LATEST POSTS

Merah Bulan di Langit Merah Arai

Gerhana BUlan Total
Detik-detik Gerhana Bulan
Fenomena alam yang langka ini aku nikmati dari pedalaman Borneo, suasana gelap gulita membuat pemandangan langit sangat menawan. Pemandangan Bulan, ditemani beberapa bintang dan diiringi sedikit gerimis. Gerhana Bulan 31 Januari 2018 adalah fenomena alam yang langka, bagaimana tidak, dua peristiwa terjadi secara bersamaan saat itu; pertama, terjadi saat supermoon yaitu posisi Bulan pada saat gerhana Bulan total bertepatan pada momen ia mencapai jarak terdekat dengan Bumi. Hal ini jelas akan membuat Bulan tampak lebih besar dan lebih terang di langit. Kedua, terjadi saat bluemoon yaitu sebuah istilah untuk menyebut Bulan purnama kedua yang terjadi pada satu Bulan kalender masehi, bukan bermakna Bulan berwarna biru. Alih-alih berwarna biru, pada puncak gerhana Bulan total terjadi justru ia muncul dalam rona kemerahan, yang disebut merah darah.

Aku mendapatkan posisi yang pas untuk memandangnya saat itu. Dulu, aku melihat gerhana Bulan di kota dengan kerlap-kerlip lampu, suasana demikian membuat pemandangan gerhana menjadi tidak nikmat, ditambah lagi ramainya orang namun hanya sedikit yang memiliki rasa ingin tahu terhadap fenomena alam tersebut sehingga nuansa sains tidak terlalu tampak. 

Fenomena super blue blood moon bisa kami lihat dengan sempurna di atas langit desa Merah Arai. Gerhana Bulan tepat pada saat peristiwa supermoon dan bluemoon. Anak-anak sekolah sudah kami kondisikan untuk mengamati fenomena langka ini. Saat jam sekolah, para guru sudah memberikan pengetahuan awal tentang gerhana Bulan dan kami akan melakukan observasi langsung di malam harinya. Besoknya, saat pelajaran IPA anak-anak harus melaporkan apa yang telah mereka amati. 

Membunyikan sesuatu untuk mengusir Ular Gompa
Menariknya, ini bukan hanya fenomena sains namun juga fenomena leluhur bagi masyarakat di desa ini, yaitu suku Dayak. Ada prosesi adat yang tak kalah menarik malam itu, hampir-hampir pemahaman sains hilang. Menurut suku Dayak, gerhana ada dua jenis yaitu gerhana Bulan merah atau darah dan gerhana putih atau embun, setiap jenis ini memiliki makna tersendiri. 

Bagi masyarakat Dayak, gerhana Bulan adalah peristiwa yang menakutkan. Saat Bulan berwarna merah artinya darah dan akan terjadi musibah, banyak orang akan sakit, gagal panen, banjir dan musibah lainya. Jika Bulan berwarna putih artinya akan baik-baik saja bahkan akan banyak kemujuran. Menurut mereka, di langit sana ada ular besar yang akan memangsa Bulan saat gerhana tiba, ular tersebut diberi nama Gompa. Jika Gompa berhasil memangsa Bulan, maka kiamat akan segera tiba. Proses ular memangsa Bulan ditandai dengan tampaknya gelap di sebagian lingkaran Bulan. Kita melihat "gigitan" gelap pada wajah Bulan yaitu keluarnya Bulan dari bayangan umbra Bumi (secara sains). Disamping itu, Bulan terus bergerak berlari menghindar dari kejaran Gompa.

