Merah Bulan di Langit Merah Arai

Gerhana BUlan Total
Detik-detik Gerhana Bulan
Fenomena alam yang langka ini aku nikmati dari pedalaman Borneo, suasana gelap gulita membuat pemandangan langit sangat menawan. Pemandangan Bulan, ditemani beberapa bintang dan diiringi sedikit gerimis. Gerhana Bulan 31 Januari 2018 adalah fenomena alam yang langka, bagaimana tidak, dua peristiwa terjadi secara bersamaan saat itu; pertama, terjadi saat supermoon yaitu posisi Bulan pada saat gerhana Bulan total bertepatan pada momen ia mencapai jarak terdekat dengan Bumi. Hal ini jelas akan membuat Bulan tampak lebih besar dan lebih terang di langit. Kedua, terjadi saat bluemoon yaitu sebuah istilah untuk menyebut Bulan purnama kedua yang terjadi pada satu Bulan kalender masehi, bukan bermakna Bulan berwarna biru. Alih-alih berwarna biru, pada puncak gerhana Bulan total terjadi justru ia muncul dalam rona kemerahan, yang disebut merah darah.

Aku mendapatkan posisi yang pas untuk memandangnya saat itu. Dulu, aku melihat gerhana Bulan di kota dengan kerlap-kerlip lampu, suasana demikian membuat pemandangan gerhana menjadi tidak nikmat, ditambah lagi ramainya orang namun hanya sedikit yang memiliki rasa ingin tahu terhadap fenomena alam tersebut sehingga nuansa sains tidak terlalu tampak. 

Fenomena super blue blood moon bisa kami lihat dengan sempurna di atas langit desa Merah Arai. Gerhana Bulan tepat pada saat peristiwa supermoon dan bluemoon. Anak-anak sekolah sudah kami kondisikan untuk mengamati fenomena langka ini. Saat jam sekolah, para guru sudah memberikan pengetahuan awal tentang gerhana Bulan dan kami akan melakukan observasi langsung di malam harinya. Besoknya, saat pelajaran IPA anak-anak harus melaporkan apa yang telah mereka amati. 

Membunyikan sesuatu untuk mengusir Ular Gompa
Menariknya, ini bukan hanya fenomena sains namun juga fenomena leluhur bagi masyarakat di desa ini, yaitu suku Dayak. Ada prosesi adat yang tak kalah menarik malam itu, hampir-hampir pemahaman sains hilang. Menurut suku Dayak, gerhana ada dua jenis yaitu gerhana Bulan merah atau darah dan gerhana putih atau embun, setiap jenis ini memiliki makna tersendiri. 

Bagi masyarakat Dayak, gerhana Bulan adalah peristiwa yang menakutkan. Saat Bulan berwarna merah artinya darah dan akan terjadi musibah, banyak orang akan sakit, gagal panen, banjir dan musibah lainya. Jika Bulan berwarna putih artinya akan baik-baik saja bahkan akan banyak kemujuran. Menurut mereka, di langit sana ada ular besar yang akan memangsa Bulan saat gerhana tiba, ular tersebut diberi nama Gompa. Jika Gompa berhasil memangsa Bulan, maka kiamat akan segera tiba. Proses ular memangsa Bulan ditandai dengan tampaknya gelap di sebagian lingkaran Bulan. Kita melihat "gigitan" gelap pada wajah Bulan yaitu keluarnya Bulan dari bayangan umbra Bumi (secara sains). Disamping itu, Bulan terus bergerak berlari menghindar dari kejaran Gompa.

Semangat menjelang ular Gompa melepaskan Bulan
Menjelang dimulai dan berakhirnya gerhana, itu adalah saat-saat krusial bagi masyarakat Dayak. Masyarakat sudah berkumpul di lapangan terbuka atau tempat yang telah disiapkan oleh pihak Desa dan ada juga yang memilih berkumpul di depan rumah masing-masing. Mereka membunyikan gong, mesin sinso, mesin speed, senapan rakitan, kuali masak, ember, dan segala sesuatu yang dapat mengeluarkan suara dengan tujuan supaya Bulan terlepas dari belenggu ular Gompa. Bunyi-bunyian yang berasal dari Bumi membuat ular raksasa selalu gagal memangsa Bulan. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan teriakan-teriakan dan juga menari-nari. Setelah gerhana selesai, semua aktivitas tadi dihentikan dan semua masyarakat bersorak senang gembira sebagai tanda telah berhasil menyelamatkan Bulan dari cengkraman ular raksasa yang berada di luar angkasa tersebut. 

