Ketika Cinta Kandas di Mahar

Jelamei
Tadi pagi bertemu dengan seorang kawan yang telah lama menghilang. Kawan yang sangat ahli dalam merayu perempuan bahkan kami menjadikan dia sebagai tim ahli dalam dunia percintaan. Kawan ini mempunyai kisah cinta sangat menarik dan mengharukan kadang-kadang juga mengerikan. Sikawan telah membangun cinta dengan perempuan pujaannya sejak sama-sama kuliah di semester IV dan Alhamdulillah sampai sekarang, totalnya 7 tahun mereka memadu cinta dari dua hati yang berbeda. Cinta mereka sangat luar biasa, aku sempat mengeluarkan statement “Cinta mereka akan berakhir di pelaminan”. Tau apa yang terjadi? Mari aku ceritakan.

Tidak ada angin dan hujan juga petir, sikawan menelponku pagi-pagi sekali ”Broe, bagun. Solat subuh, abis itu aku jemput kita sarapan pagi bareng. Ada proyek besar nih”. Tumben dia bagun pagi, apa udah taubat. Gumamku. Ahh, aku tidak mau berpikir negatif, bergegas Solat Subuh dan mandi. Ini adalah rezeki, telat bangun pagi rezeki dipatok ayam. Itu yang ada dalam pikiranku.

Sikawan sudah di depan rumah, dan kami menuju ke sebuah warung kopi. Sembari menanyakan kabar, secangkir kopi dan nasi pagi dengan penuh semangat sikawan menceritakan kisahnya. Lebih tepatnya dia curhat. Kau lebih layak mendengar cerita ini, biarpun minim pengalaman namun kau punya teori bijak dalam kasus ini. Cetus sikawan. Waeow. Aku semakin penasaran.

Baik, silahkan cerita, Insya Allah aku bisa bantu. Lalu sikawan menceritakan kisahnya dari A sampai Z. Aku mendengar dengan saksama dan mulai paham apa yang terjadi. Jujur, aku gak bisa kasi solusi. Kasusnya rumit, resikonya besar, jika salah memberikan solusi maka tambah runyam. 

Kira-kira begini potongan dari cerita sikawan dan potongan ini merupakan inti dari permasalahannya. Mari baca: 

Sikawan mencerya calon mak tuan dengan gagah berani “Jika anakmu sudah berumur 26 tahun, masikah kau bersikeras mempertahankan mahar 20 manyam? Ini semua demi siapa? Demi adat? Demi harga diri? Atau demi anakmu? Ibu. Kalau memang menolak, katakana saja!. Dan aku pun akan mengatakan demikian pada anak perempuanmu. “Dek, sepertinya cinta kita tidak bisa dilanjutkan lagi? Lho, kenapa bang?” Ibumu telah menjual kamu seharga 20 manyam tanpa kurang. Emangnya kamu barang dek?” Propokasi.

Aku pun mikir, banyak kali alasan kawan ini. Laki-laki sekarang mulai pandai beretorika dalam hal jelamei, banyak hal dijadikan alibi pembenaran sang lelaki. Ini lah, itu lah, begini lah dan begitu lah. Yang penting mahar perempuan harus murah. Sampai-sampai sikawan berasumsi ada adegan jual-beli dalam detik-detik menuju pernikahan. 

Mahar yang besar seharusnya dibarengi dengan kualitas seorang perempuan itu sendiri, seperti “barang mahal”, kualitasnya pasti bagus, berarti dia menutup auratnya, akhlaknya baik, enak dipandang dan pastinya bisa menjaga diri. Namun jangan sampai mahal tapi kualitas palsu atau murahan, seperti perempuan yang tidak menutup auratnya, tidak menjaga akhlaknya, bebas pacaran, dan banyak sidik jari laki-laki di tubuh (Sering disentuh). Ini adalah perempuan mahal yang palsu, aslinya murah, bungkusnya pun murah, kualitas jelek sehingga gampang dibuka dan dicoba. 

Bukan bermaksud menganggap perempuan sebagai barang. Cuma perumpamaan. Tapi, kalau dipikir-pikir udah kayak barang juga sih. Mematok 20 manyam, setelah tawar-menawar gak boleh kurang. Apakah itu bukan seperti barang yang diperjualbelikan? Jika ada yang menjawab: bukan, ini ajaran Islam, menikah harus menggunakan mahar. Iyaa, betul. Tapi mahar dalam Islam kan tidak harus memberatkan. 

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi Shallallaahu‘alaihi Wasallam bersabda: “Diantara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.” (HR. Ahmad).

