Mewujudkan Generasi Unggul





























Koneksi antar materi modul 1.3 ini berisi apa yang saya pahami mengenai kaitan peran saya sebagai guru dalam mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila pada murid-murid saya dengan paradigma inkuiri apresiatif (IA) di sekolah. Materi-materi sebelumnya sangat berkaitan mulai dari filososfi pemikiran Ki Hadjar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, serta manajemen perubahan dengan model inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA untuk mewujudkan visi Guru Penggerak.

Keterkaitan Visi Guru Penggerak dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Visi guru genggerak harus sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Sehingga, dalam menyusun visi, guru harus berfokus pada murid agar murid dapat berkembang sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Guru diharapkan dapat menggali peta kekuatan baik dari faktor internal maupun eksternal untuk mewujudkan visinya.

Ki Hadjar Dewantara memilih metode among dalam mendidik anak. Metode among dikenal dengan metode pengajaran dan pendidikan berdasarkan Asih, Asah, dan Asuh. Among memiliki pengertian menjaga, membina, dan mendidik anak dengan kasih sayang, membimbing anak dengan ikhlas sesuai bakat dan minatnya, memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

Keterkaitan Visi Guru Penggerak dengan Nilai dan Peran Guru Pengerak

Visi guru penggerak harus mampu mencerminkan nilai dan peran dari guru penggerak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila sehingga guru penggerak haruslah memiliki nilai dan mampu menerapkan perannya sebagai guru penggerak, antara lain: menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, mendorong kolaborasi antar guru, menjadi coach bagi guru lain, dan mewujudkan kepemimpinan murid.

Sebagai guru, kita harus memiliki visi yang jelas menggambarkan seperti apa layanan dan lingkungan pembelajaran yang perlu diberikan pada murid. Keyakinan kita atas visi itulah yang terus membuat kita terpacu untuk melakukan peningkatan kualitas diri serta menguatkan kolaborasi di lingkungan sekolah sehingga menjadi upaya perbaikan yang berkesinambungan.

Tantangan bagi guru agar bisa memberi ruang pada semua murid untuk belajar dan mendapatkan pendidikan yang semestinya. Pembelajaran yang berpihak pada murid. Untuk itu, nilai-nilai dari guru penggerak seperti mandiri, reflektif, kreatif, inovatif dan berpihak pada murid semestinya melekat dalam diri seorang guru penggerak, agar mampu menjalankan perannya dengan baik demi mewujudkan visinya, yaitu 

Mewujudkan Generasi Unggul Berlandaskan Profil Pelajar Pancasila.

Untuk mewujudkan visi tersebut maka guru harus bisa memetakan kekuatan yang ada baik dari dirinya sendiri maupun lingkungan di sekitarnya. Bisa dari Kepala Sekolah, rekan sejawat, orang tua murid, masyarakat, sarana prasarana maupun murid itu sendiri. Setelah memahami peta kekuatan maka bisa menemukan strategi untuk melakukan perubahan mewujudkan mimpi menjadi nyata.

Inkuiri Apresiatif BAGJA

Apabila guru penggerak sudah memiliki nilai dan menerapkan perannya sebagai guru penggerak, maka akan mampu mewujudkan visinya. Visi tersebut akan tercapai bila terukur, konkret, sistematis dan terencana. Guru harus memiliki visi yang mengarah kepada perubahan, baik perubahan di kelas atau perubahan di sekolah. Untuk mencapai perubahan tersebut guru perlu mengenal pendekatan manajemen perubahan. Manajemen pendekatan perubahan sering disebut sebagai Inkuiri Apresiatif (IA) dengan tahapan bernama BAGJA.

Inkuiri Apresiatif adalah manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Pendekatan IA dapat dimulai dengan mengindetifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik. Untuk melaksanakan IA diperlukan sebuah strategi. Strategi itu dikenal dengan akronim BAGJA, yakni Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, dan Atur eksekusi.

Perubahan yang diharapkan tentu saja harus tetap mempedomani filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara. Bahwa pendidik hanya berperan sebagai penuntun murid menuju kodrat alam dan kodrat zaman. Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri, guru hanya bisa menuntun tumbuhnya kodrat tersebut. 

_________________

Tugas:
1.3.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.3

Muhamad Darmansyah, S.Pd.
SDN 15 Merah Arai
- CGP-6-Sintang 

Guru Penggerak di Masa Depan

Dimasa depan saya ingin menjadi guru penggerak yang selalu tergerak, bergerak dan menggerakkan ekosistem sekolah dan masyarakat sekitar untuk meujudkan pendidikan yang berkualitas dengan murid yang memiliki profil pelajar Pancasila. Ingin  menjadi Guru Penggerak yang mampu mengimplementasikan nilai-nilai dan peran guru penggerak, serta mampu mengimplementasikan kompetensi Guru Penggerak.

Nilai-nilai yang harus saya kuasai di masa depan adalah:

1. Mandiri

Saya akan selalu memotivasi diri sendiri u
ntuk melakukan perbubahan yang dimulai dari diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Perubahan harus disertai dengan rasa tanggung jawab yang sangat besar dengan apa yang telah ditugaskan, kreatif dan memiliki sifat inisiatif yang tinggi karena guru adalah role model bagi murid, untuk itu diharapkan memiliki kecakapan dan keterampilan yang patut ditiru. Nilai mandiri dengan rasa tanggung jawab dan penuh percaya diri terhadap perubahan nantinya dapat membuat saya berperan sebagai pemimpin pembelajaran.

2. Reflektif

Saya selalu mengevalusi diri terhadap apa yang sudah dicapai agar mengetahi kelebihan dan kelemahan yang bisa digunakan untuk proses perbaikan di masa yang akan datang. Menjadikan kelebihan dan kelemahan sebagai sarana menjadi guru yang lebih baik setiap waktunya. Semua yang terjadi tidak dibiarkan berlalu begitu saja, tetapi selalu mengambil hikmah. Reflektif yang dilakukan ini akan sangat berguna ketika menggerakkan komunitas praktisi.

3. Kolaborasi

Membangun hubungan kerja yang positif dengan semua pihak demi pengembangan proses pembelajaran dan memberikan kebermaknaan bagi dunia Pendidikan. Saling memberi pengaruh yang positif, berbagi ilmu dan pengalaman, membuka diri untuk jejaring yang akan dapat menambah pengetahuan dan wawasan baru sehingga saya dapat menjalankan peran guru penggerak yang kolaborasi atar guru.

4. Inovatif

Memiliki jiwa untuk melakukan pembaharuan dan menemukan gagasan cemerlang dalam mengatasi persoalan pendidikan. Berusaha selalu menemukan cara baru untuk diterapkan, sehingga pembelajaran tak terasa sebagai beban, tetapi tetap bermakna bagi murid, menggunakan berbagai sumber belajar, menyenangkan, dan sesuai dengan cara belajar murid serta melihat peluang yang ada di sekitar untuk mendukung ide orisinil demi menguatkan pembelajaran murid sehingga nantinya saya dapat menajdi coach bagi guru lain.

5. Berpihak pada Murid

Saya akan mengutamakan kepentingan perkembangan murid sebagai acuan utama dalam pembelajaran dan bukan pada pemuasan diri sendiri. Menuntun murid untuk mandiri dalam belajar,mengembangkan potensi dan membentuk karakter murid sehingga menjadi pribadi yang unggul, sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Melakukan pembelajaran yang asik, kreatif dan menyenangkan sesuai dengan konteks kearifan lokal. Dengan kemandirian murid, diharapkan dapat meujudkan kepemimpinan murid.

_____

Tugas 1.2.a.6. Demonstrasi Konstektual - Modul 1.2

Muhamad Darmansyah, S.Pd.
SDN 15 Merah Arai
- CGP-6-Sintang –

Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Anak dilahirkan sebagai manusia yang istimewa dengan segudang bakat dan minatnya. Bakat dan minat anak tidak selalu harus sama, dimana anak memiliki latar belakang yang berbeda, budaya, agama, suku, dimana semua itu mempengaruhi bakat dan minatnya. Dengan perbedaan-perbedaan tersebut maka anak harus dididik dengan cara yang sesuai dengan  tuntutan  alam, budaya, adat istiadat  dan zamannya  sendiri. Zaman abad 21 dengan teknologi seperti sekarang, pembelajaran berbasis IT sangat di depankan. Pendidikan kasih-sayang sangat diutamakan, tidak boleh ada lagi pendidikan dengan kekerasan.

