Buku Pertama

Catatan yang Tercecer
Tahun 2012 sewaktu mengajar anak-anak di pedalaman NTT, ada banyak sekali pengalaman yang saya dapat. Saya mulai mencintai dunia pendidikan berawal dari pulau Lembata. Biarpun kuliah di FKIP, waktu itu saya tidak ingin menjadi guru. Bagi saya kuliah adalah proses untuk dewasa dan merubah pola pikir saja. Program SM3T membuat saya mencintai profesi sebagai guru. Berdiri di hadapan anak-anak adalah sebuah kegembiraan.

Setelah satu tahun dilatih survival di Pulau Lembata, hidup tanpa listrik, air, dan sinyal. Selanjutnya ditarik kembali ke kampus untuk dilatih dalam program Pendidikan Profesi Guru (PPG) berasrama selama satu tahun pula. Tidak kalah serunya dengan belajar di pedalaman. Saat PPG, belajar dari pagi sampai sore ditambah program karakter di malam hari selama satu tahun hampir saja membuat kami stress, untung saja alam pedalaman telah melatih kami supaya lebih kuat dan tahan banting dalam keadaan apapun. Optimis dan tidak mengeluh adalah kunci untuk bertahan.

Proses yang panjang, mendapatkan pengalaman yang luar biasa, akhirnya kami kembali lagi ke pedalaman menjadi guru, namanya adalah Guru Garis Depan (GGD). Sejak akhir 2017 saya mulai bertugas di pedalaman Kalimantan Barat, hidup dengan masyarakat Melayu dan Dayak pedalaman. Masih sama seperti di Pulau Lembata, tanpa listrik, sinyal dan kali ini jalan TOL-nya adalah sungai. Jangan tanya soal nasionalisme, karena itu sudah mendarah daging. Pancasila dan Toleransi adalah makanan sehari-hari bahkan sudah khatam berkali-kali.

***
Dr. Sulaiman Tripa adalah Guru saya dalam menulis, meskipun tidak pernah belajar langsung dari beliau namun keteguhan, konsisten, semangat, kerendahan hati, dan lewat tulisan-tulisannyalah saya belajar dan terinspirasi. Momen peluncuran 44 buku karya beliau, waktu itu saya hadir. Saat itu semangat saya untuk menulis dan membuat buku ikut tumbuh dan mengalir dengan deras. Saya percaya bahwa semangat itu menular.

Buku ini merangkum pengalaman selama berada di Pulau Lembata, Borneo dan PPG di Banda Aceh. Menjadi pendidik itu sangat menyenangkan, apalagi menjadi pendidik di pedalaman, penghargaan setinggi-tingginya untuk para guru diberikan oleh masyarakat.

Sebagai orang yang sedang belajar menulis, saya tidak terlalu peduli, apakah buku ini bagus atau jelek. Layak atau tidak untuk dibaca. Bagi saya, yang terpenting teruslah menulis karena menulis adalah obat untuk menenangkan pikiran dan melepaskan beban.

Soal kemampuan menulis, seiring waktu akan berkembang menjadi lebih baik dengan sendirinya. Hanya soal waktu saja. Asalkan terus belajar dan berlatih.

Buku ini tidak dijual, jika ada yang ingin memilikinya cukup dengan mengganti biaya cetak saja. Berapa biaya dan bagaimana cara mendapatkan buku ini akan saya informasikan lebih lanjut.

Libur telah usai, pertanda sekolah telah tiba saatnya kembali bermain dengan anak-anak di pedalaman Kalimantan Barat sana. Nanti jika telah kembali ke kota kabupaten maka akan saya infokan. Tunggu ya.

Salam Literasi.

Mau jadi apa kau, Nak?

Dari kecil anak harus didekatkan dengan buku, dengan Al-Quran. Supaya waktu besar akrab dengan benda-benda tersebut. 

Buku membuat otaknya bergizi, pikirannya menjadi jernih. Al-Quran membuat hatinya menjadi bersih. Hidup dengan nilai-nilai Quran membuat jiwanya terbentengi dari roh jahat yang ada dalam buku. Saya tidak akan membatasi Firash dalam hal membaca buku, sila baca buku apa saja sekalipun buku yang dilarang pemerintah. Bagaimana kita bisa tahu kalau buku itu baik atau tidak jika tidak pernah membacanya? Otak boleh sama tapi cara kerjanya pasti berbeda apalagi dalam menyerap informasi.

Kata bundanya, gadget tidak baik bagi anak. Sehingga kami sepakat untuk menjauhkan Firash dari gadget sampai batasan umur tertentu. Saya khawatir jika Firash nantinya minta gadget untuk main game online. Matanya akan cepat rusak, tulang jempolnya akan rapuh dan pikiranya akan pendek. Lalu, dari mulutnya akan sering keluar nama-nama binatang ditambah kosa kata kotor dari planet Merkerius. Saya tidak mau itu terjadi. Maka sejak dini harus diantisipasi.

Dia lahir ditahun politik, dalam perseteruan memperoleh kekuasaan, sampai sekarang belum pun selesai. Barangkali ini pertanda kalau dia harus paham politik nantinya. Siapa tahu dia bisa jadi Presiden. 

Saya berharap dia menjadi Ulama yang Saintifik nantinya. Menyukai Sains, sastra, sejarah, filsafat, hukum dan mencintai Al-Quran. Namun terserah dia mau jadi apa, asalkan masuk surga.

Sukadir, Guru Perintis yang Melegenda

Namanya Sukadir, guru SDN 15 Merah Arai. Kami biasa menyapanya Pak Kadir. Berparas tua namun masih berjiwa muda. Bulan Mei tahun lalu, dia pensiun. Boleh dibilang kami kehilangan teman yang lucu dan guru yang hebat. Tua-tua keladi, biarpun tua semangat mengajarnya makin jadi. Orangnya kreatif dan inovatif. Siapa saja yang memiliki pikiran terbuka dan optimis akan bersepakat dengan apapun yang dilakukan oleh pak Kadir.

Pak Kadir menjadi guru pada tahun 1980 setelah berhasil menyisihkan ribuan pesaing dalam seleksi guru PNS saat itu. Awalnya tidak begitu menyukai menjadi guru, karena hobi pak Kadir adalah bertani. Saat itu, Pak Kadir mengikuti tes secara bersamaan yaitu tes guru dan penyuluh pertanian. Saat pengumuman kelulusan, dua propesi yang di tes semunya lulus. Maka galaulah pak Kadir. Hatinya lebih memilih menjadi penyuluh pertanian. Akhirnya beliau menetapkan hati mengambil penyuluh pertanian dan meninggalkna guru.

Proses daftar ulang pun tiba. Dulu, untuk menuju kota Sintang dari Desa Merah Arai memakan waktu berhari-hari menggunakan sampan dayung. Pak Kadir melakukannya demi untuk menjadi PNS. Setibanya di kota Sintang, ada kabar kalau tempat pendaftaran ulang dilaksanakan di Pontianak. Maka termenung sambil menyerahkan diri pada Tuhan. Bagaimana caranya bisa ke Pontianak dengan waktu yang sesingkat ini. Tidak berhenti disitu, karena tekatnya menjadi PNS sangat kuat maka ditunggulah bus di pinggir jalan. Berjam-jam dan sampai berhari-hari bus pun tak kunjung tiba. Akhirnya pak Kadir menyerah dan mengurungkan niat menjadi Penyuluh pertanian dan kembali memilih menjadi guru.

SK pertama pak Kadir di SDN 15 Semadai. SD 15 Merah Arai sudah dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 1980, dan tahun 1981 masih kosong tidak ada siswa apalagi guru. Pada September 1982 pak Kadir dipanggil untuk pulang kampung dan mengajar di kampung halamannya. Beliau satu-satunya guru dan saat itu hanya menerima 1 kelas saja. Siswanya cuma 40 orang. Itupun jumlah yang didapat dari hasil jemput bola, atau dipaksa untuk mau sekolah.