Semangat menjelang ular Gompa melepaskan Bulan
Menjelang dimulai dan berakhirnya gerhana, itu adalah saat-saat krusial bagi masyarakat Dayak. Masyarakat sudah berkumpul di lapangan terbuka atau tempat yang telah disiapkan oleh pihak Desa dan ada juga yang memilih berkumpul di depan rumah masing-masing. Mereka membunyikan gong, mesin sinso, mesin speed, senapan rakitan, kuali masak, ember, dan segala sesuatu yang dapat mengeluarkan suara dengan tujuan supaya Bulan terlepas dari belenggu ular Gompa. Bunyi-bunyian yang berasal dari Bumi membuat ular raksasa selalu gagal memangsa Bulan. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan teriakan-teriakan dan juga menari-nari. Setelah gerhana selesai, semua aktivitas tadi dihentikan dan semua masyarakat bersorak senang gembira sebagai tanda telah berhasil menyelamatkan Bulan dari cengkraman ular raksasa yang berada di luar angkasa tersebut. 

Jujur saja, proses pengamatan secara sains tidak bisa dilakukan dengan sempurna. Tidak ada diskusi, apalagi pertanyaan mengapa dan bagaimana gerhana Bulan bisa terjadi? Anak-anak ikut serta bahkan menjadi ujung tombak memukul benda-benda yang bisa berbunyi. Ini adalah penampakan ritual adat yang langka dan hampir punah. Beruntung aku bisa menyaksikannya. 

Saat pelajaran IPA, anak-anak mampu menjelaskan tentang gerhana Bulan secara sains bahkan juga menjelaskannya secara adat atau budaya. Pengetahuan awal proses terjadi gerhana, ditambah pengamatan langsung membuat pengetahuan anak-anak tentang gerhana Bulan sangat sempurna dan kami gurupun senang merona seperti purnama. 

Menarik sekali mengamati gerhana Bulan secara sains dan ritual adat. Sesekali cobalah datang ke tempat kami, desa yang permai, Merah Arai.

Merah Arai, 01 Februari 2018

Anak dengan Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan Kinestetik
Sebelah Kiri:Okta Manasie
Namanya Ise, lengkapnya Okta Manasie,  anak yang lahir pada tanggal 16 Juni 2005, sekarang sudah berumur 12 tahun. Dia tercatat sebagai siswa kelas IV, dan dua kali tidak naik kelas. Ise dulunya lahir prematur,  usia kandungan ibunya tujuh bulan dan lahir dengan bobot 1 kg, kecil sekali saat itu, kata ayahnya. 

Di sekolah, Ise sedikit usil namun dia tidak begitu nakal. Ise tidak membuat kegaduhan hanya saja gerak geriknya sedikit mengganggu mata yang melihat, dia tidak bisa duduk diam dan selalu ingin bergerak. Cuek dan tidak sedikitpun peduli dengan pelajaran yang diberikan guru di kelas, jangankan mencatat atau menjawab pertanyaan guru, memperhatikanpun tidak. Dia asyik memperhatikan pekerjaan teman-temannya di kelas. Saking kesalnya dengan tingkah Ise, mau rasanya melempar dia dari luar jendela. Saat jam istirahat dia lebih banyak bermain bahkan semua permainan mau diikutinya, sangat aktif dan selalu menjadi pemimpin pada setiap permainan. 

Banyak orang pesimis dengan masa depan anak ini, termasuk orang tuanya sendiri, bagaimana tidak, sudah 12 tahun belum bisa membaca dan akan terancam tidak naik ke kelas V. Saya beranggapan sebaliknya, anak ini adalah mutiara, suatu saat nanti Ise akan menjadi orang hebat, hebat pada bakatnya sendiri. Bukankah Isaac Newton juga mengalami kondisi seperti Ise?. 

Ise adalah anak yang masuk dalam kategori kebutuhan khusus, dia harus dididik secara khusus pula. Di kelas, dia boleh tidak dijadikan pusat perhatian dan seyogyanya guru fokus pada siswa yang lain. Biarlah Ise menjadi pelengkap dan penghibur, namun di luar kelas dia harus menjadi pusat perhatian.

