Buku Pertama

Catatan yang Tercecer
Tahun 2012 sewaktu mengajar anak-anak di pedalaman NTT, ada banyak sekali pengalaman yang saya dapat. Saya mulai mencintai dunia pendidikan berawal dari pulau Lembata. Biarpun kuliah di FKIP, waktu itu saya tidak ingin menjadi guru. Bagi saya kuliah adalah proses untuk dewasa dan merubah pola pikir saja. Program SM3T membuat saya mencintai profesi sebagai guru. Berdiri di hadapan anak-anak adalah sebuah kegembiraan.

Setelah satu tahun dilatih survival di Pulau Lembata, hidup tanpa listrik, air, dan sinyal. Selanjutnya ditarik kembali ke kampus untuk dilatih dalam program Pendidikan Profesi Guru (PPG) berasrama selama satu tahun pula. Tidak kalah serunya dengan belajar di pedalaman. Saat PPG, belajar dari pagi sampai sore ditambah program karakter di malam hari selama satu tahun hampir saja membuat kami stress, untung saja alam pedalaman telah melatih kami supaya lebih kuat dan tahan banting dalam keadaan apapun. Optimis dan tidak mengeluh adalah kunci untuk bertahan.

Proses yang panjang, mendapatkan pengalaman yang luar biasa, akhirnya kami kembali lagi ke pedalaman menjadi guru, namanya adalah Guru Garis Depan (GGD). Sejak akhir 2017 saya mulai bertugas di pedalaman Kalimantan Barat, hidup dengan masyarakat Melayu dan Dayak pedalaman. Masih sama seperti di Pulau Lembata, tanpa listrik, sinyal dan kali ini jalan TOL-nya adalah sungai. Jangan tanya soal nasionalisme, karena itu sudah mendarah daging. Pancasila dan Toleransi adalah makanan sehari-hari bahkan sudah khatam berkali-kali.

***
Dr. Sulaiman Tripa adalah Guru saya dalam menulis, meskipun tidak pernah belajar langsung dari beliau namun keteguhan, konsisten, semangat, kerendahan hati, dan lewat tulisan-tulisannyalah saya belajar dan terinspirasi. Momen peluncuran 44 buku karya beliau, waktu itu saya hadir. Saat itu semangat saya untuk menulis dan membuat buku ikut tumbuh dan mengalir dengan deras. Saya percaya bahwa semangat itu menular.

Buku ini merangkum pengalaman selama berada di Pulau Lembata, Borneo dan PPG di Banda Aceh. Menjadi pendidik itu sangat menyenangkan, apalagi menjadi pendidik di pedalaman, penghargaan setinggi-tingginya untuk para guru diberikan oleh masyarakat.

Sebagai orang yang sedang belajar menulis, saya tidak terlalu peduli, apakah buku ini bagus atau jelek. Layak atau tidak untuk dibaca. Bagi saya, yang terpenting teruslah menulis karena menulis adalah obat untuk menenangkan pikiran dan melepaskan beban.

Soal kemampuan menulis, seiring waktu akan berkembang menjadi lebih baik dengan sendirinya. Hanya soal waktu saja. Asalkan terus belajar dan berlatih.

Buku ini tidak dijual, jika ada yang ingin memilikinya cukup dengan mengganti biaya cetak saja. Berapa biaya dan bagaimana cara mendapatkan buku ini akan saya informasikan lebih lanjut.

Libur telah usai, pertanda sekolah telah tiba saatnya kembali bermain dengan anak-anak di pedalaman Kalimantan Barat sana. Nanti jika telah kembali ke kota kabupaten maka akan saya infokan. Tunggu ya.

Salam Literasi.

Ini Desaku, Mana Desamu

Desa Merah Arai adalah sebuah desa kecil nan sejuk yang berada di Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Penduduknya tidak terlalu ramai cuma sekitar 220 KK. Jaraknya dari pusat kecamatan hanya 47 Km dan untuk menjangkau Desa ini harus menggunakan perahu motor. Baca Jauhnya Desa Merah Arai.

Penduduk di desa ini manyoritas bekerja sebagi petani. Karet adalah komoditi utama mereka. Di samping itu, penduduk desa juga berladang, seperti menanam padi, cabai, tomat, sawi dan sayur-mayur lainnya. Di sini buah-buahan banyak sekali, beraneka ragam sampai buah yang tidak pernah dimakan oleh orang kota, di desa ini ada barangnya. Jika musim buah, guru akan mendapatkan porsi spesial. Ada saja yang mengantar buah-buahan ke rumah. Terkadang, jika sudah terlalu banyak, kita harus menolak sedekah orang dan menghambat mereka untuk mendapatkan pahala. Saya pikir, menolak lebih baik daripada terbuang mubazir.

Penduduk desa kami tidak hafal nama-nama ikan laut, jangankan makan, lihat saja kadang mereka tidak pernah. Sehingga mereka tidak pernah bermimpi mendapatkan sepeda dari presiden Jokowi. Soal ikan, ikan sungai adalah favorit penduduk desa, ikan baung masyarakat menyebutnya. Memancing atau menembak ikan adalah aktivitas penduduk di waktu luang. Ketika mereka mulai menginginkan makan ikan, maka langsung terjun ke sungai. Dapat dua tiga ekor langsung pulang untuk dimasak. Jangan harap ada orang yang jual ikan keliling di sana. Jika akrab dengan anak-anak kecil, kita akan dibagi ikan hasil tangkapan mereka. Anak-anak di sini, hobinya menembak ikan.

Agama manyoritas penduduk adalah Kristen. Hidup dalam keberagaman sudah terbiasa sehingga tidak menjadi kendala bagi saya. Toleransinya sangat tinggi di sini. Agamaku aku urus sendiri dan agamamu kamu urus sendiri. Kita tidak saling ikut campur soal agama. Dan salutnya, penduduk desa sangat memahami apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam Islam dan mereka memperlakukan saya dengan sangat terhormat, begitu pula saya memperlakukan mereka.

Sinyal di Desa Merah Arai
Tower HP Mini
Desa kami tidak ada sinyal telekomunikasi, apalagi akses internet. Hanya ada satu dua tempat di desa yang terkadang mampu menangkap sinyal satu batang itupun tergantung tiupan angin. Jika angin bertiup ke arah kita maka beruntunglah. Kalau teman-teman menghubungi handphone saya tidak terhubung, mohon dimaklumi perusahaan telekomunikasi belum mau bersahabat dengan orang desa seperti kami. 

Radio adalah sumber berita utama di desa kami, banyak rumah sudah memilikinya. Untuk mendapatkan jaringan harus hati-hati penuh kesabaran, sedikit goyang atau bergeser maka siarannya akan hilang. Setiap rumah ada posisi-posisi tersendiri untuk meletakkan radio atau antenanya supaya mendapatkan suara yang jernih. Kami akan percaya sepenuhnya apa yang disampaikan oleh penyiar radio tersebut, berita apa saja, temasuk pengumuman atau berita duka, karena satu-satunya sumber berita hanyalah dari radio tersebut. Semoga beritanya tetap berimbang.

Soal listrik, Alhamdulillah sudah teratasi. Kami tidak menggunakan jasa PLN. Kami menggunakan lampu panel surya, semua rumah memilikinya. Kabarnya, itu bantuan dari dana desa. Sayapun kebagian satu.

Desa kami memiliki air bersih yang cukup, sumbernya dari mata air di atas Bukit Alat. Bukit Alat adalah bukit yang membentang dari Desa Lintang Tambuk sampai Nanga Masau. Airnya mengalir deras ke setiap rumah melalui pipa-pipa tanpa harus menggunakan mesin pompa. Menariknya, air ini tidak perlu dimasak dan bisa langsung diminum. Kata penduduk desa, airnya sudah bersih dari bakteri dan terjamin, namun saya belum mendengar apa pendapat BPOM soal ini. Namun, sampai saat ini saya masih mendengarkan pendapat masyarakat tentang air tersebut. Tidak pelu dimasak dan langsung diminum.