Jaman dulu, masyarakat masih berpikir jika anak mereka sekolah, maka akan diambil oleh Belanda atau Jepang dan tidak akan pulang lagi ke kampung halaman, itu alasan orang jaman dulu tidak mau menyekolahkan anaknya. Mereka takut kehilangan anak. Pola pikir seperti inilah yang terus berusaha untuk dirubah oleh Pak kadir. Menjelaskan pentingnya sekolah, supaya harta tidak diambil orang lain, kita tidak ditipu oleh orang kota. Jika kita pintar maka bisa menjual hasil panen dengan harga lebih tinggi di kota dan kita bisa membangun desa dengan baik. Bahasa-bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh orang desa adalah jurus jitu yang digunakan pak Kadir. 

Pak Kadir ini akalanya banyak, mengunjungi dusun-dusun yang banyak anak-anak dan menjumpai orang tua mereka pada saat musim panen. Pada musim panen, orang sedang dalam keadaan senang dan bahagia sehingga apa yang ingin kita sampaikan akan didengar dan disambut dengan baik, setidaknya dipertimbangkan. Orang desa saat itu masih sangat hormat pada guru, sehingga jika ada guru yang datang ke rumah, ada dua tanda yaitu tanda berkah atau bahaya.

Hasil dari perjuangan pak Kadir jaman muda dulu sudah bisa dilihat sekarang. Banyak penduduk desa yang dulunya dipaksa sekolah sekarang sudah menjadi tokoh dan hidup senang. Ada yang menjadi kepala desa, PNS, petani sukses dan banyak lainya.

Sampai sekarang, pak Kadir masih menjadi orang yang dihormati di Desa, ingatannya masih kuat, matanya masih terang dan fisiknya pun masih kuat. Beliau menghabiskan masa tua dengan bertani dan mencari ikan di sungai. Rupanya, hamper 80 % masyarakat Merah Arai, nama mereka adalah hasil olah pikir pak Kadir. Begitu lahir anak, langsung tanya pak Kadir, siapa saya kasi nama?.


Anak dengan Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan Kinestetik
Sebelah Kiri:Okta Manasie
Namanya Ise, lengkapnya Okta Manasie,  anak yang lahir pada tanggal 16 Juni 2005, sekarang sudah berumur 12 tahun. Dia tercatat sebagai siswa kelas IV, dan dua kali tidak naik kelas. Ise dulunya lahir prematur,  usia kandungan ibunya tujuh bulan dan lahir dengan bobot 1 kg, kecil sekali saat itu, kata ayahnya. 

Di sekolah, Ise sedikit usil namun dia tidak begitu nakal. Ise tidak membuat kegaduhan hanya saja gerak geriknya sedikit mengganggu mata yang melihat, dia tidak bisa duduk diam dan selalu ingin bergerak. Cuek dan tidak sedikitpun peduli dengan pelajaran yang diberikan guru di kelas, jangankan mencatat atau menjawab pertanyaan guru, memperhatikanpun tidak. Dia asyik memperhatikan pekerjaan teman-temannya di kelas. Saking kesalnya dengan tingkah Ise, mau rasanya melempar dia dari luar jendela. Saat jam istirahat dia lebih banyak bermain bahkan semua permainan mau diikutinya, sangat aktif dan selalu menjadi pemimpin pada setiap permainan. 

Banyak orang pesimis dengan masa depan anak ini, termasuk orang tuanya sendiri, bagaimana tidak, sudah 12 tahun belum bisa membaca dan akan terancam tidak naik ke kelas V. Saya beranggapan sebaliknya, anak ini adalah mutiara, suatu saat nanti Ise akan menjadi orang hebat, hebat pada bakatnya sendiri. Bukankah Isaac Newton juga mengalami kondisi seperti Ise?. 

Ise adalah anak yang masuk dalam kategori kebutuhan khusus, dia harus dididik secara khusus pula. Di kelas, dia boleh tidak dijadikan pusat perhatian dan seyogyanya guru fokus pada siswa yang lain. Biarlah Ise menjadi pelengkap dan penghibur, namun di luar kelas dia harus menjadi pusat perhatian.

Setelah mengamati aktivitas Ise di sekolah dan di luar sekolah, saya mulai menemukan pintu kecerdasan dia, rupanya kecerdasannya adalah kinestetik (gerak). Setiap sore saya mengajak Ise bermain di rumah, sekedar santai-santai, memancing di sungai dan berkeliling Desa. Aktivitas-aktivitas psikomotorik ini saya selipkan dengan membaca dan berhitung. Kemanapun kami pergi, buku bacaan selalu dibawanya. Saya melihat perkembangan luar biasa, meskipun belum bisa membaca dan berhitung setidaknya Ise sudah punya modal besar yaitu kemauan untuk belajar. Catatan yang perlu diperhatikan dalam menangani Ise yaitu jangan pernah dipaksa, jangan biarkan dia jenuh dan beri kesempatan tubuhnya tetap bergerak. 

Kasus seperti Ise hanya ada satu-satunya di sekolah kami, saya mengambil peran untuk menanganinya. Biarpun saya belum cukup ilmu untuk menangani kasus seperti ini namun akan saya upayakan berbagai cara dan terus mempelajari berbagai metode dan ilmu yang menyangkut penanganan anak-anak yang berkebutuhan khusus,terutama anak seperi Ise. 

Target saya, semester depan Ise harus bisa membaca dan berhitung dan naik ke kelas V. Insya Allah berhasil. Amin.

Merah Arai, 3 Desember 2017

Gadis yang Aku Rindukan

Gadis yang kurindukan
Coba lihat ke langit, ada miliaran bintang. Apa lagi jika melihatnya disaat bulan terang, cantik sekali. Gugusan yang luar biasa, bimasakti membentang indah. Aku melihatnya dari atas pulau Borneo, tepat di langit Khatulistiwa pemandangan langit nampak lebih indah.

Malam ini dingin sekali, udaranya masuk sampai ke relung tulang. Malam kian mengajakku untuk tidur tapi langkah tak mau beranjak dari kursi kayu yang aku letakkan di halaman rumah. Nyanyian jangkrik dan semut hutan begitu syahdu. Suara riakan sungai yang hanya berjarak 50 meter terdengar jelas di telingaku, iramanya merdu. Ada banyak suara-suara mahkluk Tuhan yang malam ini sedang beraktivitas, mungkin saja salah satunya adalah makhluk halus. Suara-suara itu membentuk nada-nada indah untuk relaksasi di tengah malam yang sunyi. 

Biarpun sedang sendiri, jauh dari pusat keramaian. Malam ini aku tidak terlihat takut. Duduk sambil menengadah ke langit, memandang keindahan alam semesta. Seraya bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan untukku bernafas. Beginilah caraku merindukannya. Gadis yang namanya selalu kusebut dalam doaku. Saat gelap seperti ini, gadis itu hadir memberi seberkas cahaya, malam yang gelap menjadi malam yang indah. Aku tersenyum memandanginya. Betapa indah gadis itu, berlama-lama menatapnya hatiku kian sejuk. Melihat ke langit seolah aku dapat melihat aktivitasnya malam ini, saat ini mungkin dia sedang tidur. Selamat istirahat, sayang. 

Langit, hutan, sungai dan bintang di tempat ini selalu bercerita hal sama. Tentang rinduku yang terus mengalir, tentang kata-kata yang tak mau berhenti, tentangmu. Di tempat yang sunyi ini, aku mewakilkan rinduku pada bintang-bintang di langit sana. Supaya rindu itu sampai padanya. Rindu ini terlampau berat untuk bisa kupikul sendirian, terlampau besar untuk bisa kulempar ke arah bintang di langit sana, dan rindu ini tidak akan aku biarkan hilang begitu saja, percayalah.