Setelah mengamati aktivitas Ise di sekolah dan di luar sekolah, saya mulai menemukan pintu kecerdasan dia, rupanya kecerdasannya adalah kinestetik (gerak). Setiap sore saya mengajak Ise bermain di rumah, sekedar santai-santai, memancing di sungai dan berkeliling Desa. Aktivitas-aktivitas psikomotorik ini saya selipkan dengan membaca dan berhitung. Kemanapun kami pergi, buku bacaan selalu dibawanya. Saya melihat perkembangan luar biasa, meskipun belum bisa membaca dan berhitung setidaknya Ise sudah punya modal besar yaitu kemauan untuk belajar. Catatan yang perlu diperhatikan dalam menangani Ise yaitu jangan pernah dipaksa, jangan biarkan dia jenuh dan beri kesempatan tubuhnya tetap bergerak. 

Kasus seperti Ise hanya ada satu-satunya di sekolah kami, saya mengambil peran untuk menanganinya. Biarpun saya belum cukup ilmu untuk menangani kasus seperti ini namun akan saya upayakan berbagai cara dan terus mempelajari berbagai metode dan ilmu yang menyangkut penanganan anak-anak yang berkebutuhan khusus,terutama anak seperi Ise. 

Target saya, semester depan Ise harus bisa membaca dan berhitung dan naik ke kelas V. Insya Allah berhasil. Amin.

Merah Arai, 3 Desember 2017

Gadis yang Aku Rindukan

Gadis yang kurindukan
Coba lihat ke langit, ada miliaran bintang. Apa lagi jika melihatnya disaat bulan terang, cantik sekali. Gugusan yang luar biasa, bimasakti membentang indah. Aku melihatnya dari atas pulau Borneo, tepat di langit Khatulistiwa pemandangan langit nampak lebih indah.

Malam ini dingin sekali, udaranya masuk sampai ke relung tulang. Malam kian mengajakku untuk tidur tapi langkah tak mau beranjak dari kursi kayu yang aku letakkan di halaman rumah. Nyanyian jangkrik dan semut hutan begitu syahdu. Suara riakan sungai yang hanya berjarak 50 meter terdengar jelas di telingaku, iramanya merdu. Ada banyak suara-suara mahkluk Tuhan yang malam ini sedang beraktivitas, mungkin saja salah satunya adalah makhluk halus. Suara-suara itu membentuk nada-nada indah untuk relaksasi di tengah malam yang sunyi. 

Biarpun sedang sendiri, jauh dari pusat keramaian. Malam ini aku tidak terlihat takut. Duduk sambil menengadah ke langit, memandang keindahan alam semesta. Seraya bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan untukku bernafas. Beginilah caraku merindukannya. Gadis yang namanya selalu kusebut dalam doaku. Saat gelap seperti ini, gadis itu hadir memberi seberkas cahaya, malam yang gelap menjadi malam yang indah. Aku tersenyum memandanginya. Betapa indah gadis itu, berlama-lama menatapnya hatiku kian sejuk. Melihat ke langit seolah aku dapat melihat aktivitasnya malam ini, saat ini mungkin dia sedang tidur. Selamat istirahat, sayang. 

Langit, hutan, sungai dan bintang di tempat ini selalu bercerita hal sama. Tentang rinduku yang terus mengalir, tentang kata-kata yang tak mau berhenti, tentangmu. Di tempat yang sunyi ini, aku mewakilkan rinduku pada bintang-bintang di langit sana. Supaya rindu itu sampai padanya. Rindu ini terlampau berat untuk bisa kupikul sendirian, terlampau besar untuk bisa kulempar ke arah bintang di langit sana, dan rindu ini tidak akan aku biarkan hilang begitu saja, percayalah.

Rindu itu sebuah kebatinan rasa yang harus tersampaikan kepada pemiliknya bagaimanapun caranya. Aku punya cara dan tahu metodenya. Diapun Begitu. Rindu tak diciptakan oleh jarak, tapi perasaan. Aku merindukannya bukan karena ia jauh, namun karena ia telah ada di dalam jiwa dan ragaku.

