini adalah momen langka bagi kami yang selama ini sibuk dengan aktivitas masing-masing di luar sana.

Menariknya, ada yang dulu hanya pernah berkomunikasi dengan adik angkatan via media sosial, di sana mereka bisa bertemu langsung. Ada teman perempuan yang dulu pernah ditaksir, di sana dia mengundang untuk menghadiri acara resepsinya. Ada sejoli yang dipisahkan oleh jarak, di sana mereka berjumpa, aduhai. Ada yang sudah mapan, menawarkan pekerjaan kepada yang masih berjuang. Ada juga yang sibuk menjodoh-jodohkan teman dengan harapan bisa cocok. Semuanya saling berbagi, saling memotivasi dan saling menguatkan. Duhh, kami semua sangat senang menikmati pemandangan ini. 

Kami semua mendokumentasikan momen tersebut di memori kepala yang kian pesat ini, juga di memori handpone masing-masing yang nantinya akan kami kenang pada suatu hari nanti. Hari ini kami bisa bersama dengan penuh suka cita, namun kami tidak bisa menjamin kedepan akan bisa seperti ini lagi. Kami tidak mau bertaruh bisa bersenda gurau penuh keakraban seperti ini lagi, dengan berbagai agenda kedepan yang sangat padat dan jarak yang sangat jauh.

Namun, kami akan usahakan, momen kebersamaan akan tetap kita buat dengan agenda dan even yang berbeda namun nuansa keakraban dan kebersamaan justeru lebih menggoda. Karena kita semua memilih percaya kalau satu sahabat sejati lebih berharga dari pada seribu teman yang mementingkan dirnya sendiri. Bukankah begitu?

Tunggu even selanjutnya!. Salam cinta penuh kebersamaan.

#Banda Aceh, 27 Juni 2016

Apa Kabar Dunia Pendidikan Kita?

Ulang Tahun PGRI 2015
Kegiatan Belajar Mengajar [Dok Pribadi]
Akhir-akhir ini siswa sudah sangat brutal, coba lihat pemberitaan di media-media. Siswa ugal-ugalan di jalan, tawuran, menggunakan narkoba, sek bebas dan tidak jujur. Miris bukan?. Teori mana yang mampu menjelaskan sebab-musabab penyimpangan moral seperti itu? Bayangkan, mereka adalah anak-anak bangsa tercinta yang pada tahun 2045 nanti akan menjadi dewasa, merekalah yang akan memimpin negara ini. Apakah anak-anak seperti ini yang dipersiapkan sebagai kado ulang tahun emas Indonesia?.

Mari kita berkaca pada pendidikan masa lampau. Bagaimana para guru mendidik siswanya, bagaimana peran orang tua dan masyarakat pada masa itu. Padahal dunia pendidikan dulu tidaklah sehebat sekarang dengan media dan teknologi jauh lebih canggih. Karakter anak-anak pada masa dulu jauh lebih berakhlak dibandingkan anak-anak sekarang. Pendidikan keraslah yang menyebabkan mereka mempunyai karakter baik.

Dulu, ketika belum ada embel-embel HAM, anak-anak yang melakukan kesalahan yang melewati batas akan dipukul oleh gurunya sehingga menjadi efek jera dan mereka tidak akan mengulang kesalahannya lagi, jika anak itu mengadu kepada orang tuanya maka orang tua ikut memarahi bahkan memukul anaknya karena sudah melakukan kesalahan. Coba anak-anak sekarang, kalau dipukul oleh guru sedikit saja, maka siap-siap dinginnya jeruji besi akan menanti guru tersebut. 

