Pulangnya Orang Kampung

Banda Aceh mulai sepi. Padatnya kendaraan di persimpangan setiap sore mulai lengang. Pedagang yang berjualan sepajang jalan mulai berkurang. Langganan kue pun tidak nampak lagi dimana lapaknya. Jalan penghubung antar kabupaten mulai ramai dengan kendaraan roda dua maupun empat. Terminal mulai padat. Pelabuhan dipenuhi lalu-lalang orang. Lapak penjual bukaan mulai digantikan dengan penjual daging meugang. Ini pertanda Lebaran kian dekat, Ramadhan mulai menjauh. Ramadhan, sampai jumpa tahun depan.


Merantau adalah sebuah keharusan ketika tantangan untuk bertahan hidup di kampung halaman kian berat. Bagi orang kampung, merantau adalah solusi. Namun, pulang kampung adalah kewajiban. Tak peduli harga tiket semakin mahal, semua cara akan ditempuh asalkan bisa berkumpul bersama keluarga.

Kita sempat terbelah, mulai dari pemikiran lalu cara merespon tindakan. Politik penyebabnya. Sampai kapan pembelahan ini akan terjadi? Sampai tangan tak menjabat, mulut tak berucap dan senyum tak tergerak. Indul Fitri adalah momentum silaturrahmi paling populer. Kalau tak berani bertegur sapa karena pilihan politik maka Idul Fitri adalah alasan untuk melakukannya. Idul Fitri akan mengalahkan egoisme. Percayalah.

Ada banyak jenis manusia yang akan dijumpai saat di kampung nanti. Dari yang perjaka sampai yang duda. Dari yang tampan sampai yang mapan. Dari SMA sampai yang sarjana. Mau yang mana? Terserah anda.

Saat mau kembali ke kota jangan cari-cari perkara. Gadis yang sudah ditinggal lama segeralah dilamar. Jika tidak, akan terus sendiri di kamar. Persaingan akan semakin hebat, jika terlambat sakit hatinya sangat dahsyat.

Pulang kampung, hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan.

Menyiapkan Generasi Emas

Siswa Pedalaman Sintang
Generasi Emas dari SDN 15 Merah Arai
Ulang tahun Indonesia emas pada tahun 2045 diharapkan bangsa ini akan lebih maju. Tidak lama lagi, 28 tahun dari sekarang. Butuh kerja keras dan kerja cerdas dari semua pihak untuk mewujudkannya. 

Generasi sebelum reformasi yang katanya generasi cerdas, pada 2045 nanti tidak lagi terlihat, apakah masih hidup atau tidak. Jika masih hidup, paling sudah tidak sehat lagi. Lagi pula generasi yang sekarang menjadi leader di berbagai lini pemerintahan tidak juga mampu memberikan perubahan yang singnifikan terhadap bangsa ini. 

Generasi dibawahya, generasi pasca reformasi, generasi kritis dan tokoh perubahan, kita juga tidak bisa berharap banyak dari mereka, kenapa demikian? Karena ilmu, karakter dan metode kerja, mereka dapatkan lansung dari generasi di atasnya dengan cara meniru dan diwariskan. Mereka bersentuhan langsung dengan generasi tua. Pada akhirnya, mereka akan mengulang kegagalan yang sama dari senior-seniornya. Lalu, pada siapa kita berharap? 

Generasi Z, adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1994-2010, mereka sedang berada di bangku sekolah, mereka sekarang sedang dididik menjadi pemimpin masa depan, mereka tersebar di selurug Indonesia dari Sabang sampai Merauke, mereka tidak hanya ada di kota tapi banyak sekali di pelosok-pelosok Indonesia. Genedrasi Z yang berada di desa cendrung belum terkontamidasi dengan effek buruk jaman dan teknologi, effek yang dikenal dengan Kid Jaman Now versi negatif.

Jarang lini-lini penting bangsa ini diisi oleh anak-anak pedalaman Indonesia. Anak pedalaman banyak tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi, motivasi untuk sekolah apalagi kuliah sangat minim. Anak pedalaman tidak punya kesempatan dengan berbagai faktor penghambat untuk bisa mengakses pendidikan yang lebih layak dengan guru yang hebat seperti anak-anak kota pada umumnya. Ini yang membuat anak pedalaman sulit berkembang, bukan mereka bodoh tapi mereka belum mendapatkan kesempatan. Kesenjangan pendidikan di kota dan pedalaman masih jelas terlihat. Penerapan sila ke-5, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam bidang pendidikan belum terlaksana sebagaimna mestinya.