Kalau pun jumlah mahar besar adalah adat. Apakah adat tidak bisa dirubah? Tentu bisa dong demi kemaslahatan. Peninjauan Kembali (PK) dalam bahasa Hukumnya. Semua bisa dirubah keculai Al-Quran dan Hadis. 

Kalau mau jujur. Ketahuan, lelaki yang selalu protes prihal mahar adalah lelaki yang belum mapan tetapi kebelet mau nikah. Lelaki mapan akan selalu siap berapun mahar yang ditentukan. Apapun akan dilakukan untuk mendapatkan sang pujaan hati belahan jiwa tercinta. Jangankan 20 manyam, 1000 manyam pun akan disiapkan. Ini baru lelaki hebat.:D
*****
Hmmmem. Kembali lagi ke cerita sikwan. 

Selidik demi selidik rupanya semua ini adalah modus sikawan aja yang menjadikan mahar sebagai alasan, padahal dia berkecukupan dengan pekerjaan sebagai pengusaha muda, 20 manyam bukanlah perkara sulit. Lalu, apa motifnya?, Sikawan sudah mendapatkan perempuan baru yang lebih bahenol dari perempuan sebelumnya. Menjadikan mahar sebagai alasan untuk bisa meninggalkan perempuan yang telah dia pacari selama 7 tahun lamanya. Bajingan bukan?.

#Darbe. Jambo Tape, 30 April 2015.

Sepucuk Surat

dyahelokwirdaningsih.wordpres.com
Setiap orang pasti pernah mendapatkan sepucuk surat, entah dari siapa terserah. Aku pernah jadi anak SMA dan kau pun pernah. Ketika handphone belum ngetren dikalangan anak SMA pada masa itu maka surat adalah pilihan terbaik. Beda dengan sekarang, semua serba canggih, semua menjadi gampang dengan hanya klik Ctrl+C lalu Ctrl+V maka klik Send to dan pesan akan diterima, itu teknologi email namanya. Akan lebih mudah lagi menggunakan Handphone dengan sejuta aplikasinya seperti facebook, BBM, WhatsApp, Line, Messenger dan lain sebagainya, tinggal ketik beberapa tulisan lalu kirim, hanya butuh beberapa detik saja maka orang yang kau tuju akan menerima pesanmu. Mudah bukan?. 

Sayangnya kau tidak akan pernah tau apakah pesan itu berasal dari pengirim aslinya atau ada orang lain yang membajak Handphone si pengirim dan apakah pesan itu benar-benar pengirim yang tulis atau berasal dari copy-paste pesan orang lain. Itulah kelemahan dan kebohongan pesan didunia modern sekarang, sulit untuk mengetahui keasliannya. Makanya, aku memberi nilai 90 kepada orang yang mau menulis sepucuk surat (pesan) menggunakan tulisannya sendiri.

Kau pernah menulis surat? Pasti pernah, surat ijin tidak masuk sekolah untuk ibu guru, surat ancaman untuk musuhmu, atau surat cinta untuk orang yang kau suka. Kau ingat-ingat sendiri surat mana yang pernah kau tulis. Aku ingin ceritakan ketiga surat itu karena aku pernah menuliskannya.

Surat adalah sarana komunikasi untuk menyampaikan informasi tertulis oleh seseorang kepada orang lain, kira-kira begitulah definisi surat menurut orang yang pernah mendapatkan nilai Bahasa Indonesia 4 (empat) ketika SD dulu. Ya, karena aku masih berumur 7 tahun masa itu. Pulpen pilot warna hitam adalah pulpen yang paling aku suka, ujungnya runcing sehingga membuat tinta keluar dengan ringan tidak membanjiri kertas. Sampai sekarang aku masih setia menggunakan pulpen yang bermerek pilot untuk menuliskan sesuatu di kertas. Merobek buku di halaman tengah merupakan solusi paling bagus untuk anak-anak seumuran aku dan sampai sekarang juga begitu, lalu bagaimana kalau tidak ada lagi bagian tengah dibukumu karena sudah terisi habis oleh catatan dari ibu guru? Aku selalu memintanya kepada teman perempun karena mereka pasti punya banyak buku tulis, satu buku untuk catatan dan satu lagi untuk latihan. Jangan pernah berharap kepada anak laki-laki pada masa itu karena mereka tidak bakalan punya banyak buku. Paling satu buku untuk lima pelajaran.
*****
Surat Untuk Ibu Guru

Setiap orang pernah menulisnya dan kadang-kadang orang tuanya yang menuliskan. Aku tidak begitu, setiap tidak sekolah karena ijin atau pun sakit aku selalu menulis surat sendiri dan meminta ibuku untuk menandatanganinya. Nah, kenapa harus ibuku? Kau tidak akan percaya, ibuku memiliki tandatangan yang sangat cantik, ya mungkin secantik dirinya ketika dia masih muda dulu. mungkin karena tandatangan ini ayahku tergila-gila dan jatuh cinta pada gadis yang terpaut beberapa tahun darinya.