Ki Hadjar Dewantara memilih metode among dalam mendidik anak. Metode among dikenal dengan metode pengajaran dan pendidikan berdasarkan Asih, Asah, dan Asuh. Among memiliki pengertian menjaga, membina, dan mendidik anak dengan kasih sayang, membimbing anak dengan ikhlas sesuai bakat dan minatnya, memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. 

Ki Hadjar Dewantara mengatakan: Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. keselamatan dan kebahagiaan tidak terlepas dari karakter atau budi pekerti yang baik.

Di sisi lain, Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. Dimana keluarga dijadikan sebagai komunitas terkecil yang menjadi dasar, modal untuk beranjak ke komunitas yang lebih besar yaitu masyarakat. Pendidikan dalam keluarga adalah kunci. Oleh karenanya peran keluarga tidak boleh dilepaskan dalam pembentukan budi pekerti anak, lebih-lebih sekolah dalam hal ini guru hanya mengambil peran sangat sedikit di sekolah dengan waktu yang sangat terbatas. Orang tua dan masyarakatlah yang paling banyak mengambil waktu dalam hal membentuk karakter atau budi pekerti anak.

Penting bagi Guru untuk memandang anak sebagai manusia yang istimewa, yang memiliki segudang bakat dan minat yang luar biasa dan juga berbeda-beda. Tugas Guru hanyalah menuntun mereka untuk mencapai kesuksesnya, mengeluarkan kekuatan yang ada pada diri mereka sendiri. Seperti anak yang berbakat di bidang musik, maka guru harus menuntun mereka untuk mencintai musik. Anak yang berbakat di bidang politik, guru menuntun mereka untuk menguasai ilmu politik dan mengaplikasikannya dalam mansyarakat.

Apa yang di sampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara masih sangat relevan dengan kondisi pendidikan di zaman sekarang bahkan pendapat-pendapatnya kerap dijadikan penuntun untuk membantu kesuksesan pendidikan yang lebih baik kedepannya. Seperti kemerdekaan dalam mengajar, belajar dan berbudaya, jauh sebelum Indonesia merdeka KI Hadjar sudah berulang-ulang menjelasknaya bahwasanya negara kita memiliki semua kekuatan itu. Silahkan mengadopsi sestem pendidikan barat, budaya barat, tetapi ingat, kita juga punya sistem yang bagus dan budaya yang kuat yang harus ditanamkan pada setiap jiwa anak-anak Indonesia karena adat istiadat itu adalah penuntun untuk keselamat dan kebahagiaan.

___

Saya percaya bahwa anak dilahirkan sebagai makhluk yang istimewa dengan bakat dan minatnya yang luar biasa, dengan kemampuan kecerdasan yang berbeda. Namun dalam pembelajaran di kelas saya masih berpacu dengan waktu dan fokus mengejar target materi dan terabaikan dalam menuntun budi pekerti anak untuk menjadi lebih baik.

Setelah mempelajari modul tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara, perubahan pemikiran dan perilaku saya  adalah dalam proses membelajarkan di kelas, sebagai guru harus mengutamakan keteladanan, karena melalui keteladanan yang baik lebih berpengaruh dari pada seribu ucapan yang kita ucapkan, dan dalam proses pembelajaran guru harus mengembangkan seluruh potensi siswa baik Cipta (kognitif) dan Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor) sehingga melahirkan anak yang cerdas,kreatif dan berbudi pekerti baik. Selain itu, proses pembelajaran hendaknya menyesuaikan dengan gaya belajar, gaya berfikir, minat dan bakat anak.

Yang segera bisa saya terapkan di kelas dari pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah melaksanakan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, efekif dan menyenangkan yang berfokus pada anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

___

Muhamad Darmansyah, S.Pd.
SDN 15 Merah Arai
CGP- 6 - Sintang, Kalbar

Buku Pertama

Catatan yang Tercecer
Tahun 2012 sewaktu mengajar anak-anak di pedalaman NTT, ada banyak sekali pengalaman yang saya dapat. Saya mulai mencintai dunia pendidikan berawal dari pulau Lembata. Biarpun kuliah di FKIP, waktu itu saya tidak ingin menjadi guru. Bagi saya kuliah adalah proses untuk dewasa dan merubah pola pikir saja. Program SM3T membuat saya mencintai profesi sebagai guru. Berdiri di hadapan anak-anak adalah sebuah kegembiraan.

Setelah satu tahun dilatih survival di Pulau Lembata, hidup tanpa listrik, air, dan sinyal. Selanjutnya ditarik kembali ke kampus untuk dilatih dalam program Pendidikan Profesi Guru (PPG) berasrama selama satu tahun pula. Tidak kalah serunya dengan belajar di pedalaman. Saat PPG, belajar dari pagi sampai sore ditambah program karakter di malam hari selama satu tahun hampir saja membuat kami stress, untung saja alam pedalaman telah melatih kami supaya lebih kuat dan tahan banting dalam keadaan apapun. Optimis dan tidak mengeluh adalah kunci untuk bertahan.

Proses yang panjang, mendapatkan pengalaman yang luar biasa, akhirnya kami kembali lagi ke pedalaman menjadi guru, namanya adalah Guru Garis Depan (GGD). Sejak akhir 2017 saya mulai bertugas di pedalaman Kalimantan Barat, hidup dengan masyarakat Melayu dan Dayak pedalaman. Masih sama seperti di Pulau Lembata, tanpa listrik, sinyal dan kali ini jalan TOL-nya adalah sungai. Jangan tanya soal nasionalisme, karena itu sudah mendarah daging. Pancasila dan Toleransi adalah makanan sehari-hari bahkan sudah khatam berkali-kali.

***
Dr. Sulaiman Tripa adalah Guru saya dalam menulis, meskipun tidak pernah belajar langsung dari beliau namun keteguhan, konsisten, semangat, kerendahan hati, dan lewat tulisan-tulisannyalah saya belajar dan terinspirasi. Momen peluncuran 44 buku karya beliau, waktu itu saya hadir. Saat itu semangat saya untuk menulis dan membuat buku ikut tumbuh dan mengalir dengan deras. Saya percaya bahwa semangat itu menular.

Buku ini merangkum pengalaman selama berada di Pulau Lembata, Borneo dan PPG di Banda Aceh. Menjadi pendidik itu sangat menyenangkan, apalagi menjadi pendidik di pedalaman, penghargaan setinggi-tingginya untuk para guru diberikan oleh masyarakat.

Sebagai orang yang sedang belajar menulis, saya tidak terlalu peduli, apakah buku ini bagus atau jelek. Layak atau tidak untuk dibaca. Bagi saya, yang terpenting teruslah menulis karena menulis adalah obat untuk menenangkan pikiran dan melepaskan beban.

Soal kemampuan menulis, seiring waktu akan berkembang menjadi lebih baik dengan sendirinya. Hanya soal waktu saja. Asalkan terus belajar dan berlatih.

Buku ini tidak dijual, jika ada yang ingin memilikinya cukup dengan mengganti biaya cetak saja. Berapa biaya dan bagaimana cara mendapatkan buku ini akan saya informasikan lebih lanjut.

Libur telah usai, pertanda sekolah telah tiba saatnya kembali bermain dengan anak-anak di pedalaman Kalimantan Barat sana. Nanti jika telah kembali ke kota kabupaten maka akan saya infokan. Tunggu ya.

Salam Literasi.

Mau jadi apa kau, Nak?

Dari kecil anak harus didekatkan dengan buku, dengan Al-Quran. Supaya waktu besar akrab dengan benda-benda tersebut. 

Buku membuat otaknya bergizi, pikirannya menjadi jernih. Al-Quran membuat hatinya menjadi bersih. Hidup dengan nilai-nilai Quran membuat jiwanya terbentengi dari roh jahat yang ada dalam buku. Saya tidak akan membatasi Firash dalam hal membaca buku, sila baca buku apa saja sekalipun buku yang dilarang pemerintah. Bagaimana kita bisa tahu kalau buku itu baik atau tidak jika tidak pernah membacanya? Otak boleh sama tapi cara kerjanya pasti berbeda apalagi dalam menyerap informasi.