Bagaimana kalau anak pedalaman diberi kesempatan?  Mari kita uji coba dan lihatlah hasilnya nanti. 

Salah satu program nawacita Presiden Jokowi, membangun Indonesia dari pinggir, terkhusus di bidang pendidikan merupakan angin segar bagi kemajuan bangsa tercinta, ini langkah awal untuk memotong tembok pembatas antara pendidikan kota dan  pedalaman. September lalu pemerintah telah mengirimkan ribuan guru muda untuk bertugas di daerah terdepan, terluar, tertinggal dan terpencil. Guru-guru ini ditugaskan selamanya di sana. 

Mereka adalah guru muda yang nyalinya sudah teruji dan tahan banting dengan fasilitas dan alam pedalaman. Bersama guru-guru setempat, mereka akan menjadi katalis menuju Indonesia emas yang jauh lebih baik.  Para guru ini telah mewakafkan jiwa dan raganya untuk dunia pendidikan, mereka sudah berkorban banyak dan siap menjadi garda terdepan dalam menjaga bangsa ini dari kebodohan. Kita harus percayakan sepenuhnya pada mereka, kepada guru-guru pedalaman. 

Ada banyak Sekolah Dasar di pedalaman Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua sangat memprihatinkan, dengan fasilitas belajar seadanya dan jadwal sekolah semaunya. Banyangkan saja, di pedalaman, ada anak- anak SD yang mungkin sekolahnya mau ditutup, mau runtuh, sekolah yang tidak cukup guru, anak-anak yang hampir tidak mau sekolah lagi bahkan ada yang sudah tidak sekolah. Kasus-kasus seperti ini yang akan dihadapi oleh para guru dengan penuh kesabaran dan totalitas. Guru-guru ini akan menciptakan suasana di pedalaman sedemikian rupa sehingga tidak ada alasan bagi anak-anak di sana untuk tidak sekolah. 

Khawatirnya, niat baik dan kerja keras untuk kemajuan bangsa ini akan pupus oleh oknum-oknum jahat yang mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok lalu meletakkan uang di atas segala-galanya. Takutnya mereka berada pada posisi mempengaruhi dan pengambil kebijakan. Maka terhambatlah proyek masa depan yang mulia ini, hancurlah harapan anak-anak pedalaman, menderitalah pejuang-pejuang pendidikan di pedalaman dan kita akan berada pada masa di mana orang tidak bermoral mengatur bangsa ini.
Ayolah, mari dukung dunia pendidikan, mari pro daerah pedalaman, ciptakan infrastruktur yang layak di pedalaman, dan munculkan kebijakan yang pro pedalaman. Daerah pedalaman juga Indonesia, orang pedalaman mempunyai hak yang sama seperti orang kota dalam segala hal. 

Untuk para aktivis, politisi dan pemangku kebijakan. Mari kita bagi tugas. Kalian silahkan mengatur dan mengelola negara ini sebaik mungkin. Biarkan kami guru-guru yang menyiapkan pemimpin-pemimpin masa depan yang bermoral, hebat, dan cinta Indoneaia. Mari kita bersepakat untuk Indonesia yang lebih baik.
Tahun 2045 nanti semua lini bangsa ini, mulai dari tingkat kepala desa sampai Menteri banhkan Presiden akan di isi oleh anak-anak dari pedalaman. Kami ingin buktikan anak pedalaman juga hebat, cuma kesempatan saja yang belum mereka dapat. Sekali lagi, kami janji akan menciptakan manusia-manuaia hebat di masa akan datang. 

Selamat Hari Guru.

Sintang, 25 November 2017

Jokowi-JK, Harapan Baru Untuk Perdamaian Aceh


Alhamdulillah, pada tanggal 22 Juli kemarin KPU telah mengumumkan Presiden baru Republik Indonesia yang ke-7 yaitu Joko Widodo dan wakilnya Jusuf Kala. Jokowi menang dengan tidak mudah, penuh perjuangan dan kerja keras. Masa Pilpres sudah berlalu, sekarang kita beri kesempatan kepada Presiden terpilih untuk mengemban amanah yang diberikan rakyat Indonesia ini. Banyak sekali janji-janji Jokowi-Jk yang harus dipenuhi dan masih banyak gebrakan-gebrakan jitu yang harus dilaksanakan.