Bagaimana rumus pendidikan karakter sebenarnya? Pendidikan karakter yang bisa membuat siswa memiliki karakter baik. Apakah ada? Jangan-jangan hanya teori saja dan sulit untuk diterapkan. Barangkali ada, yaitu pendidikan ramah anak, pendidikan cinta dan kasih sayang. Namun hati-hati juga, pendidikan ramah anak akan membuat anak besar kepala dan semena-mena karena mereka tidak takut dengan gurunnya. Lagi-lagi  ini soal karakter. Lalu kesalahannya dimana?.
******
GURU
Guru profesional adalah guru yang mampu mendidik siswanya menjadi generasi yang mampu bersaing dan memiliki moral yang baik, seorang guru hendaknya memiliki prilaku yang baik yang mampu menjadi tauladan yang patut diikuti oleh siswanya. Keprofesionalitas seorang guru sangat penting bagi siswa karena guru mempunyai tugas yang sangat berat dalam mendidik, mengarahkan dan memotivasi para siswa untuk menjadi siswa yang luar biasa dan bermoral. 

Guru adalah pendidik sejati dengan tugas pokoknya yaitu mengajar, mendidik, melatih, membimbing dan mengarahkan. Sebelum sang guru memperbaiki karakter para siswanya maka para guru harus terlebih dahulu memperbaiki karakter mereka sendiri. Karakter malas, karakter korup dan karakter tidak menghargai orang lain harus jauh-jauh dibuang dan beralih kepada karakter yang patut untuk ditiru oleh para siswanya yaitu karakter seorang guru sejati. 

DOSEN
Jika siswa bodoh, siapa yang disalahkan? Semua orang akan menjawab “Guru”. Jika guru bodoh, siapa yang disalahkan? Banyak orang akan menjawab “system pendidikan”. Terlalu jauh menyalahkan system pendidikan karena system telah didesain sedemikian rupa dengan berbagai kajian dari  hasil penelitian. Kenapa tidak ada yang menyalahkan “Dosen”? Apakah dosen makhluk paling suci yang tidak bisa disalahkan?. Siswa di sekolah belajar dengan guru, guru belajarnya dengan dosen bukan dengan hantu. Dosenlah yang harus disalahkan, kenapa tidak berhasil mendidik para guru untuk bisa hebat dan profesional?.

Kita semua merindukan dosen yang mau menjadi seperti guru, ikhlas dan mau membagi ilmu tanpa dibayar,menginspirasi dan mampu menggerakkan. Ilmu itu tidak semata-mata karena uang. Kita merindukan dosen-dosen yang update dan berpikir maju. Kita merindukan dosen yang berjiwa organisasi yang bisa menjadikan mahasiswanya sebagai insan yang siap pakai dalam semua kondisi. Kita merindukan dosen yang tidak berorientasi pada nilai/hasil semata dengan mengenyampingkan proses. Dosen yang tidak mau dikritik silahkan masuk ke tong sampah karena tempatnya bukanlah di kampus tapi di tempat pembuangan. 

KORUPSI
Korupsi adalah karakter yang tidak boleh dimaafkan. Korupsi kerap terjadi di kalangan pemerintahan yang mempunyai dana besar sehingga membuat tergiur mereka yang berhati busuk untuk mencuri uang negara. Belakangan ini korupsi tidak hanya terjadi di lembaga pemerintahan saja namun sudah mulai merambah pada lembaga suci seperi sekolah dan kampus. Miris bukan?. Padahal lembaga pendidikan adalah benteng terakhir untuk memberantas korupsi. Jika lembaga pendidikan saja sudah melakukan korupsi lalu lembaga mana lagi yang harus kita percayai?.

Kampus yang seharusnya mendidik para mahasiswa untuk menjadi pemimpin yang berkarakter justeru mempertontonkan perilaku yang tidak pantas. Bagaimana para mahasiswa bisa meneladani para guru mereka yang bermental murahan seperti itu. Jika aktivitas korupsi di kampus tidak segera diakhiri maka siapa yang akan membersihkan korupsi di negara kita ini?. 

KOMITMEN MEMAJUKAN
Pendidikan di Negara kita akan tumbuh berkembang seperti negara-negara maju jika ada niat baik dari semua pihak untuk memajukannya. Kalau niat baik tidak ada dan selalu mentok karena uang maka kiamatlah dunia pendidikan kita. Banyak pihak yang memiliki wewenang untuk mengambil kebijakan yang cerdas dan memberikan dampak perubahan yang singnifikan terhadap dunia pendidikan justeru tidak berani karena alasan tidak ada dana, peraturannya tidak boleh, ini, itu dan banyak alasan lainnya. Padahal kalau kita mau jujur, kendalanya cuma pada niat dan komitmen untuk memajukan pendidikan tidak ada.