Surat untuk Musuh

Kau punya musuh? Pasti punya. Aku tidak, aku tidak menganggapnya musuh, cuma aku tidak suka saja kepada dia yang selalu sok jago, sok hebat dan juga sok preman. Dia adalah seniorku di sekolah. Aku menamakannya sebagai pesan teror. Sama seperti jaman sekarang, seperti yang dilakukan oleh pejabat di negara kita ini. Jika tidak suka pada seseorang maka akan menerornya dengan berbagai cara salah satunya dengan pesan SMS berbentuk ancaman pembunuhan dan bentuk ancaman menakutkan lainya. Aku juga melakukannya masa itu. Kau tau sendiri, ketika itu sedang banyak tentara di kampung kita,Ibu Megawati memberi nama Darurat Militer. Semua orang takut pada tentara apa lagi anak sekolah yang baru beranjak remaja seperti kami. Karena alasan tidak suka dengan kakak kelas yang selalu mengganggu kami, maka aku menuliskan surat kaleng dengan nada ancaman dan aku selipkan di sepeda motor target. Setelah surat itu aku kirimkan, nampaknya ada perubahan pada tingkah laku sang senior di sekolah, dia ketakutan. Aku berhasil.

Surat Untuk Orang yang Disukai

Menuliskan surat kepada orang yang kita suka itu sangat sulit, kau percaya? Aku memaksa, kau harus percaya. Membutuhkan waktu berhari-hari untuk menuliskannya, membutuhkan editor untuk menyimak setiap penggal kalimatnya, membutuhkan kertas yang harum mewangi dan juga pastinya membutuhkan pengirim hebat yang bisa memastikan surat itu sampai kepada orang yang dituju.

Waktu itu aku memiliki semuanya, aku punya teman yang pandai dalam bahasa Indonesia, sang juara kelas yang aku jadikan sebagai editor, aku punya keras harum yang mudah didapatkan di toko sebelah rumah dan juga pengirim surat handal yaitu teman sebangkuku.

Seorang gadis, anak pindahan dari Banda Aceh setelah Tsunami. Gadis ini menjadi salah satu primadona di sekolah kami, kehadiranya tidak membuat gadis-gadis lain merasa tersaingi. Sebut saja namanya Mawar. Sama seperti gadis-gadis lainya, nilai tambah Mawar cuma pintar, kalem dan cuek saja. Banyak orang tidak suka, tapi aku menyukainya.

Karena Mawar adalah adik kelas, dan jarang bertemu, maka aku memutuskan untuk mengirimkan sepucuk surat untuknya, aku tidak mau menceritakan apa isi surat itu. Intinya aku menulis surat itu selama tiga hari dengan bantuan sang editor. Aku sudah mengirimkan 5 pucuk surat kepada Mawar dan menerima 5 balasan surat. Cuma 2 surat yang menggunakan jasa editor, sedangkan 3 surat yang lain aku tulis dan edit sendiri karena isinya sudah sangat privasi namun aku tetap menggunakan jasa teman pengirim.

Kau pasti tidak percaya, aku terkejut bukan kepalang. Kau tau kenapa? Rupanya Mawar hanya menerima surat pertama dan keduaku saja, dan surat ketiga, empat dan kelima tidak pernah lagi dia terima, namun aku selalu menuliskannya. Aku mulai curiga kenapa surat balasan keempat dan kelima tidak lagi ditulis manual dengan tangan tetapi diketik rapi menggunakan komputer, aku mulai curiga sepertinya ada konspirasi.

Bangkai tidak bisa disembunyikan terlalu lama karena dia akan bau, begitu kata pepatah. Aku mulai tau rupanya suratku yang ketiga, empat dan lima tidak lagi dikirim langsung kepada Mawar tetapi siteman telah menggunakan jasa sahabatnya Mawar katakanlah namanya Melati. Dan yang membalas surat itu adalah Melati tanpa sepengetahuan Mawar, pantesan isi suratnya tidak mencerminkan karakter seorang Mawar yang cuek dan Kalem dan isi suratnya pun sedikit menyimpang tidak nyambung dengan surat sebelumnya.

