Mau jadi apa kau, Nak?

Dari kecil anak harus didekatkan dengan buku, dengan Al-Quran. Supaya waktu besar akrab dengan benda-benda tersebut. 

Buku membuat otaknya bergizi, pikirannya menjadi jernih. Al-Quran membuat hatinya menjadi bersih. Hidup dengan nilai-nilai Quran membuat jiwanya terbentengi dari roh jahat yang ada dalam buku. Saya tidak akan membatasi Firash dalam hal membaca buku, sila baca buku apa saja sekalipun buku yang dilarang pemerintah. Bagaimana kita bisa tahu kalau buku itu baik atau tidak jika tidak pernah membacanya? Otak boleh sama tapi cara kerjanya pasti berbeda apalagi dalam menyerap informasi.

Kata bundanya, gadget tidak baik bagi anak. Sehingga kami sepakat untuk menjauhkan Firash dari gadget sampai batasan umur tertentu. Saya khawatir jika Firash nantinya minta gadget untuk main game online. Matanya akan cepat rusak, tulang jempolnya akan rapuh dan pikiranya akan pendek. Lalu, dari mulutnya akan sering keluar nama-nama binatang ditambah kosa kata kotor dari planet Merkerius. Saya tidak mau itu terjadi. Maka sejak dini harus diantisipasi.

Dia lahir ditahun politik, dalam perseteruan memperoleh kekuasaan, sampai sekarang belum pun selesai. Barangkali ini pertanda kalau dia harus paham politik nantinya. Siapa tahu dia bisa jadi Presiden. 

Saya berharap dia menjadi Ulama yang Saintifik nantinya. Menyukai Sains, sastra, sejarah, filsafat, hukum dan mencintai Al-Quran. Namun terserah dia mau jadi apa, asalkan masuk surga.

Merah Bulan di Langit Merah Arai

Gerhana BUlan Total
Detik-detik Gerhana Bulan
Fenomena alam yang langka ini aku nikmati dari pedalaman Borneo, suasana gelap gulita membuat pemandangan langit sangat menawan. Pemandangan Bulan, ditemani beberapa bintang dan diiringi sedikit gerimis. Gerhana Bulan 31 Januari 2018 adalah fenomena alam yang langka, bagaimana tidak, dua peristiwa terjadi secara bersamaan saat itu; pertama, terjadi saat supermoon yaitu posisi Bulan pada saat gerhana Bulan total bertepatan pada momen ia mencapai jarak terdekat dengan Bumi. Hal ini jelas akan membuat Bulan tampak lebih besar dan lebih terang di langit. Kedua, terjadi saat bluemoon yaitu sebuah istilah untuk menyebut Bulan purnama kedua yang terjadi pada satu Bulan kalender masehi, bukan bermakna Bulan berwarna biru. Alih-alih berwarna biru, pada puncak gerhana Bulan total terjadi justru ia muncul dalam rona kemerahan, yang disebut merah darah.

Aku mendapatkan posisi yang pas untuk memandangnya saat itu. Dulu, aku melihat gerhana Bulan di kota dengan kerlap-kerlip lampu, suasana demikian membuat pemandangan gerhana menjadi tidak nikmat, ditambah lagi ramainya orang namun hanya sedikit yang memiliki rasa ingin tahu terhadap fenomena alam tersebut sehingga nuansa sains tidak terlalu tampak. 

Fenomena super blue blood moon bisa kami lihat dengan sempurna di atas langit desa Merah Arai. Gerhana Bulan tepat pada saat peristiwa supermoon dan bluemoon. Anak-anak sekolah sudah kami kondisikan untuk mengamati fenomena langka ini. Saat jam sekolah, para guru sudah memberikan pengetahuan awal tentang gerhana Bulan dan kami akan melakukan observasi langsung di malam harinya. Besoknya, saat pelajaran IPA anak-anak harus melaporkan apa yang telah mereka amati. 

Membunyikan sesuatu untuk mengusir Ular Gompa
Menariknya, ini bukan hanya fenomena sains namun juga fenomena leluhur bagi masyarakat di desa ini, yaitu suku Dayak. Ada prosesi adat yang tak kalah menarik malam itu, hampir-hampir pemahaman sains hilang. Menurut suku Dayak, gerhana ada dua jenis yaitu gerhana Bulan merah atau darah dan gerhana putih atau embun, setiap jenis ini memiliki makna tersendiri. 