Rindu itu sebuah kebatinan rasa yang harus tersampaikan kepada pemiliknya bagaimanapun caranya. Aku punya cara dan tahu metodenya. Diapun Begitu. Rindu tak diciptakan oleh jarak, tapi perasaan. Aku merindukannya bukan karena ia jauh, namun karena ia telah ada di dalam jiwa dan ragaku.

Rindu seperti ini tidak akan lama lagi, akan segera berakhir. Akan diobati dengan pertemuan yang teduh. Allah sudah merencanakan aku dan kamu bertemu dalam satu waktu. Saat ini, biarlah kita bertemu dalam rindu yang bertumpuk-tumpuk di atas sajadah, menggulung-gulung hingga besar di langit sana dan bercahya mengalahkan bintang kejora.

Cinta, bersabarlah dalam menanti seperti ketidakinginan kita agar terompet Sangkakala tak segera berbunyi sebelum amal kita terasa cukup. Sesuatu akan datang pada waktunya masing-masing sebab sudah Allah takdirkan demikian. Bukankah sekuat apapun kita mengusahakan datangnya senja ketika fajar baru saja terbit, itu tidak akan terjadi begitu saja bukan? Kita tetap harus menunggu waktunya tiba, melewati siang. Jadi, bersabarlah.

Aku masih takut dengan sunyi. Apalagi kalau gelap pekat. Di sini, kuntilanak tidak takut dengan manusia. Coba saja jika kamu ada di sampingku. Sunyi dan gelap akan membuat kuntilanak menjauh ketakutan. Cahaya cinta akan membuat siapa saja yang mendekat akan menjauh. 

Cinta, mari saling mendoakan, biar rindu ini saling bertaut dan proposal halal yang telah kita sampaikan segera dikabulkan. Ingat, kamu harus sombong pada laki-laki lain untuk menjaga perasaan lelakimu, akupun begitu.

Nanti, bintang-bintang indah yang aku lihat di atas langit desa ini, akan kita lihat bersama. Di sini, di Desa Merah Arai, pedalaman Kalimantan. Akan kupastikan kau terhibur dan tidak minta pulang jika bersamaku di tempat ini. Tahun depan, ikut yaa. 

Jaga hati, jaga diri dan jaga Iman. 

Merah Arai, 01 Desember 2017

Ini Sekolah Bukan Kandang Ayam

SDN Sintang Kalbar
SDN 15 Merah Arai Kab. Sintang, Kalbar
Bangunannya sudah tidak layak, berlantai tanah, beratap seng, dindingnya mulai lapuk, sepintas jika tidak ada papan nama sekolah orang akan menyebutnya kandang ayam. Namun percayalah, bangunan itu adalah tempat kami belajar, tempat kami mengukir masa depan, tempat anak-anak hebat calon pemimpin masa depan menimba ilmu. 

SDN 15 Merah Arai, didirikan pada tahun 1980. Sekolah inilah yang membuat masyarakat bisa menghitung berapa jumlah dan harga getah karet yang mereka dapat setiap bulannya. Sekolah inilah yang membuat masyarakat bisa membaca visi dan misi calon kepala daerah dan Presiden. Sekolah ini adalah harapan bagi masyarakat di desa Merah Arai, harapan untuk hidup lebih baik. 

SDN 15 Merah Arai memiliki siswa keseluruhan 99 orang. Sekolah induk berada di dusun Mawang Manis, pusat desa Merah Arai, memiliki 6 kelas dan 6 orang guru (3 PNS dan 3 honorer), sedangkan kelas jarak jauh berada di dusun Pintas, memiliki 3 kelas yaitu kelas I, II dan kelas III, hanya memiliki 1 orang guru (honorer). Gurunya mengajar dengan kelas rangkap dengan pola pagi sore. 

Siswa di sekolah ini berasal dari 4 dusun yaitu Mawang Manis, Natai Bungkang, Pandau dan Pintas. Jarak dusun pandau ke sekolah 20 menit dengan berjalan kaki, sedangkan jarak dusun terjauh yaitu Pintas 90 menit. 40 persen siswanya berasal dari Pandau dan Pintas. Bayangkan, setiap harinya mereka menempuh perjalanan sejauh itu untuk menimba ilmu. Kasihan sekali anak-anak itu jika para guru tidak memberikan pelayanan yang prima dan pengajaran yang baik. Dosa besar rasanya. 

Kelas jarak jauh, baru didirikan pada tahun 2012. Jika tidak didirikan maka anak-anak di dusun tersebut tidak bisa sekolah. Seumuran anak kelas I sampai kelas III belum berani untuk datang ke sekolah induk dengan jarak 1.5 jam, orang tuanyapun tidak mau mengantar setiap harinya dengan kesibukan mencari rezeki di ladang dan kebun. Untuk mengatasi persoalan itu, maka didirikanlah kelas jarak jauh dengan berbagai kekurangannya. Setelah naik kelas IV barulah anak-anak di dusun Pintas belajarnya di sekolah induk. Jumlah mereka lumayan banyak, biasanya mereka pergi dan pulang sekolah bersama-sama. Rombongan Pintas menumpuh 70 menit ke dusun Pandau dan rombongan Pandau sudah menunggu dan mereka bersama-sama menuju sekolah induk dengan tambahan waktu 20 menit lagi. Bukankah seru sekali seperti ini? 

Jika banjir, biasanya anak-anak dari Pintas dan Pandau tidak bisa ke sekolah karena tidak bisa lewat. Jalan yang mereka lalui adalah sepanjang pinggir sungai. Jika melewati hutan, terlalu jauh dan banyak sungai-sungai kecil tanpa jembatan, mereka tidak akan mampu. Sekolah pasti kelihatan sepi tanpa anak-anak dari Pintas dan Pandau. 

Di sekolah kami, anak-anaknya cantik dan ganteng, namun sayang mereka ke sekolah banyak yang tidak menggunakan sepatu, baju yang dipakaipun kumal dan ada robek-robeknya. "Pakaian bukanlah kendala, tapi semangat belajarnya" kata anak kelas VI serempak. Saya angkat topi, salut. You are kid jaman now.

Mohon Bantuan fasilitas sekolah
mengintip dunia
Fasilitas bukanlah kendala untuk terus belajar. Panas seng dan uap dari tanah, kami anggap sejuk karena masih ada pendingin alam sepoi-sepoi yang keluar masuk dari lobang-lobang dinding. Kami dapat mengintip aktivitas belajar dari kelas lain. Jika ada anak yang sedang mengintip, begitu ditegur "apa yang kamu lihat? "saya melihat dunia tetangga pak, saya melihat Jakarta, ibu kota negara dan Pulau Sumatera". Begitu cara mereka menghibur diri. 

Di sini, saya belajar banyak, belajar dari anak-anak yang semangatnya dalam mencari ilmu melampaui semangat saya memberikan ilmu, saya tidak boleh kalah, setidaknya seimbang. Mereka bisa bahagia dengan kondisi seperti ini karena kebahagiaan bisa mereka ciptakan sendiri. 

Terkadang, untuk bisa bahagia kita tidak harus selalu melihat bentuknya, namun kita hanya perlu merasakan.

Merah Arai,  28 November 2017.

Akhirnya Banjir Juga

Banjir di Desa Merah Arai
Banjir di Desa Merah Arai
Pertama sekali tiba di Desa Merah Arai, banyak hal yang saya tanyakan pada masyarakat termasuk soal banjir. Rumah yang saya tempati adalah rumah dinas Kesehatan, sudah tiga orang petugas kesehatan yang tinggal di rumah tersebut, tidak sampai setengah tahun mereka minta pindah ke rumah lain, alasannya adalah banjir. Rumahnya bagus, permanen, hanya berjarak 50 meter dari pinggir sungai namun jika terjadi banjir sangat merepotkan.

