Pulangnya Orang Kampung

Banda Aceh mulai sepi. Padatnya kendaraan di persimpangan setiap sore mulai lengang. Pedagang yang berjualan sepajang jalan mulai berkurang. Langganan kue pun tidak nampak lagi dimana lapaknya. Jalan penghubung antar kabupaten mulai ramai dengan kendaraan roda dua maupun empat. Terminal mulai padat. Pelabuhan dipenuhi lalu-lalang orang. Lapak penjual bukaan mulai digantikan dengan penjual daging meugang. Ini pertanda Lebaran kian dekat, Ramadhan mulai menjauh. Ramadhan, sampai jumpa tahun depan.


Merantau adalah sebuah keharusan ketika tantangan untuk bertahan hidup di kampung halaman kian berat. Bagi orang kampung, merantau adalah solusi. Namun, pulang kampung adalah kewajiban. Tak peduli harga tiket semakin mahal, semua cara akan ditempuh asalkan bisa berkumpul bersama keluarga.

Kita sempat terbelah, mulai dari pemikiran lalu cara merespon tindakan. Politik penyebabnya. Sampai kapan pembelahan ini akan terjadi? Sampai tangan tak menjabat, mulut tak berucap dan senyum tak tergerak. Indul Fitri adalah momentum silaturrahmi paling populer. Kalau tak berani bertegur sapa karena pilihan politik maka Idul Fitri adalah alasan untuk melakukannya. Idul Fitri akan mengalahkan egoisme. Percayalah.

Ada banyak jenis manusia yang akan dijumpai saat di kampung nanti. Dari yang perjaka sampai yang duda. Dari yang tampan sampai yang mapan. Dari SMA sampai yang sarjana. Mau yang mana? Terserah anda.

Saat mau kembali ke kota jangan cari-cari perkara. Gadis yang sudah ditinggal lama segeralah dilamar. Jika tidak, akan terus sendiri di kamar. Persaingan akan semakin hebat, jika terlambat sakit hatinya sangat dahsyat.

Pulang kampung, hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan.

Merah Bulan di Langit Merah Arai

Gerhana BUlan Total
Detik-detik Gerhana Bulan
Fenomena alam yang langka ini aku nikmati dari pedalaman Borneo, suasana gelap gulita membuat pemandangan langit sangat menawan. Pemandangan Bulan, ditemani beberapa bintang dan diiringi sedikit gerimis. Gerhana Bulan 31 Januari 2018 adalah fenomena alam yang langka, bagaimana tidak, dua peristiwa terjadi secara bersamaan saat itu; pertama, terjadi saat supermoon yaitu posisi Bulan pada saat gerhana Bulan total bertepatan pada momen ia mencapai jarak terdekat dengan Bumi. Hal ini jelas akan membuat Bulan tampak lebih besar dan lebih terang di langit. Kedua, terjadi saat bluemoon yaitu sebuah istilah untuk menyebut Bulan purnama kedua yang terjadi pada satu Bulan kalender masehi, bukan bermakna Bulan berwarna biru. Alih-alih berwarna biru, pada puncak gerhana Bulan total terjadi justru ia muncul dalam rona kemerahan, yang disebut merah darah.

Aku mendapatkan posisi yang pas untuk memandangnya saat itu. Dulu, aku melihat gerhana Bulan di kota dengan kerlap-kerlip lampu, suasana demikian membuat pemandangan gerhana menjadi tidak nikmat, ditambah lagi ramainya orang namun hanya sedikit yang memiliki rasa ingin tahu terhadap fenomena alam tersebut sehingga nuansa sains tidak terlalu tampak. 

Fenomena super blue blood moon bisa kami lihat dengan sempurna di atas langit desa Merah Arai. Gerhana Bulan tepat pada saat peristiwa supermoon dan bluemoon. Anak-anak sekolah sudah kami kondisikan untuk mengamati fenomena langka ini. Saat jam sekolah, para guru sudah memberikan pengetahuan awal tentang gerhana Bulan dan kami akan melakukan observasi langsung di malam harinya. Besoknya, saat pelajaran IPA anak-anak harus melaporkan apa yang telah mereka amati. 

Membunyikan sesuatu untuk mengusir Ular Gompa
Menariknya, ini bukan hanya fenomena sains namun juga fenomena leluhur bagi masyarakat di desa ini, yaitu suku Dayak. Ada prosesi adat yang tak kalah menarik malam itu, hampir-hampir pemahaman sains hilang. Menurut suku Dayak, gerhana ada dua jenis yaitu gerhana Bulan merah atau darah dan gerhana putih atau embun, setiap jenis ini memiliki makna tersendiri. 

Bagi masyarakat Dayak, gerhana Bulan adalah peristiwa yang menakutkan. Saat Bulan berwarna merah artinya darah dan akan terjadi musibah, banyak orang akan sakit, gagal panen, banjir dan musibah lainya. Jika Bulan berwarna putih artinya akan baik-baik saja bahkan akan banyak kemujuran. Menurut mereka, di langit sana ada ular besar yang akan memangsa Bulan saat gerhana tiba, ular tersebut diberi nama Gompa. Jika Gompa berhasil memangsa Bulan, maka kiamat akan segera tiba. Proses ular memangsa Bulan ditandai dengan tampaknya gelap di sebagian lingkaran Bulan. Kita melihat "gigitan" gelap pada wajah Bulan yaitu keluarnya Bulan dari bayangan umbra Bumi (secara sains). Disamping itu, Bulan terus bergerak berlari menghindar dari kejaran Gompa.

Semangat menjelang ular Gompa melepaskan Bulan
Menjelang dimulai dan berakhirnya gerhana, itu adalah saat-saat krusial bagi masyarakat Dayak. Masyarakat sudah berkumpul di lapangan terbuka atau tempat yang telah disiapkan oleh pihak Desa dan ada juga yang memilih berkumpul di depan rumah masing-masing. Mereka membunyikan gong, mesin sinso, mesin speed, senapan rakitan, kuali masak, ember, dan segala sesuatu yang dapat mengeluarkan suara dengan tujuan supaya Bulan terlepas dari belenggu ular Gompa. Bunyi-bunyian yang berasal dari Bumi membuat ular raksasa selalu gagal memangsa Bulan. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan teriakan-teriakan dan juga menari-nari. Setelah gerhana selesai, semua aktivitas tadi dihentikan dan semua masyarakat bersorak senang gembira sebagai tanda telah berhasil menyelamatkan Bulan dari cengkraman ular raksasa yang berada di luar angkasa tersebut. 

Jujur saja, proses pengamatan secara sains tidak bisa dilakukan dengan sempurna. Tidak ada diskusi, apalagi pertanyaan mengapa dan bagaimana gerhana Bulan bisa terjadi? Anak-anak ikut serta bahkan menjadi ujung tombak memukul benda-benda yang bisa berbunyi. Ini adalah penampakan ritual adat yang langka dan hampir punah. Beruntung aku bisa menyaksikannya. 

Saat pelajaran IPA, anak-anak mampu menjelaskan tentang gerhana Bulan secara sains bahkan juga menjelaskannya secara adat atau budaya. Pengetahuan awal proses terjadi gerhana, ditambah pengamatan langsung membuat pengetahuan anak-anak tentang gerhana Bulan sangat sempurna dan kami gurupun senang merona seperti purnama. 

Menarik sekali mengamati gerhana Bulan secara sains dan ritual adat. Sesekali cobalah datang ke tempat kami, desa yang permai, Merah Arai.

Merah Arai, 01 Februari 2018

Gadis yang Aku Rindukan

Gadis yang kurindukan
Coba lihat ke langit, ada miliaran bintang. Apa lagi jika melihatnya disaat bulan terang, cantik sekali. Gugusan yang luar biasa, bimasakti membentang indah. Aku melihatnya dari atas pulau Borneo, tepat di langit Khatulistiwa pemandangan langit nampak lebih indah.