Bagi masyarakat Dayak, gerhana Bulan adalah peristiwa yang menakutkan. Saat Bulan berwarna merah artinya darah dan akan terjadi musibah, banyak orang akan sakit, gagal panen, banjir dan musibah lainya. Jika Bulan berwarna putih artinya akan baik-baik saja bahkan akan banyak kemujuran. Menurut mereka, di langit sana ada ular besar yang akan memangsa Bulan saat gerhana tiba, ular tersebut diberi nama Gompa. Jika Gompa berhasil memangsa Bulan, maka kiamat akan segera tiba. Proses ular memangsa Bulan ditandai dengan tampaknya gelap di sebagian lingkaran Bulan. Kita melihat "gigitan" gelap pada wajah Bulan yaitu keluarnya Bulan dari bayangan umbra Bumi (secara sains). Disamping itu, Bulan terus bergerak berlari menghindar dari kejaran Gompa.

Semangat menjelang ular Gompa melepaskan Bulan
Menjelang dimulai dan berakhirnya gerhana, itu adalah saat-saat krusial bagi masyarakat Dayak. Masyarakat sudah berkumpul di lapangan terbuka atau tempat yang telah disiapkan oleh pihak Desa dan ada juga yang memilih berkumpul di depan rumah masing-masing. Mereka membunyikan gong, mesin sinso, mesin speed, senapan rakitan, kuali masak, ember, dan segala sesuatu yang dapat mengeluarkan suara dengan tujuan supaya Bulan terlepas dari belenggu ular Gompa. Bunyi-bunyian yang berasal dari Bumi membuat ular raksasa selalu gagal memangsa Bulan. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan teriakan-teriakan dan juga menari-nari. Setelah gerhana selesai, semua aktivitas tadi dihentikan dan semua masyarakat bersorak senang gembira sebagai tanda telah berhasil menyelamatkan Bulan dari cengkraman ular raksasa yang berada di luar angkasa tersebut. 

Jujur saja, proses pengamatan secara sains tidak bisa dilakukan dengan sempurna. Tidak ada diskusi, apalagi pertanyaan mengapa dan bagaimana gerhana Bulan bisa terjadi? Anak-anak ikut serta bahkan menjadi ujung tombak memukul benda-benda yang bisa berbunyi. Ini adalah penampakan ritual adat yang langka dan hampir punah. Beruntung aku bisa menyaksikannya. 

Saat pelajaran IPA, anak-anak mampu menjelaskan tentang gerhana Bulan secara sains bahkan juga menjelaskannya secara adat atau budaya. Pengetahuan awal proses terjadi gerhana, ditambah pengamatan langsung membuat pengetahuan anak-anak tentang gerhana Bulan sangat sempurna dan kami gurupun senang merona seperti purnama. 

Menarik sekali mengamati gerhana Bulan secara sains dan ritual adat. Sesekali cobalah datang ke tempat kami, desa yang permai, Merah Arai.

Merah Arai, 01 Februari 2018

Akhirnya Banjir Juga

Banjir di Desa Merah Arai
Banjir di Desa Merah Arai
Pertama sekali tiba di Desa Merah Arai, banyak hal yang saya tanyakan pada masyarakat termasuk soal banjir. Rumah yang saya tempati adalah rumah dinas Kesehatan, sudah tiga orang petugas kesehatan yang tinggal di rumah tersebut, tidak sampai setengah tahun mereka minta pindah ke rumah lain, alasannya adalah banjir. Rumahnya bagus, permanen, hanya berjarak 50 meter dari pinggir sungai namun jika terjadi banjir sangat merepotkan.

Kata masyarakat, banjir terjadi setahun 2 kali, saat akhir tahun dan awal tahun. Saya paling takut kalau banjir bandang, untunglah banjir di sini bukan banjir bandang melainkan banjir air sungai yang meluap secara perlahan. Seringnya terjadi banjir sehingga waktu pertama tiba di desa ini, masyarakat langsung bergotong royong membuatkan saya tempat tidur yang tingginya 1.3 meter. Waktu itu saya sempat protes "kenapa tinggi sekali, pak?" Tanya saya. "Biar tidak kena banjir", jawab mereka. Waktu itu, saya belum paham bagaimana kondisi banjir di sini. Sekarang saya mulai mengerti, banjirnya lumayan ekstrim. 