Kata bundanya, gadget tidak baik bagi anak. Sehingga kami sepakat untuk menjauhkan Firash dari gadget sampai batasan umur tertentu. Saya khawatir jika Firash nantinya minta gadget untuk main game online. Matanya akan cepat rusak, tulang jempolnya akan rapuh dan pikiranya akan pendek. Lalu, dari mulutnya akan sering keluar nama-nama binatang ditambah kosa kata kotor dari planet Merkerius. Saya tidak mau itu terjadi. Maka sejak dini harus diantisipasi.

Dia lahir ditahun politik, dalam perseteruan memperoleh kekuasaan, sampai sekarang belum pun selesai. Barangkali ini pertanda kalau dia harus paham politik nantinya. Siapa tahu dia bisa jadi Presiden. 

Saya berharap dia menjadi Ulama yang Saintifik nantinya. Menyukai Sains, sastra, sejarah, filsafat, hukum dan mencintai Al-Quran. Namun terserah dia mau jadi apa, asalkan masuk surga.

Taman Baca dan POS Indonesia

Di sekolah, buku bacaan terbatas, hanya ada buku paket pelajaran. Buku paket pun tidak boleh dibawa pulang karena jumlahnya memang tidak cukup untuk dibagikan pada semua siswa. Lalu bagaimana anak-anak bisa membaca dirumah? Akses untuk buku sangat memprihatinkan, jika pun ingin membeli, tidak ada orang menjualnya. Jarak Desa dengan pusat kota membuat anak-anak tidak bisa membaca. 

Gerakan literasi nasional, dengungnya belum sampai ke Desa kami, hanya getaran-getaran saja, itupun baru sampai pada guru. Bagaimana caranya kehebohan literasi ini harus sampai pada anak-anak dan seluruh masyarakat desa, maka solusinya adalah taman baca harus berdiri di desa ini.

Tidak mudah menyakinkan masyakarat untuk bisa terbentuknya taman baca, hal yang asing dan pesimis bagi masyarakat akan adanya fasilitas bacaan hampir saja semangat gerakan literasi ini hancur lebur. Sebagai anak muda yang hidup di dunia yang keras, saya tidak boleh sedikitpun ciut, aku adalah petarung, gumamku.

Ilmu lobi dan negoisasi yang pernah saya dapatkan di organisasi dulu, saatnya harus dikeluarkan. Mempersiapkan konsep dan arah taman baca kedepannya secara maksimal. Menginvetarisir tokoh yang harus dijumpai dan beberapa strategi lainnya. Alhamdulillah, tidak butuh waktu lama, akhirnya Kepala Desa menyetujui dan mengijinkan mendirikan taman baca di desa. Kami beri nama Taman Baca Masyarakat Merah Arai.

Taman baca adalah kebutuhan yang sangat mendesak di desa kami, dengan adanya taman baca, anak-anak akan memahami banyak hal tentang ilmu pengetahuan yang selama ini tidak mereka dapatkan, kami tidak pernah melihat internet apalagi teknologi lainnya. Dengan hadirnya taman baca, anak-anak bisa menjelajahi dunia seperti orang kota pada umumnya.
Tempat untuk beraktivitas dan menyimpan buku sudah ada. Bukunya mana? Itu hal selanjutnya yang saya pikirkan. Free Cargo Literasi, sebuah program yang dicanangkan oleh para pegiat literasi yang bekerja sama dengan PT POS membuat mimpi anak-anak pedalaman untuk mengakses buku semakin mudah. Bayangkan saja jika mengirim buku tidak gratis, siapa yang mau mendonasikan buku? Program ini adalah anugrah yang luar biasa bagi pegiat literasi seluruh Indonesia.

Semenjak PT Pos Indonesia menggratiskan pengiriman buku setiap tanggal 17 setiap bulannya maka POS Indonesia menjadi BUMN yang paling dicintai dan diingat oleh para pegiat literasi juga anak-anak seluruh Indonesia terutama mereka yang berada di daerah-daerah pedalaman.

Sesuai dengan mottonya "menghubungkan yang tidak terhubung" PT Pos Indonesia telah menghubungkan anak-anak di pedalaman dengan anak-anak kota. Di Desa Merah Arai, desa yang berada di pedalaman Kalimantan Barat, sulit bagi anak-anak di desa ini untuk melihat dunia luar, dunia perkotaan, seperti melihat laut, mobil, jalan aspal, dan pasar. Kehidupan seperti di kota tidak pernah mereka lihat apalagi mereka rasakan.

PT Pos Indonesia telah mewujudkan mimpi para pegiat literasi dan anak-anak di pedalaman untuk bisa melihat dunia yang lebih luas sekalipun dunia yang mereka lihat dari buku. Semenjak taman baca masyarakat berdiri di desa Merah Arai, membaca buku adalah hobi bagi seluruh masyarakat desa ini. Tidak berkunjung sehari saja ke taman baca, ada rasa yang tidak enak. Candu buku mulai merebek pada para warga di desa ini, tidak hanya anak-anak, remaja,  bahkan orang tua. 

Biarpun buku yang mereka baca adalah hasil donasi teman-teman di seluruh Indonesia, baik perorangan maupun lembaga, namun yang paling mereka ingat adalah Pos Indonesia. Sekarang sudah lebih dua tahun Taman baca kami, telah memiliki 1500 buku dan majalah yang bersumber dari sumbangan para donator yaitu para pegiat literasi yang tak kenal lelah menyebarkan virus lietarsi sampai ke pelosok Indonesia khususnya Merah Arai. 


Sukadir, Guru Perintis yang Melegenda

Namanya Sukadir, guru SDN 15 Merah Arai. Kami biasa menyapanya Pak Kadir. Berparas tua namun masih berjiwa muda. Bulan Mei tahun lalu, dia pensiun. Boleh dibilang kami kehilangan teman yang lucu dan guru yang hebat. Tua-tua keladi, biarpun tua semangat mengajarnya makin jadi. Orangnya kreatif dan inovatif. Siapa saja yang memiliki pikiran terbuka dan optimis akan bersepakat dengan apapun yang dilakukan oleh pak Kadir.

Pak Kadir menjadi guru pada tahun 1980 setelah berhasil menyisihkan ribuan pesaing dalam seleksi guru PNS saat itu. Awalnya tidak begitu menyukai menjadi guru, karena hobi pak Kadir adalah bertani. Saat itu, Pak Kadir mengikuti tes secara bersamaan yaitu tes guru dan penyuluh pertanian. Saat pengumuman kelulusan, dua propesi yang di tes semunya lulus. Maka galaulah pak Kadir. Hatinya lebih memilih menjadi penyuluh pertanian. Akhirnya beliau menetapkan hati mengambil penyuluh pertanian dan meninggalkna guru.

Proses daftar ulang pun tiba. Dulu, untuk menuju kota Sintang dari Desa Merah Arai memakan waktu berhari-hari menggunakan sampan dayung. Pak Kadir melakukannya demi untuk menjadi PNS. Setibanya di kota Sintang, ada kabar kalau tempat pendaftaran ulang dilaksanakan di Pontianak. Maka termenung sambil menyerahkan diri pada Tuhan. Bagaimana caranya bisa ke Pontianak dengan waktu yang sesingkat ini. Tidak berhenti disitu, karena tekatnya menjadi PNS sangat kuat maka ditunggulah bus di pinggir jalan. Berjam-jam dan sampai berhari-hari bus pun tak kunjung tiba. Akhirnya pak Kadir menyerah dan mengurungkan niat menjadi Penyuluh pertanian dan kembali memilih menjadi guru.

SK pertama pak Kadir di SDN 15 Semadai. SD 15 Merah Arai sudah dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 1980, dan tahun 1981 masih kosong tidak ada siswa apalagi guru. Pada September 1982 pak Kadir dipanggil untuk pulang kampung dan mengajar di kampung halamannya. Beliau satu-satunya guru dan saat itu hanya menerima 1 kelas saja. Siswanya cuma 40 orang. Itupun jumlah yang didapat dari hasil jemput bola, atau dipaksa untuk mau sekolah.