Malam ini dingin sekali, udaranya masuk sampai ke relung tulang. Malam kian mengajakku untuk tidur tapi langkah tak mau beranjak dari kursi kayu yang aku letakkan di halaman rumah. Nyanyian jangkrik dan semut hutan begitu syahdu. Suara riakan sungai yang hanya berjarak 50 meter terdengar jelas di telingaku, iramanya merdu. Ada banyak suara-suara mahkluk Tuhan yang malam ini sedang beraktivitas, mungkin saja salah satunya adalah makhluk halus. Suara-suara itu membentuk nada-nada indah untuk relaksasi di tengah malam yang sunyi. 

Biarpun sedang sendiri, jauh dari pusat keramaian. Malam ini aku tidak terlihat takut. Duduk sambil menengadah ke langit, memandang keindahan alam semesta. Seraya bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan untukku bernafas. Beginilah caraku merindukannya. Gadis yang namanya selalu kusebut dalam doaku. Saat gelap seperti ini, gadis itu hadir memberi seberkas cahaya, malam yang gelap menjadi malam yang indah. Aku tersenyum memandanginya. Betapa indah gadis itu, berlama-lama menatapnya hatiku kian sejuk. Melihat ke langit seolah aku dapat melihat aktivitasnya malam ini, saat ini mungkin dia sedang tidur. Selamat istirahat, sayang. 

Langit, hutan, sungai dan bintang di tempat ini selalu bercerita hal sama. Tentang rinduku yang terus mengalir, tentang kata-kata yang tak mau berhenti, tentangmu. Di tempat yang sunyi ini, aku mewakilkan rinduku pada bintang-bintang di langit sana. Supaya rindu itu sampai padanya. Rindu ini terlampau berat untuk bisa kupikul sendirian, terlampau besar untuk bisa kulempar ke arah bintang di langit sana, dan rindu ini tidak akan aku biarkan hilang begitu saja, percayalah.

Rindu itu sebuah kebatinan rasa yang harus tersampaikan kepada pemiliknya bagaimanapun caranya. Aku punya cara dan tahu metodenya. Diapun Begitu. Rindu tak diciptakan oleh jarak, tapi perasaan. Aku merindukannya bukan karena ia jauh, namun karena ia telah ada di dalam jiwa dan ragaku.

Rindu seperti ini tidak akan lama lagi, akan segera berakhir. Akan diobati dengan pertemuan yang teduh. Allah sudah merencanakan aku dan kamu bertemu dalam satu waktu. Saat ini, biarlah kita bertemu dalam rindu yang bertumpuk-tumpuk di atas sajadah, menggulung-gulung hingga besar di langit sana dan bercahya mengalahkan bintang kejora.

Cinta, bersabarlah dalam menanti seperti ketidakinginan kita agar terompet Sangkakala tak segera berbunyi sebelum amal kita terasa cukup. Sesuatu akan datang pada waktunya masing-masing sebab sudah Allah takdirkan demikian. Bukankah sekuat apapun kita mengusahakan datangnya senja ketika fajar baru saja terbit, itu tidak akan terjadi begitu saja bukan? Kita tetap harus menunggu waktunya tiba, melewati siang. Jadi, bersabarlah.

Aku masih takut dengan sunyi. Apalagi kalau gelap pekat. Di sini, kuntilanak tidak takut dengan manusia. Coba saja jika kamu ada di sampingku. Sunyi dan gelap akan membuat kuntilanak menjauh ketakutan. Cahaya cinta akan membuat siapa saja yang mendekat akan menjauh. 

Cinta, mari saling mendoakan, biar rindu ini saling bertaut dan proposal halal yang telah kita sampaikan segera dikabulkan. Ingat, kamu harus sombong pada laki-laki lain untuk menjaga perasaan lelakimu, akupun begitu.

Nanti, bintang-bintang indah yang aku lihat di atas langit desa ini, akan kita lihat bersama. Di sini, di Desa Merah Arai, pedalaman Kalimantan. Akan kupastikan kau terhibur dan tidak minta pulang jika bersamaku di tempat ini. Tahun depan, ikut yaa. 

Jaga hati, jaga diri dan jaga Iman. 

Merah Arai, 01 Desember 2017

Ini Desaku, Mana Desamu

Desa Merah Arai adalah sebuah desa kecil nan sejuk yang berada di Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Penduduknya tidak terlalu ramai cuma sekitar 220 KK. Jaraknya dari pusat kecamatan hanya 47 Km dan untuk menjangkau Desa ini harus menggunakan perahu motor. Baca Jauhnya Desa Merah Arai.

Penduduk di desa ini manyoritas bekerja sebagi petani. Karet adalah komoditi utama mereka. Di samping itu, penduduk desa juga berladang, seperti menanam padi, cabai, tomat, sawi dan sayur-mayur lainnya. Di sini buah-buahan banyak sekali, beraneka ragam sampai buah yang tidak pernah dimakan oleh orang kota, di desa ini ada barangnya. Jika musim buah, guru akan mendapatkan porsi spesial. Ada saja yang mengantar buah-buahan ke rumah. Terkadang, jika sudah terlalu banyak, kita harus menolak sedekah orang dan menghambat mereka untuk mendapatkan pahala. Saya pikir, menolak lebih baik daripada terbuang mubazir.

Penduduk desa kami tidak hafal nama-nama ikan laut, jangankan makan, lihat saja kadang mereka tidak pernah. Sehingga mereka tidak pernah bermimpi mendapatkan sepeda dari presiden Jokowi. Soal ikan, ikan sungai adalah favorit penduduk desa, ikan baung masyarakat menyebutnya. Memancing atau menembak ikan adalah aktivitas penduduk di waktu luang. Ketika mereka mulai menginginkan makan ikan, maka langsung terjun ke sungai. Dapat dua tiga ekor langsung pulang untuk dimasak. Jangan harap ada orang yang jual ikan keliling di sana. Jika akrab dengan anak-anak kecil, kita akan dibagi ikan hasil tangkapan mereka. Anak-anak di sini, hobinya menembak ikan.

Agama manyoritas penduduk adalah Kristen. Hidup dalam keberagaman sudah terbiasa sehingga tidak menjadi kendala bagi saya. Toleransinya sangat tinggi di sini. Agamaku aku urus sendiri dan agamamu kamu urus sendiri. Kita tidak saling ikut campur soal agama. Dan salutnya, penduduk desa sangat memahami apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam Islam dan mereka memperlakukan saya dengan sangat terhormat, begitu pula saya memperlakukan mereka.

Sinyal di Desa Merah Arai
Tower HP Mini
Desa kami tidak ada sinyal telekomunikasi, apalagi akses internet. Hanya ada satu dua tempat di desa yang terkadang mampu menangkap sinyal satu batang itupun tergantung tiupan angin. Jika angin bertiup ke arah kita maka beruntunglah. Kalau teman-teman menghubungi handphone saya tidak terhubung, mohon dimaklumi perusahaan telekomunikasi belum mau bersahabat dengan orang desa seperti kami. 

Radio adalah sumber berita utama di desa kami, banyak rumah sudah memilikinya. Untuk mendapatkan jaringan harus hati-hati penuh kesabaran, sedikit goyang atau bergeser maka siarannya akan hilang. Setiap rumah ada posisi-posisi tersendiri untuk meletakkan radio atau antenanya supaya mendapatkan suara yang jernih. Kami akan percaya sepenuhnya apa yang disampaikan oleh penyiar radio tersebut, berita apa saja, temasuk pengumuman atau berita duka, karena satu-satunya sumber berita hanyalah dari radio tersebut. Semoga beritanya tetap berimbang.