Senin, 27 November 2017, pagi harinya sebelum berangkat sekolah, saya melihat air sungai sudah masuk area jalan tapi belum ada tanda-tanda akan terus membesar dan saya masih memberi status siaga 2. Barang-barang di rumahpun masih saya biarkan begitu saja, tidak dipindahkan. 

Menjelang pulang sekolah, pak Hasan, tetangga saya memberi kabar kalau air mulai naik. Mengingatkan supaya saya mengemas barang sehingga tidak basah. Begitu saya pulang, air belum masuk ke rumah dan saya meningkatkan status menjadi siaga 1. Air tidak kunjung surut, bahkan terus semakin membesar, akhirnya saya menyerah dan mulai mengangkat semua barang di lantai ke tempat yang tinggi. Anak-anak sekolah mulai berdatangan untuk membantu mengungsikan barang-barang saya, karena masih siaga 1, biar di rumah saja, belum saatnya mengungsi.

Menjelang sore, saya melihat ke sungai, banyak kayu besar dan sampah hutan yang lewat, airpun semakin deras, langit mendung dan air semakin naik. Rupaya di hulu sungai sudah hujan lagi. Tidak mau mengambil resiko, saya ungsikan semua barang ke rumah kepala sekolah yang berada di depan rumah saya dan dua kali lebih tinggi dari rumah saya. Pengalaman banjir di desa ini, katanya air tidak pernah sampai setinggi teras rumah kepala sekolah. Syukurlah, pikir saya. 

Malamnya air mulai stabil, besok pagi akan ada tanda-tanda surut. Saatnya gotong royong membersihkan lumpur di rumah. Semoga kejadian ini tak terulang lagi. Sangat merepotkan sekali. Ampun deh.

Merah Arai, 27 November 2017.

Pesona Pantai Waijarang yang Tak Pernah Mati

Kabupaten Lembata
[Ceria di Pantai Waijarang, Lembata, NTT]
Pertama kali tiba di pulau Lembata, badan lelah, pikiran tidak karuan setelah seharian berada di dalam kapal Bukit Siguntang. Besoknya kami diajak untuk berekreasi ke pantai Waijarang. Pantai ini adalah tempat wisata paling dekat dengan kota Lewoleba. Kata masyarakat setempat, rekreasi ke pantai Waijarang merupakan perkenalan awal kami selama satu tahun ke depan di pulau Lembata.

Pantai Waijarang terletak di Desa Waijarang, Kecamatan Nubatukan, merupakan pantai dengan panorama yang indah. Pasir putih yang terbentang luas dihiasi riakan ombak yang agak keras memecah bibir pantai menjadi obyek tersendiri. Di pantai Waijarang para pengunjung dapat menikmati wisata pantai seperti ski air, berenang, berjemur, camping, volly pantai, bola kaki dan hiking. Penduduk Waijarang juga sering mengadakan atraksi-atraksi budaya untuk menghibur para pengunjung.

Lembata NTT
[Menatap Senja di Bukit Waijarang]
Tidak hanya itu, keindahan panorama pantai didukung dengan pemandangan bukit-bukit yang indah dan selat Boleng yang membatasi dua pulau yaitu Lembata dan Adonara. Hutan bakau juga menyajikan pesona hijau yang serasi dengan laut biru. Letaknya yang strategis menjadikan pantai Waijarang menjadi salah satu unggulan di Pulau ini.

Pantai Waijarang berhadapan langsung dengan Pulau Adonara, dibatasi lautan dengan pemandangan indah, merupakan salah satu alternatif wisata pantai terbaik di Lembata. Jaraknya relatif dekat dari Kota Lewoleba ke arah barat sekitar sepuluh kilometer dengan kondisi jalan aspal. Meskipun sebagiannya sudah berlubang, tetapi bisa ditempuh sekitar 25-30 menit menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Keindahan pantai Pasir Putih, laut yang bersih dan ombak pantai relatif keras menjadikan tempat ini diminati pengunjung.

Tidak hanya bisa menikmati keindahan pantai, dengan berjalan satu kilometer dari pantai Waijarang kita bisa menikmati gugusan pulau-pulau dari atas bukit Waijarang, keindahan pulau Adonara dengan gunung Bolengnya, Alor dan gunung Ile Ape, dari atas bukit ini kita juga bisa menikmati hamparan perahu-perahu nelayan, semua panorama ini menjadi daya tarik luar biasa untuk kenikmatan mata memandang. 