Benang merah semua persoalan pendidikan kita ada pada karakter. Yaitu karakter pemerintah, Guru/dosen, masyarakat dan siswa. Jika semua komponen ini mau introfeksi diri, berpikir maju, dan saling membantu bahu-membahu untuk memajukan pendidikan dengan penuh cinta, maka Insya Allah, dunia pendidikan kita akan sangat luar biasa. Anak-anak luar biasa yang akan memimpin Indonesia kelak. 

Selamat Hari Guru 2015.

[Kuta Lawah, 25 November 2015]

Untuk Temanku Murhaban yang Berhasil Menghidupkan Sekolah Mati

Aku titipkan sebuah puisi untuk temanku Murhaban, puisi dari Dani Ronny, dia menulisnya di kebun jeruk, Februari 2006.

UNTAIAN HATI

Teruntuk sahabatku, guru,
Dimanapun engkau berada saat ini,
di hutan,
di gunung,
di pantai,
di lembah,
di desa-desa tandus,
di gubuk-gubuk reot,
di kolong-kolong jembatan,
di gedung-gedung mewah.

Mari,
Kita bulatkan hati untuk menghadirkan
keindahan pada setiap karya kita.
Setiap hari kita membuat masterpiece di jiwa-jiwa
unik pembelajar kita.
Sejak langkah pertama kita masuk ke ruang-ruang belajar,
dan diakhiri dengan langkah kaki kita yang lain,
tatkala pelajaran usai.
Ah. Betapa mulianya pekerjaanmu!

Saudaraku,
Kutitip anakku untuk kau didik,
dan akan kudidik anakmu dengan segala totalitas
dan kemampuan yang kumiliki.
Kucintai anakmu seperti engkau mencintainya,
dan cintai anakku seperti aku mencintainya.
Jangan kecilkan hatinya pada saat dia salah.
Bukankan siapa diantara kita yang tak pernah salah?

Saudaraku,
Sungguh, ini sebuah kemuliaan,
mari berjabat tangan,
eratkan rasa dan satukan hati
untuk selalu memberi yang terbaik
bagi anak negri!

Saudaraku,
hidup ini tidak lama.
Apa yang sudah kita berikan kepada sesama?
Kita, jasad ini, boleh musnah, boleh hilang,
kita boleh tiada lagi,
namun mari berharap agar
kebaikan yang kita tabur
akan terus bertumbuh kembang,
menyebar dan berbuah
kemuliaan.

Saudaraku,
dimanapun engkau berada saat ini,
di hutan,
di gunung,
di pantai,
di lembah,
di desa-desa tandus,
di gubuk-gubuk reot,
di kolong-kolong jembatan,
di gedung-gedung mewah.
Mari, biarkan cinta kita
bertebaran,
mengharumkan bumi
persada tercinta ini.
Mari, besarkan hati
untuk membesarkan bangsa ini, saudaraku!.

                                                     *****

Pengabdian Guru SM3T
[Kepala Sekolah MIS Paya Ateuk sedang memberi pengarahan]
Izinkan aku mengangkat topi seraya mengucapkan salut berbalut bangga, buat temanku Murhaban. Sekarang sudah menjadi kepala sekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di pedalaman Aceh selatan. Sekolah yang sejak 2013 mati total ditinggal murid-muridnya. Sekolah yang dicap tak layak beroprasi oleh penduduk setempat, sekolah yang akan ditutup untuk selamanya oleh Kementerian Agama. Ini bukan cerita dalam film Laskar Pelangi. Ini nyata, benar adanya, terjadinya sekarang, tahun 2015. Tahun gemilang dengan anggaran pendidikan berlimbah ruah. Tahun dimana semua orang sibuk membangun sekolah, tahun yang katanya sedang memupuk generasi emas.