Jaman dulu, masyarakat masih berpikir jika anak mereka sekolah, maka akan diambil oleh Belanda atau Jepang dan tidak akan pulang lagi ke kampung halaman, itu alasan orang jaman dulu tidak mau menyekolahkan anaknya. Mereka takut kehilangan anak. Pola pikir seperti inilah yang terus berusaha untuk dirubah oleh Pak kadir. Menjelaskan pentingnya sekolah, supaya harta tidak diambil orang lain, kita tidak ditipu oleh orang kota. Jika kita pintar maka bisa menjual hasil panen dengan harga lebih tinggi di kota dan kita bisa membangun desa dengan baik. Bahasa-bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh orang desa adalah jurus jitu yang digunakan pak Kadir. 

Pak Kadir ini akalanya banyak, mengunjungi dusun-dusun yang banyak anak-anak dan menjumpai orang tua mereka pada saat musim panen. Pada musim panen, orang sedang dalam keadaan senang dan bahagia sehingga apa yang ingin kita sampaikan akan didengar dan disambut dengan baik, setidaknya dipertimbangkan. Orang desa saat itu masih sangat hormat pada guru, sehingga jika ada guru yang datang ke rumah, ada dua tanda yaitu tanda berkah atau bahaya.

Hasil dari perjuangan pak Kadir jaman muda dulu sudah bisa dilihat sekarang. Banyak penduduk desa yang dulunya dipaksa sekolah sekarang sudah menjadi tokoh dan hidup senang. Ada yang menjadi kepala desa, PNS, petani sukses dan banyak lainya.

Sampai sekarang, pak Kadir masih menjadi orang yang dihormati di Desa, ingatannya masih kuat, matanya masih terang dan fisiknya pun masih kuat. Beliau menghabiskan masa tua dengan bertani dan mencari ikan di sungai. Rupanya, hamper 80 % masyarakat Merah Arai, nama mereka adalah hasil olah pikir pak Kadir. Begitu lahir anak, langsung tanya pak Kadir, siapa saya kasi nama?.


Hari Kemerdekaan yang Berbeda

Bimbingan edukasi dari Tim Mari Melihat 
Malam semakin gelap, suhu udara di desa Merah Arai mulai dingin. Seperti biasanya, meskipun siang panas, namun malam tetap dingin. Suara orang-orang terdengar jelas di arah seteher sungai. Suaranya seperti suara orang kelelahan. Ya. Jam 22.30 rombongan Komunitas Mari Melihat sudah tiba setelah menempuh perjalanan 10 jam menggunakan perahu menelusuri sungai kayan di musim kemarau.

Kali ini Desa kami kembali beruntung, nampaknya semakin terkenal. Banyak yang mengunjungi. Tahun 2018 yang mengunjungi adalah Komunitas Mari Melihat. Akhir 2017 lalu, desa Merah Arai dikunjungi oleh Tim Trans7, mereka meliput aktivitas masyarakat dan sekolah, wajah-wajah lugu masyarakat desa terlihat di TV dalam program, “Indonesiaku”. Mereka senang dan gembira melihat wajahnya nampak di TV. Tidak hanya itu, menyaksikan aktivitas peliputan pun sebuah hiburan yang tak terlupakan, maklum masyarakat kami adalah masyarakat pedalaman yang kurang hiburan, melihat alat-alat teknologi seperti drone, itu adalah hal baru dan aneh. Tapi tidak mengapa, yang penting masyarakat terhibur.

Komunitas Mari Melihat adalah komunitas sosial yang bergerak dalam bidang pendidikan, lingkungan dan kesehatan. Komunitas yang beranggotakan anak-anak muda yang berasal dari berbagai profesi ini rela meninggalkan kemeriahan hari Kemerdekaan RI di kota demi menikmati serunya merayakan hari kemerdekaan RI ke-73 bersama masyarakat pedalaman. Kata mereka, sensasi di pedalaman beda dan unik. Saat mengunjungi desa kami, mereka memberi judul “Backpacker to Share 2 Spesial Hari Kemeredekaan”. Di hari kemerdekaan kali ini, desa kami menjadi spesial.  Tidak tanggung-tanggung, Komunitas Mari Melihat memboyong pasukan sebanyak 26 orang, yang siap berbagi donasi, pengalaman dan ilmu untuk masyarakat dan pelajar di SDN 15 Merah Arai.

*****
Kata kepala Desa, 17 Agustus 2018, adalah hari sangat bersejarah bagi masyarakat Merah Arai, karena hari ini, perangkat desa, warga sekolah dan seluruh masyarakat melaksanakan upacara bersama dalam memperingati hari Kemerdekaan RI ke-73. Upacara bersama seperti ini sebelumnya belum pernah dilaksanakan. Momentumnya sangat indah, diinisiasi oleh Komunitas Mari Melihat sehingga bisa dilaksanakan upacara bersama. Kabarnya, upacara bersama dan dilanjutkan dengan berbagai perlombaan rakyat akan dijadikan kegiatan wajib di desa Merah Arai pada tahun-tahun berikutnya.

Setelah upacara, Komunitas Mari Melihat melakukan berbagai kegiatan edukasi kepada para pelajar, di akhir kegiatan juga dilakukan pembagian 100 paket pendidikan (tas sekolah dan alat tulis) untuk seluruh siswa SDN 15 Merah Arai. Disamping itu, mereka juga memberikan donasi berbagai alat bangunan untuk merehab bangunan sekolah yang rusak.

Masyarakat gotong royonh merehap sekolah
Sesuai instrusksi kepala Desa, seluruh masyarakat bergotong royong merehab tiga ruang kelas yang rusak, rapuh, kumuh dan hampir roboh, boleh di bilang tidak layak guna lagi. Kelas yang dulunya dijuluki kandang ayam, sekarang mulai menampakan keelokannya, meskipun keelokan ini tidak akan bertahan lama namun setidaknya telah mengobati sedikit kerinduan anak sekolah terhadap ruang kelas yang nyaman dan permanen. Semoga terbuka hati para pemangku kebijakan untuk membangun ruang kelas baru yang nantinya akan menjadi tempat belajar para generasi emas Merah Arai.  

Aktivitas Belajar di Taman Baca
Mendengar sedang gencarnya membudayakan membaca di desa Merah Arai, Komunitas Mari Melihat memberikan donasi 100 paket buku bacaan, alat permainan edukasi dan plang nama untuk TBM Merah Arai. Setahunan ini, desa Merah Arai, sedang gencar-gencarnya menyukseskan program Gerakan Literasi, gerakan ini dimulai dari Taman Baca Masyarakat (TBM) Merah Arai, sebuah taman baca yang digagas dan dikembangkan oleh seorang Guru Garis Depan (GGD) yang bertugas di desa Merah Arai. Belum setahun, gerakan ini berkembang dengan cepat. TBM Merah Arai telah memiliki 1000 lebih buku bacaan. Selain sebagai pusat membaca, TBM Merah Arai juga menjadi pusat edukasi masyarakat diluar sekolah, karena banyak melaksanakan berbagai program edukasi setiap harinya di Taman Baca.

*****
Desa Merah Arai sangat terkenal dengan keramahan penduduknya, desa yang indah dan permai. Tamu yang  datang akan dilayani bak raja. Tapi ingat, sopan santun dan tata krama sangat dijunjung tinggi di desa Merah Arai. Jika tidak percaya, tanyakanlah pada Komunitas Mari Melihat yang sudah berada 3 hari di Desa Merah Arai.

Terimakasih untuk donasi yang telah diberikan, semoga bermanfaat bagi masyarakat desa Merah Arai dan semoga menjadi amal ibadah bagi para donator. Jangan bosan-bosan berbagi, karena melangkah adalah membagi pijakan kepada tanah. Mari melihat, dan melangkahlah ke seluruh pelosok Sintang, di sana banyak hal yang perlu kita bagikan.

Merah Arai, 19 Agustus 2018

Anak dengan Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan Kinestetik
Sebelah Kiri:Okta Manasie
Namanya Ise, lengkapnya Okta Manasie,  anak yang lahir pada tanggal 16 Juni 2005, sekarang sudah berumur 12 tahun. Dia tercatat sebagai siswa kelas IV, dan dua kali tidak naik kelas. Ise dulunya lahir prematur,  usia kandungan ibunya tujuh bulan dan lahir dengan bobot 1 kg, kecil sekali saat itu, kata ayahnya. 