Kata masyarakat, banjir terjadi setahun 2 kali, saat akhir tahun dan awal tahun. Saya paling takut kalau banjir bandang, untunglah banjir di sini bukan banjir bandang melainkan banjir air sungai yang meluap secara perlahan. Seringnya terjadi banjir sehingga waktu pertama tiba di desa ini, masyarakat langsung bergotong royong membuatkan saya tempat tidur yang tingginya 1.3 meter. Waktu itu saya sempat protes "kenapa tinggi sekali, pak?" Tanya saya. "Biar tidak kena banjir", jawab mereka. Waktu itu, saya belum paham bagaimana kondisi banjir di sini. Sekarang saya mulai mengerti, banjirnya lumayan ekstrim. 

Senin, 27 November 2017, pagi harinya sebelum berangkat sekolah, saya melihat air sungai sudah masuk area jalan tapi belum ada tanda-tanda akan terus membesar dan saya masih memberi status siaga 2. Barang-barang di rumahpun masih saya biarkan begitu saja, tidak dipindahkan. 

Menjelang pulang sekolah, pak Hasan, tetangga saya memberi kabar kalau air mulai naik. Mengingatkan supaya saya mengemas barang sehingga tidak basah. Begitu saya pulang, air belum masuk ke rumah dan saya meningkatkan status menjadi siaga 1. Air tidak kunjung surut, bahkan terus semakin membesar, akhirnya saya menyerah dan mulai mengangkat semua barang di lantai ke tempat yang tinggi. Anak-anak sekolah mulai berdatangan untuk membantu mengungsikan barang-barang saya, karena masih siaga 1, biar di rumah saja, belum saatnya mengungsi.

Menjelang sore, saya melihat ke sungai, banyak kayu besar dan sampah hutan yang lewat, airpun semakin deras, langit mendung dan air semakin naik. Rupaya di hulu sungai sudah hujan lagi. Tidak mau mengambil resiko, saya ungsikan semua barang ke rumah kepala sekolah yang berada di depan rumah saya dan dua kali lebih tinggi dari rumah saya. Pengalaman banjir di desa ini, katanya air tidak pernah sampai setinggi teras rumah kepala sekolah. Syukurlah, pikir saya. 

Malamnya air mulai stabil, besok pagi akan ada tanda-tanda surut. Saatnya gotong royong membersihkan lumpur di rumah. Semoga kejadian ini tak terulang lagi. Sangat merepotkan sekali. Ampun deh.

Merah Arai, 27 November 2017.

Laboratorium Kehidupan itu Bernama Insan Cendekia

Out Bound
Outbound Penerimaan Siswa Baru 2017
Pertengahan tahun 2015 saya mengikuti seleksi dan diterima menjadi salah satu guru di MAN Insan Cendekia Aceh Timur. Sekolah ini adalah madrasah unggulan Kemenag yang fokus pada sains sehingga disebut madrasah akademik. Perpaduan IMTAQ dan IPTEK adalah keunggulannya disamping program Tahfidz. Konsep sekolahnya berasrama, perpaduan konsep pesantren dan sekolah umum. Siswanya hasil seleksi nasional dan berasal dari berbagai daerah di dalam dan luar provinsi. Di Indonesia, sekolah ini baru ada 20 buah yang tersebar di 20 provinsi pula. Targetnya ke depan, semua provinsi memiliki satu MAN Insan Cendekia. Semoga terwujud. 

Banyak hal ingin saya ceritakan tentang sekolah ini. Kali ini saya ceritakan tentang sebagian kecil saja. Sejak pertengahan 2017 saya ijin pamit tidak lagi mengajar para remaja hebat di MAN Insan Cendekia Aceh Timur dan mulai mengajar di tempat baru, yaitu mengajar anak-anak kecil di pedalaman Kalimantan Barat. Berhubung tidak lagi bertugas di MAN Insan Cendekia, saya ingin sedikit bercerita tentang sekolah tersebut, jika masih di sana dan bercerita, maka terkesan ada keberpihakan dalam cerita nantinya. 
                                      *****
Jika mau tahu seleksi siswa baru paling fair, murni dan jujur untuk dapat diterima pada sebuah sekolah maka merujuklah pada MAN Insan Cendekia. Saya terlibat selama dua kali dalam kepanitian penerimaan siswa baru yaitu tahun kedua dan ketiga. Saya kagum dan salut melihat prosesnya. Hanya kekuatan intelektual dan bantuan Allah-lah yang bisa membuat seorang anak bisa lulus. Kekuatan pejabat, orang dalam atau kekuatan uang dapat terabaikan dan tidak berlaku. Proses seperti inilah yang akan berdampak pada karakter generasi Indonesia kedepannya. Generasi jujur yang didapat dari proses yang jujur pula.

Siswa di MAN Insan Cendekia adalah pejuang tangguh, belajar agama dipadukan dengan sains adalah makanan sehari-hari. Pembinaan karakter di asrama tidak pernah terlewatkan. Fisiknya kuat, mentalnya dahsyat, mengeluh hampir tidak pernah. Saya banyak belajar dari anak-anak di sana tentang pertemaMinan, seni, dan kreativitas. Tentang ketangguhanpun tidak sedikit saya belajar dari mereka.

Lingkungannya humanis. Budaya gotong-royong, bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk kesuksesan bersama masih berlaku di sekolah ini. Apapun yang dilakukan, hasilnya adalah untuk kepentingan bersama. Maka jangan heran, jika ada event apa saja di MAN Insan Cendekia, baik event OSIM atau sekolah, guru selalu sibuk membantu ini itu dan anu. Tidak enak badan, jika mereka tidak ikut terlibat, malu hati rasanya. Terkadang bukan tanggungnya namun tetap ikut membantu. Padahal setiap kegiatan sudah ada panitianya dan dibentuk secara bergilir, ditambah panitia tersebut diberikan honor. Menariknya, bukan soal ada tidaknya honor, bukan materi yang dikejar melaikan kepuasan hati melihat sebuah event yang dibuat bisa sukses. Bahagia tak terkira. Guru-gurunya masih muda, ganteng dan cantik-cantik. Semangat dalam bekerja, ikhlas dan totalitas. 

Bagi saya, sekolah ini adalah tempat berkumpulnya orang-orang hebat, rugi rasanya jika saya tidak menerima manfaat dari orang-orang hebat tersebut. Sebagai anak muda yang haus akan ilmu dan pengalaman, saya belajar dan melakukan  banyak hal diluar kewajiban sebagai guru yaitu mengajar. Di luar jam mengajar, saya lebih banyak nongkrong di ruang Tata Usaha. Melihat dan mengamati apa yang para staf kerjakan di sana, sesekali saya bertanya tentang yang mereka kerjakan. Terkadang saya ikut membantu pekerjaan teman-teman di sana dalam hal mengurus kertas-kertas negara. Sepintas orang melihat, saya hanya buang-buang waktu menyibukkan diri. Orang tidak tahu, di ruangan Tata Usaha inilah semua hal tentang sekolah dikerjakan. Ia adalah pusat sebuah lembaga, yaitu sekolah. Semua hal tentang sekolah, di sini mulanya. Kabar baiknya, saya berhasil mendapatkan ilmu di ruangan ini, mulai dari tentang surat menyurat, masalah tata kelola uang negara, dan administrasi lainya. Orang-orang di ruangan ini dengan senang hati mengajari saya dan saya menerima pengalaman yang luar biasa. 

Tidak hanya itu, saya juga sering ikut Bang Aiyub yaitu staf teknisi di MAN IC Aceh Timur. Bang Aiyub ini tugasnya adalah menjamin proses belajar mengajar dan kehidupan di sekolah berjalan dengan lancar. Mulai dari menjamin ketersediaan air di setiap tempat yang sudah di sediakan, Air Conditioner di dalam kelas dan asrama, listrik harus tetap stabil dan semua yang berurusan dengan pertukangan. Manfaat menemani dan ikut serta membantu teknisi bekerja, di samping mendapatkan pahala, juga mendapatkan ilmu. Ilmu pertukangan adalah skil khusus, mendapatkannya harus kursus dan harus bayar mahal. Saya mendapatkan ilmu ini dengan gratis. Terkadang juga mendapatkan gratis kopi dingin pake susu sebagai bonus sudah membantu bekerja. 