Jika ada yang bertanya, apa kabar hewan ternak seperti babi, kambing dan sapi di desa Merah Arai? Jawabannya adalah aman dan terkendali. Budaya hidup bersih sudah lama diterapkan oleh warga desa. Binatang ternak harus tetap berada di kandang, tidak boleh berkeliaran di perkampungan. Bayangkan saja jika binatang tersebut berkeliaran di perkampungan, maka kotorannya akan sangat mengganggu dan tanaman-tanaman warga akan abis dimakan dan dirusaknya. 

Budaya hidup bersih ini dulunya dikampanyekan oleh salah satu guru SDN 15 Merah Arai, beliau adalah guru pertama dan satu-satunya saat itu. Namanya adalah Sukadir, beliaulah yang merintisnya saat itu. Tidak hanya budaya hidup bersih, ada banyak program kemasyarakatan dan sosial yang beliau rintis dan sampai saat ini diumurnya yang hampir pensiun, ada program yang sudah berhasil dan ada juga yang belum berhasil. Di kesempatan lain, saya akan ceritakan khusus tentang pak Sukadir, guru perintis yang melegenda.

Sintang, 3 November 2017

Kebersamaan dalam Silaturahmi

GGD II
Belajarlah dari nenek moyangmu bagaimana caranya menghubungkan rahim-rahim itu, karena silaturahmi menimbulkan kecintaan dalam keluarga, meluaskan rezeki, dan menunda kematian.” (HR Imam Tirmidzi)

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirtmidzi sangat relevan dengan apa yang kami rasakan kemerin. Kami meluapkan kegembiraan yang sangat luar biasa dan itu didasari karena kami saling mencintai, karena kami adalah keluarga dibawah payung program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI).

Awalnya hanya candaan untuk menghadirkan para alumni SM3T di Banda Aceh, karena kami sadar hal itu tidak mudah dengan berbagai kesibukan teman-teman selama Ramadhan, belum lagi jarak yang memisahkan tidak dekat. Sehingga disepakati mengumpulkan alumni dalam kegiatan buka puasa bersama hanya yang berdomisili di Banda Aceh dan Aceh Besar saja, namun tetap mengundang alumni SM3T se-Aceh, siapa tahu ada yang sedang berada di ibu kota ataupun ada yang mau meringankan langkah untuk ikut menghadiri acara tersebut.

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Maka dibuatlah acara Rapat Koordinasi koordinator kabupaten dan koordinator program studi se-Aceh dan Buka Puasa Bersama, sekaligus merayakan ulang tahun ke-1 Masyarakat SM3T Institute (MSI) secara bersamaan juga sedang dirayakan di seluruh Indonesia. MSI adalah sebuah lembaga  yang dibentuk oleh para alumni SM3T untuk menghimpun dan menghubungkan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia. Lembaga yang memiliki markas pusat di Makasar ini sudah terbentuk hampir di setiap provinsi, salah satunya di Aceh.

Pemetaan GGD II
Suasana Rapat Koordinasi
Tidak perlu membentuk panitia besar, hanya panitia kecil tanpa SK yang penting semua mau membantu secara suka rela, tanpa membedakan setiap angkatan, berbaur menjadi satu keluarga. Akhirnya rapat koordinasi resmi kami buka di Auditorium lama dan buka puasa bersama di Mushala Insan Kamil FKIP Unsyiah.

Riuh keramaian pada saat Rakor cukup membuat aliran darah mengalir deras, bagaimana tidak, kegembiran saat itu mebuat jantung bekerja lebih cepat. Kegembiraan muncul saat melihat teman-teman yang hadir tidak hanya dari Banda Aceh dan Aceh Besar saja namun juga dari luar kota yang jaraknya merupakan salah satu syarat diperbolehkan untuk Menjamak atau Qasar Sholat. Dan, ini merupakan sebuah penghargaan yang sangat luar biasa bagi teman-teman panitia, karena kami sangat percaya atas komitmen dan dedikasi semua alumni. Kami tidak pernah meragukannya.

Puncak kegembiraan dan silaturahmi yaitu pada saat acara buka puasa bersama. Panitia penyelenggara sengaja mensetting suasana sedramatisir mungkin, mulai dari tempat acara yang sengaja tidak dibersihkan lebih awal, spanduk dan atribut lainnya yang masih berantakan, kue berbuka yang sengaja tidak dikemas terlebih dahulu, bahan munuman yang belum dibikin, dan nasi yang belum dibungkus. Hal ini diciptakan dengan satu tujuan yaitu supaya kami semua yang hadir ikut bekerja sama bahu-membahu dalam menyiapkan makanan berbuka puasa yang akan kami santap nantinya.

Buka puasa bersama Alumni SM3T Aceh
Suasana Buka Puasa Bersama
Memperhatikan gotong royong teman-teman membuat kami terharu, bagaimana ibu-ibu bersama-sama mengemas kue tadi ke platik dan tempat lainnya, mempersiapkan aneka minuman, dan bapak-bapak ikut menuangkan air minum ke gelas-gelas, lalu menghidangkannya di tempat yang telah ditentukan. Suasana gotong royong sambil bercanda, bercerita ria, terus-menerus terlihat sambil tertawa kecil di berbagai sudut. Bukankah itu sangat luar biasa? Tidak ada yang menyia-nyiakan momen ini. Karena suasana berkumpul seperti ini adalah momen langka bagi kami yang selama ini sibuk dengan aktivitas masing-masing di luar sana.

Menariknya, ada yang dulu hanya pernah berkomunikasi dengan adik angkatan via media sosial, di sana mereka bisa bertemu langsung. Ada teman perempuan yang dulu pernah ditaksir, di sana dia mengundang untuk menghadiri acara resepsinya. Ada sejoli yang dipisahkan oleh jarak, di sana mereka berjumpa, aduhai. Ada yang sudah mapan, menawarkan pekerjaan kepada yang masih berjuang. Ada juga yang sibuk menjodoh-jodohkan teman dengan harapan bisa cocok. Semuanya saling berbagi, saling memotivasi dan saling menguatkan. Duhh, kami semua sangat senang menikmati pemandangan ini. 

Kami semua mendokumentasikan momen tersebut di memori kepala yang kian pesat ini, juga di memori handpone masing-masing yang nantinya akan kami kenang pada suatu hari nanti. Hari ini kami bisa bersama dengan penuh suka cita, namun kami tidak bisa menjamin kedepan akan bisa seperti ini lagi. Kami tidak mau bertaruh bisa bersenda gurau penuh keakraban seperti ini lagi, dengan berbagai agenda kedepan yang sangat padat dan jarak yang sangat jauh.

Namun, kami akan usahakan, momen kebersamaan akan tetap kita buat dengan agenda dan even yang berbeda namun nuansa keakraban dan kebersamaan justeru lebih menggoda. Karena kita semua memilih percaya kalau satu sahabat sejati lebih berharga dari pada seribu teman yang mementingkan dirnya sendiri. Bukankah begitu?

Tunggu even selanjutnya!. Salam cinta penuh kebersamaan.

#Banda Aceh, 27 Juni 2016

Setelah Ini Mau Jadi Apa?

Kegembiraan Saat Yudisium PPG SM3T 2015
Kegembiraan Saat Yudisium PPG SM3T 
Kemarin Unsyiah melaksanakan yudisium terhadap 133 guru dalam program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Tidak hanya Unsyiah, ada 20 LPTK seluruh Indonesia juga melakukan hal yang sama. Meluluskan guru-guru yang telah digemleng, dididik dan dibina selama satu tahun dalam program PPG dan sebelumnya mereka telah dilatih ketahanmalangan selama satu tahun di pedalaman Indonesia. Guru-guru ini adalah angkatan ketiga setelah sebelumnya para LPTK telah meluluskan dua angkatan. 

*****
Untuk angkatan yang baru lulus, ada satu pertanyaan, setelah ini, mau jadi apa?. Saya juga berada di bagian ini setahun yang lalu dan telah mengajukan pertayaan “setelah ini mau jadi apa?” pada diri saya sendiri yaitu pada bulan ketiga saat sedang kuliah PPG. Saya khawatir sekali setalah PPG akan mengalami masalah yang sangat ditakuti oleh orang-orang yang baru selesai studi yaitu “menganggur” sehingga harus menanyakan pertanyaan itu untuk memacing kerja otak dalam menganalisa masa depan.