Sekalipun kisah ini pernah terjadi di tempat lain, namun aku tidak mendengarkan kabarnya. Aku tuliskan kabar ini supaya orang-orang tahu masih ada orang yang benar-benar mau mengabdi. Benar-benar tulus semata-mata mengharapkan ridha Allah. Aku tahu, dan tidak diragukan lagi, produk dari SM3T yang pernah merasakan pahitnya kehidupan di pedalaman, kekuatan hati dengan rasa pengabdian sudah mendarah danging. Dan sekarang aku semakin percaya kalau SM3T telah berhasil melahirkan insan-insan luar biasa biarpun tidak semua. Setidaknya ada. Salah satunya temanku Murhaban.
*****
Aku dapat kabar, tapi tidak dari surat kabar. Konon katanya sekolah itu akan ditutup kalau tahun ini tidak bisa mendatangkan murid. Murhaban, seorang alumni PPG SM3T Unsyiah yang pernah menjadi guru di Pedalaman Sanggau, Kalimantan Barat memilih untuk berjuang menghidupkan kembali sekolah yang sudah mati itu. Modalnya cuma kemauan dan keikhlasan. Itu saja.

Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Paya Ateuk Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan. Sekolah yang berada ditengah kampung ini sudah mati total karena ditinggal murid-muridnya. Entah kenapa. Tapi faktanya tidak ada lagi orang tua yang mau menitipkan anaknya untuk belajar di sana dan lebih memilih mengirim anaknya untuk belajar di sekolah yang jauh dari kampung. Jangan kau tanya kenapa. Aku pun tidak tahu.
*****
Rapat dengan tokoh masyarakat
[Rapat menghidupkan kembali sekolah dengan tokoh masyarakat]
Aku dapat kabar, pendekatan ala politisi kamu lakukan terus-menerus kepada orang sekampung, ketua pemuda, Tuha Lapan, Tuha peut, Geuchik, Imum Mukim dan tokoh masyarakat lainnya. Kamu berhasil meluluhkan hati mereka, mengajak mereka semua untuk duduk bermusyawarah mengambil keputusan “MIS Paya Ateuk, diaktifkan kembali atau tutup selamanya”. Pada akhirnya, seluruh masyarakat mau gotong royong membersihkan dan merehap sekolah, bahkan mereka mau iyuran untuk membeli inventaris wajib sekolah seperti bangku, meja dan papan tulis. Kamu berhasil menggerakkannya Murhaban. Menggerakkan jiwa-jiwa yang keras.

Bukan hal mudah untuk meyakinkan orang sekampung supaya mau mengirim anak-anaknya di sekolahmu. Bukan hal mudah meyakinkan pemerintah kalau sekolah itu akan kamu hidupkan kembali, dan kabarnya kamu menjamin dengan penuh resiko sekolah itu akan hidup. Ilmu dari mana kamu dapatkan?. Bukan hal mudah menghadirkan guru-guru untuk mengajar di sekolahmu itu. Tidak banyak yang mau mengabdi sepertimu. Dan aku sangat yakin kamu mampu. 

Kamu mulai takut, jika sekolah itu aktif tidak ada guru yang mau mengajar. Jangan lupa, banyak guru-guru muda yang hebat sepertimu. Aku yakin mereka juga bertaburan di sana. Dulu saat kuliah kita pernah bersepakat bagaimana menjadi guru yang hebat. Kamu masih ingat?
Mengajar tidak hanya masuk kelas, bertemu para pembelajar, menyuruh ini itu, lalu keluar kelas, dan pulang.
Apakah ini yang dianggap proses belajar mengajar? Kalau cuma seperti itu, kita tidak perlu mengikuti pendidikan yang tinggi-tinggi, tidak perlu kuliah Pendidikan Profesi Guru (PPG), atau ikut training yang hebat-hebat. Semua orang bisa melakukannya. 