Saya pernah bekerja atau magang di beberapa sekolah, pernah bergabung dengan beberapa organisasi. Saya mengamati dan merasakan bahwa tidak ada yang spesial dengan gaya kepemimpinan atasan saya. Biasa-biasa saja. Di MAN Insan Cendekia Aceh Timur saya melihat dan merasakan hal yang berbeda. Kepala Sekolahnya adalah Pak Shulfan, masih muda dan istrinya juga cantik. Gaya kepemimpinannya luar biasa menurut hemat saya, tenang tapi pasti. Tidak menyakiti, dan selalu memberikan teladan kepada para stafnya. Pak Shulfan tidak pernah menganggap bawahannya sebagai anak buah melainkan sebagai teman bekerja, Saat memperkenalkan anak buahnya kepada orang lain, beliau sering menyebutnya sebagai staf ahli. "Kenalkan, ini namanya sifulan, staf ahli saya di sekolah". Manusia mana tidak senang jika diperlakukan seperti itu, merasa sangat dihargai. 

Keterbukaan soal anggaran sekolah, hanya di MAN Insan Cendekia saya merasakannya. Para pimpinan, termasuk bendahara tidak sungkan bercerita bahkan mendiskusikan anggaran sekolah mulai dari berapa, kemana dan untuk apa. Bahkan kertas yang di dalamnya terpampang jelas semua angka-angka rupiah terletak manis di atas meja tanpa tersembunyi sedikitpun. Akses untuk mengetahui anggaran sekolah sangat mudah sehingga para guru tidak kesulitan dalam menyusun program di sekolah, apalagi mereka selalu dilibatkan. 

Menariknya, kepala sekolahnya ini mampu menempatkan diri sesuai kondisi dan situasi. Kapan harus menjadi pemimpin, kapan menjadi abang, kapan menjadi ayah dan kapan menjadi teman. Beliau tidak kaku, sehingga para guru dan staf tidak merasa takut berhadapan dengan kepala sekolah. 

Budaya semangat, kerja keras, totalitas dan ikhlas masih awet di sekolah ini. Semoga terus begitu. Akan banyak lahir orang-orang hebat dari MAN Insan Cendekia ini. Para pemimpin yang cerdas dan berakhlakul karimah. Pemimpin yang hatinya tidak lepas dari Al-Quran dan peduli pada banyak orang. Generasi inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin pada tahun 2045 yaitu tahun emas Indonesia. MAN Insan Cendekia sedang mempersiapkannya.

Arti sebuah kehidupan, kebahagiaan dan cinta banyak saya dapatkan di sekolah ini. Pengalaman yang hebat, pembelajaran yang kuat, dan tempat mengekspresikan ilmu yang didapat, sehingga saya menyebutnya sebagai laboratorium. Ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan sangat berguna sekarang,  bahkan sudah dan akan saya terapkan di manapun saya berada. Terimakasih banyak kepada MAN Insan Cendekia Aceh Timur telah memberi kesempatan untuk belajar banyak hal, terimakasih pengalamannya dan terima kasih doa-doanya. Doakan supaya saya menjadi pribadi yang tidak lepas dari prinsip Al-Quran dan Hadis. Pribadi yang terus berbuat untuk kemaslahatan umat, berbuat yang terbaik pada bangsa tercinta terutama dunia pendidikan. 

Sintang, 07 November 2017

Ini Desaku, Mana Desamu

Desa Merah Arai adalah sebuah desa kecil nan sejuk yang berada di Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Penduduknya tidak terlalu ramai cuma sekitar 220 KK. Jaraknya dari pusat kecamatan hanya 47 Km dan untuk menjangkau Desa ini harus menggunakan perahu motor. Baca Jauhnya Desa Merah Arai.

Penduduk di desa ini manyoritas bekerja sebagi petani. Karet adalah komoditi utama mereka. Di samping itu, penduduk desa juga berladang, seperti menanam padi, cabai, tomat, sawi dan sayur-mayur lainnya. Di sini buah-buahan banyak sekali, beraneka ragam sampai buah yang tidak pernah dimakan oleh orang kota, di desa ini ada barangnya. Jika musim buah, guru akan mendapatkan porsi spesial. Ada saja yang mengantar buah-buahan ke rumah. Terkadang, jika sudah terlalu banyak, kita harus menolak sedekah orang dan menghambat mereka untuk mendapatkan pahala. Saya pikir, menolak lebih baik daripada terbuang mubazir.

Penduduk desa kami tidak hafal nama-nama ikan laut, jangankan makan, lihat saja kadang mereka tidak pernah. Sehingga mereka tidak pernah bermimpi mendapatkan sepeda dari presiden Jokowi. Soal ikan, ikan sungai adalah favorit penduduk desa, ikan baung masyarakat menyebutnya. Memancing atau menembak ikan adalah aktivitas penduduk di waktu luang. Ketika mereka mulai menginginkan makan ikan, maka langsung terjun ke sungai. Dapat dua tiga ekor langsung pulang untuk dimasak. Jangan harap ada orang yang jual ikan keliling di sana. Jika akrab dengan anak-anak kecil, kita akan dibagi ikan hasil tangkapan mereka. Anak-anak di sini, hobinya menembak ikan.

Agama manyoritas penduduk adalah Kristen. Hidup dalam keberagaman sudah terbiasa sehingga tidak menjadi kendala bagi saya. Toleransinya sangat tinggi di sini. Agamaku aku urus sendiri dan agamamu kamu urus sendiri. Kita tidak saling ikut campur soal agama. Dan salutnya, penduduk desa sangat memahami apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam Islam dan mereka memperlakukan saya dengan sangat terhormat, begitu pula saya memperlakukan mereka.

Sinyal di Desa Merah Arai
Tower HP Mini
Desa kami tidak ada sinyal telekomunikasi, apalagi akses internet. Hanya ada satu dua tempat di desa yang terkadang mampu menangkap sinyal satu batang itupun tergantung tiupan angin. Jika angin bertiup ke arah kita maka beruntunglah. Kalau teman-teman menghubungi handphone saya tidak terhubung, mohon dimaklumi perusahaan telekomunikasi belum mau bersahabat dengan orang desa seperti kami. 

Radio adalah sumber berita utama di desa kami, banyak rumah sudah memilikinya. Untuk mendapatkan jaringan harus hati-hati penuh kesabaran, sedikit goyang atau bergeser maka siarannya akan hilang. Setiap rumah ada posisi-posisi tersendiri untuk meletakkan radio atau antenanya supaya mendapatkan suara yang jernih. Kami akan percaya sepenuhnya apa yang disampaikan oleh penyiar radio tersebut, berita apa saja, temasuk pengumuman atau berita duka, karena satu-satunya sumber berita hanyalah dari radio tersebut. Semoga beritanya tetap berimbang.

Soal listrik, Alhamdulillah sudah teratasi. Kami tidak menggunakan jasa PLN. Kami menggunakan lampu panel surya, semua rumah memilikinya. Kabarnya, itu bantuan dari dana desa. Sayapun kebagian satu.

Desa kami memiliki air bersih yang cukup, sumbernya dari mata air di atas Bukit Alat. Bukit Alat adalah bukit yang membentang dari Desa Lintang Tambuk sampai Nanga Masau. Airnya mengalir deras ke setiap rumah melalui pipa-pipa tanpa harus menggunakan mesin pompa. Menariknya, air ini tidak perlu dimasak dan bisa langsung diminum. Kata penduduk desa, airnya sudah bersih dari bakteri dan terjamin, namun saya belum mendengar apa pendapat BPOM soal ini. Namun, sampai saat ini saya masih mendengarkan pendapat masyarakat tentang air tersebut. Tidak pelu dimasak dan langsung diminum.