Soal listrik, Alhamdulillah sudah teratasi. Kami tidak menggunakan jasa PLN. Kami menggunakan lampu panel surya, semua rumah memilikinya. Kabarnya, itu bantuan dari dana desa. Sayapun kebagian satu.

Desa kami memiliki air bersih yang cukup, sumbernya dari mata air di atas Bukit Alat. Bukit Alat adalah bukit yang membentang dari Desa Lintang Tambuk sampai Nanga Masau. Airnya mengalir deras ke setiap rumah melalui pipa-pipa tanpa harus menggunakan mesin pompa. Menariknya, air ini tidak perlu dimasak dan bisa langsung diminum. Kata penduduk desa, airnya sudah bersih dari bakteri dan terjamin, namun saya belum mendengar apa pendapat BPOM soal ini. Namun, sampai saat ini saya masih mendengarkan pendapat masyarakat tentang air tersebut. Tidak pelu dimasak dan langsung diminum.

Jika ada yang bertanya, apa kabar hewan ternak seperti babi, kambing dan sapi di desa Merah Arai? Jawabannya adalah aman dan terkendali. Budaya hidup bersih sudah lama diterapkan oleh warga desa. Binatang ternak harus tetap berada di kandang, tidak boleh berkeliaran di perkampungan. Bayangkan saja jika binatang tersebut berkeliaran di perkampungan, maka kotorannya akan sangat mengganggu dan tanaman-tanaman warga akan abis dimakan dan dirusaknya. 

Budaya hidup bersih ini dulunya dikampanyekan oleh salah satu guru SDN 15 Merah Arai, beliau adalah guru pertama dan satu-satunya saat itu. Namanya adalah Sukadir, beliaulah yang merintisnya saat itu. Tidak hanya budaya hidup bersih, ada banyak program kemasyarakatan dan sosial yang beliau rintis dan sampai saat ini diumurnya yang hampir pensiun, ada program yang sudah berhasil dan ada juga yang belum berhasil. Di kesempatan lain, saya akan ceritakan khusus tentang pak Sukadir, guru perintis yang melegenda.

Sintang, 3 November 2017

Jaunya Desa Merah Arai

Bus Kayan Hulu
Bus Kebanggaan Masyarakat Kayan Hulu
Bus bernama Jurukito hanya ada dua di Kabupaten Sintang, Bus yang kecil treknya hanya sampai Desa Nanga Mau ibu kota Kacamatan Kayan Hilir dan yang besar sampai ke Nanga Tebidah, ibu kota Kecamatan Kayan Hulu.  Bus ini keluaran tahun 90-an. Kalau di provinsi lain Bus seperti ini sudah masuk gudang rongsokan.

Kekuatannya sangat bandel, jangan pernah meragukannya. Jalan mendaki, berbatu, tidak membuat mesinnya meraung kelelahan, kalau jalan becek berlobang sampai 1 meter masih bisa diterobos oleh bus ini. Muatan kursinya sampai 26 orang, namun biasanya tidak semua terisi karena selalu dipenuhi oleh barang-barang bawaan ataupun kiriman masyarakat. Dari Kota Sintang ke Nanga Tebidah, Ibukota Kecamatan Kayan Hulu ongkosnya cuma Rp.100.000. Itu sedikit perkenalan dengan Bus Jurukito.

Kehidupan baru saya berada di Desa Merah Arai Kecamatan Kayan Hulu, untuk menuju desa Merah Arai butuh nyali dan fisik yang prima dan harus pandai berenang. Jarak Kota Sintang ke Ibukota Kecamatan Kayan Hulu, Nanga Teubidah cuma 138 Km, jalannya kecil, berbatu, tanah kuning, banyak lobang, sehingga butuh waktu 6 jam perjalanan menggunakan Bus Jurukito. Bisa juga dilalui menggunakan sepeda motor dan banyak juga orang menggunakan mobil Starda atau double cabin, masyarakat disini menyebutnya taxi.

GGD Sintang
Perahu menuju Desa Merah Arai
Untuk menuju desa-desa di Kecamatan Kayan Hulu, hampir semua jalan rayanya adalah sungai. Ada tiga cabang sungai yaitu Jalur Kayan, Jalur Teubidah dan Jalur Payak. Dari ketiga jalur tersebut hanya jalur Kayan yang lumanya tidak ekstrim karena airnya selalu banyak atau dalam. Kalau jalur Teubidah dan jalur Payak airnya sering sedikit, dangkal dan banyak batu-batu besar yang membuat perahu motor tidak bisa melaju dengan maksimal.

Transportasi antar desa dan menuju ke pusat kecamatan adalah menggunakan perahu motor. Perahu ini modelnya beragam, ada yang besar, ada pula yang kecil, termasuk mesin yang digunakan. Karena perahu adalah alat transportasi utama sehingga hampir setiap keluarga memilikinya, sekurang-kurangnya adalah perahu dayung.

Nah, tempat saya belajar dan mengajar ada di Desa Merah Arai, tepatnya di SD No 15 Merah Arai. 47 km dari kota kecamatan. Untuk menuju ke sana harus menggunakan perahu motor dari Teubidah yaitu Kota kecamatan, lebih kurang 3 jam perjalanan, itupun kalau air sungainya sedang banyak, pasang kalau istilah masyarakat disini namun kalau airnya sedang sedikit atau surut maka membutuhkan waktu sampai 5 jam perjalanan perahu motor. Perlu diketahui, disini tidak ada perahu angkutan penumpang, yang ada hanyalah perahu masyarakat yang hilir-mudik membawa hasil kebun untuk di jual ke Kota kecamatan. Jadi jangan membayangkan seperti di kota yang angkutan umumnya selalu ada dimana-mana bahkan bisa pesan online dan dijemput sampai di depan rumah. Disini NO. 

Kalau mau menuju desa-desa sepanjang jalur sungai kayan, kita harus menumpang perahu masyarakat yang lewat. Cukup berdiri dipinggir sungai sambil menyapa dan bertanya mau kemana? Jika tujuannya sesuai dengan keiinginan kita maka mereka akan meminggirkan perahu dan kita naik, selamat sampai tujuan. Kalau tidak ada perahu masyarakat yang lewat, ya selamat bermalam lagi di Teubidah.

Guru dan tenaga kesehatan adalah manusia paling di sayangi oleh masyarakat di daerah pedalaman. Maka jangan lupa memperkenalkan diri dan memakai salah satu atribut yang menunjukkan kita adalah Guru atau tenaga kesehatan. Setidaknya adalah topi.

Teubidah, 01 November 2017


Jika ke Pidie, Mampirlah ke Pasar Ie Leubeue dan Cicipi Ade di Sana

Ade Kembang Tanjong
Kuliner Khas di Pasar Ie Leubeue Kembang Tanjong
Sejak 25 tahun menetap di Amerika, pada tahun 1976 untuk pertama kalinya Deklarator Gerakan Aceh Merdeka Hasan Tiro pulang ke Aceh. Hari itu ia tiba di Pelabuhan Kuala Tari, Pasi Lhok, Sebuah desa nelayan di Kecamatan Kembang Tanjong. Tempat ini menjadi satu-satunya lokasi paling aman sebagai jalur keluar masuk antar negara. Untuk menuju lokasi ini hanya ada satu jalan dan itu adalah satu-satunya sehingga tempat ini dianggap paling aman. 

Tidak Jauh dari Kuala Tari, ada sebuah kampung yaitu Ie Leubeue. Kampung ini sangat terkenal dengan pasar Ie Leubeue. Pasar Ie Leubeue masih tergolong sangat tradisioanal dengan bangunan yang kebanyakan terbuat dari kayu bahkan kelihatan umurnya sudah sangat tua. Pasar ini terletak di tengah-tengah perkampungan pesisir kawasan paling sudut barat-laut Kecamatan Kembang Tanjong, yaitu berjarak empat kilometer ke arah utara dari pusat pasar kecamatan atau tujuh belas kilometer ke arah timur dari Kota Sigli.