Aceh mengambil peranan penting atas kemenangan Jokowi-Jk biarpun di Aceh Jokowi-JK hanya menang 46 % lebih sedikit dari Prabowo-Hatta yang menang 54 % namun setidaknya Aceh telah menyumbangkan konstribusi suara yang tidak sedikit untuk memenangkan Jokowi-JK. Kemenangan Jokowi-JK sangat menguntungkan Aceh terutama dalam hal perdamaian. Kenapa menguntungkan Aceh? Dalam pucuk pimpinan Pemerintah Pusat ada Jusuf Kala yang sangat mengerti tentang Aceh apa lagi perdamaian Aceh lahir ketika Jusuf Kala menjabat sebagai wakil Presiden di era periode pertama SBY saat itu. Jusuf Kala yang memuiai Jusuf Kala juga yang harus mengakhirinya dengan cara menuntaskan semua kendala dan permasalahan yang dihadapi oleh proses keberlangsungan perdamaian saat ini. Perdamaian Aceh dengana RI adalah perdamaian sepanjang masa bukanlah perdamaian sesaat artinya siapa pun yang menjadi Presiden otomatis berkewajiban melanjutkan dan bertanggung jawab atas keberlangsungan perdamaian yang telah dirintis dengan susah payah ini.

MoU Helsinki merupakan pijakan atas perdamaian Aceh yang kemudian diterjemahkan dalam UU No.11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). UUPA mengamanatkan pembentukan serangkaian peraturan pelaksanaan yang menjadi kunci untuk penyelenggaraan pemerintahan di Aceh sesuai dengan maksud UUPA. Beberapa dari peraturan pelaksanaan tersebut harus diterbitkan oleh pemerintah pusat, dan banyak pula diantaranya harus diundangkan dalam bentuk qanun, baik oleh pemerintahan Provinsi atau pemerintahan kabupaten/kota.

UUPA inilah yang menjadi acuan dalam perdamaian dan pembangunan Aceh saat ini dimana jika semua turunan UUPA dilaksanakan dan dikelola dengan baik maka dipastikan masyarakat Aceh akan merasakan kemakmuran dan kesejahteraan. Namun sangat disayangkan, sembilan tahun setelah disahkannya UUPA, banyak dari peraturan pelaksanaan tersebut masih belum diterbitkan, termasuk diantaranya beberapa peraturan penting yang harus dibuat oleh pemerintah pusat. Padahal amanat UUPA, dua tahun setelah diundangkan keseluruhan peraturan pelaksanaan turunan UUPA tersebut harus tuntas namun kenyataannya hari ini belum dituntaskan dan dilaksankan sepenuhnya. kita tidak tahu apa yang menyebabkan amanah perdamaian ini tidak dilaksanakan sepenuhnya, apakah tidak ada itikad baik dari Pemerintah Pusat atau entah alasan apa?. Sebenarnya kalau ada itikad baik dari Pemerintah Pusat maka tidak sulit untuk melaksanakan implementasi dari MoU Helsiki tersebut, toh  ketika berdamai di Filandia dulu mereka sudah menyepakatinya. Selanjutnya, peraturan pelaksanaan UUPA yang harus dibentuk oleh Pemerintah Pusat dapat dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kewajiban Pemerintah Indonesia yang telah dinyatakan melalui komitmen dalam MoU untuk mengundangkan UUPA sendiri. Pada dasarnya tujuan dari perdamaian adalah untuk mensejahterakan rakyat Aceh dalam bingkai NKRI.

Dalam hal ini Pemerintah Aceh tidak boleh tinggal diam, Pemerintah Aceh harus mendesak terus menerus Pemerintah Pusat untuk menuntaskan semua peraturan pelaksanaan yang masi terkendala demi untuk keberlangsungan perdamaian Aceh dimasa mendatang

Fokus pada kesejahteraan Rakyat

Selama ini fokus Pemerintah Aceh terhadap implementasi turunan UUPA hanya pada identitas daerah yang berupa lambang dan bendera sehingga terkesan mengabaikan item-item strategis lainnya. Hal ini bukan tidak boleh tetapi perjuangan dalam menuntaskan peraturan pelaksanaan tentang indentitas harus seimbang dengan turunan UUPA lainnya yang dampaknya jelas lebih mengena terhadap seluruh masyarakat Aceh seperti Kewenangan tentang sumber daya alam, Migas, hak penguasaan/pengelolaan atas tanah, Pembagian hasil 70% dan 30% untuk Aceh, dan lain sebagainya.