Rindu seperti ini tidak akan lama lagi, akan segera berakhir. Akan diobati dengan pertemuan yang teduh. Allah sudah merencanakan aku dan kamu bertemu dalam satu waktu. Saat ini, biarlah kita bertemu dalam rindu yang bertumpuk-tumpuk di atas sajadah, menggulung-gulung hingga besar di langit sana dan bercahya mengalahkan bintang kejora.

Cinta, bersabarlah dalam menanti seperti ketidakinginan kita agar terompet Sangkakala tak segera berbunyi sebelum amal kita terasa cukup. Sesuatu akan datang pada waktunya masing-masing sebab sudah Allah takdirkan demikian. Bukankah sekuat apapun kita mengusahakan datangnya senja ketika fajar baru saja terbit, itu tidak akan terjadi begitu saja bukan? Kita tetap harus menunggu waktunya tiba, melewati siang. Jadi, bersabarlah.

Aku masih takut dengan sunyi. Apalagi kalau gelap pekat. Di sini, kuntilanak tidak takut dengan manusia. Coba saja jika kamu ada di sampingku. Sunyi dan gelap akan membuat kuntilanak menjauh ketakutan. Cahaya cinta akan membuat siapa saja yang mendekat akan menjauh. 

Cinta, mari saling mendoakan, biar rindu ini saling bertaut dan proposal halal yang telah kita sampaikan segera dikabulkan. Ingat, kamu harus sombong pada laki-laki lain untuk menjaga perasaan lelakimu, akupun begitu.

Nanti, bintang-bintang indah yang aku lihat di atas langit desa ini, akan kita lihat bersama. Di sini, di Desa Merah Arai, pedalaman Kalimantan. Akan kupastikan kau terhibur dan tidak minta pulang jika bersamaku di tempat ini. Tahun depan, ikut yaa. 

Jaga hati, jaga diri dan jaga Iman. 

Merah Arai, 01 Desember 2017

Ini Sekolah Bukan Kandang Ayam

SDN Sintang Kalbar
SDN 15 Merah Arai Kab. Sintang, Kalbar
Bangunannya sudah tidak layak, berlantai tanah, beratap seng, dindingnya mulai lapuk, sepintas jika tidak ada papan nama sekolah orang akan menyebutnya kandang ayam. Namun percayalah, bangunan itu adalah tempat kami belajar, tempat kami mengukir masa depan, tempat anak-anak hebat calon pemimpin masa depan menimba ilmu. 

SDN 15 Merah Arai, didirikan pada tahun 1980. Sekolah inilah yang membuat masyarakat bisa menghitung berapa jumlah dan harga getah karet yang mereka dapat setiap bulannya. Sekolah inilah yang membuat masyarakat bisa membaca visi dan misi calon kepala daerah dan Presiden. Sekolah ini adalah harapan bagi masyarakat di desa Merah Arai, harapan untuk hidup lebih baik. 

SDN 15 Merah Arai memiliki siswa keseluruhan 99 orang. Sekolah induk berada di dusun Mawang Manis, pusat desa Merah Arai, memiliki 6 kelas dan 6 orang guru (3 PNS dan 3 honorer), sedangkan kelas jarak jauh berada di dusun Pintas, memiliki 3 kelas yaitu kelas I, II dan kelas III, hanya memiliki 1 orang guru (honorer). Gurunya mengajar dengan kelas rangkap dengan pola pagi sore. 

Siswa di sekolah ini berasal dari 4 dusun yaitu Mawang Manis, Natai Bungkang, Pandau dan Pintas. Jarak dusun pandau ke sekolah 20 menit dengan berjalan kaki, sedangkan jarak dusun terjauh yaitu Pintas 90 menit. 40 persen siswanya berasal dari Pandau dan Pintas. Bayangkan, setiap harinya mereka menempuh perjalanan sejauh itu untuk menimba ilmu. Kasihan sekali anak-anak itu jika para guru tidak memberikan pelayanan yang prima dan pengajaran yang baik. Dosa besar rasanya. 