Jujur saja, proses pengamatan secara sains tidak bisa dilakukan dengan sempurna. Tidak ada diskusi, apalagi pertanyaan mengapa dan bagaimana gerhana Bulan bisa terjadi? Anak-anak ikut serta bahkan menjadi ujung tombak memukul benda-benda yang bisa berbunyi. Ini adalah penampakan ritual adat yang langka dan hampir punah. Beruntung aku bisa menyaksikannya. 

Saat pelajaran IPA, anak-anak mampu menjelaskan tentang gerhana Bulan secara sains bahkan juga menjelaskannya secara adat atau budaya. Pengetahuan awal proses terjadi gerhana, ditambah pengamatan langsung membuat pengetahuan anak-anak tentang gerhana Bulan sangat sempurna dan kami gurupun senang merona seperti purnama. 

Menarik sekali mengamati gerhana Bulan secara sains dan ritual adat. Sesekali cobalah datang ke tempat kami, desa yang permai, Merah Arai.

Merah Arai, 01 Februari 2018

Masril, Begini cara Kami Mengenangmu



Masril adalah seorang guru SM-3T yang gugur dalam menjalankan tugas negara sebagai guru di pedalaman Anambas, Kepulauan Riau dan jenazahnya pun dikebumikan di tempat almarhum mengabdi. Kepergian Almarhum merupakan luka yang amat dalam bagi insan pendidikan Indonesia khususnya Aceh. Pada 30 September 2013, pukul 01.30 WIB di Tarempa Masril menghembuskan nafas terakhir.

Kalau boleh jujur, dengan kesibukan selama PPG membuat kami hampir lupa kalau mempunyai sahabat yang telah dahulu di panggil oleh Sang Pencipta. Setelah melakukan diskusi kecil dengan teman-teman di asrama PPG sehingga melahirkan kesepakatan untuk membuat sebuah pagelaran seni dan doa bersama yang akan dipersembahkan untuk Almarhum Masril. Kegiatan dicanangkan terlaksana tepat pada tanggal 30 September dengan tujuan supaya tepat satu tahun, berbagai persiapan pun mulai dilakukan.

Menjelang hari H, pemerintah mengumumkan formasi CPNS dan tak lama kemudian jadwal pengambilan nomor pun mulai dipublis sehingga membuat hampir semua mahasiswa PPG terutama panitia kegiatan harus turun ke daerah penerima CPNS untuk ikut menyukseskan pesta rakyat tersebut. Hal ini membuat panitia harus memutar otak, bagaimana caranya kegiatan untuk Masril bisa jalan dan CPNS pun bisa diikuti, alhasil setelah musyawarah panjang lebar maka diputuskan kegiatan “Pentas Seni Mengenang Satu Tahun Almarhum Masril” diundur setelah kesibukan CPNS berakhir yaitu pada tanggal 27 Oktober 2014. Kami mengambil istilah “mundur satu langkah untuk bisa melompat lebih tinggi”.
*****
Menjelang berakhirnya kuliah Pendidikan Profesi Guru (PPG) kesibukan yang luar biasa mulai menghantui seluru mahasiswa PPG, mulai dari PPL di sekolah, PTK, perangkat, periksa tugas anak-anak, melatih Pramuka, open leasen, bimbingan UTN, dan masih banyak lagi kesibukan teman-teman di sekolah dan di asrama. Dengan segala kesibukan tersebut  tidak sedikit pun membuat nyali teman-teman ciut, komitmen dan loyalitas untuk menyukseskan kegiatan Pentas Seni sangat besar, tidak ada yang mengeluh apa lagi menjatuhkan, teman-teman saling memberi motivasi dan semangat.