Usaha dan perjuangan Pemerintah Aceh untuk mencapai ini semua tidak bisa dilakukan sendiri, harus ada dukungan kuat dari banyak kalangan sehingga bisa memberi tekanan kepada Pemerintah Pusat. Lihat sekarang, menyangkut memperjuangkan identitas berupa bendera dan lambang, hanya segelintir orang yang peduli dalam hal ini ikut berdemo, itupun kebanyakan dari kalangan mantan kombatan padahal fungsi dan manfaat indentitas tersebut untuk seluruh masyarakat Aceh. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena rakyat Aceh tidak merasakan langsung dampak dari indentitas yang diperjuangkan tersebut karena dampak paling nyata hanyalah sebatas kebanggaan belaka, kebanggaan bahwa Aceh sudah punya bendera dan lambang sendiri. Coba kalau yang diperjuangakan adalah hal-hal yang berdampak langsung bagi kesejahteraan rakyat Aceh seperti yang disebutkan diatas maka bisa dipastikan rakyat akan ikut serta dalam mendukung, dikalangan masyarakat pun tidak akan menimbulkan pro dan kontra terhadap apa yang diperjuangkan karena pada dasarnya yang diharapkan oleh rakyat adalah kesejahteraan bukan lambang dan bendera.

Harapan

Dalam pemerintahan Jokowi-JK sangat diharapkan semua persoalan tentang Aceh bisa dituntaskan dengan cepat sesuai dengan motto Jusuf Kala dulu “lebih cepat lebih baik”. Harus ada pendekatan dan strategi jitu dari Pemerintah Aceh. Selanjutnya semua pihak harus saling menaruh kepercayaan. Harus ada aksi-reaksi yang menguatkan kepercayaan, transparansi, dan bila ada persoalan dalam perjalanannya harus dimusyawarahkan bersama. Diharapkan juga semua persoalan dan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan UUPA dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh Jokowi-JK untuk memenuhi semua janji damai dalam MoU Helsinki sehingga akan menguntungkan daerah dan pusat.

Kalau saja hak rakyat Aceh yang wajib diberikan oleh Pemerintah Pusat tidak terakomodir dalam 5 tahu  kepemiminan Jokowi-JK maka yakinlah untuk selanjutnya dimasa yang akan datang semua permasalahan tentang Aceh yang berbubungan dengan MoU Helsingki tidak akan bisa berjalan dengan baik alias perdamaian gagal tidak sesuai harapan. Orang yang mengerti dan peduli terhadap perdamaian Aceh sedang berada  dipucuk pimpinan sebagai wakil Preseden Republik Indonesia saja tidak mau dan tidak mampu mengakomodir kepentingan perdamaian Aceh apalagi orang yang tidak mengerti sama sekali.

[M. Darmansyah Hasbi]

Jerman, Jokowi dan Gaza

Semua pada sibuk ngurusin isu-isu terkini. Dimana saja, tak peduli tempat dan waktu; kampus, terminal, kantor, halte, bus, dan warung kopi, semua orang membahas, berdebat, memuji dan menghujat sesuatu yang mereka dukung maupun yang tidak mereka dukung. Ok. Itulah hidup, penuh dengan dawa-dawi dan warna-warni, masing-masing mempertahankan apa yang menurut mereka benar.

Dalam bulan Ramadhan ini, ada tiga isu besar di kalangan masyarakat Indonesia yaitu Piala dunia, pemilihan Presiden, dan seranggan Israel terhadap Gaza. Ketiga isu ini senter dibicarakan oleh setiap lapisan masyarakat mulai dari anak kecil, remaja, dewasa dan orang tua.