Menariknya di pasar Ie Leubeue ini selalu ramai di pagi hari, mulai setelah Subuh sampai pukul sepuluh. Berbagai aktivitas jual-beli masyarakat dilakukan di sini. Jika ingin membeli ikan segar maka datanglah ke tempat ini saat pagi. Aktivitas jual beli di pasar ini sangat beragam mulai dari ikan segar, dan aneka makanan seperti nasi, lontong, dan kue seperti putu, bengkang, dan paling terkenal adalah ade. Masyarakat setempat biasa menyebutnya Ade Ie Leubeue namun masyarakat luar Kembang Tanjong sering menyebutnya Ade Kembang Tanjong.

Di pasar Ie Leubeue ini kurang lebih ada empat warung kopi yang masih jauh dari kemodernan, bagaimana tidak, untuk bisa mencicipi kopi telur kocok atau kupi boh manok kita harus menunggu lumayan lama. Warung kopi di pasar Ie Leubeue sangat menjaga ciri khasnya yaitu kupi boh manok, dimana sebelum dicampur dengan kopi, merah telur dikocok terlebih dahulu dan uniknya prosesnya dilakukan secara manual tidak menggunakan mesin mixer seperti warung kopi modern. Ada orang khusus yang memang bertugas mengocok boh manok ini.  

Seperti biasanya kopi telur kocok, ade dan putu menjadi menu pilihan setiap pengunjung. Pasar ini sangat ramai ketika hari raya, karena semua pemuda yang pulang dari perantauan pasti mengunjungi tempat ini dan tidak hanya penduduk setempat bahkan penduduk dari kecamatan lain pun ikut menkmati kuliner khas yang bernuansa tradisional terbut.

[30 Januri 2016]

Bertualanglah Sebelum Istrimu Melarangnya

Pertualanagan
Di Perjalanan Mneuju Puncak Gungung Ile Ape, Lembata, NTT
Masa muda adalah masa yang paling menggebu-gebu, kata Bung Roma Irama. Bagaimana tidak, masa muda dengan kondisi yang masih labil akan memungkinkan untuk melakukan banyak hal. Jika tidak dikontrol dengan baik maka masa muda akan dibuang begitu saja, banyak yang terjerumus dalam dunia hitam narkoba, tidak sedikit yang menghabiskan masa muda dalam jeruji besi. Dan banyak juga yang memanfaatkan masa muda kepada hal-hal yang positif, seperti bergabung dengan komunitas-komunitas sosial, mengikuti berbagai even nasional maupun internasional, mengunjungi berbagai tempat, menikmati kekayaan alam Indonesia raya dan banyak lagi cara orang-orang memanfaatkan masa mudanya.

Jika masa muda hanya disibukkan dengan aktivitas di rumah, kampus dan pustaka. Rutinitas hanya belajar saja tanpa mau bersosialisasi dengan banyak orang, sayang sekali. Masa muda seperti itu sepertinya sangat memprihatinkan. Albert Einstein saja tidak begitu belajarnya. Waktu untuk berpergian selalu dia sisihkan.

Ilmu yang kita dapat dari buku hanya beberapa persen saja, itupun kebanyakan teori doang dan kadang fakta sebenarnya tidak seperti itu. Lalu dimana ilmu yang sebenarnya? Di alam bebas, di lingkungan sosial, dan di berbagai tempat. Jika tidak mau menyesal di hari tua maka carilah ilmu di alam bebas. Tidak hanya itu, kitapun bisa langsung mempraktekkannya. Caranya gimana? Berpergian dan bertualang.

Bertualanglah. Nikamati indahnya alam semesta. Tak perlu jauh. Yang penting bergerak dari tempat semula. Pergilah ke tempat-tempat yang jarang di kunjungi oleh orang lain dan dokumentasikan. Lalu ceritakan. Mumpung masih muda, belum ada yang melarangnya. Jika sudah punya istri apalagi anak maka peluang untuk bertualang semakin kecil. Sudah pada sibuk ngurusin istri, kalau sudah punya anak udah sibuk antar-jemput anak ke sekolah. Maka bertualanglah mumpung masih ada waktu luang.

Tidak semua orang suka, banyak yang tidak berani apalagi mau untuk bertualang. Alasannya bayak sekali,mulai tidak ada waktu, uang, gak ada teman dan sampai tidak diberi ijin oleh orang tua. Padahal dengan bertualang kita bisa mendapatkan ilmu baru, teman baru dan suasana baru. Bisa menghilangkan stres dan jenuh akibat rutinitas kuliah atau pekerjaan yang itu-itu aja, bahkan justeru sangat membosankan. 

Banyak hal-hal yang kita anggap tabu dulunya setelah bertualang akan menjadi hal yang biasa dan lumrah. Karena saraf otak sudah mulai terbuka dan dipaksa untuk berpikir. Dunia ini luas sekali. Alamnya bagaikan surga. Tidak mau main-main di tanah surga?.

Okelah. Gak perlu keliling Indonesia yang terlampau luas. Daerah kita sendiri aja belum habis dikunjungi. Apalagi nusantara yang luas ini, belum lagi keliling dunia. Menjadi katak dalam tempurung sangat tidak mengenakkan. Terasa dunia ini kecil sekali. Padahal kalau mau bertualang akan terasa sangat luas alam ini. 

Tidak mesti sekarang, nanti jika sudah mulai cukup uang, punya kesempatan. Bertualanglah. Kampung itu tidak akan lari, tidak perlu pulang kampung seminggu sekali, belajarlah dari luasnya alam ini, belajarlah dari masyarakat yang berbeda dari kita, belajar banyak hal yang belum dan bahkan tidak pernah kita lihat sebelumnya. 

Dan, mari bertualang sebelum istri kita melarangnya. :D

#Banda Aceh, 20 Agustus 2015.

Menikmati Wisata dan Sejarah Tanjung Atadei

Kabupaten Lembata

Tanjung Atadei menawarkan panorama alam yang menantang untuk orang-orang yang baru. Anda percaya?.

Atadei sebagai salah satu kecamatan di Pulau Lembata yang berada di atas gunung tidak banyak dijumpai tempat wisata seperti daerah pesisir lainya. Siapa bilang? Ada objek wisata tersembunyi yang sangat menakjubkan yaitu tanjung Atadei. Karena akses untuk menuju ke tempat ini sangat sulit sehingga tidak banyak orang yang mengetahuinya bahkan orang asli Lembata sendiri banyak yang hanya mendengar namanya saja. Padahal tempat ini menyimpan panorama alam yang sangat indah. Tidak hanya menawarkan panorama indah namun juga wisata sejarah yang sangat luar biasa.

Biarpun kecamatan Atadei berada di atas gunung tapi ujung dari kecamatan ini berbatasan dengan laut. Membentuk sebuah tanjung yang masuk ke dalam sehingga masyarakat menyebutnya tanjung Atadei. Bahkan sejarah nama kecamatan Atadei sendiri diambil dari tempat ini. Mau tahu ceritanya?

Kami pernah bertugas di desa Lerek Atadei sebagai guru selama 1 tahun. Rugi sekali rasanya sudah berada di Atadei tapi belum menikmati keindahan tempat yang aduhai dan bersejarah tersebut. Di akhir semester kami mengajak keluarga besar sekolah untuk melaksanakan tour edukasi di desa Dulir yaitu desa tempat tanjung Atadei berada.

wisata NTT
[Batu Tengkorak]
Di tanjung Atadei ada banyak sekali yang bisa kita nikmati, mulai dari pantainya yang indah dan bersih, pantai dengan bukit terjal dan hutan pegunungan dan sangat cocok untuk area berkemah dan hiking. Di tempat ini kita bisa menikmati aneka batu-batu unik tapi bukan batu akik namun batu-batu besar yang menyerupai suatu bentuk. Misalnya ada batu yang menyerupi tengkorak, menyerupai meja, kursi dan batu Atadei sendiri menyerupai manusia. Batu-batu besar dengan tebing yang tinggi sepanjang pantai membuat tantangan tersendiri bagi para pengunjung.

