Akhirnya Banjir Juga

Banjir di Desa Merah Arai
Banjir di Desa Merah Arai
Pertama sekali tiba di Desa Merah Arai, banyak hal yang saya tanyakan pada masyarakat termasuk soal banjir. Rumah yang saya tempati adalah rumah dinas Kesehatan, sudah tiga orang petugas kesehatan yang tinggal di rumah tersebut, tidak sampai setengah tahun mereka minta pindah ke rumah lain, alasannya adalah banjir. Rumahnya bagus, permanen, hanya berjarak 50 meter dari pinggir sungai namun jika terjadi banjir sangat merepotkan.

Kata masyarakat, banjir terjadi setahun 2 kali, saat akhir tahun dan awal tahun. Saya paling takut kalau banjir bandang, untunglah banjir di sini bukan banjir bandang melainkan banjir air sungai yang meluap secara perlahan. Seringnya terjadi banjir sehingga waktu pertama tiba di desa ini, masyarakat langsung bergotong royong membuatkan saya tempat tidur yang tingginya 1.3 meter. Waktu itu saya sempat protes "kenapa tinggi sekali, pak?" Tanya saya. "Biar tidak kena banjir", jawab mereka. Waktu itu, saya belum paham bagaimana kondisi banjir di sini. Sekarang saya mulai mengerti, banjirnya lumayan ekstrim. 

Senin, 27 November 2017, pagi harinya sebelum berangkat sekolah, saya melihat air sungai sudah masuk area jalan tapi belum ada tanda-tanda akan terus membesar dan saya masih memberi status siaga 2. Barang-barang di rumahpun masih saya biarkan begitu saja, tidak dipindahkan. 

Menjelang pulang sekolah, pak Hasan, tetangga saya memberi kabar kalau air mulai naik. Mengingatkan supaya saya mengemas barang sehingga tidak basah. Begitu saya pulang, air belum masuk ke rumah dan saya meningkatkan status menjadi siaga 1. Air tidak kunjung surut, bahkan terus semakin membesar, akhirnya saya menyerah dan mulai mengangkat semua barang di lantai ke tempat yang tinggi. Anak-anak sekolah mulai berdatangan untuk membantu mengungsikan barang-barang saya, karena masih siaga 1, biar di rumah saja, belum saatnya mengungsi.

Menjelang sore, saya melihat ke sungai, banyak kayu besar dan sampah hutan yang lewat, airpun semakin deras, langit mendung dan air semakin naik. Rupaya di hulu sungai sudah hujan lagi. Tidak mau mengambil resiko, saya ungsikan semua barang ke rumah kepala sekolah yang berada di depan rumah saya dan dua kali lebih tinggi dari rumah saya. Pengalaman banjir di desa ini, katanya air tidak pernah sampai setinggi teras rumah kepala sekolah. Syukurlah, pikir saya. 

Malamnya air mulai stabil, besok pagi akan ada tanda-tanda surut. Saatnya gotong royong membersihkan lumpur di rumah. Semoga kejadian ini tak terulang lagi. Sangat merepotkan sekali. Ampun deh.

Merah Arai, 27 November 2017.

Ini Desaku, Mana Desamu

Desa Merah Arai adalah sebuah desa kecil nan sejuk yang berada di Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Penduduknya tidak terlalu ramai cuma sekitar 220 KK. Jaraknya dari pusat kecamatan hanya 47 Km dan untuk menjangkau Desa ini harus menggunakan perahu motor. Baca Jauhnya Desa Merah Arai.

Penduduk di desa ini manyoritas bekerja sebagi petani. Karet adalah komoditi utama mereka. Di samping itu, penduduk desa juga berladang, seperti menanam padi, cabai, tomat, sawi dan sayur-mayur lainnya. Di sini buah-buahan banyak sekali, beraneka ragam sampai buah yang tidak pernah dimakan oleh orang kota, di desa ini ada barangnya. Jika musim buah, guru akan mendapatkan porsi spesial. Ada saja yang mengantar buah-buahan ke rumah. Terkadang, jika sudah terlalu banyak, kita harus menolak sedekah orang dan menghambat mereka untuk mendapatkan pahala. Saya pikir, menolak lebih baik daripada terbuang mubazir.

Penduduk desa kami tidak hafal nama-nama ikan laut, jangankan makan, lihat saja kadang mereka tidak pernah. Sehingga mereka tidak pernah bermimpi mendapatkan sepeda dari presiden Jokowi. Soal ikan, ikan sungai adalah favorit penduduk desa, ikan baung masyarakat menyebutnya. Memancing atau menembak ikan adalah aktivitas penduduk di waktu luang. Ketika mereka mulai menginginkan makan ikan, maka langsung terjun ke sungai. Dapat dua tiga ekor langsung pulang untuk dimasak. Jangan harap ada orang yang jual ikan keliling di sana. Jika akrab dengan anak-anak kecil, kita akan dibagi ikan hasil tangkapan mereka. Anak-anak di sini, hobinya menembak ikan.