Kita semua tahu, siapa saja yang kuliah di FKIP dan ingin menjadi guru maka akhir dari mimpinya adalah PNS. Kecuali kuliah di FKIP tapi tidak mau menjadi guru, hanya menjadikan FKIP sebagai batu loncatan saja. Oke, itu tidak masalah. Dewasa ini mulai dikampanyekan jika ingin menjadi dosen maka harus kuliah S2 dan jika ingin menjadi guru harus kuliah PPG dan memiliki sertifikat pendidik. Karena untuk seleksi guru kedepan semua peserta seleksi harus memiliki sertifikat pendidik sebagai syarat mutlaknya. 
******
Dalam dua hari ini timeline facebook di laptop banyak dibanjiri dengan euforia kelulusan peserta PPG 2016, ucapan terimakasih dan rasa syukur menghiasinya. Saya cuma mengucapkan selamat, semoga berkah, semoga gelar barunya dapat digunakan dengan baik. Mulai minggu depan, setelah euforia ini berakhir, saya pastikan masa-masa galau akan menghampiri manyoritas alumi PPG. Masa-masa bosan, jenuh, sentuk, dan rasa gengsi mulai megindap. Apalagi jika sanak famili mulai ada yang bertanya, ngajar dimana sekarang?, kerja dimana sekarang?. Saya ingatkan, janganlah menjawab dengan jawaban yang belum pasti kebenarannya seperti “saya sedang menanti GGD beberapa bulan lagi!” jika dijawab seperti itu maka anda masuk dalam golongan korban PHP paling sadis.

Mari kita berandai-andai. Alumni PPG skil utamanya adalah mengajar, kecintaan menjadi seorang guru tidak diragukan lagi, setahun di pedalaman selama SM3T dan satu tahun kuliah profesi guru berasrama, saya pikir sudah sangat cukup matang. Pertanyaannya adalah, mau mengajar di mana sekarang? Ada banyak guru honor yang menguasai sekolah, guru-guru PNS yang sudah sertifikasi dimana mereka banyak yang tidak cukup jam mengajar dan terus mencari jam tambahan di sekolah-sekolah lain. Nah, datang kita alumni PPG ke sekolah minta jam mengajar, apakah sekolah mau terima? Mereka akan mikir-mikir juga.

Lalu apa solusinya? Solusi ada pada diri kita masing-masing. Ingatlah bahwa rezeki itu sudah Allah jamin untuk hambaNya. Setiap kita pasti mempunyai skil yang luar biasa, tidak hanya mengajar, ada banyak skil lain yang bisa dikembangkan. 

Supaya tidak kecewa mulailah berpikir dan tanamkan dalam hati yang paling dalam “PNS itu bukan akhir segalanya”. Ada banyak pekerjaan lain yang mendatangkan rezeki yang halal, apa saja, yang penting kita senang dan bahagia dalam menjalaninya. Cobalah menciptakan kebahagiaan sendiri dengan cara kita sendiri. Jika tidak, maka anda akan masuk dalam golongan orang-orang yang putus asa dan ujung-ujungnya akan menjurus ke prilaku kriminal. Selamat mencoba!.

[Minggu, 28 Februari 2016]

Tidak Ada Perayaan. Selamat Ulang Tahun SM3T

SM3TRI
Selamat Ulang Tahun SM3T
Saya hampir lupa dan sayapun berkeyakinan tidak banyak yang tahu hari lahir SM3T. Sebuah program yang digagas oleh Kemendikbud dalam hal ini Dikti yang bertema besar “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia”. Empat tahun yang lalu tepatnya 6 September 2011 lahir sebuah program pemerintah yang menyejukkan hati banyak orang, membuat dunia pendidikan kegirangan karena akan ada secercah harapan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang pada saat itu mulai terpuruk, mulai ada harapan untuk melahirkan generasi emas terbaik bangsa dari pelosok sana.

6 September 2011. Resmi program Sarjana Mendidik di Derah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) diluncurkan dan berhasil mengirimkan ribuan guru ke pedalaman Indonesia. Pada masa itu tidak banyak yang tahu tentang SM3T, publikasinyapun sangat minim. Kalah tenar dengan program Indonesia Mengajar yang saat itu sangat masif dalam publikasi. Dan program SM3T pada saat itu juga masih banyak sekali kekurangan sana dan sini. Maklum, program baru yang harus merangkak, belajar dan berbenah.

Alhamdulillah, sekarang SM3T sudah berumur 4 tahun. Sudah melahirkan lima generasi. Sudah mengirimkan belasan ribu guru ke pelosok negri. Mereka mengabdi dan mencerdaskan anak-anak Indonesia. Program ini semakin dikenal bahkan mulai menjadi ekslusif dengan seleksi yang sangat ketat untuk bisa bergabung. Hanya memilih para guru terbaik saja dari setiap LPTK seluruh Indonesia. Program ini semakin anggun dengan output Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan selanjutnya PNS khusus dengan istilah Guru Garis Depan (GGD). SM3T akan selalu menjadi wanita cantik yang selalu dilirik oleh banyak orang. 

SM3T telah melahirkan insan-insan yang luar biasa. Melahirkan guru-guru hebat yang telah ditempa oleh alam pedalaman selama setahun. SM3T telah melahirkan orang-orang serba bisa yang tahan banting dalam kondisi apapun. SM3T telah menempa pemuda-pemuda manja dan apatis menjadi pemuda yang luar biasa. SM3T telah mengajarkan banyak orang untuk menghargai sebuah pertualangan dengan sejuta ilmu dan pengalaman. SM3T telah mengajarkan kepada seluruh Keluarga besarnya arti sebuah rasa syukur, hikmah dan pengorbanan. Mengajarkan arti sebuah ketulusan dari lubuk hati yang paling dalam. 
******
Tidak seperti program-program pemerintah lainnya. Setiap hari jadi,hari lahir atau ulang tahun selalu dirayakan dengan penuh suka cita, kemeriahan dan kemegahan. Publikasi pesta menyebar ke seantero Indonesia, pembaca berita sibuk memuji puja di setiap televisi pemerintah dan swasta. Meriah sekali. 

Namun, tidak dengan program SM3T. Tahun ini lesu sekali, tidak ada gegap gempita perayaan. Tidak ada pesta kemegahan. Tidak ada pertemuan untuk merayakan. Tahun ini pemerintah dalam hal ini Kemenristekdikti tidak ambil bagian dalam perayaan. Kita semua maklum, bangsa kita sedang krisis. Rupiah melemah hingga sentuh 14.192 per dolar AS. Tidak ada kesempatan untuk berpesta dan bermegah-megahan. Semua orang harus berhemat dan fokus membantu membagun perekonomian bangsa.

Biarpun pemerintah tidak membuat perayaan. Bukan berarti SM3T itu hilang dari hati para alumninya, dan tidak akan pernah hilang dalam hati teman-teman yang sedang mengabdi di pelosok sana, begitu juga dengan anak-anak didik mereka. Karena SM3T telah membuat semua orang menjadi berarti, gegap gempita perayaan dengan cara dan gaya setiap orang akan selalu dikampanyekan dengan penuh kehangatan. 

Teman-teman yang sedang berada di pelosok sana pasti sudah mempersiapkan perayaan khusus bersama anak-anak terbaiknya, bersama masyarakat merayakan ulang tahun sebuah program besar yang bernama SM3T. Begitu juga dengan para alumninya, pasti ada agenda khusus yang sudah mereka persiapakan dengan cara mereka sendiri. Tidak perlu perayaan mahal yang dilaksanakan oleh pemerintah, justeru membuat orang marah karena akan menghabiskan banyak uang negara. Biarlah kami atas nama keluarga besar SM3T merayakannya dengan perayaan kami sendiri. Dan kami tahu bagaimana caranya.
******
Terimakasih SM3T telah mempertemukan kami dengan orang-orang hebat, terimakasih telah memberi kesempatan kepada kami untuk menikmati lukisan Indonesia raya dari Sabang sampai Merauke, Miangas sampai Pulau Rote. Terimakasih telah mempertemukan kami dengan keluarga baru, teman baru dan pengalaman baru. Terimaksih telah melahirkan para pendidik hebat dan berdedikasi tinggi. 