#Darbe. 2 Juli 2015

Cerita Hebat dari Film Front of the Class Membuat Kita Belajar Menjadi Guru Hebat

Film Front of the Class
Saya punya kebiasaan ketika selesai nonton sebuah film maka film tersebut akan dihapus tujuannya untuk menghemat penggunaan hardisk. Kali ini saya tidak menghapusnya, kenapa? Karena filmnya bagus dan layak untuk ditonton berulang kali. 

Judul filmnya adalah `Front of the Class`, film yang menceritakan seorang guru yang mempunyai penyakit Tourette Syndrome namun tetap berusaha dan bekerja keras untuk menjadi guru yang baik, guru yang dicintai oleh semua orang, guru yang kehadirannya sangat ditunggu-tunggu dan pastinya guru yang mengispirasi.

Film ini diangkat dari kisah nyata Brad Cohen seorang penderita Tourette Syndrome. Tourette Syndrome adalah penyakit neuropsikiatrik yang membuat seseorang mengeluarkan ucapan atau gerakan yang spontan tanpa bisa mengontrolnya. Penyakit ini diwariskan secara turun temurun dan seringkali dikaitkan dengan pengeluaran ucapan kata-kata kotor, kasar, atau menghina yang tak dapat ditahan. 

Ceritanya begini. Cohen kecil kerap diperlakukan tidak enak di sekolahnya, penyakit yang dideritanya kerap membuat teman-temannya di kelas menghina dan menertawainya tidak terkecuali guru Cohen sendiri yang selalu dibuatnya kesal. Hal ini disebabkan karena Cohen kerap mengeluarkan suara-suara aneh dengan gerakan-gerakan kepala dan kaki dimana aktivitas ini sangat mengganggu aktivitas belajar mengajar di dalam kelas. Teman-teman dan guru Cohen menganggap apa yang dilakukan oleh Cohen adalah kesengajaan untuk mengacaukan aktivitas belajar padahal perilaku yang Cohen lakukan diluar kesadarannya seperti halnya bersin atau gatal tidak ada yang bisa menahannya.

Perilaku yang tidak biasa ini membuat para guru kesal dan melaporkan perilaku Cohen kepada kepala sekolah. Pihak sekolah memanggil orang tua Cohen untuk melaporkan perilaku Cohen di sekolah. Setelah menjelaskan panjang lebar tentang Tourette Syndrome yang diderita Cohen barulah kepala sekolah mengerti dan memakluminya.

Cohen merasa ketakutan ketika dijumpai oleh kepala sekolah, karena Cohen kawatir kepala sekolah melarang Cohen untuk pergi sekolah karena sakitnya ini. Dengan tatapan tajam kepala sekolah menyuruh Cohen menghadiri acara orkestra yang dilaksanakan oleh pihak sekolah, sudah barang pasti Cohen menolak karena kehadirannya akan mengganggu pertunjukan orkastra tersebut dengan suara-suara anehnya itu namun kepala sekolah tetap memaksa.

Akhirnya Cohen hadir di acara pertunjukan orkestra tersebut, kekhawatirannya terbukti. Cohen mengelurkan suara aneh dan mengganggu seisi ruangan. Semua penonton memandang ke arah Cohen dengan pandangan marah sambil memperingatkan Cohen untuk diam namun Cohen sendiri tidak bisa menghentikan suara aneh yang selalu kelur tanpa dia sadari itu.

Selesai pertunjukan orkestra kepala sekolah naik ke atas panggung sambil menayakan kepada penonton “apakah kalian terganggu? Semua penonton menjawab ‘terganggu”. Kepala sekolah memanggil Cohen naik ke atas panggung dan di depan semua penonton kepala sekolah menanyakan kepada Cohen, apa dan kenapa suara aneh itu bisa keluar? Dengan suara terbata-bata Cohen menjawab pertanyaan kepala sekolah. 