Kelas jarak jauh, baru didirikan pada tahun 2012. Jika tidak didirikan maka anak-anak di dusun tersebut tidak bisa sekolah. Seumuran anak kelas I sampai kelas III belum berani untuk datang ke sekolah induk dengan jarak 1.5 jam, orang tuanyapun tidak mau mengantar setiap harinya dengan kesibukan mencari rezeki di ladang dan kebun. Untuk mengatasi persoalan itu, maka didirikanlah kelas jarak jauh dengan berbagai kekurangannya. Setelah naik kelas IV barulah anak-anak di dusun Pintas belajarnya di sekolah induk. Jumlah mereka lumayan banyak, biasanya mereka pergi dan pulang sekolah bersama-sama. Rombongan Pintas menumpuh 70 menit ke dusun Pandau dan rombongan Pandau sudah menunggu dan mereka bersama-sama menuju sekolah induk dengan tambahan waktu 20 menit lagi. Bukankah seru sekali seperti ini? 

Jika banjir, biasanya anak-anak dari Pintas dan Pandau tidak bisa ke sekolah karena tidak bisa lewat. Jalan yang mereka lalui adalah sepanjang pinggir sungai. Jika melewati hutan, terlalu jauh dan banyak sungai-sungai kecil tanpa jembatan, mereka tidak akan mampu. Sekolah pasti kelihatan sepi tanpa anak-anak dari Pintas dan Pandau. 

Di sekolah kami, anak-anaknya cantik dan ganteng, namun sayang mereka ke sekolah banyak yang tidak menggunakan sepatu, baju yang dipakaipun kumal dan ada robek-robeknya. "Pakaian bukanlah kendala, tapi semangat belajarnya" kata anak kelas VI serempak. Saya angkat topi, salut. You are kid jaman now.

Mohon Bantuan fasilitas sekolah
mengintip dunia
Fasilitas bukanlah kendala untuk terus belajar. Panas seng dan uap dari tanah, kami anggap sejuk karena masih ada pendingin alam sepoi-sepoi yang keluar masuk dari lobang-lobang dinding. Kami dapat mengintip aktivitas belajar dari kelas lain. Jika ada anak yang sedang mengintip, begitu ditegur "apa yang kamu lihat? "saya melihat dunia tetangga pak, saya melihat Jakarta, ibu kota negara dan Pulau Sumatera". Begitu cara mereka menghibur diri. 

Di sini, saya belajar banyak, belajar dari anak-anak yang semangatnya dalam mencari ilmu melampaui semangat saya memberikan ilmu, saya tidak boleh kalah, setidaknya seimbang. Mereka bisa bahagia dengan kondisi seperti ini karena kebahagiaan bisa mereka ciptakan sendiri. 

Terkadang, untuk bisa bahagia kita tidak harus selalu melihat bentuknya, namun kita hanya perlu merasakan.

Merah Arai,  28 November 2017.

Akhirnya Banjir Juga

Banjir di Desa Merah Arai
Banjir di Desa Merah Arai
Pertama sekali tiba di Desa Merah Arai, banyak hal yang saya tanyakan pada masyarakat termasuk soal banjir. Rumah yang saya tempati adalah rumah dinas Kesehatan, sudah tiga orang petugas kesehatan yang tinggal di rumah tersebut, tidak sampai setengah tahun mereka minta pindah ke rumah lain, alasannya adalah banjir. Rumahnya bagus, permanen, hanya berjarak 50 meter dari pinggir sungai namun jika terjadi banjir sangat merepotkan.

Kata masyarakat, banjir terjadi setahun 2 kali, saat akhir tahun dan awal tahun. Saya paling takut kalau banjir bandang, untunglah banjir di sini bukan banjir bandang melainkan banjir air sungai yang meluap secara perlahan. Seringnya terjadi banjir sehingga waktu pertama tiba di desa ini, masyarakat langsung bergotong royong membuatkan saya tempat tidur yang tingginya 1.3 meter. Waktu itu saya sempat protes "kenapa tinggi sekali, pak?" Tanya saya. "Biar tidak kena banjir", jawab mereka. Waktu itu, saya belum paham bagaimana kondisi banjir di sini. Sekarang saya mulai mengerti, banjirnya lumayan ekstrim. 