Terimakasih SM3T telah memberikan waktu setahun untuk kami dalam memperjuangkan cita-cita, mimpi, idealisme dan harapan. Hanya setahun menjadi guru di pedalaman, kami telah menjadikan ini sebagai sesuatu yang berarti dan penuh arti. Kami semua yakin bahwa pengalaman setahun di pedalaman merupakan nilai terbaik dengan predikat cumloude yang diberikan oleh Universitas kehidupan yang tidak akan pernah kami lupakan. 

Pengalaman setahun ini akan menjadi bagian dari sejarah hidup yang tidak mungkin bisa kami lupakan: desa terpencil, alam pedalaman, masyarakat dan anak-anak didik itu akan selalu menjadi bagian dari hidup kami. [darbe]
Selamat Hari Jadi ke-4 SM3T.Semoga selalu ada untuk anak-anak Indonesia. Kami bangga.
[Banda Aceh, 6 September 2015]


Hari Jadi SM3T ke-4
hari Jadi SM3T
Foto dari Facebook Fitriani Anwar

Hari Jadi SM3T
Foto dari Facebook Fitriani Anwar

Papua
Foto dari Facebook Fitriani Anwar

SM3T Papua
Foto dari Facebook Fitriani Anwar


Untuk Temanku Murhaban yang Berhasil Menghidupkan Sekolah Mati

Aku titipkan sebuah puisi untuk temanku Murhaban, puisi dari Dani Ronny, dia menulisnya di kebun jeruk, Februari 2006.

UNTAIAN HATI

Teruntuk sahabatku, guru,
Dimanapun engkau berada saat ini,
di hutan,
di gunung,
di pantai,
di lembah,
di desa-desa tandus,
di gubuk-gubuk reot,
di kolong-kolong jembatan,
di gedung-gedung mewah.

Mari,
Kita bulatkan hati untuk menghadirkan
keindahan pada setiap karya kita.
Setiap hari kita membuat masterpiece di jiwa-jiwa
unik pembelajar kita.
Sejak langkah pertama kita masuk ke ruang-ruang belajar,
dan diakhiri dengan langkah kaki kita yang lain,
tatkala pelajaran usai.
Ah. Betapa mulianya pekerjaanmu!

Saudaraku,
Kutitip anakku untuk kau didik,
dan akan kudidik anakmu dengan segala totalitas
dan kemampuan yang kumiliki.
Kucintai anakmu seperti engkau mencintainya,
dan cintai anakku seperti aku mencintainya.
Jangan kecilkan hatinya pada saat dia salah.
Bukankan siapa diantara kita yang tak pernah salah?

Saudaraku,
Sungguh, ini sebuah kemuliaan,
mari berjabat tangan,
eratkan rasa dan satukan hati
untuk selalu memberi yang terbaik
bagi anak negri!

Saudaraku,
hidup ini tidak lama.
Apa yang sudah kita berikan kepada sesama?
Kita, jasad ini, boleh musnah, boleh hilang,
kita boleh tiada lagi,
namun mari berharap agar
kebaikan yang kita tabur
akan terus bertumbuh kembang,
menyebar dan berbuah
kemuliaan.

Saudaraku,
dimanapun engkau berada saat ini,
di hutan,
di gunung,
di pantai,
di lembah,
di desa-desa tandus,
di gubuk-gubuk reot,
di kolong-kolong jembatan,
di gedung-gedung mewah.
Mari, biarkan cinta kita
bertebaran,
mengharumkan bumi
persada tercinta ini.
Mari, besarkan hati
untuk membesarkan bangsa ini, saudaraku!.

                                                     *****

Pengabdian Guru SM3T
[Kepala Sekolah MIS Paya Ateuk sedang memberi pengarahan]
Izinkan aku mengangkat topi seraya mengucapkan salut berbalut bangga, buat temanku Murhaban. Sekarang sudah menjadi kepala sekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di pedalaman Aceh selatan. Sekolah yang sejak 2013 mati total ditinggal murid-muridnya. Sekolah yang dicap tak layak beroprasi oleh penduduk setempat, sekolah yang akan ditutup untuk selamanya oleh Kementerian Agama. Ini bukan cerita dalam film Laskar Pelangi. Ini nyata, benar adanya, terjadinya sekarang, tahun 2015. Tahun gemilang dengan anggaran pendidikan berlimbah ruah. Tahun dimana semua orang sibuk membangun sekolah, tahun yang katanya sedang memupuk generasi emas.

Sekalipun kisah ini pernah terjadi di tempat lain, namun aku tidak mendengarkan kabarnya. Aku tuliskan kabar ini supaya orang-orang tahu masih ada orang yang benar-benar mau mengabdi. Benar-benar tulus semata-mata mengharapkan ridha Allah. Aku tahu, dan tidak diragukan lagi, produk dari SM3T yang pernah merasakan pahitnya kehidupan di pedalaman, kekuatan hati dengan rasa pengabdian sudah mendarah danging. Dan sekarang aku semakin percaya kalau SM3T telah berhasil melahirkan insan-insan luar biasa biarpun tidak semua. Setidaknya ada. Salah satunya temanku Murhaban.
*****
Aku dapat kabar, tapi tidak dari surat kabar. Konon katanya sekolah itu akan ditutup kalau tahun ini tidak bisa mendatangkan murid. Murhaban, seorang alumni PPG SM3T Unsyiah yang pernah menjadi guru di Pedalaman Sanggau, Kalimantan Barat memilih untuk berjuang menghidupkan kembali sekolah yang sudah mati itu. Modalnya cuma kemauan dan keikhlasan. Itu saja.

Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Paya Ateuk Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan. Sekolah yang berada ditengah kampung ini sudah mati total karena ditinggal murid-muridnya. Entah kenapa. Tapi faktanya tidak ada lagi orang tua yang mau menitipkan anaknya untuk belajar di sana dan lebih memilih mengirim anaknya untuk belajar di sekolah yang jauh dari kampung. Jangan kau tanya kenapa. Aku pun tidak tahu.
*****
Rapat dengan tokoh masyarakat
[Rapat menghidupkan kembali sekolah dengan tokoh masyarakat]
Aku dapat kabar, pendekatan ala politisi kamu lakukan terus-menerus kepada orang sekampung, ketua pemuda, Tuha Lapan, Tuha peut, Geuchik, Imum Mukim dan tokoh masyarakat lainnya. Kamu berhasil meluluhkan hati mereka, mengajak mereka semua untuk duduk bermusyawarah mengambil keputusan “MIS Paya Ateuk, diaktifkan kembali atau tutup selamanya”. Pada akhirnya, seluruh masyarakat mau gotong royong membersihkan dan merehap sekolah, bahkan mereka mau iyuran untuk membeli inventaris wajib sekolah seperti bangku, meja dan papan tulis. Kamu berhasil menggerakkannya Murhaban. Menggerakkan jiwa-jiwa yang keras.

Bukan hal mudah untuk meyakinkan orang sekampung supaya mau mengirim anak-anaknya di sekolahmu. Bukan hal mudah meyakinkan pemerintah kalau sekolah itu akan kamu hidupkan kembali, dan kabarnya kamu menjamin dengan penuh resiko sekolah itu akan hidup. Ilmu dari mana kamu dapatkan?. Bukan hal mudah menghadirkan guru-guru untuk mengajar di sekolahmu itu. Tidak banyak yang mau mengabdi sepertimu. Dan aku sangat yakin kamu mampu. 

Kamu mulai takut, jika sekolah itu aktif tidak ada guru yang mau mengajar. Jangan lupa, banyak guru-guru muda yang hebat sepertimu. Aku yakin mereka juga bertaburan di sana. Dulu saat kuliah kita pernah bersepakat bagaimana menjadi guru yang hebat. Kamu masih ingat?
Mengajar tidak hanya masuk kelas, bertemu para pembelajar, menyuruh ini itu, lalu keluar kelas, dan pulang.
Apakah ini yang dianggap proses belajar mengajar? Kalau cuma seperti itu, kita tidak perlu mengikuti pendidikan yang tinggi-tinggi, tidak perlu kuliah Pendidikan Profesi Guru (PPG), atau ikut training yang hebat-hebat. Semua orang bisa melakukannya. 