Agama manyoritas penduduk adalah Kristen. Hidup dalam keberagaman sudah terbiasa sehingga tidak menjadi kendala bagi saya. Toleransinya sangat tinggi di sini. Agamaku aku urus sendiri dan agamamu kamu urus sendiri. Kita tidak saling ikut campur soal agama. Dan salutnya, penduduk desa sangat memahami apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam Islam dan mereka memperlakukan saya dengan sangat terhormat, begitu pula saya memperlakukan mereka.

Sinyal di Desa Merah Arai
Tower HP Mini
Desa kami tidak ada sinyal telekomunikasi, apalagi akses internet. Hanya ada satu dua tempat di desa yang terkadang mampu menangkap sinyal satu batang itupun tergantung tiupan angin. Jika angin bertiup ke arah kita maka beruntunglah. Kalau teman-teman menghubungi handphone saya tidak terhubung, mohon dimaklumi perusahaan telekomunikasi belum mau bersahabat dengan orang desa seperti kami. 

Radio adalah sumber berita utama di desa kami, banyak rumah sudah memilikinya. Untuk mendapatkan jaringan harus hati-hati penuh kesabaran, sedikit goyang atau bergeser maka siarannya akan hilang. Setiap rumah ada posisi-posisi tersendiri untuk meletakkan radio atau antenanya supaya mendapatkan suara yang jernih. Kami akan percaya sepenuhnya apa yang disampaikan oleh penyiar radio tersebut, berita apa saja, temasuk pengumuman atau berita duka, karena satu-satunya sumber berita hanyalah dari radio tersebut. Semoga beritanya tetap berimbang.

Soal listrik, Alhamdulillah sudah teratasi. Kami tidak menggunakan jasa PLN. Kami menggunakan lampu panel surya, semua rumah memilikinya. Kabarnya, itu bantuan dari dana desa. Sayapun kebagian satu.

Desa kami memiliki air bersih yang cukup, sumbernya dari mata air di atas Bukit Alat. Bukit Alat adalah bukit yang membentang dari Desa Lintang Tambuk sampai Nanga Masau. Airnya mengalir deras ke setiap rumah melalui pipa-pipa tanpa harus menggunakan mesin pompa. Menariknya, air ini tidak perlu dimasak dan bisa langsung diminum. Kata penduduk desa, airnya sudah bersih dari bakteri dan terjamin, namun saya belum mendengar apa pendapat BPOM soal ini. Namun, sampai saat ini saya masih mendengarkan pendapat masyarakat tentang air tersebut. Tidak pelu dimasak dan langsung diminum.

Jika ada yang bertanya, apa kabar hewan ternak seperti babi, kambing dan sapi di desa Merah Arai? Jawabannya adalah aman dan terkendali. Budaya hidup bersih sudah lama diterapkan oleh warga desa. Binatang ternak harus tetap berada di kandang, tidak boleh berkeliaran di perkampungan. Bayangkan saja jika binatang tersebut berkeliaran di perkampungan, maka kotorannya akan sangat mengganggu dan tanaman-tanaman warga akan abis dimakan dan dirusaknya. 

Budaya hidup bersih ini dulunya dikampanyekan oleh salah satu guru SDN 15 Merah Arai, beliau adalah guru pertama dan satu-satunya saat itu. Namanya adalah Sukadir, beliaulah yang merintisnya saat itu. Tidak hanya budaya hidup bersih, ada banyak program kemasyarakatan dan sosial yang beliau rintis dan sampai saat ini diumurnya yang hampir pensiun, ada program yang sudah berhasil dan ada juga yang belum berhasil. Di kesempatan lain, saya akan ceritakan khusus tentang pak Sukadir, guru perintis yang melegenda.

Sintang, 3 November 2017

Sendiri, Kita Punya Kesenangan yang Berbeda

Meninggalkan keramaian
Jika ada yang bertanya: dimana kenikmatan sering menyendiri? Maka saya akan menjawab: kamu akan tahu jika kamu memahami arti menyendiri.

Cukup lama saya mencoba memahami arti menyendiri, menyendiri dalam artian positif. Hidup jauh dari keramaian, jauh dari suara-suara sumbang tukang kritik yang tak pernah memberikan solusi, jauh dari berita-berita miring, jauh dari berita kriminal yang tak bermoral dan jauh dari gosip-gosip murahan. Menyendiri adalah kesenangan. Menyendiri adalah kebahagiaan.

Menyendiri bukan berarti tidak peduli dengan lingkungan sosial, menyendiri bukan berarti putus asa, dan menyendiri bukan berarti kalah terhadap kerasnya hidup. Menyendiri adalah mengumpulkan energi, meracik ide, menjernihkan pekiran dan mempersiapkan strategi untuk meraih sesuatu yang lebih besar. Karena menyendiri adalah kesenangan.

Dulunya saya pernah berpikir negatif terhadap orang yang suka menyendiri, apasih yang mereka lakukan saat sendiri?, Jarang keluar rumah, jarang ngumpul dengan teman-teman, jarang ke tempat hiburan, pastinya jauh dari keramain. 