Pertanyaan dari kepala sekolah yang paling menarik adalah “apa yang bisa kami lakukan untuk membantu kamu?” Cohen menjawab ”saya ingin diperlakukan dan diberi kesempatan sama seperti orang lain”. Suara tepuk tangan meriuhkan seisi ruangan. Setelah kejadian itu Cohen bisa sekolah seperti siswa lain dan tidak didiskriminasikan lagi sampai Cohen lulus sekolah.
*****
Setelah Dewasa. Cohen berhasil lulus dari sarjananya dan memilih untuk menjadi guru, hal ini terinspirasi dari guru dan juga kepala sekolahnya dulu yang telah berusaha mengerti kekurangan pada diri Cohen. Setelah dewasa Cohen masih juga kurang beruntung dengan penyakit yang dideritanya, lagi-lagi Tourette Syndrome membuat Cohen selalu gagal dalam dunia kerjanya. Namun hal ini tidak membuat Cohen patah semangat untuk menjadi guru. Ada tiga orang yang selalu meneguhkan hati Cohen yaitu Ayah, ibu dan pacar Cohen. Mereka inilah yang selalu mendampingi Cohen dalam setiap detiknya. 

Karena tekat keras untuk menjadi guru, Cohen mengirimkan surat lamaran kerja hampir ke semua sekolah yang ada di kawasan tempat Cohen tinggal, tidak ada satu pun yang mau menerima Cohen dengan alasan Tourette Syndrome yang diderita Cohen tidak akan menjadikan Cohen sebagai guru yang baik dan siswa pun tidak akan menyusukainya. 

Akhirnya ada sebuah sekolah yang bersedia mewawancarai Cohen dimana pihak sekolah ini melibatkan semua komponen sekolah mulai dari kepala sekolah, guru dan staf dalam wawancara. Cohen mengakui ini adalah wawancara terbaik dalam hidupnya karena pihak sekolah sangat menghargai sesi wawancara bersama dengan Cohen, mereka mendengarkan penjelasan Cohen dengan penuh antusias dan kagum. Dan Cohen pun dipanggil dan diberikan kesempatan untuk menjadi guru di sekolah tersebut.

Cohen punya trik tersendiri supaya dia tidak ditertawakan oleh siswa di kelas karena suara aneh yang kerap dikeluarkannya. Hal ini pula yang pernah Cohen sampaikan pada saat sesi wawancara dengan pihak sekolah. Cohen akan menjelaskan kepada siswanya apa itu Tourette Syndrome? Sampai sedetil-detilnya sehingga siswanya mengerti dan bisa menerima Cohen sebagai guru mereka. Hal ini pun dilakukan oleh Cohen ketika menjumpai orang-orang yang baru dia kenal.

Cohen sangat totalitas menjadi guru, dia mengajar sepenuh hati dengan penuh cinta. Metode-metode unik dan lucu membuat para siswa sangat menyukai kelas yang Cohen ajarkan. Kelas Cohen sangat menyenangkan. Bahkan para siswa tidak sabar untuk menunggu hari esok, belajar, bermain dan bersenang-senang bersama sang guru yang sangat mereka cintai ini.

Karena telah berhasil menjadi guru yang sangat luar biasa. Cohen di nobatkan sebagai guru terbaik di kawan itu. Pada saat penyerahan piala penghargaan Cohen menceritakan bagaimana dia berjuang terhadap penyakit Tourette Syndrome yang dideritanya ini. 

Bagi orang lain Tourette mungkin nasib buruk yang harus diterima, tetapi bagi Brad Cohen Sindrom Tourette adalah guru terbaik di dalam hidupnya. Karena kehidupannya yang sulit di masyarakat, membuat dia berjuang untuk mewujudkan cita-cita tersebut yaitu menjadi guru.
*****
Brad Cohen
Film ini penuh dengan inspirasi yang disampaikan dengan gaya yang ringan, gampang dicerna dan tidak rumit. Berbagai scene yang ditampilkan dalam film ini benar-benar sangat menyentuh hati, terlebih pada mereka yang sering menganggap sebelah mata orang-orang cacat. 

Pelajaran luar biasa dari film ini adalah jangan pernah menyerah seburuk apapun cobaan yang Allah berikan pada kita, karna pada akhirnya, selalu ada jalan untuk mencapai kebahagiaan. Allah Maha Adil.

Film "Front of the Class" ini sangat memberikan inspirasi, layak untuk ditonton terutama bagi para guru dan pelajar.

#Darbe. Banda Aceh, 9 Juni 2015.