Di sekolah, Ise sedikit usil namun dia tidak begitu nakal. Ise tidak membuat kegaduhan hanya saja gerak geriknya sedikit mengganggu mata yang melihat, dia tidak bisa duduk diam dan selalu ingin bergerak. Cuek dan tidak sedikitpun peduli dengan pelajaran yang diberikan guru di kelas, jangankan mencatat atau menjawab pertanyaan guru, memperhatikanpun tidak. Dia asyik memperhatikan pekerjaan teman-temannya di kelas. Saking kesalnya dengan tingkah Ise, mau rasanya melempar dia dari luar jendela. Saat jam istirahat dia lebih banyak bermain bahkan semua permainan mau diikutinya, sangat aktif dan selalu menjadi pemimpin pada setiap permainan. 

Banyak orang pesimis dengan masa depan anak ini, termasuk orang tuanya sendiri, bagaimana tidak, sudah 12 tahun belum bisa membaca dan akan terancam tidak naik ke kelas V. Saya beranggapan sebaliknya, anak ini adalah mutiara, suatu saat nanti Ise akan menjadi orang hebat, hebat pada bakatnya sendiri. Bukankah Isaac Newton juga mengalami kondisi seperti Ise?. 

Ise adalah anak yang masuk dalam kategori kebutuhan khusus, dia harus dididik secara khusus pula. Di kelas, dia boleh tidak dijadikan pusat perhatian dan seyogyanya guru fokus pada siswa yang lain. Biarlah Ise menjadi pelengkap dan penghibur, namun di luar kelas dia harus menjadi pusat perhatian.

Setelah mengamati aktivitas Ise di sekolah dan di luar sekolah, saya mulai menemukan pintu kecerdasan dia, rupanya kecerdasannya adalah kinestetik (gerak). Setiap sore saya mengajak Ise bermain di rumah, sekedar santai-santai, memancing di sungai dan berkeliling Desa. Aktivitas-aktivitas psikomotorik ini saya selipkan dengan membaca dan berhitung. Kemanapun kami pergi, buku bacaan selalu dibawanya. Saya melihat perkembangan luar biasa, meskipun belum bisa membaca dan berhitung setidaknya Ise sudah punya modal besar yaitu kemauan untuk belajar. Catatan yang perlu diperhatikan dalam menangani Ise yaitu jangan pernah dipaksa, jangan biarkan dia jenuh dan beri kesempatan tubuhnya tetap bergerak. 

Kasus seperti Ise hanya ada satu-satunya di sekolah kami, saya mengambil peran untuk menanganinya. Biarpun saya belum cukup ilmu untuk menangani kasus seperti ini namun akan saya upayakan berbagai cara dan terus mempelajari berbagai metode dan ilmu yang menyangkut penanganan anak-anak yang berkebutuhan khusus,terutama anak seperi Ise. 

Target saya, semester depan Ise harus bisa membaca dan berhitung dan naik ke kelas V. Insya Allah berhasil. Amin.

Merah Arai, 3 Desember 2017

Ini Sekolah Bukan Kandang Ayam

SDN Sintang Kalbar
SDN 15 Merah Arai Kab. Sintang, Kalbar
Bangunannya sudah tidak layak, berlantai tanah, beratap seng, dindingnya mulai lapuk, sepintas jika tidak ada papan nama sekolah orang akan menyebutnya kandang ayam. Namun percayalah, bangunan itu adalah tempat kami belajar, tempat kami mengukir masa depan, tempat anak-anak hebat calon pemimpin masa depan menimba ilmu. 

SDN 15 Merah Arai, didirikan pada tahun 1980. Sekolah inilah yang membuat masyarakat bisa menghitung berapa jumlah dan harga getah karet yang mereka dapat setiap bulannya. Sekolah inilah yang membuat masyarakat bisa membaca visi dan misi calon kepala daerah dan Presiden. Sekolah ini adalah harapan bagi masyarakat di desa Merah Arai, harapan untuk hidup lebih baik. 

SDN 15 Merah Arai memiliki siswa keseluruhan 99 orang. Sekolah induk berada di dusun Mawang Manis, pusat desa Merah Arai, memiliki 6 kelas dan 6 orang guru (3 PNS dan 3 honorer), sedangkan kelas jarak jauh berada di dusun Pintas, memiliki 3 kelas yaitu kelas I, II dan kelas III, hanya memiliki 1 orang guru (honorer). Gurunya mengajar dengan kelas rangkap dengan pola pagi sore. 

Siswa di sekolah ini berasal dari 4 dusun yaitu Mawang Manis, Natai Bungkang, Pandau dan Pintas. Jarak dusun pandau ke sekolah 20 menit dengan berjalan kaki, sedangkan jarak dusun terjauh yaitu Pintas 90 menit. 40 persen siswanya berasal dari Pandau dan Pintas. Bayangkan, setiap harinya mereka menempuh perjalanan sejauh itu untuk menimba ilmu. Kasihan sekali anak-anak itu jika para guru tidak memberikan pelayanan yang prima dan pengajaran yang baik. Dosa besar rasanya. 

Kelas jarak jauh, baru didirikan pada tahun 2012. Jika tidak didirikan maka anak-anak di dusun tersebut tidak bisa sekolah. Seumuran anak kelas I sampai kelas III belum berani untuk datang ke sekolah induk dengan jarak 1.5 jam, orang tuanyapun tidak mau mengantar setiap harinya dengan kesibukan mencari rezeki di ladang dan kebun. Untuk mengatasi persoalan itu, maka didirikanlah kelas jarak jauh dengan berbagai kekurangannya. Setelah naik kelas IV barulah anak-anak di dusun Pintas belajarnya di sekolah induk. Jumlah mereka lumayan banyak, biasanya mereka pergi dan pulang sekolah bersama-sama. Rombongan Pintas menumpuh 70 menit ke dusun Pandau dan rombongan Pandau sudah menunggu dan mereka bersama-sama menuju sekolah induk dengan tambahan waktu 20 menit lagi. Bukankah seru sekali seperti ini? 

Jika banjir, biasanya anak-anak dari Pintas dan Pandau tidak bisa ke sekolah karena tidak bisa lewat. Jalan yang mereka lalui adalah sepanjang pinggir sungai. Jika melewati hutan, terlalu jauh dan banyak sungai-sungai kecil tanpa jembatan, mereka tidak akan mampu. Sekolah pasti kelihatan sepi tanpa anak-anak dari Pintas dan Pandau. 

Di sekolah kami, anak-anaknya cantik dan ganteng, namun sayang mereka ke sekolah banyak yang tidak menggunakan sepatu, baju yang dipakaipun kumal dan ada robek-robeknya. "Pakaian bukanlah kendala, tapi semangat belajarnya" kata anak kelas VI serempak. Saya angkat topi, salut. You are kid jaman now.

Mohon Bantuan fasilitas sekolah
mengintip dunia
Fasilitas bukanlah kendala untuk terus belajar. Panas seng dan uap dari tanah, kami anggap sejuk karena masih ada pendingin alam sepoi-sepoi yang keluar masuk dari lobang-lobang dinding. Kami dapat mengintip aktivitas belajar dari kelas lain. Jika ada anak yang sedang mengintip, begitu ditegur "apa yang kamu lihat? "saya melihat dunia tetangga pak, saya melihat Jakarta, ibu kota negara dan Pulau Sumatera". Begitu cara mereka menghibur diri. 

Di sini, saya belajar banyak, belajar dari anak-anak yang semangatnya dalam mencari ilmu melampaui semangat saya memberikan ilmu, saya tidak boleh kalah, setidaknya seimbang. Mereka bisa bahagia dengan kondisi seperti ini karena kebahagiaan bisa mereka ciptakan sendiri. 

Terkadang, untuk bisa bahagia kita tidak harus selalu melihat bentuknya, namun kita hanya perlu merasakan.

Merah Arai,  28 November 2017.

Menyiapkan Generasi Emas

Siswa Pedalaman Sintang
Generasi Emas dari SDN 15 Merah Arai
Ulang tahun Indonesia emas pada tahun 2045 diharapkan bangsa ini akan lebih maju. Tidak lama lagi, 28 tahun dari sekarang. Butuh kerja keras dan kerja cerdas dari semua pihak untuk mewujudkannya. 

Generasi sebelum reformasi yang katanya generasi cerdas, pada 2045 nanti tidak lagi terlihat, apakah masih hidup atau tidak. Jika masih hidup, paling sudah tidak sehat lagi. Lagi pula generasi yang sekarang menjadi leader di berbagai lini pemerintahan tidak juga mampu memberikan perubahan yang singnifikan terhadap bangsa ini. 