[Guru sedang membimbing siswa di kelas]
Coba kita sedikit merenungkan proses belajar mengajar, mencoba memandangnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar transfer informasi dan “penjejalan” pengetahun, namun ada unsur kasih sayang, kepedulian, komitmen, kerendahan hati, kreativitas, keiklasan, dan karakter-karakter unggul lain di dalamnya. Ada passion yang tak terbatas apapun. Sebuah hasrat yang menggelora untuk melihat para pembelajar  bertumbuh, dan ada kerinduan agar mereka bermetaformosa dan menyempurna menjadi insan-insan yang luar biasa. Itulah sesungguhnya hal yang dimiliki oleh guru-guru yang akan dan mungkin telah melegenda.

Aku pernah dimarahi oleh seorang penulis buku The power of Emotional end Adversity Quotient For Teacher namanya Dani Ronny. Suatu malam menjelang tidur aku membaca bukunya, lalu dia marah. Kamu tahu apa katanya? 
Untuk menjadi guru-guru yang melegenda dan dikenang oleh banyak jiwa-jiwa pembelajar sepanjang masa, kita harus memiliki: kasih sayang, kepedulian, kesabaran, kreativitas, kerendahan hati, kebijaksanaan, komitmen dan kejujuran. Komponen itulah yang akan membuat kita menjadi guru yang hebat. 
Komponen-komponen yang akan membuat kita bukanlah just ordinary teacher, melainkan a great teacher, bahkan menjadi a legend. Apakah kamu tidak merindukan hal seperti itu. Ah. Jangan bohong. Kamu pasti merindukannya.

[Anak-anak ikut membersihkan kelas yang akan digunakan]
Aku malu tidak bisa sepertimu. Ditengah gelombang pengeluhan, belum mendapatkan pekerjaan, masih pilah-pilih sekolah, memaki pemilik kebijakan, sibuk menunggu hal-hal yang tidak pasti. Dan kamu di sana tidak peduli dengan gelombang-gelombang itu dan memilih membangkitkan gelombang-gelombong kecerdasan anak-anak didikmu. Aku khawatir, kamu nanti dapat gaji dari mana? Operasional sekolahmu bagaimna? Apa kamu tidak takut di-PHP-in oleh pemerintah?. Aku sangat tergugah malam itu, ketika aku bertanya melalui pesawat telpon kamu menjawab:
Aku ikuti proses saja, rezeki sudah Allah yang atur. Aku cuma ingin membuat sesuatu untuk kampungku. Aku ingin anak-anak di kampungku pintar, aku ingin kampungku maju. Serahkan semuanya kepada Allah, aku hanya bisa berusaha. 
Aku sedang membayangkan, bagaimana kalau semua anak muda seumuran kita memiliki pikiran sepertimu. Wah, akan sangat luar biasa. Setidaknya produk dari “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia” itu mau mengikuti jejakmu. Tapih sayang, hidup di dunia ini keras kawan, bahkan kejam sekali. Orang sepertimu langka. Akupun tidak bisa menjangkau sampai seperti dirimu. 

Apa yang bisa ku bantu? Banyak. Tapi aku tidak mampu. Biarkan aku mengabarkan saja. Biar teman-teman yang dekat dengan kampungmu tahu. Siapa tahu mereka mau membantumu menjadi guru di MIS Paya Ateuk. Menjadi guru hebat, mengajar dengan totalitas dengan gaji dari Allah. Ada yang mau silahkan mendaftar.

Sekarang kamu adalah konsultan pendidikan. Karena kamu yang menggerakkan, kamu kepala sekolahnya, dan kamu pula yang bertanggung jawab. Kasusmu sama persis seperti kisah Munif Chatif. Kamu ingat? Orang itu pernah mengerakakan hati kita saat berada dalam Auditorium FKIP satu tahun yang lalu. Maka, bacalah bukunya: Sekolahnya Manusia. Buatlah sekolahmu menjadi satu-satunya sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Aceh Selatan. Ciptakanlah anak-anak hebat dari bakatnya masing-masing. Aku yakin kamu mampu karena sekolah itu milikmu. Kamu yang memimpin di sana. 

#Darbe. Banda Aceh, 13 Agustus 2015.

Guru SM3T Tidak Menulis? Rugi Sekali

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang- timbang.”  
- Seno Gumira Ajidarma -

[Gambar menulis dari google image]
Tadi pagi saya diskusi dengan seorang teman blogger traveler, saya banyak tanya dan mendengar ceritanya. Setelah itu geliran saya yang bercerita, karena dia tahu saya pernah bertugas di pedalaman NTT membuat dia sangat tertarik. Sebagai blogger traveler, bagi mereka NTT adalah surga dan lumbung inspirasi untuk membuat tulisan. Setelah bercerita banyak tentang ragam budaya dan keunikan NTT, saking tertariknya lalu dia bertanya “dimana saya bisa membaca semua cerita kamu tadi? Saya ingin jadikan referensi jika saya mengunjungi NTT kelak”. Waduhhh. Saya tersentak sambil menjawab pelan ”tidak saya tuliskan bang, waktu itu saya lupa menuliskannya”. Dia marah “Gila kamu, kesempatan emas kamu buang begitu saja”. Sangat menyesal. Penyesalan inilah yang akan saya bagikan supaya tidak terulang kepada orang lain.
******
Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) sudah sangat tua, sekarang saja sudah angkatan ke-V. Sudah melahirkan ribuan alumni. Sudah mengirim ribuan guru ke pedalam Indonesia. Untuk tahun 2015 SM3T kembali mengirim ribuan guru muda ke pelosok Indonesia dimana sasaran penugasannya kembali diperluas. Mereka adalah guru-guru hebat yang serba bisa dalam kondisi apapun.

Berada di pedalaman sangat menyenangkan, amat banyak pengalaman yang didapat, banyak keunikan yang kita lihat dan banyak keindahan alam yang kita nikmati. Apa yang kita dapat di pedalaman jarang didapatkan oleh orang kebanyakan. Bukankah itu sebuah anugrah?. Orang lain sangat iri kepada guru SM3T yang bisa jalan-jalan dan liburan gratis dengan biaya pemerintah, bisa menikmati alam Indonesia raya tanpa bayar. Patut untuk disyukuri. 

Keberadaan guru SM3T di pedalaman Indonesia seharusnya menjadi jembatan bagi masyarakat di sana untuk memberitahu sesuatu kepada seluruh masyarakat Indonesia, menjadi penghubung antar provinsi, dan menjadi sumber informasi untuk pemerintah pusat. Guru SM3T harus menginformasikan semuanya, apa saja, seluk beluk, situasi, kondisi, kelebihan dan kekurangan daerah tempat mereka bertugas supaya orang Indonesia lain tahu bahwa daerah itu masih dalam wilayah Indonesia, masih NKRI. Caranya bagaimana? TULIS DAN MEMPUBLIKASIKANNYA.

Hampir semua daerah penugasan SM3T adalah tempat-tempat yang belum terjamah oleh media-media nasional, tidak banyak yang memberitakannya dan jika kita menulis sebuah informasi maka akan menjadi hal baru dan menarik untuk dibaca bahkan media-media besar akan malu-malu mengutip tulisan dan informasi yang kita sampaikan.
******
Apa yang harus saya tulis?
Tulisan itu rekam jejak. Sekali dipublikasikan, tak akan bisa kau tarik. Tulislah hal-hal berarti yg tak akan pernah kau sesali kemudian.” ― Helvy Tiana Rosa.

Ada banyak sekali yang bisa kita tuliskan selama berada di tempat tugas: mulai dari budaya/kebiasaan masyarakat lokal, fasilitas yang ada di masyarakat, kekayaan alam dan kondisi lingkungan, kearifan lokal, tokoh masyarakat, kuliner, hal-hal unik, pengalaman di sekolah, dan banyak ide inspiratif lainnya.

Semua itu adalah ide dan bahan untuk menulis, dimana setiap hari kita melalui dan melihatnya. Rugi sekali kalau kita tidak mau menuliskannya. Seandainya orang lain yang tidak punya kesempatan seperti kita tahu bahwa kita tidak menuliskan hal-hal yang luar biasa tersebut, mereka akan marah besar dan pasti akan memaki kita. Kenapa demikian? Orang mau bayar mahal untuk mengunjungi suatu tempat hanya untuk mencari bahan dan referensi dalam membuat sebuah artikel, misalnya tulisan tentang travel. Bayangkan, hanya untuk sebuh tulisan lho mereka mau bayar mahal. Lalu Kita?.