Tidak hanya itu, sepanjang perjalanan menuju tempat ini kita disuguhi oleh keindahan alam pengunungan, bisa menikmati gunung Ile Warung dan Hobal. Menarik bukan?  
*****
lembata NTT
[Batu Atadei]

Kecamatan Atadei asal usulnya adalah dari batu Atadei. Ata artinya orang, Dei artinya berdiri. Jadi Atadei artinya orang berdiri. Sempat melakukan wawancara dengan tokoh adat merangkap kepala Desa Dulir tentang sejarah dan apa yang membuat tempat ini menjadi unik. Kira-kira begini ceritanya. 

Nenek moyang mereka dulu pernah mengalami bencana air bah (tsunami), semua penduduk berlari menyelamatkan diri. Kepercayaan masyarakat pada masa itu adalah tidak boleh menoleh ke belakang karena akan beresiko sangat fatal. Jadi ada seorang wanita yang pada saat kejadian air bah memaksakan diri menoleh ke belakang untuk melihat sanak saudaranya dan akhirnya kutukan itu terjadi pada wanita tersebut yaitu menjadi bantu, sehingga sekarang disebut batu Atadei.

Batu ini adalah satu-satunya batu yang tetap berdiri kokoh ketika batu-batu lain jatuh dan terkisis oleh hempasan air laut. Batu Atadei menghadap ke laut dan menyerupai seorang perempuan yang berdiri. Batu Atadei dijadikan sebagai “petunjuk alam” bagi masyarakat setempat. Kepercayaan masyarakat, jika batu itu mengeluarkan air dan basah maka menandakan musim bagus atau musim hujan yang lama dan sangat baik untuk bercocok tanam di ladang, dan jika batu tidak mengeluarkan air dan batu tidak basah maka pertanda akan terjadi musim kemarau yang berkepanjangan. Sebuah kepercayaan turun temurun. Sebagai pendatang, kami menyebutnya BMKG ala desa Dulir karena batu ini yang memperkirakan cuaca dan musim.

Jika ingin berfoto, pengunjung jangan sekali-kali naik ke atas batu Atadei tersebut karena bagi masyarakat setempat tindakan tersebut adalah pantangan. Namun cukup berfoto di samping batu itu saja.

Provinsi NTT
[Gua Atadei]
Tidak hanya batu atadei, ada juga gua Atadei yang memiliki sejarah unik. Menurut cerita, dulu begitu air bah datang masyarakat melarikan diri melalui gua batu di pinggir pantai, berlari sepanjang gua dan akhirnya sampai ke atas bukit. Ada yang selamat dan banyak juga yang meninggal selama di dalam gua. Sampai sekarang, untuk masuk ke dalam gua tidak boleh sembarang orang, hanya orang tertentu dan harus dipandu oleh penjaga gua. Katanya di dalam gua itu ada sebuah kolam, airnya sangat bersih dan jernih. Pada saat itu kami tidak membawa senter jadi hanya melihat-lihat sampai di tempat yang terang oleh cahaya matahari saja. 

Transportasi di NTT
Untuk menuju ke tanjung Atadei aksesnya sangat sulit. Tanjung Atadei terletak di deda Dulir, desa paling ujung dari Kecamatan Atadei namun letaknya di pesisir. Dari Lewoleba kita harus naik oto selama kurang lebih 4 jam perjalanan menuju desa Lerek, lebih kurang 45 KM. Ongkosnya lumanyan muruh yaitu Rp. 40.000,-/ orang. Oto adalah mobil truk yang disulap menjadi angkutan penumpang. Waktu tempuh sangat lama dengan jarak yang tidak terlalu jauh ini disebabkan oleh jalan pegunungan yang kecil dan rusak parah. Oto inilah angkutan untuk menghubungkan seluruh jalan di Kabupaten Lembata. Di lembata ada 2 terminal yaitu terminal untuk jalur timur menuju Kedang kecamatan Buyasuri dan terminal Barat untuk jalur tengah yaitu menuju Atadei dan juga jalaur barat menuju Lamalera. 

Setelah sampai di Desa Lerek, turun dari oto dan melanjutkan perjalanan ke desa Dulir. Untuk menuju desa Dulir tidak bisa menggunakan oto karena tidak tersedia jalan di sana. Namun kita bisa menyewa ojek, dan harus mengelurkan kocek sekitar Rp. 70.000,- sekali jalan. Tidak ada ojek khusus seperti di kota besar, siapa saja yang dilihat naik motor bisa langsung distop dan minta tolong untuk mengantar ke desa Dulir. Selama naik ojek harus banyak bersabar karena jalan setapak, perkebunan, hancur-hacuran yang akan kita lalui. Ojek di tempat ini sudah sangat mahir terlatih, tidak ada sertifikat tapi alam yang melatih mereka. Luar biasa. Dengan ojek kita cuma membutuhkan waktu selama kurang lebih 40 menit untuk mencapai tempat tujuan.

Saat itu, kami menuju Desa Dulir tidak dengan ojek karena jumlah siswa yang kami bawa sangat banyak. Kami memilih jalan kaki selama 4 jam perjalanan. Sangat melelahkan tapi dengan berjalan kaki kami dapat menikmati keidahan alam secara langsung. Sekalian melatih kekuatan berjalan kami. 

Kecamatan Atadei

Ini yang paling penting, begitu sampai di desa Dulir jangan lupa melapor kepada kepala  desa. Di sana tidak ada hotel atau sejenisnya yang ada cuma rumah warga. Untuk akomodasi selama di tanjung Atadei kita bisa numpang bersama warga setempat. Mereka sangat senang menerima tamu juga sangat ramah. 

Disarankan sebelum mengunjungi tempat ini kita harus terlebih dahulu mencari pemandu, ada orang yang memfasilitasi dari pertama kali berangkat sampai ke tempat tujuan. Selama berada di tanjung Atadei kita sebagai pengunjung tidak akan dibiarkan untuk menikmati kehindahan alam tanpa dipandu oleh masyarakat setempat karena tempat ini sangat bahaya bagi orang baru yang tidak mengetahui adat-istiadat di sana. Biasanya yang menjadi pemandu adalah langsung kepala desa Dulir dan ditemani oleh tokoh-tokoh adat. Tidak hanya itu, anak-anak sekolah di sana juga akan meramaikan wisata yang kita lakukan. Mereka sangat senang dengan para pendatang.

Mengenai biaya selama di sana, tidak ada aturan khusus. Karena kita nginap dan makan di rumah warga setempat maka tinggal dikondisikan dengan pihak desa saja.

Pokoknya tempat ini sangat asik. Indah dan  sangat menantang.

#Darbe. 5 Juli 2015.

Boh Rom-Rom, Si Mungil yang Tak Ketinggalan Jaman

Kue Tradisional Aceh
[Boh rom-rom]
Selama Ramadhan, di Aceh banyak dijumpai kuliner-kuliner unik, kebanyakan kuliner itu jarang dijumpai ketika bukan bulan Ramadhan. Salah satu kuliner yang unik tersebut yakni boh rom-rom. Meski tampak unik, cara membuat kue ini tak seribet yang dibayangkan. Bentuknya yang kecil dipadu dengan warna yang menarik, menghasilkan kue dengan sensasi rasa berbeda. Sebagian masyarakat Aceh menjadikan boh rom-rom sebagai sajian utama untuk berbuka puasa, hambar rasanya tanpa ada boh rom-rom di atas meja. Bentuk dan rasa yang berbeda dari sekian banyak menu khas, menandakan Aceh kaya akan makanan tradisional.

