Home » » Akhirnya Merah Putih Berkibar di Gunung Ile Ape

Akhirnya Merah Putih Berkibar di Gunung Ile Ape

[Gunung Ile Ape]
Mengikuti jejak perjuangan dan semangat yang dikobarkan para pendahulu kita sungguh sebuah perbuatan yang sangat terpuji, dimana kita bisa mengambil pelajaran yang begitu berharga akan artinya sebuah kecintaan terhadap tanah air, serta mencoba menghayati nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya. 17 Agustus adalah momentum besar yang selalu dimanfaatkan oleh setiap masyarakat Indonesia. berbagai ragam bentuk kegiatan yang dilakukan dengan satu tujuan memperingati hari kemerdekaan ibu pertiwi tercinta. Upacara 17 Agustus di puncak gunung salah satu fenomena yang paling banyak dilakukan oleh para pendaki saat ini, menurut mereka ini sangat unik dan berkesan.

Mendaki gunung tidak hanya dilakukan oleh komunitas-komunitas pecinta alam saja, semua orang bisa melakukannya asalkan punya kemampuan dan semangat untuk menjaga dan mencintai alam sekitar. Hal inilah yang menjadi motivasi kami untuk mendaki dan mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Gunung Ile Lewotolok yang lebih dikenal dengan Gunung Ile Ape, tanpa persiapan yang matang dan sedikit pengalaman dengan bermodalkan semangat nasionalisme yang tinggi saya bersama 15 orang teman SM-3T Aceh mencoba untuk menancapkan Merah Putih di puncak tertinggi di Kabupaten Lembata tersebut.

Ile Ape secara harfiah adalah gunung berapi, Ile berarti gunung, Ape berarti api. Ile Ape = Gunung Api. Gunung Ile Ape memiliki ketinggian 1.450 meter di atas permukaan laut. Menurut catatan, gunung Ile Ape sudah meletus sebanyak delapan kali sejak tahun 1660. Lalu meletus lagi tahun 1819, dua tahun kemudian yakni 1821 kembali meletus. Kemaudian pada tahun 1864, 1889 dan terakhir pada tahun 1920. Gunung Ile Ape tidak berdiri sendiri, ada banyak desa di kaki gunung tersebut dimana hampir semua masyarakat desa menggantungkan hidup dari gunung ini terutama berkebun dan tambang.

Gunung Ile Ape  di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu ikon dari keindahan alam Indonesia. Tidak heran Ile Ape menarik banyak wisatawan mancanegara untuk mendakinya dan melihat langsung keindahan Gunung Ile Ape. Selain itu Gunung Ile Ape merupakan salah satu spot terindah dan diincar oleh banyak fotografer karena medannya untuk mendaki terbilang sulit dan butuh persiapan yang matang. Dibutuhkan banyak persiapan dan perlengkapan untuk bisa mendaki dengan nyaman.

Ketika kita mendengar Gunung Ile Ape yang terbayang adalah keindahan gunung ini dan cerita-cerita seru selama pendakian, tidak heran Gunung Ile Ape merupakan sebuah gunung yang esksotis dan sebuah ikon di Pulau Lembata, NTT. Dengan tingginya yang mencapai 1.450 meter dari permukaan laut (mdpl), gunung ini pun mencatatkan dirinya sebagai gunung api tertinggi di Kabupaten Lembata.
                                                      *****
[Di desa kaki gunung]
Jam 07.30 WITA kami mulai bergerak dari Desa Lewotolok untuk melakukan pendakian, sebelumnya sebuah ritual adat dilakukaan oleh tuan tanah atau kepala suku dengan memercik-mercikkan air yang dicampur dengan rempah-remapah, kepercayaan masyarakat setempat ritual ini bertujuan untuk memberi keselamataan kepada kami selama pendakian sehingga pulang dengan selamat, sebuah kepercayaan masyarakat setempat yang harus kami hargai sekalipun hati nurani mengatakan tidak. Ritual diakhiri dengan beberapa nasehat mengenai seluk beluk, tantangan dan pantangan selama di Gunung Ile Ape. Bismillah, pendakian dimulai dengan berjalan beriring-iringan dan dipandu oleh Om Matias. Matias adalah warga setempat yang sudah biasa memandu para pendaki-pendaki yang ingin menuju ke puncak Ile Ape.

[Pertengahan puncak gunung]
Butuh waktu kurang lebih lima jam untuk dapat mencapai puncak Ile Ape. Dalam pendakian kami disungguhi dengan pemandangan yang menabjubkan, setengah perjalanan; hamparan laut dan indahnya pemukiman membuat mata terpana dan mulut akan mengeluarkan kata WOW. Sebuah ciptaan Allah yang sangat luar biasa. Selama perjalanan kerja sama sangat kami kedepankan karena medan yang dihadapi sangat mematikan mulai dari batu-batu besar dan melawati jalan setapak yang berdindingkan jurang yang sangat dalam, sekali kehilangan kosentrasi maka jurang akan menanti.