Awalnya banyak orang yang pesimis dan meragukan terlaksana pentas seni ini, tau kenapa? Karena tidak ada satu pun mahasiswa PPG yang terlihat bakatnya dibidang seni. Rupanya pikiran orang itu salah, hampir semua mahasiswa PPG sangat berbakat sesuai dengan porsinya masing-masing, tapih sayang bakat dan kreativitas mereka tidak ada yang menampung, mereka selama ini tidak diberikan kesempatan dan ruang untuk berekspresi, untuk menyalurkan bakat dan kreativitas yang mereka punya. Kami camkan dalam hati dan pikiran kalau kami bisa buat dan mempesembahkan sesuatu seperti orang lain di luar sana, kami akan buktikan nantinya di atas panggung pada tanggal 27 Oktober 2014.

Kegiatan Pentas Seni ini bukanlah kepunyaannya ketua panitia maupun ketua Forum SM-3T Aceh apa lagi pengelola PPG maupun Dekan FKIP, kegiatan ini adalah kepunyaan kami bersama, keluarga besar SM-3T, siapa saja yang terlibat disana baikah itu peserta, pengelola maupun penanggung jawab. Ini punya kami bersama sehingga kami memilih untuk patungan, mengeluarkan uang sendiri seikhlasnya untuk bisa menyukseskan acara tersebut dengan harapan bisa tertanam dalam hati kalau kegiatan ini adalah punya kami bukan punya orang lain sehingga kami bisa menyukseskannya dengan sangat baik.

******
Mulai dari hari Minggu kami mempersiapkan tempat dan mendekorasi panggung. Ini momen yang sangat berkesan, tau kenapa? Kalian tidak akan bisa membayangkan bagaimana kompaknya kami, kami gotong royong, bahu-membahu bekerja tapa kenal lelah dengan penuh keikhlasan, semuanya beraktifitas sambil tertawa dan bercanda. Keren banget pokoknya.
  
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, kami semua was-was apakah acara ini bisa sukses atau tidak. Kami yakin akan sukses karena Allah akan membantu kegiatan mulia ini. Pagi-pagi sekali semua pintu kamar dikomplek Asrama PPG digedor, semua bergegas cepat untuk mengantri di kamar mandi. Ilmu yang kami dapat dari KMD Pramuka diterapkan, ilmu gerak cepat ketika ada bencana tapi kali ini bukan bencana alam namun bencana antrian di kamar mandi. 

Senin, 27 Oktober 2014. Pukul 08.00 WIB, semua peserta dan tamu undangan mulai berkumpul termasuk keluarga Almarhum Masril yang datang langsung dari Kabupaten Bireuen. Pembacaan Surat Yasin dan Doa bersama yang dipimpin oleh trio Teungku (Iskandar, Diba Rizki dan Munandar) membuat para hadirin hanyut dalam permohonan ampun kepada Sang Pencipta Allah SWT.

Rangkaian serimonial pembukaan yang dipandu oleh M.Fakhruzi dan Deca Rahayu menandakan acara Pentas Seni Mengenang Satu Tahun Almarhum Masril dimulai. MC hasil audisi di Asrama PPG Unsyiah ini sangat hebat, kehebatannya mengalahkan MC kondang Indonesia seperti Raffi Ahmad dan Dewi Sandra. Dimulai dengan pembacaan ayat Suci Al-Quran oleh Aidil Hanif, dilanjutkan dengan sambutan Ketua Forum SM-3T Aceh Kamarullah, Sambutan Ketua pengelola PPG SM-3T oleh Ayahanda kami Samingan dan dibukanya acara secara resmi oleh Pak Abdurrahman mewakili Dekan FKIP yang sedang berada di Thailan. Kami tunggu oleh-olehnya pak Dekan.