Ada salah satu teman saya yang sangat sering menyendiri. Setelah diselidiki, teman saya ini sedang fokus belajar bahasa Inggris, dia ingin mengikuti seleksi beasiswa magister di Australia. Alhamdulillah sekarang studinya hampir selesai. Bayangkan jika teman saya ini masih sering melakukan aktivitas yang tidak terlalu prioritas dengan teman-temannya di luar sana, maka dipastikan dia akan gagal ke Australia. 

Ada juga teman yang cukup lama hilang dari peredaran media sosial, bahkan sangat sulit untuk dihubungi. Setelah dicari tahu, rupanya si teman ini sedang rutin mengikuti majelis taklim dan mulai aktif di majelis Zikir. Bagi saya itu adalah kesenangan dan prestasi luar biasa baginya. Menyendiri meninggalkan aktivitas bersama teman-teman yang tidak produktif dalam hal kebermanfaatan dan mencari sesuatu yang lebih bermanfaat untuk kepentingan masa depan yang lebih cerah.

Ada bayak kasus orang-orang yang menyendiri, meninggalkan aktivitas yang hanya buang-buang waktu, meninggalkan teman-teman yang tidak menguatkan hati, menuju aktivitas yang memperkaya pikiran dan membesarkan hati.

Mulai saat itu saya mulai paham, kalau menyendiri adalah kesenangan yang di dalamnya ada kebahagian. Menyendiri adalah meditasi untuk memperbaiki diri. 

Menyendri adalah keharusan ketika kita mulai jenuh dengan keadaan, saatnya melakukan intropeksi diri, merenungi hidup, meminta petunjuk kepada pemilik semesta.

Satu hal yang perlu diingat, dilarang keras menyendiri terlalu lama, nanti kita akan hilang dari peredaran dan akan dicoret dari daftar teman.

#Kuta Lawah, 06 Oktober 2016.

Menikmati Wisata dan Sejarah Tanjung Atadei

Kabupaten Lembata

Tanjung Atadei menawarkan panorama alam yang menantang untuk orang-orang yang baru. Anda percaya?.

Atadei sebagai salah satu kecamatan di Pulau Lembata yang berada di atas gunung tidak banyak dijumpai tempat wisata seperti daerah pesisir lainya. Siapa bilang? Ada objek wisata tersembunyi yang sangat menakjubkan yaitu tanjung Atadei. Karena akses untuk menuju ke tempat ini sangat sulit sehingga tidak banyak orang yang mengetahuinya bahkan orang asli Lembata sendiri banyak yang hanya mendengar namanya saja. Padahal tempat ini menyimpan panorama alam yang sangat indah. Tidak hanya menawarkan panorama indah namun juga wisata sejarah yang sangat luar biasa.

Biarpun kecamatan Atadei berada di atas gunung tapi ujung dari kecamatan ini berbatasan dengan laut. Membentuk sebuah tanjung yang masuk ke dalam sehingga masyarakat menyebutnya tanjung Atadei. Bahkan sejarah nama kecamatan Atadei sendiri diambil dari tempat ini. Mau tahu ceritanya?

Kami pernah bertugas di desa Lerek Atadei sebagai guru selama 1 tahun. Rugi sekali rasanya sudah berada di Atadei tapi belum menikmati keindahan tempat yang aduhai dan bersejarah tersebut. Di akhir semester kami mengajak keluarga besar sekolah untuk melaksanakan tour edukasi di desa Dulir yaitu desa tempat tanjung Atadei berada.

wisata NTT
[Batu Tengkorak]
Di tanjung Atadei ada banyak sekali yang bisa kita nikmati, mulai dari pantainya yang indah dan bersih, pantai dengan bukit terjal dan hutan pegunungan dan sangat cocok untuk area berkemah dan hiking. Di tempat ini kita bisa menikmati aneka batu-batu unik tapi bukan batu akik namun batu-batu besar yang menyerupai suatu bentuk. Misalnya ada batu yang menyerupi tengkorak, menyerupai meja, kursi dan batu Atadei sendiri menyerupai manusia. Batu-batu besar dengan tebing yang tinggi sepanjang pantai membuat tantangan tersendiri bagi para pengunjung.

Tidak hanya itu, sepanjang perjalanan menuju tempat ini kita disuguhi oleh keindahan alam pengunungan, bisa menikmati gunung Ile Warung dan Hobal. Menarik bukan?  
*****
lembata NTT
[Batu Atadei]

Kecamatan Atadei asal usulnya adalah dari batu Atadei. Ata artinya orang, Dei artinya berdiri. Jadi Atadei artinya orang berdiri. Sempat melakukan wawancara dengan tokoh adat merangkap kepala Desa Dulir tentang sejarah dan apa yang membuat tempat ini menjadi unik. Kira-kira begini ceritanya. 

Nenek moyang mereka dulu pernah mengalami bencana air bah (tsunami), semua penduduk berlari menyelamatkan diri. Kepercayaan masyarakat pada masa itu adalah tidak boleh menoleh ke belakang karena akan beresiko sangat fatal. Jadi ada seorang wanita yang pada saat kejadian air bah memaksakan diri menoleh ke belakang untuk melihat sanak saudaranya dan akhirnya kutukan itu terjadi pada wanita tersebut yaitu menjadi bantu, sehingga sekarang disebut batu Atadei.