[Bukit kasih sayang]
Kalau digunung Simeru ada “bukit cinta” dengan mitosnya tidak boleh melihat kebelakang karena akan membuat orang tersebut putas cinta. Berbeda halnya dengan Gunung Ile Ape, kalau Ile Ape ada “bukit kasih sayang”, selama melewati bukit itu dengan hamparan rumput ilalang yang indah medan terjal berjurang dan berbatu kami diharuskan untuk memberikan kasih sayang kepada orang-orang yang berada didekat kami; bagi laki-laki harus memegang perempuan dan membantu sekaligus memastikan sang perempuan bisa berjalan dengan nyaman selama mendaki bukit itu, begitu halnya dengan perempuan harus memperhatikan dan memastikan sang laki-laki selalu menjaganya. Sebuah kasih sayang yang sangat romantis dengan tidak memandang kekasih atau bukan, selama orang itu berada didekat kita, pria atau perempuan, kenal atau tidak, kasih sayang tetap harus diberikan sehingga semuanya bisa mencapai puncak dengan selamat. Dan tidak sedikit `cinta` itu bersemi dibukit kasih sayang ini karena perhatian dan pendekatan yang lebih diperlihatkan dan dirasakan oleh sepasang anak manusia. Kalau bukit cinta di Simeru adalah mitos tapi bukit kasih sayang di Ile Ape adalah fakta dan wajib untuk dilakukan. 

[Menuju Puncak]
Perjalanan yang jauh dan sangat melelahkan tidak membuat nyali kami ciut apa lagi ketika melihat puncak Ile Ape semakin dekat, seolah puncak itu memanggil kami dan memberikan sedikit semangat. Berjalan santai dengan beberapa kali istirahat akhirnya kami berhasil mencapai puncak Ile Ape. Jam menunjukkan pukul 12.35 WITA. Cuaca panas, bau belerang, lelah, pegal, lapar, semuanya terabaikan ketika kaki kami menginjakkan puncak itu, sedikit merebahkan badan sambil memandangi cerahnya atap Bumi dengan sekali-kali awan menabrak di wajah: Subhanaallah, luar biasa ciptaan-Mu ya Allah. Tidak luput dari pandangan kami kawah belerang gunung api dengan asapnya yang kadang-kadang menjengkelkan hidung membuat suasana puncak semakin sempurna, seperti terasa diatas awan. Kami jadi sadar, betul kata orang-orang; sebuah pendakian yang koyol, buang-buang waktu dan  tenaga, akan kita rasakan bahwa itu penting, berkelas dan sebuah kepuasan dan kebahagiaan yang tak ternilai ketika kita sudah mencapi puncak sebuah gunung. Disinilah kita akan menyadari bahwa untuk mencapai suatu impian dan cita-cita, kita harus berkerja keras dan berjuang habis-habisan sekali pun sejuta halangan dan tantangan menghampiri kita.

[Upacara bendera]
Setelah istirahat sejenak dan makan siang. Tiba saatnya untuk melakukan upacara pengibaran bendera Merah putih sekalipun agak telat dari jadwal yang semestinya tapi kekhitmatan dalam upacara sangat menentukan kualitas nasionalisme seseorang. Sedikit gotong royong untuk mempersiapkan lapangan upacara dengan perlengkapan seadanya, Alhamdulillah Bendera Merah Putih berhasil dikibarkan dipuncak gunung Ile Ape Kabupaten Lembata dengan penuh haru dan bangga. Sebuah semangat yang ditularkan oleh Merah Putih untuk selalu mencintai tanah air dan bangga menjadi orang Indonesia.

Setelah melakukan upacara dan menuliskan monumen SM-3T Aceh, kami memilih untuk tidak menginap di puncak Ile Ape karena persiapan yang kurang matang dengan stok makanan yang tidak mencukupi, kami sepakat untuk turun dan menginap di tempat penginapan penduduk. Perjalanan yang sama kami lewati tapi kali ini sedikit lebih mudah karena tidak harus mendaki lagi. Pukul 21.20 WITA kami berhasil sampai di pemukiman penduduk, berkemas dan beristirahat.

Pendakian ini menjadi pendakian yang sangat berkesan bagi kami dan merupakan cerita unik bagi masyarakat setempat. Ada banyak rekor yang kami dapati versi kepala suku setempat: orang Muslim pertama yang mendaki gunung Ile Ape, perempuan pertama dan berjilbab yang mendaki gunug Ile Ape, orang Aceh pertama yang mendaki gunung Ile Ape dan dipastikan kami adalah orang pertama yang melakukan upacara peringatan 17 Agustus di puncak gunung Ile Ape tersebut yang selama ini belum pernah dilakukan, pengibaran Merah Putih sudah ada yang melakukan tapi tidak dengan upacaranya.
                                           ******
Sebuah perjalanan yang memberikan arti pentingnya sebuah kerjasama,kerja keras, peduli, setia, kasih sayang, gotong-royong, tolong-menolong dalam mencapai sebuah tujuan. [Darbe]

Vidio "Merah Putih di Puncak Ile Ape"

Previous
« Prev Post

1 komentar:

Post a Comment