Generasi dibawahya, generasi pasca reformasi, generasi kritis dan tokoh perubahan, kita juga tidak bisa berharap banyak dari mereka, kenapa demikian? Karena ilmu, karakter dan metode kerja, mereka dapatkan lansung dari generasi di atasnya dengan cara meniru dan diwariskan. Mereka bersentuhan langsung dengan generasi tua. Pada akhirnya, mereka akan mengulang kegagalan yang sama dari senior-seniornya. Lalu, pada siapa kita berharap? 

Generasi Z, adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1994-2010, mereka sedang berada di bangku sekolah, mereka sekarang sedang dididik menjadi pemimpin masa depan, mereka tersebar di selurug Indonesia dari Sabang sampai Merauke, mereka tidak hanya ada di kota tapi banyak sekali di pelosok-pelosok Indonesia. Genedrasi Z yang berada di desa cendrung belum terkontamidasi dengan effek buruk jaman dan teknologi, effek yang dikenal dengan Kid Jaman Now versi negatif.

Jarang lini-lini penting bangsa ini diisi oleh anak-anak pedalaman Indonesia. Anak pedalaman banyak tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi, motivasi untuk sekolah apalagi kuliah sangat minim. Anak pedalaman tidak punya kesempatan dengan berbagai faktor penghambat untuk bisa mengakses pendidikan yang lebih layak dengan guru yang hebat seperti anak-anak kota pada umumnya. Ini yang membuat anak pedalaman sulit berkembang, bukan mereka bodoh tapi mereka belum mendapatkan kesempatan. Kesenjangan pendidikan di kota dan pedalaman masih jelas terlihat. Penerapan sila ke-5, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam bidang pendidikan belum terlaksana sebagaimna mestinya.

Bagaimana kalau anak pedalaman diberi kesempatan?  Mari kita uji coba dan lihatlah hasilnya nanti. 

Salah satu program nawacita Presiden Jokowi, membangun Indonesia dari pinggir, terkhusus di bidang pendidikan merupakan angin segar bagi kemajuan bangsa tercinta, ini langkah awal untuk memotong tembok pembatas antara pendidikan kota dan  pedalaman. September lalu pemerintah telah mengirimkan ribuan guru muda untuk bertugas di daerah terdepan, terluar, tertinggal dan terpencil. Guru-guru ini ditugaskan selamanya di sana. 

Mereka adalah guru muda yang nyalinya sudah teruji dan tahan banting dengan fasilitas dan alam pedalaman. Bersama guru-guru setempat, mereka akan menjadi katalis menuju Indonesia emas yang jauh lebih baik.  Para guru ini telah mewakafkan jiwa dan raganya untuk dunia pendidikan, mereka sudah berkorban banyak dan siap menjadi garda terdepan dalam menjaga bangsa ini dari kebodohan. Kita harus percayakan sepenuhnya pada mereka, kepada guru-guru pedalaman. 

Ada banyak Sekolah Dasar di pedalaman Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua sangat memprihatinkan, dengan fasilitas belajar seadanya dan jadwal sekolah semaunya. Banyangkan saja, di pedalaman, ada anak- anak SD yang mungkin sekolahnya mau ditutup, mau runtuh, sekolah yang tidak cukup guru, anak-anak yang hampir tidak mau sekolah lagi bahkan ada yang sudah tidak sekolah. Kasus-kasus seperti ini yang akan dihadapi oleh para guru dengan penuh kesabaran dan totalitas. Guru-guru ini akan menciptakan suasana di pedalaman sedemikian rupa sehingga tidak ada alasan bagi anak-anak di sana untuk tidak sekolah. 

Khawatirnya, niat baik dan kerja keras untuk kemajuan bangsa ini akan pupus oleh oknum-oknum jahat yang mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok lalu meletakkan uang di atas segala-galanya. Takutnya mereka berada pada posisi mempengaruhi dan pengambil kebijakan. Maka terhambatlah proyek masa depan yang mulia ini, hancurlah harapan anak-anak pedalaman, menderitalah pejuang-pejuang pendidikan di pedalaman dan kita akan berada pada masa di mana orang tidak bermoral mengatur bangsa ini.
Ayolah, mari dukung dunia pendidikan, mari pro daerah pedalaman, ciptakan infrastruktur yang layak di pedalaman, dan munculkan kebijakan yang pro pedalaman. Daerah pedalaman juga Indonesia, orang pedalaman mempunyai hak yang sama seperti orang kota dalam segala hal. 

Untuk para aktivis, politisi dan pemangku kebijakan. Mari kita bagi tugas. Kalian silahkan mengatur dan mengelola negara ini sebaik mungkin. Biarkan kami guru-guru yang menyiapkan pemimpin-pemimpin masa depan yang bermoral, hebat, dan cinta Indoneaia. Mari kita bersepakat untuk Indonesia yang lebih baik.
Tahun 2045 nanti semua lini bangsa ini, mulai dari tingkat kepala desa sampai Menteri banhkan Presiden akan di isi oleh anak-anak dari pedalaman. Kami ingin buktikan anak pedalaman juga hebat, cuma kesempatan saja yang belum mereka dapat. Sekali lagi, kami janji akan menciptakan manusia-manuaia hebat di masa akan datang. 

Selamat Hari Guru.

Sintang, 25 November 2017

Laboratorium Kehidupan itu Bernama Insan Cendekia

Out Bound
Outbound Penerimaan Siswa Baru 2017
Pertengahan tahun 2015 saya mengikuti seleksi dan diterima menjadi salah satu guru di MAN Insan Cendekia Aceh Timur. Sekolah ini adalah madrasah unggulan Kemenag yang fokus pada sains sehingga disebut madrasah akademik. Perpaduan IMTAQ dan IPTEK adalah keunggulannya disamping program Tahfidz. Konsep sekolahnya berasrama, perpaduan konsep pesantren dan sekolah umum. Siswanya hasil seleksi nasional dan berasal dari berbagai daerah di dalam dan luar provinsi. Di Indonesia, sekolah ini baru ada 20 buah yang tersebar di 20 provinsi pula. Targetnya ke depan, semua provinsi memiliki satu MAN Insan Cendekia. Semoga terwujud. 

Banyak hal ingin saya ceritakan tentang sekolah ini. Kali ini saya ceritakan tentang sebagian kecil saja. Sejak pertengahan 2017 saya ijin pamit tidak lagi mengajar para remaja hebat di MAN Insan Cendekia Aceh Timur dan mulai mengajar di tempat baru, yaitu mengajar anak-anak kecil di pedalaman Kalimantan Barat. Berhubung tidak lagi bertugas di MAN Insan Cendekia, saya ingin sedikit bercerita tentang sekolah tersebut, jika masih di sana dan bercerita, maka terkesan ada keberpihakan dalam cerita nantinya. 
                                      *****
Jika mau tahu seleksi siswa baru paling fair, murni dan jujur untuk dapat diterima pada sebuah sekolah maka merujuklah pada MAN Insan Cendekia. Saya terlibat selama dua kali dalam kepanitian penerimaan siswa baru yaitu tahun kedua dan ketiga. Saya kagum dan salut melihat prosesnya. Hanya kekuatan intelektual dan bantuan Allah-lah yang bisa membuat seorang anak bisa lulus. Kekuatan pejabat, orang dalam atau kekuatan uang dapat terabaikan dan tidak berlaku. Proses seperti inilah yang akan berdampak pada karakter generasi Indonesia kedepannya. Generasi jujur yang didapat dari proses yang jujur pula.

Siswa di MAN Insan Cendekia adalah pejuang tangguh, belajar agama dipadukan dengan sains adalah makanan sehari-hari. Pembinaan karakter di asrama tidak pernah terlewatkan. Fisiknya kuat, mentalnya dahsyat, mengeluh hampir tidak pernah. Saya banyak belajar dari anak-anak di sana tentang pertemaMinan, seni, dan kreativitas. Tentang ketangguhanpun tidak sedikit saya belajar dari mereka.