Batu ini adalah satu-satunya batu yang tetap berdiri kokoh ketika batu-batu lain jatuh dan terkisis oleh hempasan air laut. Batu Atadei menghadap ke laut dan menyerupai seorang perempuan yang berdiri. Batu Atadei dijadikan sebagai “petunjuk alam” bagi masyarakat setempat. Kepercayaan masyarakat, jika batu itu mengeluarkan air dan basah maka menandakan musim bagus atau musim hujan yang lama dan sangat baik untuk bercocok tanam di ladang, dan jika batu tidak mengeluarkan air dan batu tidak basah maka pertanda akan terjadi musim kemarau yang berkepanjangan. Sebuah kepercayaan turun temurun. Sebagai pendatang, kami menyebutnya BMKG ala desa Dulir karena batu ini yang memperkirakan cuaca dan musim.

Jika ingin berfoto, pengunjung jangan sekali-kali naik ke atas batu Atadei tersebut karena bagi masyarakat setempat tindakan tersebut adalah pantangan. Namun cukup berfoto di samping batu itu saja.

Provinsi NTT
[Gua Atadei]
Tidak hanya batu atadei, ada juga gua Atadei yang memiliki sejarah unik. Menurut cerita, dulu begitu air bah datang masyarakat melarikan diri melalui gua batu di pinggir pantai, berlari sepanjang gua dan akhirnya sampai ke atas bukit. Ada yang selamat dan banyak juga yang meninggal selama di dalam gua. Sampai sekarang, untuk masuk ke dalam gua tidak boleh sembarang orang, hanya orang tertentu dan harus dipandu oleh penjaga gua. Katanya di dalam gua itu ada sebuah kolam, airnya sangat bersih dan jernih. Pada saat itu kami tidak membawa senter jadi hanya melihat-lihat sampai di tempat yang terang oleh cahaya matahari saja. 

Transportasi di NTT
Untuk menuju ke tanjung Atadei aksesnya sangat sulit. Tanjung Atadei terletak di deda Dulir, desa paling ujung dari Kecamatan Atadei namun letaknya di pesisir. Dari Lewoleba kita harus naik oto selama kurang lebih 4 jam perjalanan menuju desa Lerek, lebih kurang 45 KM. Ongkosnya lumanyan muruh yaitu Rp. 40.000,-/ orang. Oto adalah mobil truk yang disulap menjadi angkutan penumpang. Waktu tempuh sangat lama dengan jarak yang tidak terlalu jauh ini disebabkan oleh jalan pegunungan yang kecil dan rusak parah. Oto inilah angkutan untuk menghubungkan seluruh jalan di Kabupaten Lembata. Di lembata ada 2 terminal yaitu terminal untuk jalur timur menuju Kedang kecamatan Buyasuri dan terminal Barat untuk jalur tengah yaitu menuju Atadei dan juga jalaur barat menuju Lamalera. 

Setelah sampai di Desa Lerek, turun dari oto dan melanjutkan perjalanan ke desa Dulir. Untuk menuju desa Dulir tidak bisa menggunakan oto karena tidak tersedia jalan di sana. Namun kita bisa menyewa ojek, dan harus mengelurkan kocek sekitar Rp. 70.000,- sekali jalan. Tidak ada ojek khusus seperti di kota besar, siapa saja yang dilihat naik motor bisa langsung distop dan minta tolong untuk mengantar ke desa Dulir. Selama naik ojek harus banyak bersabar karena jalan setapak, perkebunan, hancur-hacuran yang akan kita lalui. Ojek di tempat ini sudah sangat mahir terlatih, tidak ada sertifikat tapi alam yang melatih mereka. Luar biasa. Dengan ojek kita cuma membutuhkan waktu selama kurang lebih 40 menit untuk mencapai tempat tujuan.

Saat itu, kami menuju Desa Dulir tidak dengan ojek karena jumlah siswa yang kami bawa sangat banyak. Kami memilih jalan kaki selama 4 jam perjalanan. Sangat melelahkan tapi dengan berjalan kaki kami dapat menikmati keidahan alam secara langsung. Sekalian melatih kekuatan berjalan kami. 

Kecamatan Atadei

Ini yang paling penting, begitu sampai di desa Dulir jangan lupa melapor kepada kepala  desa. Di sana tidak ada hotel atau sejenisnya yang ada cuma rumah warga. Untuk akomodasi selama di tanjung Atadei kita bisa numpang bersama warga setempat. Mereka sangat senang menerima tamu juga sangat ramah. 

Disarankan sebelum mengunjungi tempat ini kita harus terlebih dahulu mencari pemandu, ada orang yang memfasilitasi dari pertama kali berangkat sampai ke tempat tujuan. Selama berada di tanjung Atadei kita sebagai pengunjung tidak akan dibiarkan untuk menikmati kehindahan alam tanpa dipandu oleh masyarakat setempat karena tempat ini sangat bahaya bagi orang baru yang tidak mengetahui adat-istiadat di sana. Biasanya yang menjadi pemandu adalah langsung kepala desa Dulir dan ditemani oleh tokoh-tokoh adat. Tidak hanya itu, anak-anak sekolah di sana juga akan meramaikan wisata yang kita lakukan. Mereka sangat senang dengan para pendatang.