Penyerahan piagam penghargaan pendidikan kepada almarhum Masril yang ditandatangani langsung Rektor Universitas Syiah Kuala diberikan kepada ibunda Almarhum. Turut juga penyerahan santunan pendidikan kepada keluarga yang merupakan patungan dari mahasiswa PPG, ikut juga meberikan santunan SM-3T angkatan III dari NTT, PD II FKIP dan terakhir Dekan FKIP Umuslim Bireuen. Terakhir penyerahan bingkisan kenangan dari sabahat Almarhum Program Studi Biologi. 
*****
Mars SM-3T, Himne Guru dan lagu Bagimu Negeri dinyanyikan dengan penuh semangat oleh seluruh para penonton yang dipimpin langsung oleh Dirigen hasil seleksi PPG Mencari Bakat yaitu Novayani. Menurut Juri PPG Mencari Bakat pada saat grand final kemarin: “Novayani tidak kalah hebat dengan dirigen terbaik dunia seperti Adrian Prabava”.

Puisi yang berjudul “Pejuang Pendidikan” karya Azmi Labohaji yang ditulisnya khusus untuk almarhum Masril menjadi pentas seni pembuka. Suasana gelap, cuma dibantu oleh lampu panggung, berada ditengah panggung dengan baju adat melayu, Azmi berhasil menghanyutkan penonton dalam suasana duka membuat air mata membasahi tissu, jilbab dan baju.

Film dokumenter yang menceritakan bagaimana perjuangan para guru SM-3T yang mengabdikan dirinya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia membuat para penonton terharu bangga terhadap keikhlasan dan dedikasi para guru SM-3T ini. Tidak sedikit para tamu undangan yang meminta softcopy film tersebut, katanya untuk ditonton bersama keluarga, komunitas, even dan kesematan yang lain.

Tepank Fajriman, membuat para penonton ketakutan dalam kegelapan. Sebatang lilin kecil di depan podium untuk menerangi ruangan yang besar, sekilas para penonton bertanya-tanya: apa gerangan ini? Rupanya testimodi Obituari mau dibacakannya. Testimoni yang mengulas sedikit tentang Almarhum Masril ditambah dengan iringan musik biola membuat seisi ruangan kebanjiran air mata. 


Penampilan teater yang berjudul “teman seperjuangan yang terlupakan”. Teater yang disutradarai oleh  Azmi Labohaji dan naskahnya ditulis oleh Husnul Khatimah Arif menjadi menu yang ditunggu-tunggu dalam acara pentas seni ini. Dari 15 orang pemain teater cuma 3 orang yang berpengalaman selebihnya adalah pemain-pemaian dadakan yang dilatih beberapa Minggu, hasilnya mereka bisa berperan sebagai tokoh yang ditunjuk dengan penampilan luar biasa. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah selama kita mau belajar dan berlatih sesuatu yang tidak bisa pasti akan bisa dengan bantuan Allah pastinya.

Prodi Biologi yang merupakan Prodi Almarhum Masril diberikan kesempatan khusus untuk mempersembahkan sebuah puisi kenangan dalam pentas seni ini. Puisi karya Ali Yuzar yang dibacakan langsung oleh Ali Yuzar sendiri, ditemani oleh Arita Mustika dan Nurul Hikmah membuat penonton terpana. Yang menariknya adalah tidak ada seorang pun dari mahasiswa PPG yang percaya dan menduga kalau Ali Yuzar adalah seorang penulis puisi bahkan dia membacakannya di depan ratusan penonton. Hari itu semua orang mendapat pelajaran baru: jangan menilai orang lain dari luarnya saja karena tampak luar kerap menipu. Sebuah puisi yang luar biasa. Kami tunggu puisi selanjutnya Ali Yuzar, kau mengajarkan kami arti Hidden Kreativitas.

Musikalisasi Puisi yang dibawakan oleh Husnul Khatimah Arif, dibantu oleh Fermi Saputra dengan lantunan gitarnya juga diiringi syahdunya suara biola oleh Wahyu membuat suasan lebih menyentuh. Puisi yang dibawakan adalah puisi yang paling disukai oleh Almarhum Masril dan puisi ini juga pernah Almarhum bacakan pada sebuah acara di tempat tugas dulu yaitu Anambas. Suara merdu Husnul sangat dinikmati oleh para penonton, sekali pun suara tangis masih terdengar di setiap sudut ruangan.

Akhirnya acara Pentas Seni usai, Doa penutup dibacakan oleh Diba Rizki.