Jika ada yang bertanya, apa kabar hewan ternak seperti babi, kambing dan sapi di desa Merah Arai? Jawabannya adalah aman dan terkendali. Budaya hidup bersih sudah lama diterapkan oleh warga desa. Binatang ternak harus tetap berada di kandang, tidak boleh berkeliaran di perkampungan. Bayangkan saja jika binatang tersebut berkeliaran di perkampungan, maka kotorannya akan sangat mengganggu dan tanaman-tanaman warga akan abis dimakan dan dirusaknya. 

Budaya hidup bersih ini dulunya dikampanyekan oleh salah satu guru SDN 15 Merah Arai, beliau adalah guru pertama dan satu-satunya saat itu. Namanya adalah Sukadir, beliaulah yang merintisnya saat itu. Tidak hanya budaya hidup bersih, ada banyak program kemasyarakatan dan sosial yang beliau rintis dan sampai saat ini diumurnya yang hampir pensiun, ada program yang sudah berhasil dan ada juga yang belum berhasil. Di kesempatan lain, saya akan ceritakan khusus tentang pak Sukadir, guru perintis yang melegenda.

Sintang, 3 November 2017

Jaunya Desa Merah Arai

Bus Kayan Hulu
Bus Kebanggaan Masyarakat Kayan Hulu
Bus bernama Jurukito hanya ada dua di Kabupaten Sintang, Bus yang kecil treknya hanya sampai Desa Nanga Mau ibu kota Kacamatan Kayan Hilir dan yang besar sampai ke Nanga Tebidah, ibu kota Kecamatan Kayan Hulu.  Bus ini keluaran tahun 90-an. Kalau di provinsi lain Bus seperti ini sudah masuk gudang rongsokan.

Kekuatannya sangat bandel, jangan pernah meragukannya. Jalan mendaki, berbatu, tidak membuat mesinnya meraung kelelahan, kalau jalan becek berlobang sampai 1 meter masih bisa diterobos oleh bus ini. Muatan kursinya sampai 26 orang, namun biasanya tidak semua terisi karena selalu dipenuhi oleh barang-barang bawaan ataupun kiriman masyarakat. Dari Kota Sintang ke Nanga Tebidah, Ibukota Kecamatan Kayan Hulu ongkosnya cuma Rp.100.000. Itu sedikit perkenalan dengan Bus Jurukito.

Kehidupan baru saya berada di Desa Merah Arai Kecamatan Kayan Hulu, untuk menuju desa Merah Arai butuh nyali dan fisik yang prima dan harus pandai berenang. Jarak Kota Sintang ke Ibukota Kecamatan Kayan Hulu, Nanga Teubidah cuma 138 Km, jalannya kecil, berbatu, tanah kuning, banyak lobang, sehingga butuh waktu 6 jam perjalanan menggunakan Bus Jurukito. Bisa juga dilalui menggunakan sepeda motor dan banyak juga orang menggunakan mobil Starda atau double cabin, masyarakat disini menyebutnya taxi.

GGD Sintang
Perahu menuju Desa Merah Arai
Untuk menuju desa-desa di Kecamatan Kayan Hulu, hampir semua jalan rayanya adalah sungai. Ada tiga cabang sungai yaitu Jalur Kayan, Jalur Teubidah dan Jalur Payak. Dari ketiga jalur tersebut hanya jalur Kayan yang lumanya tidak ekstrim karena airnya selalu banyak atau dalam. Kalau jalur Teubidah dan jalur Payak airnya sering sedikit, dangkal dan banyak batu-batu besar yang membuat perahu motor tidak bisa melaju dengan maksimal.

Transportasi antar desa dan menuju ke pusat kecamatan adalah menggunakan perahu motor. Perahu ini modelnya beragam, ada yang besar, ada pula yang kecil, termasuk mesin yang digunakan. Karena perahu adalah alat transportasi utama sehingga hampir setiap keluarga memilikinya, sekurang-kurangnya adalah perahu dayung.

Nah, tempat saya belajar dan mengajar ada di Desa Merah Arai, tepatnya di SD No 15 Merah Arai. 47 km dari kota kecamatan. Untuk menuju ke sana harus menggunakan perahu motor dari Teubidah yaitu Kota kecamatan, lebih kurang 3 jam perjalanan, itupun kalau air sungainya sedang banyak, pasang kalau istilah masyarakat disini namun kalau airnya sedang sedikit atau surut maka membutuhkan waktu sampai 5 jam perjalanan perahu motor. Perlu diketahui, disini tidak ada perahu angkutan penumpang, yang ada hanyalah perahu masyarakat yang hilir-mudik membawa hasil kebun untuk di jual ke Kota kecamatan. Jadi jangan membayangkan seperti di kota yang angkutan umumnya selalu ada dimana-mana bahkan bisa pesan online dan dijemput sampai di depan rumah. Disini NO. 

Kalau mau menuju desa-desa sepanjang jalur sungai kayan, kita harus menumpang perahu masyarakat yang lewat. Cukup berdiri dipinggir sungai sambil menyapa dan bertanya mau kemana? Jika tujuannya sesuai dengan keiinginan kita maka mereka akan meminggirkan perahu dan kita naik, selamat sampai tujuan. Kalau tidak ada perahu masyarakat yang lewat, ya selamat bermalam lagi di Teubidah.

Guru dan tenaga kesehatan adalah manusia paling di sayangi oleh masyarakat di daerah pedalaman. Maka jangan lupa memperkenalkan diri dan memakai salah satu atribut yang menunjukkan kita adalah Guru atau tenaga kesehatan. Setidaknya adalah topi.

Teubidah, 01 November 2017


Cinta Tanpa Syarat

darman reubee
Malam ini kamu tidur lebih awal dari biasanya. Mungkin jadwal kantukmu kembali normal setelah beberapa malam aku ganggu. Maafkanlah, jika itu mengganggu. Aku yakin, kamu tidak akan marah. Pada Ramadhan ini, aku begitu sering mengganggu jam tidur gadis itu. Gadis penyuka ceker ayam, warna hijau dan buah pear. Siapa gadis itu? Biar aku saja yang tahu, kalian jangan coba menebak-nebak, takut salah nanti, jadinya baper. 

Aku berpikir lebih keras dari biasanya, menyatukan seluruh sel saraf hanya untuk menjawab pertanyaan, apa gerangan semua ini?. Ada yang aneh terhadap pertemuan kami, dipisahkan oleh jarak dan waktu namun ada kekuatan maha dahsyat yang menggerakannya sehingga kami bertemu. Awalnya hanyalah pertemuan pikiran dan batin, lalu dipertemukan di sebuah tempat yang sudah Allah skenariokan dengan sangat luar biasa. Tempat yang banyak orang mau ke sana, tapi tidak semua bisa, hanya yang beruntung saja. Tidak kenal dijadikan kenal. Yang jauh dijadikan dekat. Dari suka menjadi cinta. Apakah itu yang dinamakan jodoh? Entahlah, aku tidak mau menebak. Tapi semoga itu benar adanya.
*****
Malam itu, kamu bertanya bagaimana kisah gadis petualang? Bagaimana kisah mencintai dalam diam? Aku hanya menjawab: mereka hanyalah kisah fiktif belaka. Jika tidak fiktif, mereka akan disisiku sekarang. Pada prinsipnya fantasi gadis petualang ada pada kamu sekarang. Kamu memiliki semua hal yang ada pada gadis petualang bahkan melebihinya dalam segala hal. Kamu tidak menyadari tapi aku mengetahui. 

Saat kamu bertanya tentang kisah mencintai dalam diam? Aku diam sejenak. Menghela nafas, kembali mengingat kisah itu. Aku pernah mencintai seseorang dalam diam, sebelum dia diambil orang secara diam-diam. Gadis itu limited edition. Ya, karena saat itu aku belum mengenal kamu. Setelan bertemu kamu, aku sadar bahwa gadis seperti itu ada banyak di dunia ini. Kamu adalah salah satunya. Dan, aku mendapatkannya. 