Saya tidak bisa menulis, bagaimana?
“Menulis itu mudah. Tapi bagaimana agar tiap huruf berarti dan bisa membuat pembacamu bergerak ke arah yg lebih baik, tanpa kau gurui. Menulis itu sebenarnya sama dengan berbicara, hanya saja itu kau catat.” ― Helvy Tiana Rosa.

Jangan banyak alasan lagi! Kalau tidak bisa menulis maka tidak akan bisa ikut program SM3T karena skripsi tidak bakalan siap-siap dan tidak bisa ikut sidang sarjana. Semua orang bisa menulis hanya saja tidak mau memulainya. Buktinya setiap hari nulis status di Facebook, di BBM dan media sosial lainnya, coba kalau tulisan itu digabungkan selama satu Minggu saja maka saya jamin akan jadi satu lembar tulisan bahkan lebih. Intinya, selama kita bisa berbicara, mendengar dan melihat, kita juga pasti bisa menulis. Apa saja itu.

Percaya deh! Dengan menulis kita akan mendapatkan kebahagian. Menulis akan membawa kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Menulis itu ibaratnya curhat, misal kalau ada hal-hal yang unik, pengalaman, lagi kesal atau sedang menggalau. Biar gak menumpuk di hati dan pikiran, ya tulis aja. Karena menulis adalah curhat maka dari pada curhat sama teman, hanya satu orang yang dengar lebih baik curhatnya sama orang seluruh dunia, biar mereka tahu isi hati kita. 

Tidak usah peduli kata orang, tulisan kamu jelek, tidak berbobot, murahan. Biarin aja, tidak usah didengar. Itu kata mereka dan hak mereka untuk mengatakannya. Tapi tolong hargai juga hak kita, hak untuk menulis dan mempublikasikannya. Tugas kita menulis, mau dibaca atau tidak, itu bukan urusan kita, tapi urusannya para pembaca. Tugas kita hanya menulis!.

Dimana saya bisa mempublikasikan tulisan?
“Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang ada-mu di dunia dan amalmu di akhirat kelak. Tulisan kita tak akan mati, bahkan bila kita mati.” ― Helvy Tiana Rosa.

Saat ini, kita menulis dan mempublikasikannya demikian mudah dengan hadirnya teknologi internet. Ada banyak sekali media tempat mempublikasikan tulisan. Media paling populer dan gampang adalah BLOG, untuk membuat blog sendiri gratis tanpa bayar. Keunggulan blog yaitu: media online milik kita pribadi, kita yang buat, kita yang tulis, kita yang publikasi dan kita pula pimpinannya. Jadi suka-suka kita. 
******
Jadi, sebelum berangkat ke tempat pengabdian disarankan untuk buat blog dulu, tidak sulit lho, tinggal banyak bertanya saja pada pak google, ada banyak sekali informasi yang bisa membantu untuk membuat blog. Kalau saya pribadi merekomendasikan untuk belajar di blognya: contohblognih.blogspot.com. Saya banyak belajar mengotak atik blog di sana. Mumpung masih di kota, masih ada internet jadi harus dimanfaatkan dengan baik. Jika sudah berangkat ke tempat tugas belum tentu setiap hari bisa mendapatkan akses internet, kadang seminggu sekali bahkan sebulan sekali.

Dengan media blog inilah kita bisa mempublikasikan semua tulisan dan orang akan membacanya. Secara tidak langsung kita telah membantu menginformasikan sesuatu yang tidak orang ketahui kepada seluruh masyarakat Indonesia termasuk dunia. Banyangkan jika seluruh Guru SM3T menulis di Blog maka akan sangat luar biasa Indonesia ini. Dari Sabang sampai Merauke, Miagas sampai Rote akan terhubung. Berjuta ragam budaya dan keunikan setiap daerah di pedalaman Indoneisa kita semua akan mengetahuinya. Luar biasa, bukan?.
******
Ayook, mulai sekarang kita nulis, ceritakan keluh kesah kita, ceritakan anak-anak luar bisa di sekolah kita, ceritakan teman-teman terhebat kita, ceritakan keindahan alam di sekitar rumah kita, ceritakan kuliner unik di desa kita, ceritakan adat istiadat di sana dan yang paling penting ceritakan harapan anak-anak Indonesia yang berada di pedalaman sana. Setelah kita ceritakan, semua orang akan tahu termasuk pemerintah di Jakarta: bahwa Indonesia itu luas sekali, indah luar biasa, unik dan keren membahana. Sehingga kita semua bangga sebagai orang Indonesia.

Pemerintah dalam hal ini Menristekdikti harus ambil peran lebih jauh dalam hal membumikan budaya menulis bagi guru-guru SM3T, tidak terkecuali LPTK asal guru SM3T mereka juga harus lebih berperan aktif. Jika tulisan para guru SM3T itu bagus, tinggal dikumpulkan dan dijadikan sebuah buku catatan pengabdian. Kalau setiap LPTK melakukannya, mengapresiasi karya Guru SM3T dalam bentuk buku, wahhh, sangat luar biasa cerita pendidikan kita di Indonesia ini.

Saya pikir, jangan sampai sebatas wacana saja, harus ada tindakan kongkrit dari pemerintah, sekalipun sudah ada beberapa LPTK yang jauh-jauh hari telah memulainya, namun masih banyak LPTK yang belum menyentuhnya. Bila perlu pada saat prakondisi nanti, calon guru SM3T harus dibekali dengan kemampuan menulis, undang para penulis hebat yang bisa memompa semangat untuk menulis. #Ini Bukan Program Main-Main.
*****
Saya berkewajiban untuk menulis artikel ini karena saya merasa berdosa dan sangat menyesal sebab sedikit sekali menulis berbagai pengalaman di tempat pengabdian dulu, terutama sekali kisah hidup, travel, aneka kuliner dan keindahan alam di sana. Kejadiannya udah lama, nyesalnya baru sekarang. Dan penyesalan ini tidak boleh terulang pada teman-teman Guru SM3T yang akan berangkat ke pedalaman Indonesia akhir Agustus nanti. Semangattt.!!

Udah, stop!. Jangan melamun lagi. Buka laptop, koneksikan ke internet dan segera buat blog.

Selamat berjuang dan ayo menulis.

#Darbe. Banda Aceh, 6 Juli 2015

Catatan UTN dan Buat Kalian yang Setia Menemani

[Suasa Belajar UTN]
Aku menyempatkan untuk duduk merenung, malam ini tidak seperti malam biasanya, ada nuansa sepi sunyi tanpa hiruk pikuk kehidupan di asrama tempat berkumpulnya para calon guru profesional.

Tempo hari, ada guncangan hebat dalam diriku, gelisah, sedih, kecewa, kagum, bahagia, haru dan sebuah penyesalan. Kau pasti tau kenapa?. Semenjak diumumkannya jadwal pelaksanaan UTN PPG SM3T, semua orang mulai panik. Ada rasa takut berlebihan, ya wajar, semua orang takut tidak lulus karena kalau sampai tidak lulus maka pususlah harapan menjadi guru profesional dengan tambahan titel “Gr” dibelakang namanya. Dan itu adalah manusiawi.

[Suasana Belajar UTN]
Ujian Tulis Nasional (UTN) tahap pertama serentak dilaksanakan seluruh LPTK penyelenggara Pendidikan Profesi Guru (PPG) seluruh Indonesia pada 31 Januari 2015, ujian berjalan lancar dan tidak ada masalah, tidak ada yang aneh terutama sikap dan raut wajah teman-teman sesudah melaksanakan ujian. Setelah pengumuman hasil UTN pada 3 Februari mulai terlihat wajah-wajah sedih dan kecewa. Ada yang lulus dan banyak juga yang belum lulus. Asrama pun mulai terlihat kosong dengan penghuninya. Tidak kalah menariknya, suasana belajar mulai nampak dimana-mana, ada yang belajar sendiri dan juga berkelompok. Hampir tidak ada setiap sudut di asrama yang luput dari suasana belajar. Semua orang berjuang, bekerja keras untuk bisa sukses pada ujian ulang pertama. Tiga hari kemudian pengumuman kelulusan untuk peserta yang mengikuti ujian ulang pertama diumumkan di papan informasi asrama, jumlah kelulusan yang luar biasa. Semua tersenyum senang dan bangga. Namun masih ada juga yang belum beruntung dan harus mengikuti ujian ulang kedua (terakhir).