Pilihan menyajikan kue mungil ini saat berbuka, selain karena rasa manis, bahan membuatnya juga mudah diperoleh. Hanya tepung ketan, gula merah, kelapa kukur, dan pewarna alami (hijau:daun pandan). Tepung ketan diadon dengan air sampai kalis. Usai itu dibulatkan sebesar telur puyuh lalu diisi dengan gula merah. Seterusnya, masukkan adonan yang telah jadi ke air yang mendidih. Masak hingga mengambang. Jika sudah matang, lalu angkat dan guling-gulingkan di atas parutan kelapa. Mudah bukan?.

Sekarang boh rom-rom semakin modern dengan beberapa warna, tidak kaku hanya dengan warna dari daun pandan saja tetapi orang-orang mulai mencoba memberikan warna lain seperti merah atau kuning. Tujuannya tidak lain supaya kelihatan indah bervariasi. 

Tidak hanya warna saja, tempat menaruhnyapun sudah semakin menarik dengan meletakkannya di kertas tatakan sehingga kue ini setiap butirnya punya tempat sendiri. Tunggu apa lagi, silahkan bikin atau beli di tempat terdekat, mumpung masih bulan Ramadhan. 

#Darbe

Pesona Pantai Waijarang yang Tak Pernah Mati

Kabupaten Lembata
[Ceria di Pantai Waijarang, Lembata, NTT]
Pertama kali tiba di pulau Lembata, badan lelah, pikiran tidak karuan setelah seharian berada di dalam kapal Bukit Siguntang. Besoknya kami diajak untuk berekreasi ke pantai Waijarang. Pantai ini adalah tempat wisata paling dekat dengan kota Lewoleba. Kata masyarakat setempat, rekreasi ke pantai Waijarang merupakan perkenalan awal kami selama satu tahun ke depan di pulau Lembata.

Pantai Waijarang terletak di Desa Waijarang, Kecamatan Nubatukan, merupakan pantai dengan panorama yang indah. Pasir putih yang terbentang luas dihiasi riakan ombak yang agak keras memecah bibir pantai menjadi obyek tersendiri. Di pantai Waijarang para pengunjung dapat menikmati wisata pantai seperti ski air, berenang, berjemur, camping, volly pantai, bola kaki dan hiking. Penduduk Waijarang juga sering mengadakan atraksi-atraksi budaya untuk menghibur para pengunjung.

Lembata NTT
[Menatap Senja di Bukit Waijarang]
Tidak hanya itu, keindahan panorama pantai didukung dengan pemandangan bukit-bukit yang indah dan selat Boleng yang membatasi dua pulau yaitu Lembata dan Adonara. Hutan bakau juga menyajikan pesona hijau yang serasi dengan laut biru. Letaknya yang strategis menjadikan pantai Waijarang menjadi salah satu unggulan di Pulau ini.

Pantai Waijarang berhadapan langsung dengan Pulau Adonara, dibatasi lautan dengan pemandangan indah, merupakan salah satu alternatif wisata pantai terbaik di Lembata. Jaraknya relatif dekat dari Kota Lewoleba ke arah barat sekitar sepuluh kilometer dengan kondisi jalan aspal. Meskipun sebagiannya sudah berlubang, tetapi bisa ditempuh sekitar 25-30 menit menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Keindahan pantai Pasir Putih, laut yang bersih dan ombak pantai relatif keras menjadikan tempat ini diminati pengunjung.

Tidak hanya bisa menikmati keindahan pantai, dengan berjalan satu kilometer dari pantai Waijarang kita bisa menikmati gugusan pulau-pulau dari atas bukit Waijarang, keindahan pulau Adonara dengan gunung Bolengnya, Alor dan gunung Ile Ape, dari atas bukit ini kita juga bisa menikmati hamparan perahu-perahu nelayan, semua panorama ini menjadi daya tarik luar biasa untuk kenikmatan mata memandang. 

#Darbe. 2 Juli 2015

Pantai Bean, Duplikat Keindahan Phuket

Wisata Lembata
[Pantai Bean, Lembata, NTT]
Jangan ngaku sudah pernah pergi ke Lembata kalau belum berenang di pantai Bean. Begitu ungkapan masyarakat sekitar untuk memprovokasi orang yang baru mendatangi Pulau Lembata. Siapa sangka di ujung tandusnya Lembata, pulau seribu pesona ini menyimpan sejuta panorama indah, rasa penasaran mengantarkan saya untuk mengunjungi pantai yang disebut-sebut mengalahkan pantai Phuket Thailand sekalipun.

Keindahan panorama pantai dengan hamparan pasir putih serta hempasan ombak yang cukup besar, serta tebing dan gua alam. Pantai Bean merupakan pantai pasir putih yang unik dengan pasir putih dalam bentuk kristal-kristal halus yang membentang dari barat ke timur sejauh kurang lebih 5 KM dengan ombak laut yang bergulung terus menerus dan pecah secara teratur. Indah sekali.

Pulau Lembata
[Berenang di Pantai Bean]
Pantai dengan kondisi seperti ini sangat cocok untuk berselancar dan surfing. Pantainya cukup landai dan aman bagi pengunjung yang ingin berekreasi di pantai. Di pantai ini juga memiliki tebing yang cukup menarik untuk kegiatan wisata panjat tebing.

Pantai Bean terletak di ujung Pulau Lembata yang berhadapan langsung dengan Pulau Alor. Terletak di Desa Bean Kecamatan Buyasuri dengan jarak tempuh 82 KM dari pusat Kota Lewoleba, untuk menuju ke lokasi tersebut dapat ditempuh dengan angkutan darat.

Kabupaten Lembata
[Menatap Pantai Bean dari Ketinggian]

Jangan berpikir di seputaran pantai ini ada pasar ataupun hotel. Untuk sinyal dan listrik saja masi sangat minim. Biarpun tidak ada penginapan khusus, pihak desa setempat akan mengusahakan homestay untuk para pengunjung. Boleh juga membawa perlengkapan kemah sendiri dan bekal seadanya, mengenai makanan ringan kita bisa membelinya di kios-kios warga sekitar atau bisa juga membelinya di pusat kecamatan tapi kalau di pusat kecamatan lumanyan jauh dan menguras banyak tenaga. 

Untuk masyarakat sekitar jangan khawatir, mereka sangat welcome dengan tamu apalagi tamu yang berasal dari luar pulau Lembata. Bagi mereka, dengan semakin banyak tamu yang datang maka secara tidak langsung pariwisata di desa mereka mulai dikenal orang luar dan kedepannya sangat bagus untuk prospek ekonomi masyarakat.

Wisata di NTT
[Berpose bersama di Pantai Bean]
Akses menuju pantai Bean memang harus menguji adrenalin, dari pusat kota Lewoleba menuju Kedang selanjutnya melewati beberapa desa menuju pantai Bean. Setelah sampai di desa Panama, membutuhkan waktu lebih kurang 40 menit untuk menuju ke Desa Bean dengan jalan yang lumayan buruk, berlobang, berbatu dan dengan kecuraman yang lumayan menggoda. Jika menggunakan sepeda motor dan berhasil melewati semua tantangan selama di jalan maka selamat anda adalah pengendara yang hebat. 
Berapa biaya masuk ke pantai Bean? Gratis. Pariwisata pantai Bean belum dikelola dengan baik oleh pemerintah sehingga banyak wisatawan yang tidak mengetahui keberadaanya. Biarpun demikian, bagi para wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai Bean tidak akan menjadi masalah. Biarpun gratis, tidak salah juga bagi pengunjung untuk menyumbang alakadarnya kepada pihak desa setempat supaya mereka bisa menggunakan dana dari pengunjung untuk pengelolaan pantai yang lebih baik kedepannya. [DR]

Ingat, pantai Bean itu indah sekali.