Suka dan cinta adalah dua hal yang berbeda. Menyukai seseorang atau banyak orang itu kodratnya manusia, mudah dilakukan dengan berbagai alasan. Berbeda halnya dengan mencintai. Mencintai itu tidak mudah, butuh proses dan respon hati yang kuat karena cinta tidak boleh dipaksakan tetapi dirasakan. Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Allah pada sepasang manusia untuk saling mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, saling pengertian dan saling-saling lainya. Cinta itu seperti gelombang beta yang bergerak tak terduga yang mempengaruhi jaringan-jaringan otak sehingga disebutlah gelombang cinta. Gelombang cinta dapat membuat yang merasakannya menjadi bahagia, senang dan kerap berprilaku seperti orang gila (suka senyum-senyum sendiri). Kira-kira begitulah konsepnya.
*****
Bagaimana bisa memenangkan cinta ini? tanyamu. Baiklah, aku beritahu. Menggunakan farmasi 4-4-3 dengan menyerang penuh membuat pertahananmu lumpuh, logika-logika bertahan yang kerap kamu lontarkan dapat aku mentahkan. Saat itu, aku juga menggunakan metode pasukan anti teror, tangkap dulu baru introgasi. Dengan metode itu membuat kamu shok, dan kamu bertanya kenapa harus demikian? Jika tidak demikian, saat aku sibuk dengan introgasi, kamu sudah diculik orang, dan aku tidak rela itu terjadi. Aku harus berpikir dan bergerak 10 kali lebih cepat dari orang pada umumnya. Untuk apa? Supaya aku bisa memilikimu.

Kamu itu gadis seperti apa sih? Apa istimewanya? Entahlah. Pokonya kamu terlihat beda. Terlihat lebih cerdas dan elegan. Saat beberapa kali melakukan diskusi, aku menyukai tema-tema yang kita bahas. Temanya berkelas, kita bercerita bagaiman masa depan, bagamana pendidikan untuk anak-anak, bagaimana kurikulum yang akan kita terapkan dirumah nantinya, dan banyak hal lainnya. Diskusi seperti ini tidak akan didapati jika kamu bukan gadis yang cerdas. Ketika orang masih bergombal-ria kita sudah membicarakan konsep rumah tangga, kita sudah bercerita bagaimana masa depan keluarga. Tidak bermaksud melawan takdir, hanya mempersiapkan diri untuk menjemput takdir itu.

Sekian lama tidak bertemu, kemarin akhirnya bertemu. Pertemuan yang didesain sedemikian rupa dengan beberapa pola tak bercuriga dengan gaya senyap tapi tidak merayap. Saat melihat kamu, terbesit di hati “kamu jauh dari ekspektasiku selama ini”. Kamu yang didepanku lebih manis dari yang aku bayangkan, lebih ramah, elegan, bersahaja dan merasa sangat senang berada disampingmu.

Kamu anggun bagaikan keindahan semesta, ada gelombang bahagia saat menatapnya. Mohon berkenan, aku ingin menatapmu lebih lama, kamu jangan malu.
===
Teman. Suatu saat nanti, akan aku kenalkan pada kalian, siapa gadis itu? Tapi kau jangan cemburu.

Sigli, 23 Juni 2017

Sendiri, Kita Punya Kesenangan yang Berbeda

Meninggalkan keramaian
Jika ada yang bertanya: dimana kenikmatan sering menyendiri? Maka saya akan menjawab: kamu akan tahu jika kamu memahami arti menyendiri.

Cukup lama saya mencoba memahami arti menyendiri, menyendiri dalam artian positif. Hidup jauh dari keramaian, jauh dari suara-suara sumbang tukang kritik yang tak pernah memberikan solusi, jauh dari berita-berita miring, jauh dari berita kriminal yang tak bermoral dan jauh dari gosip-gosip murahan. Menyendiri adalah kesenangan. Menyendiri adalah kebahagiaan.

Menyendiri bukan berarti tidak peduli dengan lingkungan sosial, menyendiri bukan berarti putus asa, dan menyendiri bukan berarti kalah terhadap kerasnya hidup. Menyendiri adalah mengumpulkan energi, meracik ide, menjernihkan pekiran dan mempersiapkan strategi untuk meraih sesuatu yang lebih besar. Karena menyendiri adalah kesenangan.

Dulunya saya pernah berpikir negatif terhadap orang yang suka menyendiri, apasih yang mereka lakukan saat sendiri?, Jarang keluar rumah, jarang ngumpul dengan teman-teman, jarang ke tempat hiburan, pastinya jauh dari keramain. 

Ada salah satu teman saya yang sangat sering menyendiri. Setelah diselidiki, teman saya ini sedang fokus belajar bahasa Inggris, dia ingin mengikuti seleksi beasiswa magister di Australia. Alhamdulillah sekarang studinya hampir selesai. Bayangkan jika teman saya ini masih sering melakukan aktivitas yang tidak terlalu prioritas dengan teman-temannya di luar sana, maka dipastikan dia akan gagal ke Australia. 

Ada juga teman yang cukup lama hilang dari peredaran media sosial, bahkan sangat sulit untuk dihubungi. Setelah dicari tahu, rupanya si teman ini sedang rutin mengikuti majelis taklim dan mulai aktif di majelis Zikir. Bagi saya itu adalah kesenangan dan prestasi luar biasa baginya. Menyendiri meninggalkan aktivitas bersama teman-teman yang tidak produktif dalam hal kebermanfaatan dan mencari sesuatu yang lebih bermanfaat untuk kepentingan masa depan yang lebih cerah.

Ada bayak kasus orang-orang yang menyendiri, meninggalkan aktivitas yang hanya buang-buang waktu, meninggalkan teman-teman yang tidak menguatkan hati, menuju aktivitas yang memperkaya pikiran dan membesarkan hati.

Mulai saat itu saya mulai paham, kalau menyendiri adalah kesenangan yang di dalamnya ada kebahagian. Menyendiri adalah meditasi untuk memperbaiki diri. 

Menyendri adalah keharusan ketika kita mulai jenuh dengan keadaan, saatnya melakukan intropeksi diri, merenungi hidup, meminta petunjuk kepada pemilik semesta.

Satu hal yang perlu diingat, dilarang keras menyendiri terlalu lama, nanti kita akan hilang dari peredaran dan akan dicoret dari daftar teman.

#Kuta Lawah, 06 Oktober 2016.

Kebersamaan dalam Silaturahmi

GGD II
Belajarlah dari nenek moyangmu bagaimana caranya menghubungkan rahim-rahim itu, karena silaturahmi menimbulkan kecintaan dalam keluarga, meluaskan rezeki, dan menunda kematian.” (HR Imam Tirmidzi)

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirtmidzi sangat relevan dengan apa yang kami rasakan kemerin. Kami meluapkan kegembiraan yang sangat luar biasa dan itu didasari karena kami saling mencintai, karena kami adalah keluarga dibawah payung program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI).

Awalnya hanya candaan untuk menghadirkan para alumni SM3T di Banda Aceh, karena kami sadar hal itu tidak mudah dengan berbagai kesibukan teman-teman selama Ramadhan, belum lagi jarak yang memisahkan tidak dekat. Sehingga disepakati mengumpulkan alumni dalam kegiatan buka puasa bersama hanya yang berdomisili di Banda Aceh dan Aceh Besar saja, namun tetap mengundang alumni SM3T se-Aceh, siapa tahu ada yang sedang berada di ibu kota ataupun ada yang mau meringankan langkah untuk ikut menghadiri acara tersebut.

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Maka dibuatlah acara Rapat Koordinasi koordinator kabupaten dan koordinator program studi se-Aceh dan Buka Puasa Bersama, sekaligus merayakan ulang tahun ke-1 Masyarakat SM3T Institute (MSI) secara bersamaan juga sedang dirayakan di seluruh Indonesia. MSI adalah sebuah lembaga  yang dibentuk oleh para alumni SM3T untuk menghimpun dan menghubungkan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia. Lembaga yang memiliki markas pusat di Makasar ini sudah terbentuk hampir di setiap provinsi, salah satunya di Aceh.