Menjelang ujian terakhir, asrama sangat terlihat kosong karena manyoritas teman-teman sudah lulus,mereka mulai sibuk membungkus barang-barang, mulai terlihat orang naik-turun tangga, keluar masuk asrama dengan membawa kardus dan koper. Ada perasaan yang tidak biasa, merasa sedih dan weuh hate ketika melihat banyak teman-teman yang mulai menghilang namun apa boleh buat itu adalah hak mereka dan tidak ada daya untuk melarang.

Mereka yang sudah meninggalkan asrama bukan berarti mereka tidak peduli, tidak setia, bukan mereka tidak mau membantu, mereka tetap peduli namun dengan cara mereka sendiri. Selemah-lemahnya peduli adalah dengan doa. 

Kita masuk sama-sama dan keluar pun sama-sama” itu kata-kata yang sering diucapkan oleh teman-teman yang masih menetap di asrama, mereka selalu mendampingi teman-teman yang belum lulus setiap saat, banyak hal yang mereka lakukan: mulai dari belajar kelompok, memberi semangat, memijat, pokoknya banyak sekali yang mereka lakukan untuk menghibur dan menyemangati teman-teman yang akan berjuang pada ujian terakhir nanti.

Keberadaan teman-teman inilah yang menjadi obat kuat penghilang keputusasaan dan keterpurukan. Kalau seandainya teman-teman ini tidak ada dan hanya meninggalkan mereka yang belum lulus dan akan mengikuti ujian terakhir maka hilang sudah harapan untuk menjadi guru yang katanya profesional.

Aku sangat terharu pada saat ujian terakhir kemarin, ada banyak sekali teman-teman yang sudah lulus namun menyempatkan diri untuk hadir. Kahadiran mereka sangat luar bisa, mereka tidak bisa berbuat banyak kecuali sekedar memberi semangat, aku ingat sekali sebuah pernyataan dari seorang teman ”jangan khawatir, tetap tenang, dan semangat, kunyah habis semua soal itu, kami selalu bersama kalian dan kita akan Yudisium bersama” Salut.

Momen-momen seperti inilah yang tidak bisa aku lupakan, sikap Ta`awun yang diperlihatkan, kepedulian tanpa batas dan ini menandakan bahwa kita layak bersama dan meraih kesuksesan bersama. Kita telah meraih kemenangan ganda, kemenangan ujian dan juga kemenangan sosial. Dan nama-nama kalian yang selalu mendampingi akan tetap tercatat disebuah catatan yang pada suatu saat nanti akan kubuka. 

Malam ini, hasil yang ditunggu-tunggu sudah diumumkan. Alhamdulillah. Semua lulus. Aku pasti tau bagaimana perasaan kalian, sebagai layaknya manusia kalian akan senang dan merayakannya. Kita semua pasti tertawa lepas, ada juga yang menangis namun itu adalah tangisan haru. 
******
Ehmm..Masih ingat berapa jumlah peserta PPG Unsyiah? Jangan sampai lupa, 225 orang peserta. Apakah 225 orang sudah lulus semua? Belum kawan. Masih ada yang tertinggal. Kita satu asrama, pernah sama-sama ikut senam setiap Minggu, ikut latihan silat, makan dan belajar bersama, main bola di stadion harapan dekan juga bersama, dievakuasi tengah malam pada saat KMD Pramuka di Jantho juga bersama, apapun yang kita lakukan sering bersama. Kita harus ingat mereka adalah teman kita juga. Tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk mereka, dengan doa dan sedikit perhatian kecil mungkin lebih dari cukup. Hari ini mereka tidak seberuntung kita tapi ingat, besok,lusa kita tidak tahu. Aku yakin mereka adalah orang-orang hebat, tegar, dan penuh semangat. Semoga langkah kita semua diridhoi Allah SWT.

Nah, sudah cukup meluapkan kemenangan, hapus air mata haru itu, tidak perlu bereuforia berlebihan, lebih baik kita mempersiapkan langkah berikutnya, mempertanggungjawabkan apa yang telah didapat. Setelah ini mau kemana? dan mau dibawa kemana sertivikat itu?.

Sekali lagi, buat kalian yang telah menunda pulang kampung, dan memilih untuk bersama dengan kami di Asrama, Terimakasih banyak. Kalian telah membesarkan hati kami. 

Asrama PPG, Setelah pengumuman UTN.
[M. Darmansyah Hasbi]

Masril, Begini cara Kami Mengenangmu



Masril adalah seorang guru SM-3T yang gugur dalam menjalankan tugas negara sebagai guru di pedalaman Anambas, Kepulauan Riau dan jenazahnya pun dikebumikan di tempat almarhum mengabdi. Kepergian Almarhum merupakan luka yang amat dalam bagi insan pendidikan Indonesia khususnya Aceh. Pada 30 September 2013, pukul 01.30 WIB di Tarempa Masril menghembuskan nafas terakhir.

Kalau boleh jujur, dengan kesibukan selama PPG membuat kami hampir lupa kalau mempunyai sahabat yang telah dahulu di panggil oleh Sang Pencipta. Setelah melakukan diskusi kecil dengan teman-teman di asrama PPG sehingga melahirkan kesepakatan untuk membuat sebuah pagelaran seni dan doa bersama yang akan dipersembahkan untuk Almarhum Masril. Kegiatan dicanangkan terlaksana tepat pada tanggal 30 September dengan tujuan supaya tepat satu tahun, berbagai persiapan pun mulai dilakukan.

Menjelang hari H, pemerintah mengumumkan formasi CPNS dan tak lama kemudian jadwal pengambilan nomor pun mulai dipublis sehingga membuat hampir semua mahasiswa PPG terutama panitia kegiatan harus turun ke daerah penerima CPNS untuk ikut menyukseskan pesta rakyat tersebut. Hal ini membuat panitia harus memutar otak, bagaimana caranya kegiatan untuk Masril bisa jalan dan CPNS pun bisa diikuti, alhasil setelah musyawarah panjang lebar maka diputuskan kegiatan “Pentas Seni Mengenang Satu Tahun Almarhum Masril” diundur setelah kesibukan CPNS berakhir yaitu pada tanggal 27 Oktober 2014. Kami mengambil istilah “mundur satu langkah untuk bisa melompat lebih tinggi”.
*****
Menjelang berakhirnya kuliah Pendidikan Profesi Guru (PPG) kesibukan yang luar biasa mulai menghantui seluru mahasiswa PPG, mulai dari PPL di sekolah, PTK, perangkat, periksa tugas anak-anak, melatih Pramuka, open leasen, bimbingan UTN, dan masih banyak lagi kesibukan teman-teman di sekolah dan di asrama. Dengan segala kesibukan tersebut  tidak sedikit pun membuat nyali teman-teman ciut, komitmen dan loyalitas untuk menyukseskan kegiatan Pentas Seni sangat besar, tidak ada yang mengeluh apa lagi menjatuhkan, teman-teman saling memberi motivasi dan semangat.

Awalnya banyak orang yang pesimis dan meragukan terlaksana pentas seni ini, tau kenapa? Karena tidak ada satu pun mahasiswa PPG yang terlihat bakatnya dibidang seni. Rupanya pikiran orang itu salah, hampir semua mahasiswa PPG sangat berbakat sesuai dengan porsinya masing-masing, tapih sayang bakat dan kreativitas mereka tidak ada yang menampung, mereka selama ini tidak diberikan kesempatan dan ruang untuk berekspresi, untuk menyalurkan bakat dan kreativitas yang mereka punya. Kami camkan dalam hati dan pikiran kalau kami bisa buat dan mempesembahkan sesuatu seperti orang lain di luar sana, kami akan buktikan nantinya di atas panggung pada tanggal 27 Oktober 2014.