Setelah kejadian itu, aku tidak lagi mengirimkan surat kepada Mawar, dan aku mulai tidak percaya dengan surat/pesan yang ditulis menggunakan komputer karena didalamnya pasti ada sedikit banyaknya kebohongan. Surat yang ditulis dengan tangan sendiri akan lebih berkesan dan pastinya sejelek apapun tulisan dalam surat itu aku akan berusahan untuk membacanya karena isinya adalah pesan asli bukan rekayasa.

Kau tau sendiri, sekarang lagi musim pembajakan Handphone, akun pribadi kita seperti media sosial mudah sekali dibajak orang lain dan pelakunya adalah teman kita sendiri. Kita sering tidak menyadarinya dan baru sadar setelah bebera menit kemudian, tidak menunggu lama langsung mengkonfirmasi “Maaf,HP aku dibajak”.

Oyaa, Mawar sekarang sudah mempunyai tiga orang anak, semuanya perempuan. Anaknya cantik seperti ibunya. Suami Mawar adalah seorang Polisi. Polisi ini pernah aku teror dengan surat kaleng waktu dia sekolah dulu. Dan sampai sekarang dia tidak tau kalau aku yang melakukannya. Kalau saja sekarang dia tau, aku pasti ditangkap dan dijadikan tersangka dengan pasal teror masa lalu. Seperti kejadian yang dialami oleh bapak-bapak kita di KPK. Ngeriiii.

Cukup yaa, aku mau makan dulu. Kopi digelas pun sudah habis. 

Semoga kita menyukai menulis surat dengan tangan sendiri.

#Darbe. Libur Imlek, 19022015.13.23 WPPG

Pulang Kampung

Aku mendekap erat tas ransel dan travel bag yang keduanya menggembung dipenuhi segala benda milikku untuk kubawa pulang. Ya, pulang dalam arti sesungguhnya. Kini aku pulang, kembali ke kampung tempat aku dilahirkan, tempat aku dibesarkan, tempat aku menimba ilmu-ilmu agama dan pendidikan dasar sampai menengah sekaligus tempat aku meninggalkan keluargaku di tengah ganasnya kemiskinan.

“Kau adalah satu-satunya dari sekian banyak penduduk di kampung ini yang memilih untuk belajar di kota, kau adalah anak yang pintar, kami semua menaruh harapan penuh kepadamu untuk bisa memberikan sesuatu yang berarti bagi kampung ini”.

Empat tahun yang lalu, kata-kata itu diucapkan oleh seorang petani miskin sekaligus ayahku, seorang ayah terbaik yang pernah aku jumpai di dunia ini. Sebagai seorang petani yang hanya menggarap beberapa petak sawah rasanya ayah tidak mungkin bisa menyekolahkan aku dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi apa lagi aku masih memiliki dua orang adik yang harus bersekolah juga.

Glantei, adalah sebuah kampung yang memiliki hasil alam berlimpah, mulai dari pertanian, perkebunan dan pertambangan. Sayang, cuma pertanian dan perkebunan yang bisa digarap oleh masyarakat dikampungku, tidak dengan hasil tambangnya. Kampung Glantei, memiliki hasil tambang yang berlimpah terutama biji emas tapi sayang sekali tidak ada satupun masyarakat atau putra daerah yang mampu mengolahnya sendiri sehingga banyak perusahan asing yang mencoba untuk mencurinya secara tidak langsung dengan motif mengambil sample yang kemudia diteliti, kalau hasilnya bagus dan mengandung emas yang banyak maka mereka akan melakukan investasi dan membuat pabrik dikampung kami.

Kehadiran perusahaan asing membuat aku resah, bagai mana tidak, aktivitas mencurigakan yang mereka lakukan selama beberapa tahun ini sangat jelas terlihat. Mereka kerab membawa bongkahan batu emas dengan menggunakan helikopter ke tempat perusahaan induk mereka di kota, mereka harus menggunakan jalur udara karena medan untuk mencapai lahan pertambangan sangat jauh dan medannyapun sulit dijaugkau menggunakan transportasi darat makanya mereka mengunakan helikopter.

Dikampung kami, tidak banyak orang yang peduli terhadap aktivitas perusahaan asing itu, hanya aku saja yang sering protes-protes dan sesekali mempropokasi warga. Ayahku sering mengingatkan supaya aku tidak terlalu ikut campur dengan masalah pertambangan itu, apa lagi kalau aku adalah seorang perempuan, kata ayah. Namun aku tidak ambil pusing dengan apa yang ayah katakan karena jelas-jelas perusahaan itu sangat menjajah aku dan seluruh warga kampungku.