Lingkungannya humanis. Budaya gotong-royong, bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk kesuksesan bersama masih berlaku di sekolah ini. Apapun yang dilakukan, hasilnya adalah untuk kepentingan bersama. Maka jangan heran, jika ada event apa saja di MAN Insan Cendekia, baik event OSIM atau sekolah, guru selalu sibuk membantu ini itu dan anu. Tidak enak badan, jika mereka tidak ikut terlibat, malu hati rasanya. Terkadang bukan tanggungnya namun tetap ikut membantu. Padahal setiap kegiatan sudah ada panitianya dan dibentuk secara bergilir, ditambah panitia tersebut diberikan honor. Menariknya, bukan soal ada tidaknya honor, bukan materi yang dikejar melaikan kepuasan hati melihat sebuah event yang dibuat bisa sukses. Bahagia tak terkira. Guru-gurunya masih muda, ganteng dan cantik-cantik. Semangat dalam bekerja, ikhlas dan totalitas. 

Bagi saya, sekolah ini adalah tempat berkumpulnya orang-orang hebat, rugi rasanya jika saya tidak menerima manfaat dari orang-orang hebat tersebut. Sebagai anak muda yang haus akan ilmu dan pengalaman, saya belajar dan melakukan  banyak hal diluar kewajiban sebagai guru yaitu mengajar. Di luar jam mengajar, saya lebih banyak nongkrong di ruang Tata Usaha. Melihat dan mengamati apa yang para staf kerjakan di sana, sesekali saya bertanya tentang yang mereka kerjakan. Terkadang saya ikut membantu pekerjaan teman-teman di sana dalam hal mengurus kertas-kertas negara. Sepintas orang melihat, saya hanya buang-buang waktu menyibukkan diri. Orang tidak tahu, di ruangan Tata Usaha inilah semua hal tentang sekolah dikerjakan. Ia adalah pusat sebuah lembaga, yaitu sekolah. Semua hal tentang sekolah, di sini mulanya. Kabar baiknya, saya berhasil mendapatkan ilmu di ruangan ini, mulai dari tentang surat menyurat, masalah tata kelola uang negara, dan administrasi lainya. Orang-orang di ruangan ini dengan senang hati mengajari saya dan saya menerima pengalaman yang luar biasa. 

Tidak hanya itu, saya juga sering ikut Bang Aiyub yaitu staf teknisi di MAN IC Aceh Timur. Bang Aiyub ini tugasnya adalah menjamin proses belajar mengajar dan kehidupan di sekolah berjalan dengan lancar. Mulai dari menjamin ketersediaan air di setiap tempat yang sudah di sediakan, Air Conditioner di dalam kelas dan asrama, listrik harus tetap stabil dan semua yang berurusan dengan pertukangan. Manfaat menemani dan ikut serta membantu teknisi bekerja, di samping mendapatkan pahala, juga mendapatkan ilmu. Ilmu pertukangan adalah skil khusus, mendapatkannya harus kursus dan harus bayar mahal. Saya mendapatkan ilmu ini dengan gratis. Terkadang juga mendapatkan gratis kopi dingin pake susu sebagai bonus sudah membantu bekerja. 

Saya pernah bekerja atau magang di beberapa sekolah, pernah bergabung dengan beberapa organisasi. Saya mengamati dan merasakan bahwa tidak ada yang spesial dengan gaya kepemimpinan atasan saya. Biasa-biasa saja. Di MAN Insan Cendekia Aceh Timur saya melihat dan merasakan hal yang berbeda. Kepala Sekolahnya adalah Pak Shulfan, masih muda dan istrinya juga cantik. Gaya kepemimpinannya luar biasa menurut hemat saya, tenang tapi pasti. Tidak menyakiti, dan selalu memberikan teladan kepada para stafnya. Pak Shulfan tidak pernah menganggap bawahannya sebagai anak buah melainkan sebagai teman bekerja, Saat memperkenalkan anak buahnya kepada orang lain, beliau sering menyebutnya sebagai staf ahli. "Kenalkan, ini namanya sifulan, staf ahli saya di sekolah". Manusia mana tidak senang jika diperlakukan seperti itu, merasa sangat dihargai. 

Keterbukaan soal anggaran sekolah, hanya di MAN Insan Cendekia saya merasakannya. Para pimpinan, termasuk bendahara tidak sungkan bercerita bahkan mendiskusikan anggaran sekolah mulai dari berapa, kemana dan untuk apa. Bahkan kertas yang di dalamnya terpampang jelas semua angka-angka rupiah terletak manis di atas meja tanpa tersembunyi sedikitpun. Akses untuk mengetahui anggaran sekolah sangat mudah sehingga para guru tidak kesulitan dalam menyusun program di sekolah, apalagi mereka selalu dilibatkan. 

Menariknya, kepala sekolahnya ini mampu menempatkan diri sesuai kondisi dan situasi. Kapan harus menjadi pemimpin, kapan menjadi abang, kapan menjadi ayah dan kapan menjadi teman. Beliau tidak kaku, sehingga para guru dan staf tidak merasa takut berhadapan dengan kepala sekolah. 

Budaya semangat, kerja keras, totalitas dan ikhlas masih awet di sekolah ini. Semoga terus begitu. Akan banyak lahir orang-orang hebat dari MAN Insan Cendekia ini. Para pemimpin yang cerdas dan berakhlakul karimah. Pemimpin yang hatinya tidak lepas dari Al-Quran dan peduli pada banyak orang. Generasi inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin pada tahun 2045 yaitu tahun emas Indonesia. MAN Insan Cendekia sedang mempersiapkannya.

Arti sebuah kehidupan, kebahagiaan dan cinta banyak saya dapatkan di sekolah ini. Pengalaman yang hebat, pembelajaran yang kuat, dan tempat mengekspresikan ilmu yang didapat, sehingga saya menyebutnya sebagai laboratorium. Ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan sangat berguna sekarang,  bahkan sudah dan akan saya terapkan di manapun saya berada. Terimakasih banyak kepada MAN Insan Cendekia Aceh Timur telah memberi kesempatan untuk belajar banyak hal, terimakasih pengalamannya dan terima kasih doa-doanya. Doakan supaya saya menjadi pribadi yang tidak lepas dari prinsip Al-Quran dan Hadis. Pribadi yang terus berbuat untuk kemaslahatan umat, berbuat yang terbaik pada bangsa tercinta terutama dunia pendidikan. 

Sintang, 07 November 2017

Memiliki Karakter Introvert, Salahkah?

Introvert adalah kelebihan
Saya sangat terkejut ketika ada teman yang menghardik saya dengan “Karakter Introvert”, katanya saya memiliki karakter itu sehingga sulit menemukan jodoh yang dibuktikan tak kunjung menikah. Katanya karakter introvert jarang sekali berinteraksi dengan dunia luar, pemalu, pendiam, susah berbicara sehingga sering ditikung oleh orang lain. Maybe yes maybe no!.

Karena yang menghardik adalah orang yang saya anggap luar biasa dari berbagai segi terutama keilmuannya maka saya harus berusaha memahami maksudnya. Bagi saya introvert adalah istilah baru, saking penasarannya dengan istilah itu 14 artikel psikologi dari berbagai sumber telah saya baca. Rupanya karakater introvert tidak 100 % ada dalam diri saya, ada juga karakter extrovert, kalau diangkakan 60:40. Dan lebih bijak mengatakan kalau kedua karakter itu ada dalam diri saya sehingga dinamakan dengan ambievert. Memilih membela diri dengan tulisan ketimbang dengan kata-kata adalah salah satu ciri introvert. Tidak masalah, saya sedang memposisikan diri sebagai introvert.:)

Satria Gumilang mengulas panjang lebar tentang introvert dan ia meyakinkan semua orang kalau introvert bukanlah penyakit atau kekurangan yang harus dirisaukan namun introvert  adalah anugrah, tercermin dari kalimat pembuka yang ia gunakan: 
Ada sosok penyendiri di antara orang-orang yang sedang bergumul. Ada sosok pendiam di antara sekelompok orang yang sedang berinteraksi. Ada sosok yang terlihat serius di tengah keadaan yang tenang. Ada juga sosok yang terlihat acuh di tengah suasana yang tegang. Sosok ini berbeda, tak seperti kebanyakan orang. Namun ia bukanlah pemalu ataupun seorang yang berpenyakit, tetapi ia justru sedang memerhatikan. Ia sedang menganalisa keadaan. Ia seorang Introvert.  
Introvert adalah karakter manusia yang lebih cenderung menutup diri dari kehidupan luar. Mereka adalah pribadi yang lebih banyak berpikir, imajinasi mereka tinggi. Mereka mampu melihat suatu hal dari segi manapun. Orang dengan karakter introvert jarang bercerita bahkan lebih suka mendengarkan orang bercerita. Mereka juga lebih senang mengamati dalam sebuah interaksi, berpikir dulu baru berbicara/melakukan. Bagi orang introvert diam bukan berarti tak mengerti atau tak peduli, tetapi mereka sedang menganalisa.