Senin, 27 November 2017, pagi harinya sebelum berangkat sekolah, saya melihat air sungai sudah masuk area jalan tapi belum ada tanda-tanda akan terus membesar dan saya masih memberi status siaga 2. Barang-barang di rumahpun masih saya biarkan begitu saja, tidak dipindahkan. 

Menjelang pulang sekolah, pak Hasan, tetangga saya memberi kabar kalau air mulai naik. Mengingatkan supaya saya mengemas barang sehingga tidak basah. Begitu saya pulang, air belum masuk ke rumah dan saya meningkatkan status menjadi siaga 1. Air tidak kunjung surut, bahkan terus semakin membesar, akhirnya saya menyerah dan mulai mengangkat semua barang di lantai ke tempat yang tinggi. Anak-anak sekolah mulai berdatangan untuk membantu mengungsikan barang-barang saya, karena masih siaga 1, biar di rumah saja, belum saatnya mengungsi.

Menjelang sore, saya melihat ke sungai, banyak kayu besar dan sampah hutan yang lewat, airpun semakin deras, langit mendung dan air semakin naik. Rupaya di hulu sungai sudah hujan lagi. Tidak mau mengambil resiko, saya ungsikan semua barang ke rumah kepala sekolah yang berada di depan rumah saya dan dua kali lebih tinggi dari rumah saya. Pengalaman banjir di desa ini, katanya air tidak pernah sampai setinggi teras rumah kepala sekolah. Syukurlah, pikir saya. 

Malamnya air mulai stabil, besok pagi akan ada tanda-tanda surut. Saatnya gotong royong membersihkan lumpur di rumah. Semoga kejadian ini tak terulang lagi. Sangat merepotkan sekali. Ampun deh.

Merah Arai, 27 November 2017.

Menyiapkan Generasi Emas

Siswa Pedalaman Sintang
Generasi Emas dari SDN 15 Merah Arai
Ulang tahun Indonesia emas pada tahun 2045 diharapkan bangsa ini akan lebih maju. Tidak lama lagi, 28 tahun dari sekarang. Butuh kerja keras dan kerja cerdas dari semua pihak untuk mewujudkannya. 

Generasi sebelum reformasi yang katanya generasi cerdas, pada 2045 nanti tidak lagi terlihat, apakah masih hidup atau tidak. Jika masih hidup, paling sudah tidak sehat lagi. Lagi pula generasi yang sekarang menjadi leader di berbagai lini pemerintahan tidak juga mampu memberikan perubahan yang singnifikan terhadap bangsa ini. 

Generasi dibawahya, generasi pasca reformasi, generasi kritis dan tokoh perubahan, kita juga tidak bisa berharap banyak dari mereka, kenapa demikian? Karena ilmu, karakter dan metode kerja, mereka dapatkan lansung dari generasi di atasnya dengan cara meniru dan diwariskan. Mereka bersentuhan langsung dengan generasi tua. Pada akhirnya, mereka akan mengulang kegagalan yang sama dari senior-seniornya. Lalu, pada siapa kita berharap? 

Generasi Z, adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1994-2010, mereka sedang berada di bangku sekolah, mereka sekarang sedang dididik menjadi pemimpin masa depan, mereka tersebar di selurug Indonesia dari Sabang sampai Merauke, mereka tidak hanya ada di kota tapi banyak sekali di pelosok-pelosok Indonesia. Genedrasi Z yang berada di desa cendrung belum terkontamidasi dengan effek buruk jaman dan teknologi, effek yang dikenal dengan Kid Jaman Now versi negatif.