Piala dunia

[sport.bisnis.com]
Piala dunia yang dilaksanakan di Brazil menjadi pusat perhatian semua orang, tua maupun muda. Perhelatan 4 tahunan yang berakhir 14 Juli kemarin telah menghabiskan banyak energi dan waktu bagi semua orang, bagaimana tidak petandingan kebayakan dilaksanakan  pada jam 03.00 WIB (dini hari). Biasanya dimalam hari pada bulan suci Ramadhan mushala-mushala dipenuhi oleh orang yang tadarus, sambung-menyambung ayat suci Al-Quran yang dimulai setelah Sholat Taraweh dan berakhir pada saat Imsak. Lalu, piala dunia telah merampas waktu ibadah semua orang. Maklum dan sedih, Ramadhan setahun sekali sedangkan Piala dunia empat tahun sekali. 

Alhamdulillah, piala dunia sudah usai. Jerman berhak menjadi kiblatnya sepak bola dunia. Jerman menang atas Argentina dengan susah payah. Jerman menangis haru, Argentina menangis pilu namun tetap berbesar hati dengan mengakui kekalahan dan memberi pujian kepada tim yang menang. Sampai berjumpa di Rusia 2018.

Pemilihan Presiden

[birokrasi.kompasiana.com]
Pada 9 Juli silam, seluruh masyarakat Indonesia telah memilih calon Presiden Republik Indonesia ke-7. Cuma ada dua calon, dimana keduanya merupakan orang-orang yang peduli dan ingin memajukan bangsa dan seluruh rakyat Indonesia. Karena hanya dua calon sehingga membuat persaingan sangat ketat dan sengit. Seluruh masyarakat was-was plus dek-dekan, apalagi tim sukses kedua calon tersebut, mereka tidak sabar menunggu hasil akhirnya. Setelah pemilihan Presiden ada banyak sekali lembaga survei yang telah mengumumkan hasil Quick Count yang mereka buat. Kubu Jokowi yang pertama kali menyatakan mereka adalah pemenangnya sekalipun hanya berpatokan dari hasil Quick Count yang dibut oleh lembaga survei tersebut. Kubu Prabowo pun tidak mau kalah dan ikutan menyatakan mereka adalah pemenangnya. Lalu, kalau kedua-duanya menang, yang kalah siapa? Pastinya seluruh rakyat Indonesia yang di PHP-kan oleh lembaga survei dan para calon Presiden. Yang pasti, hasil resminya akan diketahui pada tanggal 22 Juli mendatang, bukan lembaga survei dan calon presiden  yang mengumumkan tetapi Komisi Pemilihan Umum (KPU). Setelah KPU mengumumkan, baru rakyat Indonesia tau siapa Prsiden mereka yang baru, orang yang akan mengurus Indonesia 5 tahun kedepan. Calon yang kalah harus berbesar hati dan yang menang jangan sombong.

Gara-gara Pilpres, banyak orang mendapatkan banyak uang, tidak sedikit pula yang kehabisan uang. Ada bayak yang mendapatkan teman baru, banyak juga yang mendapatkan musuh baru. Plus-minusnya pasti ada. Perbedaan padangan dalam melihat calon Presiden semestinya tidak membuat kebersamaan dan silaturrahmi kita berantakan, perbedaan ini justeru harus dijadikan pengalaman dan pendidikan politik yang sehat. Pertarungan yang sebenarnya terjadi di kalangan elit partai dan tim sukses di ring 1 dan 2 bukan pada kalangan bawah yang tidak tau apa-apa, jangan sampai kita yang tidak masuk dalam tim sukses menjadi korban dalam permainan politik ini.

Jadi, kita yang berada dikalangan bawah, saya pikir tidak perlulah sampai berdarah-darah mempertahankan calon yang kita dukung baik Jokowi maupun Prabowo. Semoga saja siapa pun yang menang nanti kita harus menerimanya dengan lapang dada dan doakan semoga presiden kedepan bisa dan mampu memimpin bangsa Indonesia yang sangat majemuk ini dengan baik. Semoga saja bisa. Amin