Introvert juga lebih mudah mengungkapkan perasaan dengan tulisan. Mereka senang menjelajahi ruang pikirnya, membaca buku, menonton tayangan yang dapat mengasah otak, karena mereka haus segala hal yang berbau informasi, mereka juga senang dengan kegiatan yang tenang seperti bermain komputer, memancing, bersantai, mendaki gunung dan sebagainya.

Xtrovert adalah kebalikan dari introvert. Karakter extrovert lebih cenderung membuka diri dengan kehidupan luar. Mereka adalah pribadi yang lebih banyak beraktifitas dan lebih sedikit berpikir. Mereka juga orang-orang yang lebih senang berada dalam keramaian daripada di tempat yang sunyi. Mereka lebih senang bercerita daripada mendengarkan orang bercerita, lebih senang berpartisipasi dalam sebuah interaksi, suka berbicara atau melakukan dulu baru berpikir, dan mereka lebih mudah mengungkapkan perasaan dengan kata-kata.

Ada fakta menarik bahwa banyak tokoh-tokoh dunia yang luarbiasa, rata-rata memiliki karakter introvert seperti  Albert Einstein, Mahatma Ghandi, Bill Gates, Michael Jordan, Julia Roberts, Nicole Kidman, Abraham Lincoln, J.K Rowling dan banyak lagi tokoh besar lainnya. Mereka mampu membuktikan bahwa dunia pun membutuhkan mereka. Saat tak dibutuhkan mereka menjadi orang biasa, namun saat keadaan genting mereka berubah menjadi sosok yang luar biasa. Mereka adalah sosok luar biasa yang telah mengubah dunia dengan karyanya.

Tidak salah apa yang dikatakan oleh Ahli psikologi seperti Mihaly Csikszentmihalyi dan Gregory Feist yaitu: orang dengan karakter introvert adalah orang dengan kreatifitas berkelas nomor satu. Faktor ini terjadi karena mereka dapat menyelam penuh ke dalam pemikirannya. Membaur bersama intuisi dan ketenangan yang bersinergi dengan sunyi. Itulah syaratnya agar dapat menciptakan sebuah maha karya. Biasanya seorang introvert gemar menulis. Karena dalam menulis mereka dapat lebih terbuka dalam mempresentasikan pikiran ataupun membagikan pengalamannya kepada orang lain.

Albert Einstein pernah menulis sebuah kalimat yaitu “Aku benci keramaian banyak orang dan harus berpidato. Aku benci disorot kamera dan harus menjawab berondongan pertanyaan. Kenapa popularitas mencengkeram aku yang seorang ilmuan yang selalu berurusan dengan hal-hal abstrak dan merasa bahagia bila sendirian. Sebuah manifestasi psikologi massa yang berada di luar jangkauanku”. Ya, inilah salah satu isi hati seorang introvert, sendiri berada ditempat sunyi bagi mereka adalah kebahagiaan.

So. Introvert dan rasa malu tidaklah sama. kepribadian introvert terlihat pemalu karena mereka cenderung berpikir sebelum berbicara, serta memproses sesuatu secara internal, berbeda dengan ekstrovert yang lebih spontan dalam mengungkapkan sesuatu. Jadi begitulah teman. 

Pastinya, tidak salah memiliki karakter introvert karena itu adalah kelebihan yang harus disyukuri, hanya sedikit kekurangan pada karakter ini.  

Jadi, Apa karaktermu? Introvert, Xtrovert, atau Ambievert?

#Sabtu, 7 Mei 2016.

Setelah Ini Mau Jadi Apa?

Kegembiraan Saat Yudisium PPG SM3T 2015
Kegembiraan Saat Yudisium PPG SM3T 
Kemarin Unsyiah melaksanakan yudisium terhadap 133 guru dalam program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Tidak hanya Unsyiah, ada 20 LPTK seluruh Indonesia juga melakukan hal yang sama. Meluluskan guru-guru yang telah digemleng, dididik dan dibina selama satu tahun dalam program PPG dan sebelumnya mereka telah dilatih ketahanmalangan selama satu tahun di pedalaman Indonesia. Guru-guru ini adalah angkatan ketiga setelah sebelumnya para LPTK telah meluluskan dua angkatan. 

*****
Untuk angkatan yang baru lulus, ada satu pertanyaan, setelah ini, mau jadi apa?. Saya juga berada di bagian ini setahun yang lalu dan telah mengajukan pertayaan “setelah ini mau jadi apa?” pada diri saya sendiri yaitu pada bulan ketiga saat sedang kuliah PPG. Saya khawatir sekali setalah PPG akan mengalami masalah yang sangat ditakuti oleh orang-orang yang baru selesai studi yaitu “menganggur” sehingga harus menanyakan pertanyaan itu untuk memacing kerja otak dalam menganalisa masa depan.

Kita semua tahu, siapa saja yang kuliah di FKIP dan ingin menjadi guru maka akhir dari mimpinya adalah PNS. Kecuali kuliah di FKIP tapi tidak mau menjadi guru, hanya menjadikan FKIP sebagai batu loncatan saja. Oke, itu tidak masalah. Dewasa ini mulai dikampanyekan jika ingin menjadi dosen maka harus kuliah S2 dan jika ingin menjadi guru harus kuliah PPG dan memiliki sertifikat pendidik. Karena untuk seleksi guru kedepan semua peserta seleksi harus memiliki sertifikat pendidik sebagai syarat mutlaknya. 
******
Dalam dua hari ini timeline facebook di laptop banyak dibanjiri dengan euforia kelulusan peserta PPG 2016, ucapan terimakasih dan rasa syukur menghiasinya. Saya cuma mengucapkan selamat, semoga berkah, semoga gelar barunya dapat digunakan dengan baik. Mulai minggu depan, setelah euforia ini berakhir, saya pastikan masa-masa galau akan menghampiri manyoritas alumi PPG. Masa-masa bosan, jenuh, sentuk, dan rasa gengsi mulai megindap. Apalagi jika sanak famili mulai ada yang bertanya, ngajar dimana sekarang?, kerja dimana sekarang?. Saya ingatkan, janganlah menjawab dengan jawaban yang belum pasti kebenarannya seperti “saya sedang menanti GGD beberapa bulan lagi!” jika dijawab seperti itu maka anda masuk dalam golongan korban PHP paling sadis.

Mari kita berandai-andai. Alumni PPG skil utamanya adalah mengajar, kecintaan menjadi seorang guru tidak diragukan lagi, setahun di pedalaman selama SM3T dan satu tahun kuliah profesi guru berasrama, saya pikir sudah sangat cukup matang. Pertanyaannya adalah, mau mengajar di mana sekarang? Ada banyak guru honor yang menguasai sekolah, guru-guru PNS yang sudah sertifikasi dimana mereka banyak yang tidak cukup jam mengajar dan terus mencari jam tambahan di sekolah-sekolah lain. Nah, datang kita alumni PPG ke sekolah minta jam mengajar, apakah sekolah mau terima? Mereka akan mikir-mikir juga.

Lalu apa solusinya? Solusi ada pada diri kita masing-masing. Ingatlah bahwa rezeki itu sudah Allah jamin untuk hambaNya. Setiap kita pasti mempunyai skil yang luar biasa, tidak hanya mengajar, ada banyak skil lain yang bisa dikembangkan. 

Supaya tidak kecewa mulailah berpikir dan tanamkan dalam hati yang paling dalam “PNS itu bukan akhir segalanya”. Ada banyak pekerjaan lain yang mendatangkan rezeki yang halal, apa saja, yang penting kita senang dan bahagia dalam menjalaninya. Cobalah menciptakan kebahagiaan sendiri dengan cara kita sendiri. Jika tidak, maka anda akan masuk dalam golongan orang-orang yang putus asa dan ujung-ujungnya akan menjurus ke prilaku kriminal. Selamat mencoba!.

[Minggu, 28 Februari 2016]