Mengenai biaya selama di sana, tidak ada aturan khusus. Karena kita nginap dan makan di rumah warga setempat maka tinggal dikondisikan dengan pihak desa saja.

Pokoknya tempat ini sangat asik. Indah dan  sangat menantang.

#Darbe. 5 Juli 2015.

Pesona Pantai Waijarang yang Tak Pernah Mati

Kabupaten Lembata
[Ceria di Pantai Waijarang, Lembata, NTT]
Pertama kali tiba di pulau Lembata, badan lelah, pikiran tidak karuan setelah seharian berada di dalam kapal Bukit Siguntang. Besoknya kami diajak untuk berekreasi ke pantai Waijarang. Pantai ini adalah tempat wisata paling dekat dengan kota Lewoleba. Kata masyarakat setempat, rekreasi ke pantai Waijarang merupakan perkenalan awal kami selama satu tahun ke depan di pulau Lembata.

Pantai Waijarang terletak di Desa Waijarang, Kecamatan Nubatukan, merupakan pantai dengan panorama yang indah. Pasir putih yang terbentang luas dihiasi riakan ombak yang agak keras memecah bibir pantai menjadi obyek tersendiri. Di pantai Waijarang para pengunjung dapat menikmati wisata pantai seperti ski air, berenang, berjemur, camping, volly pantai, bola kaki dan hiking. Penduduk Waijarang juga sering mengadakan atraksi-atraksi budaya untuk menghibur para pengunjung.

Lembata NTT
[Menatap Senja di Bukit Waijarang]
Tidak hanya itu, keindahan panorama pantai didukung dengan pemandangan bukit-bukit yang indah dan selat Boleng yang membatasi dua pulau yaitu Lembata dan Adonara. Hutan bakau juga menyajikan pesona hijau yang serasi dengan laut biru. Letaknya yang strategis menjadikan pantai Waijarang menjadi salah satu unggulan di Pulau ini.

Pantai Waijarang berhadapan langsung dengan Pulau Adonara, dibatasi lautan dengan pemandangan indah, merupakan salah satu alternatif wisata pantai terbaik di Lembata. Jaraknya relatif dekat dari Kota Lewoleba ke arah barat sekitar sepuluh kilometer dengan kondisi jalan aspal. Meskipun sebagiannya sudah berlubang, tetapi bisa ditempuh sekitar 25-30 menit menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Keindahan pantai Pasir Putih, laut yang bersih dan ombak pantai relatif keras menjadikan tempat ini diminati pengunjung.

Tidak hanya bisa menikmati keindahan pantai, dengan berjalan satu kilometer dari pantai Waijarang kita bisa menikmati gugusan pulau-pulau dari atas bukit Waijarang, keindahan pulau Adonara dengan gunung Bolengnya, Alor dan gunung Ile Ape, dari atas bukit ini kita juga bisa menikmati hamparan perahu-perahu nelayan, semua panorama ini menjadi daya tarik luar biasa untuk kenikmatan mata memandang. 

#Darbe. 2 Juli 2015

Pantai Bean, Duplikat Keindahan Phuket

Wisata Lembata
[Pantai Bean, Lembata, NTT]
Jangan ngaku sudah pernah pergi ke Lembata kalau belum berenang di pantai Bean. Begitu ungkapan masyarakat sekitar untuk memprovokasi orang yang baru mendatangi Pulau Lembata. Siapa sangka di ujung tandusnya Lembata, pulau seribu pesona ini menyimpan sejuta panorama indah, rasa penasaran mengantarkan saya untuk mengunjungi pantai yang disebut-sebut mengalahkan pantai Phuket Thailand sekalipun.

Keindahan panorama pantai dengan hamparan pasir putih serta hempasan ombak yang cukup besar, serta tebing dan gua alam. Pantai Bean merupakan pantai pasir putih yang unik dengan pasir putih dalam bentuk kristal-kristal halus yang membentang dari barat ke timur sejauh kurang lebih 5 KM dengan ombak laut yang bergulung terus menerus dan pecah secara teratur. Indah sekali.

Pulau Lembata
[Berenang di Pantai Bean]
Pantai dengan kondisi seperti ini sangat cocok untuk berselancar dan surfing. Pantainya cukup landai dan aman bagi pengunjung yang ingin berekreasi di pantai. Di pantai ini juga memiliki tebing yang cukup menarik untuk kegiatan wisata panjat tebing.

Pantai Bean terletak di ujung Pulau Lembata yang berhadapan langsung dengan Pulau Alor. Terletak di Desa Bean Kecamatan Buyasuri dengan jarak tempuh 82 KM dari pusat Kota Lewoleba, untuk menuju ke lokasi tersebut dapat ditempuh dengan angkutan darat.