#Darbe, 30 Juni 2015

10 Tips Berada di Pedalaman Bagi Orang Baru

Tips Berada Di Pedalaman
Berpose Bersama warga setempat
Mengunjungi tempat baru akan menjadi tantangan tersendiri bagi setiap orang, apalagi tempat yang akan dikunjungi adalah pedalaman yang jauh dari perkotaan. Pedalaman tidak boleh dianggap remeh karena sangat jauh berbeda dengan kota yang masyarakatnya yang lebih heterogen dan sudah terbilang maju. Namun tidak dengan pedalaman, disamping masyarakat yang masih terbilang tertinggal, medan yang menantang dan adat istiadat di sana membuat kita harus ekstra hati-hati. Salah-salah dalam bertindak maka akan mengalami akibat yang fatal. 

Nah. Agar terhindar dari hal-hal yang tidak dinginkan, ikuti tips berada di pedalaman berikut:

1. Pelajari adat istiadat setempat
Sebelum berangkat ke pedalaman, cari tahu tentang adat istiadat yang berlaku di sana. Hal apa saja yang dilarang dan diperbolehkan. Cari tahu juga hukuman apa yang diberikan kalau pendatang melanggar peraturan tersebut. Banyak sumber informasi yang bisa digunakan, mencari berbagai literatur di internet atau boleh langsung bertanya kepada orang-orang yang sudah ke sana. Bertanya kepada orang yang sudah pernah pergi lebih bagus karena informasi yang diberikan lebih valid dan akurat.

2.Kuasai wilayah tujuan
Setiap wilayah pasti memiliki karakteristik yang berbeda. Kita harus pastikan untuk menguasai wilayah yang akan dituju mulai dari iklim, medan, jalan, transportasi, makanan pokok, air, sinyal, jumlah penduduk, dan semua yang berhubungan dengan wilayah tersebut. Jika sudah menguasaainya Insya Allah kita akan merasa nyaman selama di sana.

3. Jangan Panik dan heboh
Begitu tiba di pedalaman, hal pertama yang harus diingat adalah jangan panik apalagi heboh. Jangan menunjukkan ekspresi terkejut yang berlebihan begitu melihat kondisi lingkungan suku adat setempat yang terkadang hal baru dan aneh bagi kita. Jangan pula terlalu heboh, membuat keributan, selfi-selfian, tindakan itu dapat mengganggu masyarakat setempat karena bisa dianggap tidak menghargai. Jika tidak mengindahkan bisa-bisa kita akan diusir.

4.Jaga sopan santun
Salam, senyum dan sapa (S3) merupakan trilogi dari sopan santun. Menjaga sopan santun adalah hal wajib yang harus dilakukan. Perhatikan setiap tingkah laku selama berada di pedalaman. Jangan bersikap sombong dan angkuh, menganggap kita lebih pintar dari mereka. Tunjukkan sikap ramah dengan memberi senyum, sapa dan salamlah setiap orang yang kita jumpai. Jaga juga setiap kata yang keluar dari mulut kita, jangan sampai menyakiti perasaan penduduk setempat. 

5. Segerakan adaptasi dan sosialisasi
Begitu tiba di pedalaman, usahakan untuk bisa beradaptasi secepat mungkin. Semua hal mulai dari makan, mandi, berpakaian, dan kebiasaan kita selama di kota. Semua itu harus disesuaikan dengan daerah baru kita. Disamping itu, sosialisai dengan penduduk setempat harus dilakukan dengan segera, mengunjungi para tentangga, kepala desa dan stockholder setempat. Buat sedemikian rupa supaya semua penduduk mengenal dan menyayangi kita.

6. Jangan sok tahu apalagi menggurui
Prinsipnya sederhana “jangan lakukan apa yang mereka larang dan jagan larang apa yang mereka akukan”. Jangan pernah berpikir kita lebih pintar dari orang-orang di pedalaman. Kadang, banyak hal yang kita pikir mereka tidak mengetahuinya padahal mereka lebih ahli dari kita, mungkin cuma cara mereka melakukannya yang berbeda. Bersikaplah rendah hati dengan menghargai penduduk setempat.

7. Jangan membawa Perhiasan
Tujuan ke pedalaman untuk apa? Pastinya bukan untuk jual emas!. Usahakan tidak membawa perhiasan selama di pedalaman, jika memang harus membawa, maka bawalah perhiasan yang kecil saja seperti cicin. Biarpun di pedalaman, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi pencurian dan perampokan. Medan yang cukup sulit juga membuat periasan yang kita bawa akan terjatuh ataupun hilang. 

8. Jangan tebar pesona
Gara-gara terlalu sering terbar pesona banyak orang yang datang ke pedalaman tidak pulang lagi. Mereka harus terpaksa menikah dengan penduduk lokal. Penyebabnya bayak, mulai dari diguna-guna sampai “kecelakaan”. Bersikap ramah perlu, namun bukan berarti kita harus menebar pesona. Tersenyumlah sewajar mungkin kepada setiap orang, terutama lawan jenis. Senyum atau ramah yang berlebihan bisa menarik hati penduduk lokal. Ingat, biasanya di pedalaman kita akan menjadi pusat perhatian, kita akan menjadi orang paling ganteng dan paling cantik. Semua orang akan melirik. Maka berhati-hatilah.

9. Kedepankan Komunikasi/musyawarah
Setiap orang pasti punya masalah, kecil ataupun besar. Masalah yang kita hadapi di kota akan jauh berbeda dengan di pedalaman. Pada dasarnya setiap masalah muncul karena komunikasi. Jika terjadi suatu masalah yang tidak diinginkan segeralah berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait. Musyawarahkan duduk permasalahannya. Komunikasi dan musyawarah adalah jalan terbaik dalam menyelesaikan setiap masalah.

10. Berdoa
Ini yang paling penting. Berdoa adalah kunci satu-satunya untuk keselamatan. Alam semesta beserta isinya adalah milik Allah. Jadi tidak ada tempat lain untuk meminta bantuan kecuali kepada pemilik alam. Berdoalah sesering mungkin dan jangan lupa minta kepada orang tua untuk terus mendoakan kita selama berada di pedalaman. Ingat, doa ibu-bapak tanpa hijab lho.

Semoga bermanfaat.:)

#Darbe. 24 Juli 2015.

Buah Rumbia Buah Yang Semakin Langka

Kuliner
[Sumber Gambar: Almaiyani  Yusna]
Tunjuk tangan yang belum pernah makan boh meuria?. Yaa. Saya percaya, pasti semua sudah mencicipinya. Orang Aceh kebanyakan pasti pernah menikmati kelezatan dari buah yang kaya khasiat ini. Khususnya mereka yang hidup sebelum tahun 2004. Boh Meuria sekarang semakin langka, sudah jarang kita dapati di tempat penjualan buah bahkan tidak ada lagi, paling bisa kita jumpai di perkampungan saja itupun kalau masih ada.

Boh meuria, bahasa latinnya Metroxylon sagu. Kalau bahasa nasionalnya buah rumbia. Rumbia atau disebut juga pohon sagu adalah nama sejenis palma penghasil tepung sagu. Rumbia biasanya tumbuh di rawa-rawa air tawar, aliran sungai dan tanah bencah lainnya. Pada wilayah-wilayah yang sesuai, rumbia dapat membentuk kebun atau hutan sagu yang luas. Pada masyarakat kampung biasanya daun rumbia dijadikan sebagai atap rumah, atap pondok di kebun atau sawah. 