Semua panitia, Crew, tim kreatif dan semuanya yang terlibat mengucapkan rasa syukur: Alhamdulillah, kita sukses besar, sekalipun ada sedikit kekurangan sana dan sini. 
*****
Terimakasih buat seluruh keluarga besar PPG-SM3T yang telah hadir dan membantu menyukseskan acara ini. Terima kasih juga kepada Dimas (UKM Teater 0) yang telah membuat panggung kami terang, juga terima kasih pada UKM Putoe Phang yang telah meminjakan beberapa peralatan pentas. Juga terima kasih kepada LPTK FKIP Unsyiah mulai dari pimpinan, operator, satpam juga pekerja kebersihan. Pokoknya terimakasih buat semua yang terlibat, banyak sekali dari kalian yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Kalian semua hebat, kreatif, produktif dan inofatif dan pastinya luar biasa.

#Darbe. Selasa, 28 Oktober 2014

Wisata Hati Sendirian

Kita sering melihat orang Barat kalau jalan-jalan mengunjungi tempat wisata sering sendiri, berbeda dengan orang Asia kebanyakan khususnya orang Indonesia. Tahu kenapa? aku juga tidak tahu. Karena ketidak tahuan inilah membuat aku termotivasi untuk  mencari tahu: apa sih enaknya jalan sendirian tanpa ada yang menemani?. Aku mencoba untuk melakukan penelitian dengan mengunjugi beberapa objek wisata dan tempat-tempat keramaian yang ada di Banda Aceh. 

Langkah itu dimulai pada jam 08.30 WIB. Tempat pertama yang aku kunjungi adalah Perpustakaan Wilayah Aceh di Lamyong. Ya. Seperti layaknya sebuah pustaka memang selalu disesaki oleh pengunjung dan pengunjung paling banyak adalah mahasiswa. Kesibukannya pun macam-macam: ada yang baca buku, cari-cari buku, bahkan ada juga yang pacaran. Pustaka memang tempat pacaran paling keren, pacaran ala intelek katanya. Sebenarnya tujuan ke pustaka ini untuk membuat kartu anggota pustaka yang baru berhubung kartu lamaku tidak berlaku lagi karena faktor X. Antrian panjang di bagian andministrasi membuat aku enggan untuk berpartisipasi bersama para orang sabar itu. Mengantri merupakan pekerjaan yang kurang aku sukai kecuali kalau itu sangat penting dan mendesak. Disini aku lebih memilih memantau ala anak kampung yang baru tiba di kota, sangak-sangak. Ehh.. rupanya ketemu sama adek leting. Yah, biasalah lama tidak ketemu: nanyain kabar, cerita-cerita, ehh ujung-ujungnya; Bang mintak judul skripsi dong?. Memang dilema mahasiswa tingkat akhir kalau ketemu siapa aja apa lagi seniornya, basa-basi dikit, tetap ujung-ujungnya mintak judul skripsi. Untung aku masih banyak stok, masing-masing mereka dapat satu judul. Diterima-tidaknya judul itu bekan urusanku itu adalah derita mereka.


Perjalanan dilanjutkan menuju Mesium Tsunami. Mau tahu bagai mana dahsyatnya air bah di Aceh delapan tahun silam?. Inilah tempatnya. Barang-barang peninggalan tsunami lengkap disini. Aku cuma lihat-lihat aja dan tidak mau berlama-lama karena aku sudah pernah mengunjungi tempat ini. tempat yang paling aku suku adalah lorong tsunami. Gelap, riuh, apa lagi ada setikit percikan air; wah..rasanya romantis banget kalau perginya sama cewek tapi sayang, aku perginya sendiri. Semua kamar dan lorong aku jelajahi sampai tidak ada yang tersisa, samapai ke kamar mandinya sekalian kecuali kamar mandi perempuan. Setiba di ruangan simulasi, pengen banget nyobain alat simulasi gempa sekalian tanya-tanya tapi penjanganya tidak ada. Aku berpikir positif aja mungkin penjangnya lagi ke kamar mandi, ehh tapi kok ngak ketemu tadi yaa. Nah, parkiran. Ini yang menjadi sorotanku di Mesium ini; papan pemberitahuan harga parkir untuk kendaraan roda dua dan empat pada bagian angkanya dihapus (bukan terhapus). Setahuku harga parkiran untuk roda dua di Banda Aceh Rp. 1000,- dan Rp. 2000;- untuk roda empat tapi kenapa abang  parkir itu mintaknya Rp. 2000,- ?. Sebernarnya tidak masalah bagiku tapi ini sudah keterlaluan bertentangan dengan qanun yang dibuat dengan susah payah. Kadang-kadang sampai lempar bangku mereka di DPR berdebat tentang harga parkir ini.