Hampir satu tahun aku tidak ambil pusing mengurusi masalah tambang itu lagi karena aku sedang disibukkan dengan kegitan di sekolah, aku sudah kelas 3 SMA dan akan mengikuti Ujian Nasional. Aku sedang dipusingkan kemana aku harus kuliah dan bagai mana aku bisa kuliah nantinya?. Aku ingin sekali belajar tentang pertambangan, aku ingin sekali memahami dan mengurus hasil tambang di daerahku ini, aku ingin putra daerah yang mengelolanya. Aku tetap yakin kalau Allah pasti akan memberikan jalan keluarnya. 

Suatu malam, ketika kami sekeluarga makan diatas meja rotan buatan kakekku. Ayah bertanya, dengan suara serak-seraknya: “Rahmi, dimana kamu akan kuliah setelah ini?” aku bingung bukan kepalang, aku galau tingkat dewa pada saat itu. Ingin sekali aku mengatakan “aku ingin kuliah di teknik pertambangan, Ayah”. Tapi aku hanya bisa mengataknya dalam hati. Pertanyaan ayah hanya aku jawab sederhana, “aku tidak ingin kuliah, aku ingin dikampung saja membantu ayah dan ibu di sawah”. Ayah kaget, “bagai mana bisa kamu tidak kuliah, kamu pintar dan kritis” sahut ayah.

Makan malam kami berakhir dan tiba-tiba ada tamu yang datang ke rumahku sehingga percakapan aku dengan ayah putus tanpa ada kesimpulan. Aku sangat penasaran dengan ucapan ayah dimeja makan tadi, bagai mana mungkin ayah memaksaku untuk kuliah, dari mana dia mendapatkan uang. Setahuku biaya kuliah itu sangat mahal. Penasaran itu terus aku pendam, aku tidak pernah bertanya kepada ayah apa pasal ayah memaksaku untuk kuliah. 

Di sawah, aku berjumpa dengan istrinya pak Geuchik, dia mengucapkan selamat kalau aku mendapatkan undangan untuk kuliah di ITB dan mendapatkan beasiswa bidik misi. Katanya, ibuku yang bilang kemarin sore ketika mereka pulang mengaji di sebuah pesantren di kampungku. Penasaranku semakin menjadi, saking senangnya, aku tinggalkan semua peralatan yang aku bawa ke sawah dan pulang kerumah sambil berlari, tidak peduli jalan yang aku lalui, semuanya aku anggap rata.

Sebelumnya aku memang telah mengikuti seleksi untuk mendapatkan undangan masuk perguruan tinggi di sekolahku, aku belajar sangat giat waku itu karena targetku adalah  ITB karena aku ingin menjadi ahli pertambangan. Sampai dirumah, aku bertanya kepada ibu, “dari mana ibu tahu kalau aku lulus di ITB?”. Ibuku senyum-senyum, sangat jelas tampak manisnya bunga desa yang telah ayahku nikahi 17 tahun yang lalu. “Kemarin, kepala sekolahmu datang kerumah mengantarkan berkas undangan dan mengatakan kalau kamu lulus di teknik pertambangan ITB dan mendapatkan beasiswa bidik misi” jawab ibu. Senangnya aku bukan main. Rupanya, inilah dasar ayah memaksaku untuk kuliah. Ayah sudah tahu kalau aku bakal diterima di ITB dengan beasiswa. Ayahku memang misterius.
                                                  ******


Aku kuliah di teknik pertambngan, Institut Teknologi Bandung (ITB). Aku bangga bisa belajar di salah satu kampus terbaik di Indonesia, aku tidak pernah menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan ini. Aku belajar sangat giat, tidak ada waktu yang terbauang sia-sia. Perjuangan ini ku lakukan supaya aku bisa menjadi ahli tambang yang hebat, tujuanku hanya satu; ingin memajukan kamung halamanku yang selama ini dijajah oleh asing. 

Selama kuliah, aku juga bekerja part time di sebuah toko foto copy di dekat kampusku. Biarpun uang beasiswa yang aku dapat selama ini cukup untuk kebutuhan kuliah dan hidup selama di Bandung tetapi aku ingin mendapatkan uang lebih yang nantinya akan aku pergunakan untuk tiket pulang kampung setahun sekali.  Setahun sekali aku selalu pulang kampung menjenguk keluarga dan memantau perkembangan aktivitas tambang di kampungku. Setiap kali aku pulang kampung saat itu pula motivasi aku untuk menjadi ahli tambah bertambah, aku ingin cepat sarjana.