Kabupaten Lembata
[Menatap Pantai Bean dari Ketinggian]

Jangan berpikir di seputaran pantai ini ada pasar ataupun hotel. Untuk sinyal dan listrik saja masi sangat minim. Biarpun tidak ada penginapan khusus, pihak desa setempat akan mengusahakan homestay untuk para pengunjung. Boleh juga membawa perlengkapan kemah sendiri dan bekal seadanya, mengenai makanan ringan kita bisa membelinya di kios-kios warga sekitar atau bisa juga membelinya di pusat kecamatan tapi kalau di pusat kecamatan lumanyan jauh dan menguras banyak tenaga. 

Untuk masyarakat sekitar jangan khawatir, mereka sangat welcome dengan tamu apalagi tamu yang berasal dari luar pulau Lembata. Bagi mereka, dengan semakin banyak tamu yang datang maka secara tidak langsung pariwisata di desa mereka mulai dikenal orang luar dan kedepannya sangat bagus untuk prospek ekonomi masyarakat.

Wisata di NTT
[Berpose bersama di Pantai Bean]
Akses menuju pantai Bean memang harus menguji adrenalin, dari pusat kota Lewoleba menuju Kedang selanjutnya melewati beberapa desa menuju pantai Bean. Setelah sampai di desa Panama, membutuhkan waktu lebih kurang 40 menit untuk menuju ke Desa Bean dengan jalan yang lumayan buruk, berlobang, berbatu dan dengan kecuraman yang lumayan menggoda. Jika menggunakan sepeda motor dan berhasil melewati semua tantangan selama di jalan maka selamat anda adalah pengendara yang hebat. 
Berapa biaya masuk ke pantai Bean? Gratis. Pariwisata pantai Bean belum dikelola dengan baik oleh pemerintah sehingga banyak wisatawan yang tidak mengetahui keberadaanya. Biarpun demikian, bagi para wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai Bean tidak akan menjadi masalah. Biarpun gratis, tidak salah juga bagi pengunjung untuk menyumbang alakadarnya kepada pihak desa setempat supaya mereka bisa menggunakan dana dari pengunjung untuk pengelolaan pantai yang lebih baik kedepannya. [DR]

Ingat, pantai Bean itu indah sekali.

#Darbe, 30 Juni 2015

Kopelma, Simpang Mesra, dan Tugu Pena



"Tekad bulat melahirkan perbuatan yang nyata, 
Darussalam menuju kepada pelaksanaan cita-cita"

Sebuah tulisan tangan yang kemudian dipercantik dengan tinta emas terpampang indah di sebuah tugu yang berada di kota pelajar mahasiswa (Kopelma) yang terletak di Darussalam Kota Banda Aceh. Merupakan sebuah komplek yang dijuluki dengan Jantong hate rakyat Aceh, memiliki dua perguruan tinggi besar yaitu Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry. Lahirnya Kopelma Darussalam merupakan wujud nyata bagi perkembangan pendidikan di Aceh, sebagaimana tulisan tangan Soekarno yang terpampang sampai sekarang di tugu Darussalam tersebut. 

Kopelma memiliki sejarah panjang sebelum dan sesudah tempat ini ada, banyak duka dan suka didalamnya. Aceh hari ini adalah hadiah dari Kopelma, tanpa adanya kopelma kita tidak bisa menebak bagaimana Aceh sekarang terutama pendidikannya. Dari kopelma inilah banyak melahirkan orang-orang hebat sekelas nasional maupun Internasional. Kita patut berterimasih kepada Soekarno, kepada para pendahulu dan pejuang yang telah melahirkan Kopelma dengan dua kampus megahnya.

Kopelma memiliki aktivitas sangat sibuk setiap harinya, ribuah mahasiswa dan pelajar juga sejuta aktivitas didalamnya. Mahasiswa di kopelma ini berasal dari berbagai daerah di Aceh, luar Aceh bahkan banyak juga berasal dari luar negri. Mereka tinggal diberbagai tempat di Banda Aceh tidak hanya di seputaran Darussalam saja sehingga jalanan menuju Darussalam akan sangat padat pada pagi dan sore hari.

Untuk menuju Kopelma harus melewati Simpang Mesra, tidak ada referensi pasti asal mula penamaan Simpang Mesra tersebut. Simpang Mesra ini merupakan pertigaan yang membagi jalan Tengku Nyak Arief menjadi dua, kalau kita lihat dari pusat kota yang ke kiri menuju arah Krueng Raya, dan yang ke kanan menuju Kopelma Darussalam. Awal mula kuliah dulu pernah bertanya kepada seorang senior di kampus perihal kenapa dinamakan Simpang Mesra? Apakah banyak orang bermesraan ditempat itu? Senior ini bercerita, para mahasiswa tempo dulu sangat sedikit yang memilki sepeda motor sehingga semua aktivitas terutama berangkat ke kampus harus menggunakan robur. Robur pada saat itu merupakan alat transportasi yang sangat dicintai oleh para mahasiswa, disamping harganya murah banyak kesan dan keasikan sendiri didalamnya.