Gaza

[shintanonasinta.wordpress.com]
Israel kembali menggempur Gaza. Alasan Israel menggempur Gaza dengan dalih memburu Hamas, terdapat motif balas dendam terhadap Palestina. Diduga pemicu serangan itu setelah penculikan tiga remaja Yahudi di Tepi Barat pada 12 Juni lalu. Tiga remaja Yahudi itu ditemukan tewas dan Israel menuduh Hamas sebagai dalang di balik penculikan. Semenjak itu Israel dan Palestina kembali memanas. Ini merupakan alasan yang belum terbukti kebenarannya dan pastinya merupakan modus untuk bisa menyerang kembali Gaza. Hampir seratusan warga Palestina yang syahid akibat serangan mematikan Israel dimana mayoritasnya adalah anak-anak. Dunia memantau, dunia tahu dan melihat tetapi dunia diam atas kebiadaban Israel. Negara-negara pendukung fanatik hak asasi manusia pun tidak banyak bicara seolah menutup mata atas kematian ratusan warga sipil Palestina. Apakah warga Palestina bukan manusia yang hak asasi untuk hidupnya tidak dilindungi? Sangat disayangkan tebang pilih hak asasi manusia ini.

Tetapi tidak apa, orang-orang di Gaza tidak pernah menyerah, mereka terus berjuang, mereka yakin Allah akan memberikan kekuatan dan kemenangan kepada mereka, seluruh umat Muslim di seluruh dunia terus membantu mereka, membantu dalam segala cara, memberikan apa yang mereka punya termasuk juga doa. 
                                                ********
OK. Hingar-bingar Piala dunia sudah berakhir. Tanggal 22 Juli penasaran hasil pemilihan Presiden pun selesai dengan ditetapkannya Presiden baru oleh KPU. Sekarang tinggal Gaza-Palestina. Ayo membicarakan Palestina, apa yang bisa kita buat, apa yang bisa kita bantu, langkah apa yang harus ditempuh? Pokoknya apa saja yang bisa bermanfaat bagi seluruh penduduk Palestina karena mereka adalah wakil kita untuk menjaga Masjid Al- Aqsa.

Bulan Ramadhan tinggal hitungan jari, mari kita manfaatkan kemeriahan Ramadhan, kita kembalikan keunikan Ramadhan dengan semua aktivitas yang bernuansa Ramadhan. 

[M. Darmansyah Hasbi]

Pesta Besar di Tahun 2014

Belajar
[Suasana Ujian Siswa MI Ile Ape NTT]
Tahun ini merupakan tahun yang paling seksi untuk diikuti,  tahun yang membuat jantung berdebar-debar. Bagai mana tidak, ada dua pesta besar akan dilangsungkan yaitu pemilu dan Ujian Nasional. Sepertinya nasib bangsa Indonesia akan ditentukan pada tahun ini. Pada tanggal 14 April nanti, ribuan anak akan mengikuti pesta besar dengan judul Hari Penentuan. Ada seorang anak yang tinggal disamping rumahku, sebut saja nama Aris, ibunya memintaku untuk memberikan sedikit nasehat  kepada anaknya dalam menghadapi ujian nasional besok. Kira-kira beginilah nasihatnya:

Nak, sudah cukup bereforia pasca pemilu. Aku tahu kau sudah dewasa, buktinya kau mempunyai hak suara pada pemilihan legislatif 9 April silam. Siapa yang kau pilih? Dari partai mana? Ahh. Itu bukan urusanku. Kau tak perlu cemas, tak perlu khawatir terhadap caleg yang kau pilih kalau seandainya dia tidak menang. Kalaupun dia menang, apakah dia akan memperdulikanmu? Belum tentu. Kau adalah orang yang sangat baik karena telah memberikan mereka pekerjaan, pekerjaan sebagai anggota dewan yang terhormat. 

Nak, berhentilah memikirkan soal politik, soal hasil pemilu tempo hari, itu bukan urusanmu, itu urusan bapak/ibu yang sedang merekap surat suara disana, itu urusan orang tuamu dan urusan mereka yang naik mobil plat merah. Kau pikir aku mengajarkanmu untuk apatis? Ohh, tidak. Aku peduli padamu, kau masih mempunyai agenda besar yang harus dilalui dan itu lebih penting.

Aku tahu, kau pasti bertanya. Lantas apa urusanku. Pak? Kau lupa? Senin besok ada pesta untuk kalian, pesta putih abu-abu serentak seluruh Indonesia. Nasibmu akan ditentukan disini, masa depanmu bermula dari bangku SMA ini. Aku tahu kau sudah belajar dengan sangat giat, bimbingan sore selalu kau ikuti, dirumahpun kau selalu bergelut dengan buku.