Jarang lini-lini penting bangsa ini diisi oleh anak-anak pedalaman Indonesia. Anak pedalaman banyak tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi, motivasi untuk sekolah apalagi kuliah sangat minim. Anak pedalaman tidak punya kesempatan dengan berbagai faktor penghambat untuk bisa mengakses pendidikan yang lebih layak dengan guru yang hebat seperti anak-anak kota pada umumnya. Ini yang membuat anak pedalaman sulit berkembang, bukan mereka bodoh tapi mereka belum mendapatkan kesempatan. Kesenjangan pendidikan di kota dan pedalaman masih jelas terlihat. Penerapan sila ke-5, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam bidang pendidikan belum terlaksana sebagaimna mestinya.

Bagaimana kalau anak pedalaman diberi kesempatan?  Mari kita uji coba dan lihatlah hasilnya nanti. 

Salah satu program nawacita Presiden Jokowi, membangun Indonesia dari pinggir, terkhusus di bidang pendidikan merupakan angin segar bagi kemajuan bangsa tercinta, ini langkah awal untuk memotong tembok pembatas antara pendidikan kota dan  pedalaman. September lalu pemerintah telah mengirimkan ribuan guru muda untuk bertugas di daerah terdepan, terluar, tertinggal dan terpencil. Guru-guru ini ditugaskan selamanya di sana. 

Mereka adalah guru muda yang nyalinya sudah teruji dan tahan banting dengan fasilitas dan alam pedalaman. Bersama guru-guru setempat, mereka akan menjadi katalis menuju Indonesia emas yang jauh lebih baik.  Para guru ini telah mewakafkan jiwa dan raganya untuk dunia pendidikan, mereka sudah berkorban banyak dan siap menjadi garda terdepan dalam menjaga bangsa ini dari kebodohan. Kita harus percayakan sepenuhnya pada mereka, kepada guru-guru pedalaman. 

Ada banyak Sekolah Dasar di pedalaman Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua sangat memprihatinkan, dengan fasilitas belajar seadanya dan jadwal sekolah semaunya. Banyangkan saja, di pedalaman, ada anak- anak SD yang mungkin sekolahnya mau ditutup, mau runtuh, sekolah yang tidak cukup guru, anak-anak yang hampir tidak mau sekolah lagi bahkan ada yang sudah tidak sekolah. Kasus-kasus seperti ini yang akan dihadapi oleh para guru dengan penuh kesabaran dan totalitas. Guru-guru ini akan menciptakan suasana di pedalaman sedemikian rupa sehingga tidak ada alasan bagi anak-anak di sana untuk tidak sekolah. 

Khawatirnya, niat baik dan kerja keras untuk kemajuan bangsa ini akan pupus oleh oknum-oknum jahat yang mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok lalu meletakkan uang di atas segala-galanya. Takutnya mereka berada pada posisi mempengaruhi dan pengambil kebijakan. Maka terhambatlah proyek masa depan yang mulia ini, hancurlah harapan anak-anak pedalaman, menderitalah pejuang-pejuang pendidikan di pedalaman dan kita akan berada pada masa di mana orang tidak bermoral mengatur bangsa ini.
Ayolah, mari dukung dunia pendidikan, mari pro daerah pedalaman, ciptakan infrastruktur yang layak di pedalaman, dan munculkan kebijakan yang pro pedalaman. Daerah pedalaman juga Indonesia, orang pedalaman mempunyai hak yang sama seperti orang kota dalam segala hal. 

Untuk para aktivis, politisi dan pemangku kebijakan. Mari kita bagi tugas. Kalian silahkan mengatur dan mengelola negara ini sebaik mungkin. Biarkan kami guru-guru yang menyiapkan pemimpin-pemimpin masa depan yang bermoral, hebat, dan cinta Indoneaia. Mari kita bersepakat untuk Indonesia yang lebih baik.
Tahun 2045 nanti semua lini bangsa ini, mulai dari tingkat kepala desa sampai Menteri banhkan Presiden akan di isi oleh anak-anak dari pedalaman. Kami ingin buktikan anak pedalaman juga hebat, cuma kesempatan saja yang belum mereka dapat. Sekali lagi, kami janji akan menciptakan manusia-manuaia hebat di masa akan datang. 

Selamat Hari Guru.

Sintang, 25 November 2017