bahance.net
Robur sangat disiplin terhadap waktu sehingga dia selalu melaju dengan kecepatan tinggi. Dan robur tidak pernah sepi dari penumpang, penumpang yang tidak mendapatkan tempat duduk harus rela berdiri berdesak-desakan. Setiap kali robur tiba di persimpangan tugu pena dengan tikungan 95 derajat, abang sopir tidak pernah mengurangi kecepatan, sehingga badan robur menjadi goyong miring ke kanan, dan para penumpang tiba-tiba terhimpit akibat terkena gaya sentripetal dari perubahan arah robur, kira-kira konsep fisikanya begitu. Momen seperti inilah yang selalu ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, karena saat robur membelok dengan kencang para penumpang akan berteriak "Mess.rraaa...mesra....mesra..!". Dan dari kebiasaan itulah nama "Simpang Mesra" tercipta. Menurut cerita lain, orang pertama yang meneriakan “mesra” adalah para kernet robur untuk menghibur para penumpang yang kepanasan dan berdesak-desakan sehingga lambat laun diikuti oleh para penumpang lain. Tapi informasi ini hanyalah cerita dari mulut ke mulut belum ditemukan informasi resmi asal mula penamaan Simpang Mesra tersebut.

Tugu pena terletak di Simpang Mesra, pas di lintasan masuk menuju ke Kopelma Darusaalam. Bentuknya memiliki keunikan tersendiri, mulai dari bagian dasar hingga pada bagian puncak yang menyerupai sebuah ujung pena, oleh karena itulah tugu ini disebut dengan nama Tugu Pena, namun nama aslinya adalah tugu “Tentara Pelajar”. Tugu ini dibangun untuk mengingatkan generasi muda akan sepak terjang para pelajar Aceh pada masa perjuangan melawan penjajah dulunya. Kalau diperhatikan, tugu ini berbentuk pena dengan matanya mengarah ke langit dan dibawahnya penuh dengan efek api yang menggambarkan semangat belajar yang tinggi. Sesuai dengan tulisan pesan dibawahnya "Belajar Sambil Berjuang dan Berjuang Sambil Belajar". Tugu ini sarat akan makna perjuangan dan belajar sepanjang hayat, kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun. Semangat luar biasa pesan di tugu ini sehingga sangat cocok sebagai pemompa semangat kepada para mahasiswa dan pelajar yang akan menuju ke Kopelma Darussalam. Bukankah belajar juga bagian dari sebuah perjuangan? Perjuangan untuk sukses, untuk membanggakan orang tua. Perjuangan untuk orang banyak, perjuangan untuk agama dan perjuangan untuk bangsa tercinta.

Belum sempurna gelar sarjana kalau tidak foto di depan robur, tugu kopelma dan tugu pena. Tiga hal ini tidak bisa terlepas dari perjuangan para mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjana. Transportasi ke tempat belajar, penyemangat untuk terus belajar dan tempat belajar.

#Darbe. Banda Aceh, 3 April 2015.

Wisata Hati Sendirian

Kita sering melihat orang Barat kalau jalan-jalan mengunjungi tempat wisata sering sendiri, berbeda dengan orang Asia kebanyakan khususnya orang Indonesia. Tahu kenapa? aku juga tidak tahu. Karena ketidak tahuan inilah membuat aku termotivasi untuk  mencari tahu: apa sih enaknya jalan sendirian tanpa ada yang menemani?. Aku mencoba untuk melakukan penelitian dengan mengunjugi beberapa objek wisata dan tempat-tempat keramaian yang ada di Banda Aceh. 

Langkah itu dimulai pada jam 08.30 WIB. Tempat pertama yang aku kunjungi adalah Perpustakaan Wilayah Aceh di Lamyong. Ya. Seperti layaknya sebuah pustaka memang selalu disesaki oleh pengunjung dan pengunjung paling banyak adalah mahasiswa. Kesibukannya pun macam-macam: ada yang baca buku, cari-cari buku, bahkan ada juga yang pacaran. Pustaka memang tempat pacaran paling keren, pacaran ala intelek katanya. Sebenarnya tujuan ke pustaka ini untuk membuat kartu anggota pustaka yang baru berhubung kartu lamaku tidak berlaku lagi karena faktor X. Antrian panjang di bagian andministrasi membuat aku enggan untuk berpartisipasi bersama para orang sabar itu. Mengantri merupakan pekerjaan yang kurang aku sukai kecuali kalau itu sangat penting dan mendesak. Disini aku lebih memilih memantau ala anak kampung yang baru tiba di kota, sangak-sangak. Ehh.. rupanya ketemu sama adek leting. Yah, biasalah lama tidak ketemu: nanyain kabar, cerita-cerita, ehh ujung-ujungnya; Bang mintak judul skripsi dong?. Memang dilema mahasiswa tingkat akhir kalau ketemu siapa aja apa lagi seniornya, basa-basi dikit, tetap ujung-ujungnya mintak judul skripsi. Untung aku masih banyak stok, masing-masing mereka dapat satu judul. Diterima-tidaknya judul itu bekan urusanku itu adalah derita mereka.