Nak, kau mungkin mendapatkan angin surga dari kakak kelasmu dulu. Saat UN berlangsung pasti ada "makhluk siluman" yang memberikan kunci jawaban, sehingga kau tak perlu belajar. Kau percaya? Sungguh sial kalau kau mempercayainya. Kalau pun iya, apakah kau ingin belajar jadi penipu? Aku sangat yakin kau tidak akan berbuat curang.

Nak, memang sial nasibmu, miris sekali. UN sebenarnya adalah isu seksi buat media masa di negri ini, namun satu hari sebelum UN berlangsung berita di koran maupun televisi tidak seheboh pada tahun kemarin. Kau jangan bersedih kalau pada tahun ini para petinggi bangsa tidak memberikan perhatian penuh padamu. Maklumi saja, ini tahun politik, pesta lima tahun sekali belum selesai. Katanya nasib bangsa ini ditentukan pada tahun ini. lalu, bagaimana dengan nasibmu?.

Nak, kau harus tahu, hasil UN 2014 untuk tingkat SMA sederajat sepenuhnya dijadikan pertimbangan masuk perguruan tinggi negeri. Kalau kau tidak lulus maka kau tidak akan bisa masuk perguruan tinggi negeri. Kau ingin menganggur? Aku yakin tidak. Bangsa ini membutuhkanmu. Kau yang akan duduk di bangku terhormat di gedung DPR, kau yang akan menjadi pimpinan daerah. Kami semua menaruh harapan padamu. Ulang tahun emas Indonesia pada tahun 2045 nanti adalah milikmu, maka persiapkanlah dirimu dari sekarang.

Nak, kalau kau tidak pintar, kalau kau tidak paham agama, kalau akhlakmu buruk, maka kau tidak jauh berbeda dengan mereka. Mereka itu bodoh, buktinya mereka korupsi. Orang pintar tidak akan korupsi karena orang pintar tahu korupsi itu dapat merugikan orang lain dan hukumnya adalah dosa besar.

Nak, Ujian Nasional itu seru lho, soalnya banyak dan sulit. Tapi enak banget ketika kau menikmatinya. Ingat, kau sudah belajar kan...???

Nak, jangan lupa minta bantuan pada Allah SWT, hanya dia yang bisa menolongmu pada saat ujian berlangsung. Bukan guru, bukan kepala sekolah, bukan pengawas dan juga bukan "makhluk siluman" itu.

Ingat, Hadirkan Allah dalam hatimu.

Selamat mengikuti Ujian Nasional 2014.
Semoga sukses...!!

#Darbe. Gedung PPG. F.2.01.13 April 2014.

Kampanye Anda Kreatif Kami Tidak Golput

http://joglosemar.co/

Awalnya tidak terlalu saya pedulikan, tetapi lama-lama pemandangan di tugu simpang lima membuat tanaman disana tak terlihat oleh mata saya. Mana bunga-bunga itu? rupanya bunga itu tidak kelihatan ditutupi oleh bendera-bendera partai yang sangat mencolok. Hampir setiap jalan protokol berkibar bendera-bendera partai. Kalau yang berkibar adalah bendera merah-putih saya bisa maklum bahkan bangga bisa menumbuhkan semangat nasionalisme. Celakanya yang banyak berkibar adalah bendera berwarna merah, oranye, kuning, hijau, dan lain-lain. Itu baru bendera, belum lagi gambar para calon legislatif (caleg). Benar-benar sangat mengganggu kenyamanan mata.

Menjelang Pemilu 2014 iklan-iklan caleg ada di mana-mana. Tapi sayangnya iklan mereka bukannya menarik simpati tapi malah menuai hujatan. Itu disebabkan karena iklan-iklan caleg dipasang sembarangan dan sangat mengotori wajah kota.

Tempat publik yang seharusnya menjadi penyegar mata justeru dikotori dengan gambar-gambar caleg yang mengumbar janji. Pohon, tiang, tembok, bahkan jembatan menjadi objek penempelan gambar kampanye caleg. Tidak hanya mengganggu keindahan kota, atribut para caleg ini juga merusak pohon-pohon tersebut, bagaimana tidak, konon mereka menempelkannya dengan cara memaku gambar tersebut. Jika pohon-pohon itu bisa berbicara mungkin sudah berteriak “Jangan menempel gambar anda disini wahai Caleg nakal!”.  Padahal Komisi Independen Pemilihan (KIP) Provinsi Aceh melarang para peserta pemilu 2014 atau calon legislatif memasang atribut kampanye yang mengganggu keindahan kota. Sebagian besar caleg lebih menyukai memasang atribut kampanye di pohon, menurut mereka karena lebih praktis, meskipun hal itu melanggar peraturan. Batat and kloe pritt.