[Guru sedang membimbing siswa di kelas]
Coba kita sedikit merenungkan proses belajar mengajar, mencoba memandangnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar transfer informasi dan “penjejalan” pengetahun, namun ada unsur kasih sayang, kepedulian, komitmen, kerendahan hati, kreativitas, keiklasan, dan karakter-karakter unggul lain di dalamnya. Ada passion yang tak terbatas apapun. Sebuah hasrat yang menggelora untuk melihat para pembelajar  bertumbuh, dan ada kerinduan agar mereka bermetaformosa dan menyempurna menjadi insan-insan yang luar biasa. Itulah sesungguhnya hal yang dimiliki oleh guru-guru yang akan dan mungkin telah melegenda.

Aku pernah dimarahi oleh seorang penulis buku The power of Emotional end Adversity Quotient For Teacher namanya Dani Ronny. Suatu malam menjelang tidur aku membaca bukunya, lalu dia marah. Kamu tahu apa katanya? 
Untuk menjadi guru-guru yang melegenda dan dikenang oleh banyak jiwa-jiwa pembelajar sepanjang masa, kita harus memiliki: kasih sayang, kepedulian, kesabaran, kreativitas, kerendahan hati, kebijaksanaan, komitmen dan kejujuran. Komponen itulah yang akan membuat kita menjadi guru yang hebat. 
Komponen-komponen yang akan membuat kita bukanlah just ordinary teacher, melainkan a great teacher, bahkan menjadi a legend. Apakah kamu tidak merindukan hal seperti itu. Ah. Jangan bohong. Kamu pasti merindukannya.

[Anak-anak ikut membersihkan kelas yang akan digunakan]
Aku malu tidak bisa sepertimu. Ditengah gelombang pengeluhan, belum mendapatkan pekerjaan, masih pilah-pilih sekolah, memaki pemilik kebijakan, sibuk menunggu hal-hal yang tidak pasti. Dan kamu di sana tidak peduli dengan gelombang-gelombang itu dan memilih membangkitkan gelombang-gelombong kecerdasan anak-anak didikmu. Aku khawatir, kamu nanti dapat gaji dari mana? Operasional sekolahmu bagaimna? Apa kamu tidak takut di-PHP-in oleh pemerintah?. Aku sangat tergugah malam itu, ketika aku bertanya melalui pesawat telpon kamu menjawab:
Aku ikuti proses saja, rezeki sudah Allah yang atur. Aku cuma ingin membuat sesuatu untuk kampungku. Aku ingin anak-anak di kampungku pintar, aku ingin kampungku maju. Serahkan semuanya kepada Allah, aku hanya bisa berusaha. 
Aku sedang membayangkan, bagaimana kalau semua anak muda seumuran kita memiliki pikiran sepertimu. Wah, akan sangat luar biasa. Setidaknya produk dari “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia” itu mau mengikuti jejakmu. Tapih sayang, hidup di dunia ini keras kawan, bahkan kejam sekali. Orang sepertimu langka. Akupun tidak bisa menjangkau sampai seperti dirimu. 

Apa yang bisa ku bantu? Banyak. Tapi aku tidak mampu. Biarkan aku mengabarkan saja. Biar teman-teman yang dekat dengan kampungmu tahu. Siapa tahu mereka mau membantumu menjadi guru di MIS Paya Ateuk. Menjadi guru hebat, mengajar dengan totalitas dengan gaji dari Allah. Ada yang mau silahkan mendaftar.

Sekarang kamu adalah konsultan pendidikan. Karena kamu yang menggerakkan, kamu kepala sekolahnya, dan kamu pula yang bertanggung jawab. Kasusmu sama persis seperti kisah Munif Chatif. Kamu ingat? Orang itu pernah mengerakakan hati kita saat berada dalam Auditorium FKIP satu tahun yang lalu. Maka, bacalah bukunya: Sekolahnya Manusia. Buatlah sekolahmu menjadi satu-satunya sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Aceh Selatan. Ciptakanlah anak-anak hebat dari bakatnya masing-masing. Aku yakin kamu mampu karena sekolah itu milikmu. Kamu yang memimpin di sana. 

#Darbe. Banda Aceh, 13 Agustus 2015.