Kalau di Aceh, buah rumbia banyak terdapat di Meulaboh, Aceh Barat. Dulu, dimasa kejayaan buah rumbia, jika orang pergi ke Meulaboh pasti membeli buah rumbia sebagai oleh-oleh. Buah rumbia agak mirip dengan buah salak, kalau buah rumbia sisik buahnya agak besar, rasanya kelat, tapi kalau sudah tua rasa kelatnya sedikit hilang dan mulai timbul sedikit rasa manis, bila ingin memakannya diasinkan dulu, baru sedap untuk dimakan. Kalau belum diasinkan paling mantap dimakan dengan patarana atau pliek `u.

Di kampong kami, dulunya banyak sekali buah rumbia ini namun entah apa penyebabnya buah rumbia sudah jarang sekali didapatkan bahkan tidak ada lagi. Satu-dua pohonnya masi dapat kita jumpai di kampung-kampung namun tidak berbuah lagi.

Selain diasinkan, boh meria biasanya dimakan bersama dengan rujak, digunakan sebagai salah satu campuran rusak bersama dengan buah-buahan lainnya. Karena buah rumbia sulit didapatkan maka para penjual rujak menggantinya dengan buah pisang muda. Padahal rujak dengan boh meuria sangat nikmat.

Dijaman saya kecil dulu, dahan rumbia atau peulepah meuria sering kami gunakan untuk bahan baku pembuatan mobil-mobilan. Butuh perjuangan untuk mendapatkan dahan rumbia terbaik, kadang kami harus masuk ke semak-semak untuk mencari pelepah rumbia yang besar, tebal dan kering. 

Untuk jaman yang serba modern sekarang, buah rumbia mulai tidak disenangi lagi untuk dimakan apalagi di kalangan anak-anak kemeren sore yang doyannya makan buah melon, apel, anggur dan lain sebagainya. Paling yang masih mau menikmati buah rumbia adalah orang-orang tua yang menyukai makanan tradisional. Mobil-mobilan dari peulepah meria pun tidak pernah dijumpai lagi di kampung-kampung semenjak lahirnya mainan-mainan modern yang instan sehingga kreativitas anak-anak sekarang sangat terbatas. Mikiiir. [DR]

[Darbe. Banda Aceh, 20 April 2015]

Kopelma, Simpang Mesra, dan Tugu Pena



"Tekad bulat melahirkan perbuatan yang nyata, 
Darussalam menuju kepada pelaksanaan cita-cita"

Sebuah tulisan tangan yang kemudian dipercantik dengan tinta emas terpampang indah di sebuah tugu yang berada di kota pelajar mahasiswa (Kopelma) yang terletak di Darussalam Kota Banda Aceh. Merupakan sebuah komplek yang dijuluki dengan Jantong hate rakyat Aceh, memiliki dua perguruan tinggi besar yaitu Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry. Lahirnya Kopelma Darussalam merupakan wujud nyata bagi perkembangan pendidikan di Aceh, sebagaimana tulisan tangan Soekarno yang terpampang sampai sekarang di tugu Darussalam tersebut. 

Kopelma memiliki sejarah panjang sebelum dan sesudah tempat ini ada, banyak duka dan suka didalamnya. Aceh hari ini adalah hadiah dari Kopelma, tanpa adanya kopelma kita tidak bisa menebak bagaimana Aceh sekarang terutama pendidikannya. Dari kopelma inilah banyak melahirkan orang-orang hebat sekelas nasional maupun Internasional. Kita patut berterimasih kepada Soekarno, kepada para pendahulu dan pejuang yang telah melahirkan Kopelma dengan dua kampus megahnya.

Kopelma memiliki aktivitas sangat sibuk setiap harinya, ribuah mahasiswa dan pelajar juga sejuta aktivitas didalamnya. Mahasiswa di kopelma ini berasal dari berbagai daerah di Aceh, luar Aceh bahkan banyak juga berasal dari luar negri. Mereka tinggal diberbagai tempat di Banda Aceh tidak hanya di seputaran Darussalam saja sehingga jalanan menuju Darussalam akan sangat padat pada pagi dan sore hari.

Untuk menuju Kopelma harus melewati Simpang Mesra, tidak ada referensi pasti asal mula penamaan Simpang Mesra tersebut. Simpang Mesra ini merupakan pertigaan yang membagi jalan Tengku Nyak Arief menjadi dua, kalau kita lihat dari pusat kota yang ke kiri menuju arah Krueng Raya, dan yang ke kanan menuju Kopelma Darussalam. Awal mula kuliah dulu pernah bertanya kepada seorang senior di kampus perihal kenapa dinamakan Simpang Mesra? Apakah banyak orang bermesraan ditempat itu? Senior ini bercerita, para mahasiswa tempo dulu sangat sedikit yang memilki sepeda motor sehingga semua aktivitas terutama berangkat ke kampus harus menggunakan robur. Robur pada saat itu merupakan alat transportasi yang sangat dicintai oleh para mahasiswa, disamping harganya murah banyak kesan dan keasikan sendiri didalamnya.

bahance.net
Robur sangat disiplin terhadap waktu sehingga dia selalu melaju dengan kecepatan tinggi. Dan robur tidak pernah sepi dari penumpang, penumpang yang tidak mendapatkan tempat duduk harus rela berdiri berdesak-desakan. Setiap kali robur tiba di persimpangan tugu pena dengan tikungan 95 derajat, abang sopir tidak pernah mengurangi kecepatan, sehingga badan robur menjadi goyong miring ke kanan, dan para penumpang tiba-tiba terhimpit akibat terkena gaya sentripetal dari perubahan arah robur, kira-kira konsep fisikanya begitu. Momen seperti inilah yang selalu ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, karena saat robur membelok dengan kencang para penumpang akan berteriak "Mess.rraaa...mesra....mesra..!". Dan dari kebiasaan itulah nama "Simpang Mesra" tercipta. Menurut cerita lain, orang pertama yang meneriakan “mesra” adalah para kernet robur untuk menghibur para penumpang yang kepanasan dan berdesak-desakan sehingga lambat laun diikuti oleh para penumpang lain. Tapi informasi ini hanyalah cerita dari mulut ke mulut belum ditemukan informasi resmi asal mula penamaan Simpang Mesra tersebut.

Tugu pena terletak di Simpang Mesra, pas di lintasan masuk menuju ke Kopelma Darusaalam. Bentuknya memiliki keunikan tersendiri, mulai dari bagian dasar hingga pada bagian puncak yang menyerupai sebuah ujung pena, oleh karena itulah tugu ini disebut dengan nama Tugu Pena, namun nama aslinya adalah tugu “Tentara Pelajar”. Tugu ini dibangun untuk mengingatkan generasi muda akan sepak terjang para pelajar Aceh pada masa perjuangan melawan penjajah dulunya. Kalau diperhatikan, tugu ini berbentuk pena dengan matanya mengarah ke langit dan dibawahnya penuh dengan efek api yang menggambarkan semangat belajar yang tinggi. Sesuai dengan tulisan pesan dibawahnya "Belajar Sambil Berjuang dan Berjuang Sambil Belajar". Tugu ini sarat akan makna perjuangan dan belajar sepanjang hayat, kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun. Semangat luar biasa pesan di tugu ini sehingga sangat cocok sebagai pemompa semangat kepada para mahasiswa dan pelajar yang akan menuju ke Kopelma Darussalam. Bukankah belajar juga bagian dari sebuah perjuangan? Perjuangan untuk sukses, untuk membanggakan orang tua. Perjuangan untuk orang banyak, perjuangan untuk agama dan perjuangan untuk bangsa tercinta.

Belum sempurna gelar sarjana kalau tidak foto di depan robur, tugu kopelma dan tugu pena. Tiga hal ini tidak bisa terlepas dari perjuangan para mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjana. Transportasi ke tempat belajar, penyemangat untuk terus belajar dan tempat belajar.

#Darbe. Banda Aceh, 3 April 2015.