Alhamdulillah aku lulus dari ITB dengan predikat cumlode, prosesi wisuda yang sangat megah yang memposisikan kedua orang tuaku pada tempat duduk paling depan membuat aku bangga dan terharu. Inilah hasil kerja kerasku selama ini, aku ingin memberikan sesuatu yang terbaik bagi kedua orang tuaku dan juga masyarakat di kampungku. Aku berhasil menjadi sarjana teknik pertambangan, biarpun tidak begitu ahli tetapi aku banyak memahami masalah pertambangan karena selama kuliah aku dipercaya menjadi asisten  dosen dan sering di ajak untuk melakukan penelitian terhadap tambang-tambang yang ada di Indonesia.


Selama minggu pertama aku di kampung, aku mulai mempelajari potensi tambang yang ada di kampungku ini, pertambangan yang dulunya dikelola oleh asing sekarang sudah berhenti, mereka tidak lagi beroprasi pasca pemerintah daerah di daerahku mengeluarkan peraturan tata kelola hutan. Daerah pertambangan yang dulunya merupakan hutan produktif sekarang sudah di alihkan menjadi hutan lindung dan tidak boleh ada aktivitas pertambangan yang bisa merusak hutan.

Aku kerap meneliti beberapa area hutan di kampungku yang tidak termasuk dalam hutan lindung, dan Alhamdulillah aku menemukan sumber emas yang luar biasa. Hasil temuan ini aku sampaikan kepada pak Geuchik dan beliau segera membuat rapat warga untuk menindak lanjuti temua ini. Kami sepakat membuat koperasi desa yang nantinya akan mengelola tambang yang kami temukan ini. Koperasi yang kami namakan Koperasi Ata Geutanyoe, beranggotakan semua warga yang berada di kampungku. Kami sepakat mengelola pertambangan emas itu secara tradisional. Aku dan pak Geuchik pernah berusaha menjumpai pemerintah daerah untuk meminta izin supaya kami bisa mengelola tambang itu secara profesional dan sedikit modern karena aku yakin banyak koneksi yang bisa membantu kami nantinya tapi sayangnya pemerintah belum mengizinkannya dengan berbagai macam alasan. Tidak mendapatkan izin bukanlah kekalahan telak bagi kami, kami tidak berhenti sampai disitu. Tidak bisa mengelola secara profesional namun kami masi bisa mengelolanya secara tradisional.

Untuk mendanai proyek tambang ini, semua biayanya ditanggung oleh warga kampung. Dana yang kami kumpulkan dari warga cukup untuk membeli semua perlengkapan pertambangan; mulai dari mesin udara, penerangan, peralatan galian, sampai mensin gelondongan. Aku bisa mendapatkan semua alat-alat itu dengan harga yang tidak terlalu mahal dengan memanfaatkan beberapa koneksi semasa aku kuliah dulu.

Sudah setahun kami menjalankan koperasi dan aktivitas tambang tersebut. Aku dipercaya oleh warga untuk memimpin koperasi itu. Alhamdulillah kami mendapatkan untung yang besar, keuntungan yang kami dapatkan dari hasil tambang bisa membuat semua masyarakat di kampungku sejahtera, tidak ada lagi warga yang kelaparan, tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah, tidak ada lagi rumah yang tidak layak huni, semua itu kami peroleh dari hasil kerja keras kami selam ini. Sekalipun aktivitas pertambangan tidak pernah berhenti setiap harinya namun aktivitas sawah dan kebun tetap aktif seperti biasanya sehingga penghasilan masyarakat tidak hanya dari tambang tetapi juga dari pertanian dan perkebunan.

[1 November 2013, M. Darmansyah Hasbi]

Pak Geuchik = Kepala Desa.

Sabar Atas Cinta

Di sudut ruangan yang luasnya tidak lebih dari 3 m2 ada sepasang kursi kayu dan satu meja bergaya klasik. Hiruk pikuk suara orang bicara tanpa henti semakin mengganggu pendengaranku, suara mobil dan sepeda motorpun tidak kalah berisiknya. Ingin sekali aku protes terhadap keadaan seperti ini tapi lama-lama aku mulai berpikir, ngapain..? itu kan hak mereka..! gumanku. Begitulah berisiknya sebuah warung kopi, warung kopi dimana aku menghabiskan siang sambil mambaca koran yang ditemani segelas kopi. Nikmatnya kopi seolah mengabaikan panasnya matahari dan berisiknya kota disiang itu.

Tiba-tiba datanglah seorang pemuda dengan badan tegap, tinggi dan hitam manis, menghampiri meja tempatku duduk. “Assalamualaikum Bang, apa kabar?”. Belum sempat menjawab salam, aku mulai terheran-heran, “siapa gerangan orang ini”, gumanku. Aku menjawab salam dan menjulurkan tangan kepada pemuda itu.