Kegiatan Pentas Seni ini bukanlah kepunyaannya ketua panitia maupun ketua Forum SM-3T Aceh apa lagi pengelola PPG maupun Dekan FKIP, kegiatan ini adalah kepunyaan kami bersama, keluarga besar SM-3T, siapa saja yang terlibat disana baikah itu peserta, pengelola maupun penanggung jawab. Ini punya kami bersama sehingga kami memilih untuk patungan, mengeluarkan uang sendiri seikhlasnya untuk bisa menyukseskan acara tersebut dengan harapan bisa tertanam dalam hati kalau kegiatan ini adalah punya kami bukan punya orang lain sehingga kami bisa menyukseskannya dengan sangat baik.

******
Mulai dari hari Minggu kami mempersiapkan tempat dan mendekorasi panggung. Ini momen yang sangat berkesan, tau kenapa? Kalian tidak akan bisa membayangkan bagaimana kompaknya kami, kami gotong royong, bahu-membahu bekerja tapa kenal lelah dengan penuh keikhlasan, semuanya beraktifitas sambil tertawa dan bercanda. Keren banget pokoknya.
  
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, kami semua was-was apakah acara ini bisa sukses atau tidak. Kami yakin akan sukses karena Allah akan membantu kegiatan mulia ini. Pagi-pagi sekali semua pintu kamar dikomplek Asrama PPG digedor, semua bergegas cepat untuk mengantri di kamar mandi. Ilmu yang kami dapat dari KMD Pramuka diterapkan, ilmu gerak cepat ketika ada bencana tapi kali ini bukan bencana alam namun bencana antrian di kamar mandi. 

Senin, 27 Oktober 2014. Pukul 08.00 WIB, semua peserta dan tamu undangan mulai berkumpul termasuk keluarga Almarhum Masril yang datang langsung dari Kabupaten Bireuen. Pembacaan Surat Yasin dan Doa bersama yang dipimpin oleh trio Teungku (Iskandar, Diba Rizki dan Munandar) membuat para hadirin hanyut dalam permohonan ampun kepada Sang Pencipta Allah SWT.

Rangkaian serimonial pembukaan yang dipandu oleh M.Fakhruzi dan Deca Rahayu menandakan acara Pentas Seni Mengenang Satu Tahun Almarhum Masril dimulai. MC hasil audisi di Asrama PPG Unsyiah ini sangat hebat, kehebatannya mengalahkan MC kondang Indonesia seperti Raffi Ahmad dan Dewi Sandra. Dimulai dengan pembacaan ayat Suci Al-Quran oleh Aidil Hanif, dilanjutkan dengan sambutan Ketua Forum SM-3T Aceh Kamarullah, Sambutan Ketua pengelola PPG SM-3T oleh Ayahanda kami Samingan dan dibukanya acara secara resmi oleh Pak Abdurrahman mewakili Dekan FKIP yang sedang berada di Thailan. Kami tunggu oleh-olehnya pak Dekan.

Penyerahan piagam penghargaan pendidikan kepada almarhum Masril yang ditandatangani langsung Rektor Universitas Syiah Kuala diberikan kepada ibunda Almarhum. Turut juga penyerahan santunan pendidikan kepada keluarga yang merupakan patungan dari mahasiswa PPG, ikut juga meberikan santunan SM-3T angkatan III dari NTT, PD II FKIP dan terakhir Dekan FKIP Umuslim Bireuen. Terakhir penyerahan bingkisan kenangan dari sabahat Almarhum Program Studi Biologi. 
*****
Mars SM-3T, Himne Guru dan lagu Bagimu Negeri dinyanyikan dengan penuh semangat oleh seluruh para penonton yang dipimpin langsung oleh Dirigen hasil seleksi PPG Mencari Bakat yaitu Novayani. Menurut Juri PPG Mencari Bakat pada saat grand final kemarin: “Novayani tidak kalah hebat dengan dirigen terbaik dunia seperti Adrian Prabava”.

Puisi yang berjudul “Pejuang Pendidikan” karya Azmi Labohaji yang ditulisnya khusus untuk almarhum Masril menjadi pentas seni pembuka. Suasana gelap, cuma dibantu oleh lampu panggung, berada ditengah panggung dengan baju adat melayu, Azmi berhasil menghanyutkan penonton dalam suasana duka membuat air mata membasahi tissu, jilbab dan baju.

Film dokumenter yang menceritakan bagaimana perjuangan para guru SM-3T yang mengabdikan dirinya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia membuat para penonton terharu bangga terhadap keikhlasan dan dedikasi para guru SM-3T ini. Tidak sedikit para tamu undangan yang meminta softcopy film tersebut, katanya untuk ditonton bersama keluarga, komunitas, even dan kesematan yang lain.

Tepank Fajriman, membuat para penonton ketakutan dalam kegelapan. Sebatang lilin kecil di depan podium untuk menerangi ruangan yang besar, sekilas para penonton bertanya-tanya: apa gerangan ini? Rupanya testimodi Obituari mau dibacakannya. Testimoni yang mengulas sedikit tentang Almarhum Masril ditambah dengan iringan musik biola membuat seisi ruangan kebanjiran air mata. 


Penampilan teater yang berjudul “teman seperjuangan yang terlupakan”. Teater yang disutradarai oleh  Azmi Labohaji dan naskahnya ditulis oleh Husnul Khatimah Arif menjadi menu yang ditunggu-tunggu dalam acara pentas seni ini. Dari 15 orang pemain teater cuma 3 orang yang berpengalaman selebihnya adalah pemain-pemaian dadakan yang dilatih beberapa Minggu, hasilnya mereka bisa berperan sebagai tokoh yang ditunjuk dengan penampilan luar biasa. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah selama kita mau belajar dan berlatih sesuatu yang tidak bisa pasti akan bisa dengan bantuan Allah pastinya.

Prodi Biologi yang merupakan Prodi Almarhum Masril diberikan kesempatan khusus untuk mempersembahkan sebuah puisi kenangan dalam pentas seni ini. Puisi karya Ali Yuzar yang dibacakan langsung oleh Ali Yuzar sendiri, ditemani oleh Arita Mustika dan Nurul Hikmah membuat penonton terpana. Yang menariknya adalah tidak ada seorang pun dari mahasiswa PPG yang percaya dan menduga kalau Ali Yuzar adalah seorang penulis puisi bahkan dia membacakannya di depan ratusan penonton. Hari itu semua orang mendapat pelajaran baru: jangan menilai orang lain dari luarnya saja karena tampak luar kerap menipu. Sebuah puisi yang luar biasa. Kami tunggu puisi selanjutnya Ali Yuzar, kau mengajarkan kami arti Hidden Kreativitas.

Musikalisasi Puisi yang dibawakan oleh Husnul Khatimah Arif, dibantu oleh Fermi Saputra dengan lantunan gitarnya juga diiringi syahdunya suara biola oleh Wahyu membuat suasan lebih menyentuh. Puisi yang dibawakan adalah puisi yang paling disukai oleh Almarhum Masril dan puisi ini juga pernah Almarhum bacakan pada sebuah acara di tempat tugas dulu yaitu Anambas. Suara merdu Husnul sangat dinikmati oleh para penonton, sekali pun suara tangis masih terdengar di setiap sudut ruangan.

Akhirnya acara Pentas Seni usai, Doa penutup dibacakan oleh Diba Rizki.

Semua panitia, Crew, tim kreatif dan semuanya yang terlibat mengucapkan rasa syukur: Alhamdulillah, kita sukses besar, sekalipun ada sedikit kekurangan sana dan sini. 
*****
Terimakasih buat seluruh keluarga besar PPG-SM3T yang telah hadir dan membantu menyukseskan acara ini. Terima kasih juga kepada Dimas (UKM Teater 0) yang telah membuat panggung kami terang, juga terima kasih pada UKM Putoe Phang yang telah meminjakan beberapa peralatan pentas. Juga terima kasih kepada LPTK FKIP Unsyiah mulai dari pimpinan, operator, satpam juga pekerja kebersihan. Pokoknya terimakasih buat semua yang terlibat, banyak sekali dari kalian yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Kalian semua hebat, kreatif, produktif dan inofatif dan pastinya luar biasa.

#Darbe. Selasa, 28 Oktober 2014