Pemetaan GGD II
Suasana Rapat Koordinasi
Tidak perlu membentuk panitia besar, hanya panitia kecil tanpa SK yang penting semua mau membantu secara suka rela, tanpa membedakan setiap angkatan, berbaur menjadi satu keluarga. Akhirnya rapat koordinasi resmi kami buka di Auditorium lama dan buka puasa bersama di Mushala Insan Kamil FKIP Unsyiah.

Riuh keramaian pada saat Rakor cukup membuat aliran darah mengalir deras, bagaimana tidak, kegembiran saat itu mebuat jantung bekerja lebih cepat. Kegembiraan muncul saat melihat teman-teman yang hadir tidak hanya dari Banda Aceh dan Aceh Besar saja namun juga dari luar kota yang jaraknya merupakan salah satu syarat diperbolehkan untuk Menjamak atau Qasar Sholat. Dan, ini merupakan sebuah penghargaan yang sangat luar biasa bagi teman-teman panitia, karena kami sangat percaya atas komitmen dan dedikasi semua alumni. Kami tidak pernah meragukannya.

Puncak kegembiraan dan silaturahmi yaitu pada saat acara buka puasa bersama. Panitia penyelenggara sengaja mensetting suasana sedramatisir mungkin, mulai dari tempat acara yang sengaja tidak dibersihkan lebih awal, spanduk dan atribut lainnya yang masih berantakan, kue berbuka yang sengaja tidak dikemas terlebih dahulu, bahan munuman yang belum dibikin, dan nasi yang belum dibungkus. Hal ini diciptakan dengan satu tujuan yaitu supaya kami semua yang hadir ikut bekerja sama bahu-membahu dalam menyiapkan makanan berbuka puasa yang akan kami santap nantinya.

Buka puasa bersama Alumni SM3T Aceh
Suasana Buka Puasa Bersama
Memperhatikan gotong royong teman-teman membuat kami terharu, bagaimana ibu-ibu bersama-sama mengemas kue tadi ke platik dan tempat lainnya, mempersiapkan aneka minuman, dan bapak-bapak ikut menuangkan air minum ke gelas-gelas, lalu menghidangkannya di tempat yang telah ditentukan. Suasana gotong royong sambil bercanda, bercerita ria, terus-menerus terlihat sambil tertawa kecil di berbagai sudut. Bukankah itu sangat luar biasa? Tidak ada yang menyia-nyiakan momen ini. Karena suasana berkumpul seperti ini adalah momen langka bagi kami yang selama ini sibuk dengan aktivitas masing-masing di luar sana.

Menariknya, ada yang dulu hanya pernah berkomunikasi dengan adik angkatan via media sosial, di sana mereka bisa bertemu langsung. Ada teman perempuan yang dulu pernah ditaksir, di sana dia mengundang untuk menghadiri acara resepsinya. Ada sejoli yang dipisahkan oleh jarak, di sana mereka berjumpa, aduhai. Ada yang sudah mapan, menawarkan pekerjaan kepada yang masih berjuang. Ada juga yang sibuk menjodoh-jodohkan teman dengan harapan bisa cocok. Semuanya saling berbagi, saling memotivasi dan saling menguatkan. Duhh, kami semua sangat senang menikmati pemandangan ini. 

Kami semua mendokumentasikan momen tersebut di memori kepala yang kian pesat ini, juga di memori handpone masing-masing yang nantinya akan kami kenang pada suatu hari nanti. Hari ini kami bisa bersama dengan penuh suka cita, namun kami tidak bisa menjamin kedepan akan bisa seperti ini lagi. Kami tidak mau bertaruh bisa bersenda gurau penuh keakraban seperti ini lagi, dengan berbagai agenda kedepan yang sangat padat dan jarak yang sangat jauh.

Namun, kami akan usahakan, momen kebersamaan akan tetap kita buat dengan agenda dan even yang berbeda namun nuansa keakraban dan kebersamaan justeru lebih menggoda. Karena kita semua memilih percaya kalau satu sahabat sejati lebih berharga dari pada seribu teman yang mementingkan dirnya sendiri. Bukankah begitu?

Tunggu even selanjutnya!. Salam cinta penuh kebersamaan.

#Banda Aceh, 27 Juni 2016

2016 adalah Tahun Harapan

Keinginan pada pahun 2016
Harapan di tahun 2016
Tahun 2016 adalah tahun yang hebat. Saya mencanangkan tahun 2016 sebagai tahun penuh revolusi, ya tahun revolusi mental, revolusi moral, dan revolusi spiritual. Yang pastinya revolusi ke arah yang lebih baik lagi. Ada banyak hal yang ingin saya gapai pada tahun 2016 ini. 

Pertama yang ingin saya gapai adalah behenti merokok. Sulit sekali, sudah berbagai metode dipraktekkan namun tak kunjung berhasil. Tidak sampai disitu, semangat untuk berhenti merokok tetap terus digelorakan. Saya punya keyakinan akan mampu berhenti dari barang mematikan tersebut. Alhamdulillah, biarpun belum berhenti total namun sudah mulai berkurang porsi untuk rokok. Doakan semoga pada tahun 2017 mulut saya sudah terbebas dari filter rokok. Semangat.

Kedua, bisa berbahasa Inggris. Mulai dari SMP sampai SMA belajar bahasa Inggris bahkan saat kuliahpun sempat belajar juga selama satu semester. Sudah 6 tahun, namun tidak sampai 100 kosa kata bisa dihafal, jangankan ngomong dengan bule, ngomong dengan teman sendiripun belum mampu. Kemana aja selama 6 tahun? Bayangin, sudah 6 tahun lho. MEA segera hadir, yang tidak bisa bahasa Inggris, siap-siap karena anda akan menjadi penonton budiman. 

Menurut pakar, bahasa adalah skil yang harus dipraktekkan secara berulang, hal ini terbukti nenek kita jaman dulu tidak pernah kursus bahasa Indonesia namun bisa bahasa Indonesia. Anak kecil tidak pernah kursus bahasa ibu namun mereka bisa bahasa Ibunya. Disini saya mulai mengerti, kalau ingin bisa bahasa Inggris, hafal kosa kata sebanyak mungkin dan terus praktekkan, maka Insya Allah akan bisa bahasa Inggris dengan lancar.

Niat dan keinginan untuk bisa bahasa Inggris mulai mendapatkan jalan, tidak mesti harus belajar di kampung Inggris Pare, sekolah tempat saya bertugas sekarang telah menerapkannya. Wajib berbahasa Inggris bagi guru dan siswa dalam lingkungan sekolah. Awalnya ini merupakan sebuah tantangan yang sangat mengguncang, yang penting mau belajar, tidak malu-malu dan terus mencoba. Untung masih ada keringanan tidak harus full Inggris, masih boleh campur sedikit dengan bahasa Indonesia tapi tidak boleh banyak. Insya Allah tahun ini lancar bahasa Inggris.

Ketiga, Kalau dilihat dari umur, masih muda, tidak remaja lagi dan juga belum tua. Begitulah kira-kira. Rasaya mulai kepengen menikah :D. Dan, lagi-lagi saya harus mengatakan bahwa lingkungan merupakan variable yang sangat mempengaruhi kehidupan kita. Teman-teman satu angkatan kuliah hampir sudah menikah semua, mereka belum begitu mapan, tapi keberanian mereka harus diacungkan jempol tinggi-tinggi. Allah akan mempermudah langkah baik hambanya. Dari sudut pandang negatif, saya melihat bahwa mereka adalah laki-laki yang telah diultimatum oleh kekasihnya. Dan, dari sudut pandang positif mereka adalah orang berani yang mau memilih mendapatkan yang halal. Mengabaikan rayuan setan, dan memilih untuk menikah membina rumah tangga menuju surga. Luar biasa. Doakan, semoga saya nyusul kalian. TAHUN INI. :D

[Idi, 26 Januari 2016]