“Afnan . Masi kenal?” dia memperkenalkan diri.
“Ohh..ya ampun,  udah berubah kamu Afnan ” sahutku malu-malu.

Aku mempersilahkan Afnan duduk dan kami mulai bercerita seputar perjalanan hidup yang telah kami jalani selama ini, mulai dari pekerjaan, tempat tinggal dan keluarga tidak lupa kami bernostalgia kisah ketika kami masi kuliah dulu. Afnan  memang sudah berubah, terutama dalam hal fisik. Sekarang dia terlihat sehat dan badannya mulai berisi tidak seperti dulu, kurus krempeng.

Tidak terasa dua jam kami bercerita. Waktu berlalu begitu cepat, sore pun sudah mulai menampakkan wajahnya seolah mengintruksikan langit untuk menggelap, awan hitam ingin menyiram kotaku, kota yang sudah lama tidak basah.

“Aku pamit dulu, ini ada undangan pernikahanku” pamit Afnan  padaku.
“terima kasih, Insya Allah aku datang” sahutku. Sambil senyum aku ambil kertas yang dia sodorkan.

Aku mencoba untuk membuka undangan warna kuning klasik ala jaman dulu, sebuah kertas bergaya minimalis yang dipadukan dengan corak-corak modern. Didalamnya terlihat nama dua mempelai yang sudah melangsungkan akat nikah yaitu: Dr. rer.nad. Afnan Hanafiah. dan Assyifatul Haifa, M.Sc. Aku tersenyum bangga dibalut bahagia menerima undangan ini. Bagaimana tidak, teman baikku yang dulu selalu aku ejek karena tidak punya pacar kini mau melangsungkan resepsi pernikahannya. Aku yang dulunya sudah memiliki pacar dan pacaran sampai sekarang namun belum juga menikah. Memang nasip.
                                                ******
Namanya Afnan Hanafiah, pria tinggi dan ganteng, punya pemikiran sederhana terhadap kehidupan yang membuatnya selalu bahagia. Komitmen terhadap prinsip hidup, sebuah prinsip yang selalu dijunjungnya. Apa lagi soal cinta, dia sangat hati-hati.

Afnan  teman satu kuliahku dulu, kami selalu bersama-sama sampai sarjana. Kata teman-teman, dia merupakan pria yang takut sama perempuan. Kalau lagi duduk sama perempuan dia gemetaran. Pernah aku amati dan mencoba untuk membuktikan apa yang orang-orang katakan terhadap Afnan , rupanya salah besar. Aku mencoba melihat dari sudut pandang Afnan, kenapa dia belum mau pacaran, padahal banyak kok perempuan-perempuan di kampus yang menyukainya. Dia cuma tinggal bilang “aku cinta kamu dek”, langsung lengket, gumanku. Kemana saja aku sering bersama dengan dia, mau ke perpustakaan, laut, mancing, nonton bola dan kemana pun aku lebih sering bersamanya. Sering sekali diskusi-diskusi kecil kami lakukan bersama, membahas semua persoalan tidak terkecuali soal cinta. Kebersamaan inilah membuat aku lebih banyak tahu bagaimana arah berpikir Afnan  khususnya dalam urusan perempuan.

Aku tersentak kaget ketika dia bercerita pancang lebar, mengeluarkan seluruh teori dan pemikirannya tentang “cinta”. Cara dia menyampaikannya tidak kalah seperti penceramah kondang. Ya. Secara pandangan agama dan logika berpikir manusia memang ada benarnya juga apa yang dia katakan tapi sulit bagi aku dan orang lain untuk menjalankannya. Tidak semua orang bisa. Hanya orang-orang pilihan yang bisa.

Aku pernah bertanya soal cinta kepada Afnan  ketika kami sedang menikmati indahnya laut sambil menyantap gorengan ala mahasiswa:
“Afnan , kenapa kamu tidak pacaran?” tanyaku.
“aku belum siap membagi cinta” jawab Afnan  tegas.
“emang kamu sudah punya pacar? Tanyaku lagi.
“sudah..!!” dengan santainya dia menjawab.
“dimana pacarmu? Kali ini nada suaraku sedikit keras, karena kesal.
“Allah sudah mempersiapkannya dan telah menentukanya, aku tinggal menunggu waktu itu tiba dan akan menikah dengan gadis yang telah Allah siapkan itu, aku mau cinta yang halal kawan” sambil senyum-senyum dia menjawab.