Perjalanan dilanjutkan menuju Mesium Tsunami. Mau tahu bagai mana dahsyatnya air bah di Aceh delapan tahun silam?. Inilah tempatnya. Barang-barang peninggalan tsunami lengkap disini. Aku cuma lihat-lihat aja dan tidak mau berlama-lama karena aku sudah pernah mengunjungi tempat ini. tempat yang paling aku suku adalah lorong tsunami. Gelap, riuh, apa lagi ada setikit percikan air; wah..rasanya romantis banget kalau perginya sama cewek tapi sayang, aku perginya sendiri. Semua kamar dan lorong aku jelajahi sampai tidak ada yang tersisa, samapai ke kamar mandinya sekalian kecuali kamar mandi perempuan. Setiba di ruangan simulasi, pengen banget nyobain alat simulasi gempa sekalian tanya-tanya tapi penjanganya tidak ada. Aku berpikir positif aja mungkin penjangnya lagi ke kamar mandi, ehh tapi kok ngak ketemu tadi yaa. Nah, parkiran. Ini yang menjadi sorotanku di Mesium ini; papan pemberitahuan harga parkir untuk kendaraan roda dua dan empat pada bagian angkanya dihapus (bukan terhapus). Setahuku harga parkiran untuk roda dua di Banda Aceh Rp. 1000,- dan Rp. 2000;- untuk roda empat tapi kenapa abang  parkir itu mintaknya Rp. 2000,- ?. Sebernarnya tidak masalah bagiku tapi ini sudah keterlaluan bertentangan dengan qanun yang dibuat dengan susah payah. Kadang-kadang sampai lempar bangku mereka di DPR berdebat tentang harga parkir ini.

Di seberang jalan, mataku tertuju pada tanah luas yang pernah dipersengketakan oleh Pemerintah Aceh dan Kodam Iskandar Muda tempo hari. Tanah luas tempat bermain, olah raga, berwisata dan tempat keramaian. Tanah itu bernama Blang padang. Ada pemandangngan lain di sebelah baratnya. Sebuah pesawat yang menjulang tinggi, gagahnya minta ampun. Pesawat yang tinggal kerangka itu adalah pesawat pertama  Bangsa Indonesia. Ya, sumbangan dari masyarakat Aceh dulu. Aku sempatkan untuk masuk dan melihat bangkai pesawat dari dekat. Keren juga pesawat ini rupanya. Ata awak kamoee sedekah jameun.



Selanjutnya menuju Mesium Kapal Apung, saksi bisu tsunami. Satu tahun aku tidak mengunjunginya. Waoee, rupanya sudah berubah 180 derajad. Kapal ini sekarang sudah terlihat keren, tempatnya sudah ditata dengan rapi nan indah apa lagi ditambah dengan jembatan yang terhubung ke seluruh area taman. Sampai ditempat ini sudah mulai siang. Teriknya matahari membuat wisatuku disini tidak terlalu lama: keliling-keliling, lihat kiri kanan, bayar parkir dan langsung kabur.

Saatnya ke Mesjid Baiturrahman. Jak barang kaho jeut, pubuet barang kapue jeut, nyang penteng sembahiang bek tinggai. Menjelang Sholat Zuhur Mesjid kebanggaan masyarakat Aceh ini di padati oleh pengunjung. Aku tidak tahu apakah semua orang yang berada di perkarangan Mesjid ini akan melaksanakan Sholat disini atau tidak, mudah-mudahan mereka juga Sholat. Setelah Sholat, aku sempatkan untuk foto-foto sejenak supaya ada bukti kalau aku sudah pernah ke Mesjid raya Baiturrahman. Jangan ngaku sudah ke Banda Aceh kalau belum foto dimesjid ini.

Tidak jauh dari Mesjid, toko buku Zikra adalah sasaran berikutnya. Awalnya tidak ada niat sedikitpun untuk mampir ke toko ini. Penasaran dengan tampilan baru dan megahnya bangunannya membuatku untuk mampir. Dalam hati aku berucap: sudah ada toko buku sekelas Gramedia di Banda Aceh, ini bakalan asik pasti banyak buku-buku updatean terbaru. Keliling-keling dan sangak-sangak langtai satu, dua dan tiga, rupaya banyak buku-buku yang bagus. Ada sekolah rimba, buku yang digarap oleh Buten Manurung, buku ini menjadi perhatianku. Biarpun terbitnya sudah lama tapi aku belum baca. Ingin sekali mengambil dan menyerahkannya ke kasir, tapi apa hendak dikata Gusti Ngurah Ray cuma satu lembar di dompetku. Kapan-kapan aja ya. Heheh

Sepertinya lagu di laptop sudah setahun tidak pernah update dan juga sudah lama tidak nonton film terbaru. Masuk ke toko Insert. Wiihhh, sejuknya. Udara dalam toko ini membuat aku pengen ngak keluar-keluar. Sejuknya bukan main gak seperti diluar, panasnya mintak ampun. Aku lumanyan lama berada dalam toko ini. Pura-puranya asik milih kaset yang bagus, gayanya mau beli padahal keasikan ngobrol sama cewek-cwek disana, sama anak remaja yang masi unyu-unyu. Alay banget pokoknya. Aku digodain lho. hehe [Darbe]