Film Assalamualaikum Beijing: Emosiku Tidak Berhasil Dipengaruhinya

[habadaily.com]
Dalam beberapa Minggu ini media sosial sibuk memberitakan film yang berjudul: Assalamualaikum Beijing”. Ada apa dengan film ini? Apa istimewanya sehingga banyak yang memberitakan dan mempromosikan sehingga harus nonton?. Aku penasaran.

Assalamualaikum Beijing adalah film fenomenal yang sarat makna dan hikmah. Film yang mengambil syuting di kota Beijing ini telah menghipnotis banyak orang untuk menontonya di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Film yang digarap dari novel Asma Nadia ini didalamnya memiliki banyak pelajaran hidup tentang kekuatan sebuah cinta. Film yang mengisahkan perjalanan seorang wanita tegar bernama Asmara yang meyakinkan penontonnya bahwasanya cinta sejati itu ada dan pasti akan bertemu.

Kemarin, hari Sabtu aku dan teman-teman menentonnya di Banda Aceh. Kotaku memang tidak memiliki bioskop namun karena animo masyarakat untuk nonton film ini sangat tinggi maka salah satu perusahaan event organizer bekerja sama dengan Maxima Pictures membuat bioskop dadakan yang bertempat di Amel Convention Hall. Sebuah inisiatif yang mulia dan memberikankan manfaat bagi masyarakat Banda Aceh yang haus akan bioskop dan tontonan yang berkualitas.

Aku datang lebih awal pukul 16.00 WIB, di tiket tertera pemutaran pada pukul 16.30 WIB yaitu sesi ke-IV, lama menunggu akhirnya panitia mempersilahkan kami masuk ke gedung. Sambil menunggu pemutaran film yaitu pada pukul 17.00 WIB kami disuguhi oleh rayuan panitia berulang-ulang yang mengiklankan Film ini, wajar karena terlihat banyak sekali kursi yang masih kosong. Awalnya agak sedikit kecewa dengan panitia pelaksana, bagaimana tidak film telah berlangsung 5 menit namun panitia masih saja asik buka-tutup pinta masuk yang membuat kenyamanan penonton terganggu oleh cahaya dari luar. Tetapi hal itu berhasil di atasi dan kenyamanan pun mulai kami dapatkan.

Berusaha mengamati seisi gedung, wahhh rupanya manyoritas penonton adalah perempuan, minim sekali laki-laki, aku tidak tahu kenapa. Sepulang dari nonton, aku menyempatkan diri untuk bertanya kepada beberapa teman yang tidak ikut nonton perihal kenapa tidak mau menonton film ini?? Mereka manyoritas menjawab film ‘Assalamualaikum Beijing’ tidak jauh beda dengan sinetron dan drama Korea. Hahh. Masa sih?. Aku sangat memaklumi jawaban itu karena teman-teman ini lebih menonjolkan jiwa kelelakiannya, mereka lebih suka nonton film laga yang gak cengeng.

Film Assalamualaukum Beijing adalah film yang bagus sehingga menyedot banyak penonton, yaa aku sepakat. Namun aku ingin melihatnya dari sisi yang berbeda. Setelah menonton film ini selama 90 menit: filmnya biasa saja, alur ceritanya tidak begitu menarik dan terlihat datar apalagi film ini tidak berhasil mempengaruhi emosi aku. Ya. Memang banyak ilmu, manfaat dan kata-kata indah berkualitas yang dapat diambil dari film ini. Kalau boleh jujur aku memilih untuk nonton film ini karena iklannya yang sangat masif dengan postingan kata-kata indahnya di media sosial. 

Kalau boleh membandingkan, dari sekian banyak film Indonesia yang aku tonton, cuma film ‘Ketika Cinta Bertasbih dan Laskar Pelangi’ yang menurut aku sangat luar biasa. Dua film ini berhasil mempengaruhi emosi aku. Aku telah menontonya berulang kali dan tidak pernah bosan karena alur ceritanya menarik dan mampu mempengaruhi emosi para penontonnya. Lalu bagaimana dengan film Assalamualaikum Beijing? Ya. Cukup sekali saja aku menontonnya. 

Ini adalah sudut pandang dari sisi yang berbeda. Menurut aku! Mungkin menurut orang lain film ini sangat luar biasa, terserah. Setiap orang punya cara tersendiri dalam melihat sesuatu dan segala resikonya.

Assalamualaikum Banda Aceh.

#Darbe. 25 Januari 2015