Setiap pertanyaan yang aku ajukan jawabannya pasti menjurus ke agama. Jawaban yang dia gunakan adalah jawaban yang boleh aku bilang adalah jawaban tauhid, dengan mengaitkan segala sesuatu dengan Allah. Sebagai orang yang beriman aku harus mempercayainya sekalipun aku belum bisa melakukannya untuk saat ini.

Dari beberapa kali aku diskusi dan memantau gerak-geriknya, Afnan  memang tipe cowok yang setia, dia tidak mau mempermainkan perempuan apa lagi meyakiti hati perempuan. Karena alasan belum mampan dan belum siap untuk menikah makanya dia belum mau pacaran. Kalau seandainya dia sudah siap lahir batin, jauh-jauh hari sudah nikah, pikirku.

Sebagai orang yang jomlo, Afnan  bebas berteman dengan perempuan mana saja tidak ada batas seperti orang-orang yang punya pacar kebanyakan yang selalu dikekang dan pergerakan yang dilakukanpun tidak bebas. Orang jomlo seperti Afnan  boleh nogkrong dengan teman mana saja, teman pulan, teman pulen, teman ini dan itu, tapi langkah Afnan tidak berlaku bagi orang yang sudah punya pacar seperti kami, itu sangat dilarang, nanti dikirain selingkuh.

Suatu hari hubungan asmaraku pernah berantakan, aku sangat stres dan terpukul sekali pada waktu itu. Ada beberapa temanku juga mengalami hal yang sama, kami semua sangat kacau. Untuk menghilangkan stres kami memilih untuk santai dan ngopi bareng. Pada saat itu semua kami yang sedang kacau melirik ke arah Afnan, dia biasa-biasa saja, bawaan gembiranya selalu terlihat, wajah tanpa beban.”enak banget jadi kamu Afnan” ucapku. Dia hanya tersenyum.  Ketika kami semua sibuk menyelesaikan masalah perempuan, masalah percintaan, Afnan  jusru sibuk dengan kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukannya bersama sebuah organisasi tempat dia berkecimpung. Sangat luar bisa, hidupnya begitu tentram.
                                                           *******
Tidak lama setelah kami wisuda, semua teman-teman sudah berpencar, ada yang sudah ke luar kota, luar provinsi bahkan ke luar negri. Semua pada sibuk dengan aktivitas dan pekerjaan masing-masing. Afnan  memilih untuk kuliah ke luar negri, dia mendapatkan beasiswa magister dan doktor di Jerman. Komunikasi tetap kami lakukan sekalipun jauh, paling kadang-kadang dengan skype dan facebook saja. Kalau teman-teman yang lain masi bisa dijangkau keberadaannya karena masi dalam provinsi sehingga komunikasi mudah kami lakukan bahkan kami sering berkumpul dan bisa update aktivitas semua teman-teman.

Setelah lima tahun tidak berjumpa dengan Afnan, sekarang dia sudah berubah. Anak yang dulunya tidak mau pacaran sekarang mau menikah. Luar biasa. Kami yang dulunya asik pacaran bahkan sampai sekarang juga masi pacaran. Kami tidak tahu kapan akan menikah. Jujur, secara finansial aku sudah mampan dan sudah layak untuk menikah. Teman-teman yang lainpun begitu. Kami tidak tahu kenapa dan apa penyebab sehingga kami belum punya niat untuk menikah padahal umur kami tidak muda lagi.

Aku sangat takut kalau suatu hari nanti Afnan  bertanya pada kami semua, “kapan kalian menikah?” pertanyaan yang sangat mematikan. Lembut tapi kejam.

Aku baru sadar, inilah rahasia Allah. Allah sudah mengatur semuanya. Kita manusia diwajibkan untuk berusaha dan bersabar.

Pernyataan Afnan dulu tentang “cinta” sekarang sudah terjawab. Allah sudah mempertemukannya dengan orang yang sangat dicintainya yaitu seorang gadis yang pernah ditaksirnya semasa kuliah dulu. Kesabaran Afnan  untuk tidak pacaran sudah berbuah hasil dan kerja keras dia untuk mencapai mimpi tidak sia-sia. Mimpinya ingin ke Jerman, sekarang sudah tercapai bahkan dia mendapatkan gelar magister dan doktornya dari Jerman.

Afnan akan menjalani kehidupan yang halal bersama istrinya dan akan membangun keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah. Sedangkan aku dan beberapa teman-teman yang lain masi berjuang untuk mendapatkan itu semua, mendapatkan cinta yang halal.


[18 Oktober 2013, M. Darmansyah Hasbi]