Di seberang jalan, mataku tertuju pada tanah luas yang pernah dipersengketakan oleh Pemerintah Aceh dan Kodam Iskandar Muda tempo hari. Tanah luas tempat bermain, olah raga, berwisata dan tempat keramaian. Tanah itu bernama Blang padang. Ada pemandangngan lain di sebelah baratnya. Sebuah pesawat yang menjulang tinggi, gagahnya minta ampun. Pesawat yang tinggal kerangka itu adalah pesawat pertama  Bangsa Indonesia. Ya, sumbangan dari masyarakat Aceh dulu. Aku sempatkan untuk masuk dan melihat bangkai pesawat dari dekat. Keren juga pesawat ini rupanya. Ata awak kamoee sedekah jameun.



Selanjutnya menuju Mesium Kapal Apung, saksi bisu tsunami. Satu tahun aku tidak mengunjunginya. Waoee, rupanya sudah berubah 180 derajad. Kapal ini sekarang sudah terlihat keren, tempatnya sudah ditata dengan rapi nan indah apa lagi ditambah dengan jembatan yang terhubung ke seluruh area taman. Sampai ditempat ini sudah mulai siang. Teriknya matahari membuat wisatuku disini tidak terlalu lama: keliling-keliling, lihat kiri kanan, bayar parkir dan langsung kabur.

Saatnya ke Mesjid Baiturrahman. Jak barang kaho jeut, pubuet barang kapue jeut, nyang penteng sembahiang bek tinggai. Menjelang Sholat Zuhur Mesjid kebanggaan masyarakat Aceh ini di padati oleh pengunjung. Aku tidak tahu apakah semua orang yang berada di perkarangan Mesjid ini akan melaksanakan Sholat disini atau tidak, mudah-mudahan mereka juga Sholat. Setelah Sholat, aku sempatkan untuk foto-foto sejenak supaya ada bukti kalau aku sudah pernah ke Mesjid raya Baiturrahman. Jangan ngaku sudah ke Banda Aceh kalau belum foto dimesjid ini.

Tidak jauh dari Mesjid, toko buku Zikra adalah sasaran berikutnya. Awalnya tidak ada niat sedikitpun untuk mampir ke toko ini. Penasaran dengan tampilan baru dan megahnya bangunannya membuatku untuk mampir. Dalam hati aku berucap: sudah ada toko buku sekelas Gramedia di Banda Aceh, ini bakalan asik pasti banyak buku-buku updatean terbaru. Keliling-keling dan sangak-sangak langtai satu, dua dan tiga, rupaya banyak buku-buku yang bagus. Ada sekolah rimba, buku yang digarap oleh Buten Manurung, buku ini menjadi perhatianku. Biarpun terbitnya sudah lama tapi aku belum baca. Ingin sekali mengambil dan menyerahkannya ke kasir, tapi apa hendak dikata Gusti Ngurah Ray cuma satu lembar di dompetku. Kapan-kapan aja ya. Heheh

Sepertinya lagu di laptop sudah setahun tidak pernah update dan juga sudah lama tidak nonton film terbaru. Masuk ke toko Insert. Wiihhh, sejuknya. Udara dalam toko ini membuat aku pengen ngak keluar-keluar. Sejuknya bukan main gak seperti diluar, panasnya mintak ampun. Aku lumanyan lama berada dalam toko ini. Pura-puranya asik milih kaset yang bagus, gayanya mau beli padahal keasikan ngobrol sama cewek-cwek disana, sama anak remaja yang masi unyu-unyu. Alay banget pokoknya. Aku digodain lho. hehe [Darbe]