Dari sekian banyak caleg yang nakal ada banyak juga caleg yang baik bahkan kreatif dalam kampanye. Menjelang 9 April, para caleg melakukan berbagai cara untuk menarik suara. Salah satunya melakukan kampanye melalui media internet untuk menarik pemilih muda. Seiring dengan perkembangan jaman dan pesatnya pertumbuhan pengguna internet di Indonesia, kampanye kreatif menjadi pilihan terbaik bila dibandingkan dengan cara tradisonal yang telah usang, mengumpulkan massa, iring-iringan kendaraan yang menggangu pengguna jalan yang dampaknya dapat menjadi negatif. Cetak materi iklan dengan biaya tinggi namun hasilnya tidak dapat diukur, pengerahan team sukses dengan biaya operasional yang sangat tinggi bahkan memproduksi bahan kampanye yang tidak lama lagi akan menjadi sampah: berupa baliho, spanduk dan bendera.

Media internet adalah alat kampaye paling praktis dan murah. Internet menjadi media kampanye para caleg yang pintar. Tidak perlu mengeluarkan kocek banyak, cukup dengan membuat akun saja. Menggunakan media televisi dan radio kemahalan, kenapa tidak menggunakan media youtube yang jelas-jelas bisa di tonton gratis oleh siapa saja. Youtube bisa digunakan untuk memposting film edukasi atau pun film unik, lucu yang didalamnya berisikan unsur-unsur kampaye. Cara ini sangat disenangi oleh masyarakat terutama pemilih muda. Bisa juga dengan menggunakan media rekekaman kampaye lalu di format ke mp3 setelah itu di share ke Facebook, BBM, WeChat dan WhatApp. Semua orang bisa mengaksesnya. Murah, meriah dan mewah. Sasarannya jelas, biayanya pun murah ketimbang dengan baliho, spanduk dan poster yang jelas sekali menghabiskan banyak dana dan pastinya akan menggotori wajah kota.

Harus di akui, kampaye menggunakan media  internet ada kelemahannya, tidak semua kalangan bisa mengaksesnya, hanya kalangan terdidik dan anak muda saja yang akan terjamah oleh media ini tidak dengan mak-mak di kampung yang tidak mengerti dengan internet. Biar pun mereka tidak mengerti Internet namun mereka punya anak dan anak mereka pasti pengguna internet dimana informasi kampaye caleg tersebut pasti akan sampai ke mak-mak tersebut.

Disamping menggunakan media internet, para caleg juga bisa menggunakan media bergerak. Salah satu media bergerak itu berupa pin atau gantungan kunci. Kenapa pin dan gantungan kunci? Pin umum dipakai oleh banyak kalangan terutama anak muda. Sedangkan gantungan kunci banyak digunakan untuk gantungan kunci sepeda motor, rumah dan juga tas. Tentunya ini semua akan menjadi media promosi bergerak yang kreatif dan berbeda dari hanya sekedar membagi kartu nama, selebaran, maupun kalender. Sedangkan mobil dan becak berposter caleg, topi, kaos, payung, juga termasuk media promosi bergerak, memang efektif tetapi hargan per unit nya tergolang mahal.

Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) menunjukkan jumlah pemilih pemuda di Indonesia yang mempunyai hak pilih mencapai 40 sampai 42 persen.  Angka ini sangat berperan dalam pelaksanaan pemilu. Para pemuda akan memanfaatkan hak pilihnya pada pemilu 2014 mendatang ketimbang harus golput. 
*****
Kami anak muda akan memilih para calon legislatif (caleg) yang tidak melanggar aturan. Belum jadi caleg saja sudah melanggar aturan, bagaimana ketika mereka terpilih nanti..???

Anak muda cerdas adalah anak muda yang tidak golput, dan tidak memilih caleg hantu.

[Banda Aceh,05 Maret 2014, M. Darmansyah Hasbi]